Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 84 Aridiya Takut


__ADS_3

Dari arah pintu terlihat dua orang wanita cantik dan satu orang pemuda tampan. Melihat tiga orang yang masuk ke dalam kantor, Aridya menghempaskan napasnya lega. Akhirnya Nizam datang untuk membantu Diana.


"Maafkan aku terlambat, Na." Ucap Nizam. Dia undur diri pada Diana, lalu membawa dua sekretarisnya menuju staf yang bertugas.


"Mila, kamu urus semua urusan yang ada di sini, aku dan Naila harus ke kantor polisi untuk membawa Diana dan mengurus semua urusan yang lain di sana."


"Baik Tuan."


Setelah mendapat izin dari staf kantor pemantau Lalu Lintas, Nizam membawa Diana dan Aridya ke kantor polisi. Saat Nizam, Diana, Naila, dan Aridya memasuki salah satu ruangan, di sana sudah ada Wena dan Fazran.


Nizam mengajak Naila untuk mengurus pekerjaan mereka. Aridya mendekati Wena.


"Apakah kasus ini tidak bisa kita selesaikan secara kekeluargaan?" Tanya Aridya.


"Kasus ini akan selesai, kalau gadis siallan itu membusuk di dalam penjara!" Ucap Wena begitu menekan.


"Tolong, maafkan putriku," pinta Aridya.


"Memaafkan? Cuih! Jangan harap! Malah aku akan menggunakan segala cara dan memakai semua kekuasaan keluarga Harrisons untuk memenjarakan Diana!"


...Bagaimana ini? Kalau Diana dipenjara maka aku tidak bisa mendapatkan apa-apa....


Aridya terus berpikir untuk menyelamatkan Diana dari kasus yang menyeretnya, pertunangan Diana dengan penerus keluarga Agung sudah lepas, kini hanya Fredy harapannya yang memberi keuntungan padanya nanti.


Aridya berniat ingin meminta pertolongan Fredy, baru beberapa langkah dia beranjak dari posisinya, tiba-tiba semua petugas yang ada di ruangan berdiri dan memberi hormat pada seorang laki-laki yang mengenakan seragam kepolisan yang baru memasuki ruangan tempat Aridya dan Diana berada. Paru-paru Aridya seketika menyempit melihat laki-laki yang menerima semua penghormatan yang tertuju pada laki-laki itu.

__ADS_1


Melihat sosok yang baru saja memasuki ruangan, Wena langsung mendekati laki-laki itu. "Kakak, kakak harus memastikan pelaku yang menabrak Nazta mendapat hukuman yang setimpal!" Rengek Wena.


Kepala kepolisian itu hanya menepuk pundak Wena, meminta perempuan itu untuk tenang.


Menyadari siapa laki-laki itu, dan pangkatnya saat ini adalah seorang Kepala Kepolisian, Aridya sangat takut, dia berusaha pergi meninggalkan ruangan itu dari pintu yang lain.


Brukkk!


Aridya hampir jatuh, namun yang bertabrakan dengannya menahan Aridya dengan memegang tangannya.


"Anda mau kemana? Kenapa wajah Anda terlihat begitu pucat dan panik?" Tanya Nizam.


"Aku merasa sangat beruntung, bisa bertemu lagi dengan seorang pengacara hebat dan dokter hebat ini," ucap laki-laki yang ditakuti Aridya.


Ucapan yang begitu tegas, menyita perhatian Nizam. "Pak Obaren Gaima."


"Aku memang Kepala Kepolisian di sini, tapi aku akan menyelesaikan kasus ini dengan profesional. Memang salah satu petugas kebersihan itu kerabat kami, tapi untuk hukum aku akan melakukan tindakan sebagaimana peraturan yang ada."


"Terima kasih, Pak," ucap Nizam. Nizam menyerahkan urusan Diana pada Kepala Polisi itu.


Obaren meninggalkan Nizam, dia segera menghampiri bawahannya dan berbicara banyak hal di sana. Sekilas Nizam melirik kearah Aridya. Wanita itu jelas terlihat sangat ketakutan. Tapi Nizam bisa menebak apa yang ada dipikiran Aridya. Dia segera mendekati Aridya.


"Anda jangan coba-coba menjalankan rencana yang Anda pikirkan saat ini!" Gertak Nizam pada Aridya.


"Awas saja kalau Anda mengambil rencana itu!"

__ADS_1


Setelah Nizam menjauh darinya, Aridya segera meninggalkan kantor polisi. Sedang Diana dan Nizam masih di sana mengurusi semua urusan Diana.


*


Di Universitas Bina Jaya.


Kasus tabrak lari yang dilakukan oleh Diana, karena hal ini nama Veronica perlahan membaik. Karena namanya kembali bersih, salah satu sebabnya karena perbuatan baiknya karena menolong korban kecelakaan.


Saat melihat Veronica kembali ke kampus, beberapa Mahasiswa langsung menyambutnya, diantara mereka banyak yang bergosip tentang kasus Diana, mereka juga tidak henti-hentinya memuji tindakan heroik Veronica.


Saras langsung pergi dari sana, karena tidak tahan mendengar hujatan yang tertuju pada Diana, juga tidak senang melihat Veronica berbahagia diatas musibah yang menyeret Diana.


Pada sisi Universitas yang lain ....


Nicholas sangat asyik menonton video yang diposting oleh salah satu Mahasiswi Bina Jaya. Terlihat dalam Video itu, Diana dimarahi oleh beberapa Mahasiswi yang lain.


Brukkk!


Hampir saja handphone Nicholas terjatuh, beruntung dia masih bisa menangkapnya.


"Hati-hati Bro!" Laki-laki yang bertabrakan dengan Nicholas menepuk bahunya.


"Nonton apa? Serius sekali kamu, sampai tidak memperhatikan jalan."


"Lihat ini Lucas." Nicholas memperlihatkan video yang dia tonton pada Lucas.

__ADS_1


Lucas diam berusaha menyimak dengan baik.


Diana sangat pantas menerimanya. Gumamnya.


__ADS_2