
Jenni tertawa mendengar aduan Dillah. Ingin sekali memukul Dillah, karena mengumpamakan bosnya seperti hantu, tapi Dillah juga benar, Jennifer sangat memahami posisi Dillah, sebab nasibnya tidak jauh dari Birma.
"Akan ku adukan pada Ivan, kau memanggil Ivan hantu," ucap Diana.
"Adukan saja, kan memang benar dia hantu, hantu di dalam pikiran dan hati Anda." Dillah membela diri.
Plakkkk!
Jennifer tidak bisa menahan tangannya, pukulan lumayan keras itu mendarat di pundak Dillah, diiringi tawa renyah Jennifer. “Ternyata adiknya tidak berbeda jauh dari Kakaknya.”
Dillah berusaha menahan rasa sakit dari pukulan itu. "Tuan Angga juga over protektif pada Anda ya?" tanya Dillah.
"Kalau dia tidak over begitu, mana mungkin dia mengutus Birma untuk mengawalku saat dia tidak bisa bersamaku," sahut Jenni.
“Nanti aku akan telepon Ivan,” ucap Diana.
“Kapan Nona? Aku tidak bisa bernapas lega sebelum dia berbicara dengan Anda,” ucap Dillah.
“Lupakan Ivan, lebih baik kalian ikuti aku,” ucap Jenni.
“Selagi, Ivan jauh dari kita, ayo bersenang-senanglah sedikit,” ucap Diana. Diana segera menyusul Jenni.
Dillah tidak bisa protes, dia memilih mengikuti Diana dan Jenni, andai Ivan menelepon lagi, setidaknya dia tidak merasa di teror oleh pertanyaan Ivan. Dillah mengagumi setiap Lorong yang mereka lewati, beberapa pintu dan ruangan hanya bisa di akses dengan sandi dan kartu khusus.
Dillah memberanikan diri menyenggol lengan Diana. “Tempat apa ini? Kenapa keamanan di sini sangat ketat?”
“Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya,” sahut Diana.
Dillah bungkam sambil menahan perasaan kesal. Tapi kekesalan itu menguap seketika, saat mereka sampai di sebuah rumah kaca yang di penuhi tumbuhan obat dan bunga-bunga hias. Bunga yang tumbuh di sini bukan bunga biasa, tapi bunga-bunga mahal.
"Wah ... taman Sultan!" ucap Dillah penuh kekaguman.
Dillah mendekati salah satu bunga. “Apakah ini bunga saffron Crocus?”
“Ternyata kamu tahu jenis bunga juga,” ucap Jenni.
“Ya, menjadi Asisten seorang penerus Agung Jaya, walau tidak menguasai, setidaknya tahu sebagian,” ucap Dillah.
“Diana, kamu masih menyukai bunga ini?” Jeni mengangkat salah satu pot bunga.
“Masih, meski Anggrek Shenzen Nongke verietas buatan manusia, selain keindahannya, aku mengagumi kerja keras pengembangnya.” Diana tersenyum melihat bunga yang di pegang Jenni.
Jenni memberikan pot yang berisi bunga yang Diana sukai itu pada Dillah. “Bawakan bunga ini, aku berikan bunga ini untuk Diana.”
Dillah menerima bunga itu, dia masih memandangi bung aitu dengan tatapan tidak percaya.
Ya Tuhan siapa sesungguhnya dua wanita ini? Dia memberikan bunga yang bernilai hingga 3,6 Miliar ini seperti memberikan setangkai mawar saja.
“Diana, kamu Lelah?” tanya Jeni.
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu berburu, bagaimana?”
“Wah, boleh sekali. Aku sudah lama tidak berburu.” Diana terlihat sangat bersemangat.
“Apa berburu?” Dillah terlihat terkejut.
“Kenapa? Kamu ingin menempel padaku agar mudah melapor pada Tuanmu?” tanya Diana.
Dillah tersenyum kaku memperlihatkan deretan gigi-giginya.
__ADS_1
“Kalau mau ikut, bersiaplah,” ucap Jenni.
“Bagaimana bunga ini?” Dillah mengisyarat pada bunga mahal yang dia pegang.
“Biarkan di sini, nanti saat kalian mau pulang, baru kita pikirkan nasibnya,” sahut Jenni.
Mereka bertiga bersiap untuk berburu. Diana dan Jenni mengambil senapan angin mereka, sedang Dillah hanya mengambil gergaji mesin yang berukuran kecil. Mengingat bagaimana kemampuan Diana berburu, rasanya senapan angin itu hanya pajangan kalau dia ikut membawa itu.
Mereka bertiga menaiki sebuah mobil jip, dan mulai memasuki hutan. Jenni memarkirkan mobil yang dia kemudikan di dekat sebuah pondok.
“Baguslah ada pondok di sini, setidaknya aku bisa bersantai menunggu buruan kalian,” ucap Dillah.
"Kami ini wanita, seharusnya kamu yang berburu dan kami yang menunggumu di sini!" ucap Jenni.
"Apa dayaku Nona, kemampuanku berburu tidak seahli kalian, tapi kemampuanku memasak, mungkin bisa diandalkan," ucap Dillah.
“Ku lihat di tepi jalan yang kita lewati tadi ada pohon yang hampir mati, kamu tebang itu Dillah, aku dan Diana akan mencari buruan,” ucap Jenni.
Dillah segera mengambil gergaji mesin yang sebelumnya dia bawa, namun beberapa langkah melangkah, handphonenya berdering. Melihat nam Ivan di layar handphonenya, Dillah langsung memberikan handphonenya pada Diana.
Diana tidak bertanya lagi, dia tahu kalau itu panggilan dari Ivan, dia langsung menerima panggilan itu.
“Ada apa?” sapa Diana.
“Kenapa sangat sulit menghubungimu? Kata Dillah kamu istirahat, setiap aku telepon selalu jawabannya istirahat,” rengek Ivan.
“Jeda berapa detik kamu menelepon Dillah? Memangnya cukup untukku beristirahat hanya satu detik?” omel Diana.
“Maklum Nona, kecerdasan Tuan Ivan adalah Anda, wajar dia tidak bisa berpikir lagi, kalau dia jauh dari Anda!” teriak Dillah.
“Kamu menggunakan loudspeaker?” tanya Ivan.
“kenapa Dillah mendengar kata-kataku?”
“Dillah tidak mendengar kata-katamu, tapi Dillah mendengar kata-kataku,” sahut Diana. “Kalau kamu ingin Dillah tidak mendengar, aku akan berbicara dengan berbisik saja?"
"Apa kamu mendengar kalau aku bicara seperti ini?” bisik Diana.
“Aku hanya mengerti Bahasa napasmu, kalau kamu bicara seperti itu,” sahut Ivan.
“Oh ya, apa yang napasku katakan?”
“Napasmu mengatakan, kalau kamu merindukanku,” ucap Ivan.
“Narsis!”
Dorrrrr!
Suara tembakan itu terdengar menggema, bahkan Ivan juga sangat jelas mendengar suara tembakan.
“Apa itu?” Ivan sangat panik.
“Aku, Jenifer, dan Dillah berada di hutan, kami tengah berburu, dan saat ini Dillah bersiap memotong kayu, sedang aku tidak melakukan apa-apa, karena harus laporan padamu.”
“Bagaimana keamanan di sana?”
“Aman, bahkan aku bisa tidur nyenyak nanti malam, tempat kami beristirahat tempat yang sangat aman.”
“Nyaman?” Ivan memastikan.
“Mana ada tempat paling nyaman di dunia ini selain berada dalam pelukanmu,” rayu Diana.
__ADS_1
“Uhukkkk!” goda Dillah.
Perhatian Diana tertuju pada Dillah. “Tebang pohon itu dengan benar!” perintahnya.
“Baik, Nona.” Sahut Dillah. Dillah segera menuju pohon kecil yang Jenni maksud sebelumnya, dan mulai menghidupkan gergaji mesinnya.
Ngeng ....
Ivan sangat jelas mendengar suara mesin gergaji. "Apa benar Dillah memotong batang pohon? Aku khawatir, jangan-jangan dia memotong batang pahanya sendiri."
Diana tertawa mendengar perkataan Ivan. "Biar waktu yang menjawab."
Cukup lama Diana berbicara dengan Ivan, akhirnya dia menyudahi pembicaraan mereka.
Brakkkk!
Diana mendengar sesuatu yang tumbang. “Ternyata Dillah bisa diandalkan dalam segala hal,” gumamnya. Diana sengaja menyusul Dillah.
Suara mesin dari gergaji yang Dillah gunakan juga sudah tidak terdengar lagi.
Sesampai di tepi jalan, pemandangan yang sangat mengejutkan menyapa penglihatan Diana, di sana Dillah terlihat kejang-kejang. Diana mengamati apa yang membuat Dillah kejang-kejang, hingga matanya melihat Sebagian ranting pohon yang Dillah tebang tersangkut di jaringan listrik yang ada di sana.
Saat yang sama Jenni juga melintas di sana, tadinya dia mengejar rusa yang meleset dari bidikan senapannya, melihat Dillah seperti itu, dia melepas sepatu botnya, dan mendorong Dillah agar menjauh dari pohon yang mengantarkan getaran yang melebihi getaran cinta itu.
Merasa Dillah sudah lepas dari aliran listrik, Diana menarik Dillah menuju tempat aman, dan segera memeriksa Dillah.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Jenni.
“Dia baik-baik saja, dia juga tidak terluka, sebentar lagi dia akan sadar.”
“Tidak apa-apa kalau ku tinggal, aku ingin mengejar rusa yang lari tadi.”
“Apa rusa itu kena tembakanmu?” tanya Diana.
“Meleset,” wajah Jenni terlihat sedih.
“Kalau meleset, biarkan saja dia lepas, lebih baik kita pulang, kasian Dillah.”
“Baiklah, kalau begitu aku ambil mobil dulu,” Jenni kembali berjalan kearah pondok peristirahatan.
Perlahan Dillah mengerjapkan matanya.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Diana.
“Aku tidak apa-apa, sakit sih tidak, tapi malu." Ingin rasanya Dillah menenggelamkan wajahnya ke dasar bumi.
"Ini sangat memalukan," gerutu Dillah.
"Ini musibah, Dillah. Bukan suatu aib, tidak usah malu, kalau kamu kenapa-napa aku malah merasa bersalah."
"Maafkan aku, Nona."
“Istirahat dulu, kita langsung pulang saja,” ucap Diana.
“Tidak jadi berburu?”
“Nanti kapan-kapan akan dilanjutkan, ada hal penting yang harus aku kerjakan.”
Bepp! Bepp!
Melihat mobil yang dikemudikan Jenni berhenti di depan mereka, Dillah dan Diana segera naik keatas mobil itu.
__ADS_1