
Perlahan Ivan mulai tenang, dia mau kembali ke tempat duduknya.
"Aku merasa ada yang kurang di sini." Diana memandangi setiap sudut ruangan.
"Kurang apa?" tanya Ivan.
"Yudha, aku tidak melihatnya. Bukankah dia selalu ada bersamamu setiap ada rapat besar?"
"Dia tengah rapat dengan utusan SW Group di ruangannya, Yudha menanyakan kenapa mereka sangat lama mengambil keputusan. Setelah rapat mereka selesai, mereka akan segera bergabung," jelas Ivan.
"Ku rasa keraguan SW Group berkaitan dengan kerugian yang terselubung ini, bagaimana mereka tidak ragu, Perusaaan besar sekelas Agung Jaya tidak meyadari kebocoran dana pada proyek yang berlangsung, secara logika, mana mereka mau menyetujui proyek lanjutan, sedang proyek yang berjalan saja dalam bahaya."
Ivan terlihat memikirkan segala ucapan Diana.
“Mau tahu darimana saja kebocoran dana itu?” tanya Diana.
“Bukankah tadi sudah kamu jelaskan?” sahut Ivan.
“Itu hanya sebagian.”
“Kalau begitu lanjutkan, jelaskan semuanya,” pinta Ivan.
Diana kembali memperhatikan monitor besar. “Dana yang seharusnya digunakan untuk membeli barang, ada permainan pajak di sini, dalam peraturan undang-undang, pajak barang adalah 12% dan pajak tenaga 18%. Namun di sini sangat jelas terinci pajak membengkak, bahkan ada yang mencapai 25%.”
Ivan memandangi wajah-wajah para kepala bagian yang berada di ruanganya. Semuanya terlihat begitu tenang.
Diana meneruskan penjelasannya. “Itu bagian pajak pembelian barang sudah dimainkan, dan pada laporan berikutnya, aku menemukan banyak permainan dari pajak penjualan. Bukan hanya itu, pajak yang terinci dalam laporan, seharusnya di setor pada negara, pajak malah tidak sampai. Ada bukti pembayaran, namun tidak terdaftar di catatan resmi pajak Negara.”
"Keuntungan yang sangat besar bukan? Pajak bukan hanya di bengkakkan, tapi juga tidak di setorkan. Bayangkan bagaimana calon patnermu mau bekerja sama dengan Agung Jaya, jika pajak negara saja tidak dibayar."
Ivan kembali bangkit, kemarahannya semakin besar. “Ini sudah sangat keterlaluan! Pajak Negara juga ditilap?! Bagaimana negara ini maju jika uang pajak yang besar dari para pengusaha hanya dinikmati orang-orang yang mempermainkan pajak seperti ini?”
__ADS_1
Ivan kembali ingin mencekik leher Manager Wang dengan menarik dasi laki-laki itu, namun geraknya tertahan, Diana pasang badan melindungi laki-laki itu.
“Untuk apa kamu melindungi maling berdasi itu!” ucap Ivan.
Manager Wang langsung berdiri di belakang Diana, dia menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. “Sumpah demi apapun, saya tidak mempermainkan dana proyek ini.”
“Semua ini bisa terjadi atas persetujuan Anda!” Hardik Ivan.
“Maafkan atas keteledoran saya, saya berjanji akan menginvistegasi semuanya, saya akan bertanggung jawab Tuan. Tolong beri saya waktu.”
“Memberimu waktu agar kamu bisa kabur?” maki Ivan.
“Ivan … Manager Wang tidak bersalah, dia hanyalah korban, ada seseorang yang memanfaatkan kepercayaan Manager Wang. Dari semua data, Manager Wang malah tidak menyadari ada kecurangan, walau dia telah memeriksa semuanya sebelum menyetujuinya,” ucap Diana.
Mata Managar Wang berkaca-kaca, dia tidak menyangka mendapat pembelaan dari seorang wanita yang terlihat sangat sederhana.
“Anda sangat beruntung Pak Wang, karena Nona Muda melindungi Anda dengan segala bukti-bukti yang jelas,” sela Farhan.
"Farhan, bukankah proyek ini aku percayakan padamu, kepercayaanku padamu lebih besar dari kepercayaanku pada Dillah. Kenapa kamu mengecewakan aku?" ucap Ivan.
Farhan berlutut di depan Diana. "Maafkan saya Nona, sebelumnya saya memandang Anda sebagai Nona muda yang manja, ternyata Anda sangat jenius. Kecurangan yang tidak kami sadari malah Anda berhasil mengungkapnya.
"Jaga jarak dengan permataku!" tegur Ivan.
"Farhan, di sini berdiri di sampingku adalah posisi yang aman," sela Dillah.
Farhan bangkit, dan langsung berjalan menuju Dillah, dia berdiri di samping rekan kerjanya itu.
Beberapa orang yang ada di ruangan itu terlihat sangat cemas, mereka memainkan handphone di pangkuan mereka, agar atasan mereka tidak melihat langsung.
Percakapan Group Kepala Bagian.
__ADS_1
*Sial, ternyata calon istri Tuan benar-benar ancaman bagi kita.
*Bagaimana ini? Kita belum siap dengan rencana selanjutnya.
*Kita hadapi dengan santai, kita lihat sejauh mana kehebatan Nona Muda itu.
***
Di belahan kota lain.
Jennifer menghabiskan waktunya bersama Angga mendatangi setiap tempat bagus di Negara mereka. Tangan Angga selalu melingkar di pinggang Jennifer.
"Sayang, kamu bahagia?" tanya Angga.
"Kebahagiaanku ya bersamamu, kenapa malah bertanya lagi?"
"Hanya memastikan." Angga menepikan helaian rambut yang menutupi wajah Jennifer.
"Oh ya, Diana sudah kembali, kamu tidak ingin menemuinya? Kalau mau, aku antar kamu ke Apartemen Ivan."
"Aku ingin bersamamu dulu, sebelum kamu sibuk dengan semua pekerjaanmu, lagian ... Diana dan Ivan juga pasti sama seperti kita, ingin menghabiskan waktu hanya berdua."
Angga tersenyum, dia mengusap sisi kepala Jennifer dengan lembut. "Ayo kita jalan lagi, kamu mau kemana lagi?"
"Semua tempat di kota ini sangat indah, dan aku suka, kemana saja aku mau asal selalu berada dalam dekapanmu." Jennifer masuk kedalam pelukan Angga.
Dari kejauhan ada orang yang terus mengabadikan kemesraan Jennifer dan Angga. Orang itu mengirimkan semua foto yang dia ambil pada bosnya.
Di rumah besar Agung Jaya.
Melihat email yang masuk, Rani sangat geram. Di sana semua foto-foto kemesraan Angga dan Jennifer.
__ADS_1
"Bagaimana aku menjauhkan gadis jalanan ini dari sisi Angga, Angga sangat menyayanginya." Rani merasa sangat tertekan dengan wanita pilihan kedua putranya.
Rani juga tidak bisa berbuat apa-apa dari dalam, karena Kakek Agung dan Sofian menyukai kedua wanita pilihan putra mereka.