
Setelah kecelakaan yang menimpa ibunya, Aidil berusaha mencaritahu sosok Mahasiswi kedokteran yang telah menabrak ibunya dan dia menemukan foto mahasiswi yang tidak bertanggung jawab itu. Aidil masih melamun di depan kantor yang memantau lalu lintas kota, memikirkan bagaimana cara untuk membalas perbuatan mahasiswi tersebut. Saat Aidil menegakkan wajahnya, serasa alam memberinya kesempatan untuk balas dendam, mahasiswi yang menabrak ibunya baru saja melintas di depannya, dan dia masuk ke dalam kantor pusat pantauan Lalu Lintas.
Aidil berpikir keras, bagaimana caranya agar dia bisa membalas perbuatan mahasiswi itu dengan balasan yang setimpal, andai dia ada mobil, dia ingin menabrak wanita itu saat dia keluar dari kantor itu, tapi dirinya hanya menaiki motor ke sini. Pandangan mata Aidil tertuju kearah batu yang berukuran cukup besar yang ada di depan matanya. Aidil menatap tajam pada batu itu, membayangkan menggunakan batu itu untuk memukul kepala mahasiswi itu.
“Sepertinya ini balasan yang setimpal!” Aidil langsung mengambil batu itu dan berjalan memasuki kantor pematau lalu lintas.
Brak!
Aidil sudah dibutakan kemarahan dan dendam, dia langsung menyerang wanita itu, namun wanita itu tidak terlihat takut sedikitpun, malah diam dan seakan menantang Aidil. Tapi Aidil tidak bisa mencapai wanita itu, dua orang staf yang bekerja di sana menahan pergerakkannya.
“Bukankah sudah kami katakan! Kalau kasus ini sudah ditangani kepolisian! Serahkan semuanya! Biar kepolisian yang memproses!”
Mengingat banyak orang yang berusaha membantunya mencari keadilan, perlahan emosi Aidil mereda. Salah satu staff mengambil batu yang ada di tangan Aidil, dan segera mengamankannya.
“Kondisi bu Nazta Mumtaza sangat memprihatinkan, luka cukup parah di bagian kepala, setalah menabrak bukannya Anda membawanya ke Rumah Sakit, Anda malah meninggalkannya tergeletak di jalanan,” ucap staff yang lain memaki Diana.
“Aku akan membuatmu merasakan seperti apa yang ibuku derita!“ teriak Aidil.
“Aidil, tenang!” pinta salah satu staf.
__ADS_1
“Aidil, pulanglah, biarkan semua pihak yang terkait mengurus semuanya, percayakan pada kami dan pihak kepolisian, kami akan bantu kasus ini sebisa kami,” bujuk salah satu staf.
“Ingat! Aku tidak akan melepaskanmu!” ucap Aidil begitu menekan yang dia tujukan pada Diana.
Beberapa staf di sana membuat laporan, sedang staf yang bersama Diana memutar ulang tayangan CCTV yang merekam di tempat kejadian.
Pada tayangan CCTV: Diana keluar dari mobil, dia terlihat berjongkok di depan mobil, sesaat Diana kembali ke mobil, memundurkan mobilnya dan pergi begitu saja meninggalkan seorang perempuan yang berseragam petugas kebersihan yang tergeletak di jalanan.
Diana sangat mengagumi dalang dibalik kasus yang menyeret dirinya, mereka semua sudah mempersiapkan semuanya begitu sempurna, bahkan tayangan CCTV pun mereka persiapkan.
Kring! Kring! Kring!
“Selamat siang, kantor pantauan Lalu Lintas kota, ada yang bisa kami bantu?” sapa petugas begitu ramah. Sesaat petugas terdiam, dia melirik kearah Diana.
“Siap!”
“Iya, akan kami laksanakan.” Terlihat petugas itu menaruh lagi gagang telepon pada tempatnya. “Korban tabrak lari kemaren meninggal dunia,” ucapnya.
Hal itu langsung membuat status Diana menjadi tersangka kasus tabrak lari.
__ADS_1
***
Di rumah keluarga Agung, Rani sangat marah mendengar laporan dari Asisten kepercayaanya, kalau Wilda mengaku sebagai Nyonya Rani dan mengumumkan pemutusan pertunangan antara Ivan dan Diana. “Argggg! Kenapa Wilda mengatas namakan diriku! Kenapa dia mengaku-ngaku sebagai aku!” Rani tidak tahu lagi bagaimana menumpahkan segala emosi yang meledak-ledak dalam dirinya.
Kabar pemutusan pertunangan Diana dan Ivan juga mulai tersebar. Rani semakin stres, dia tidak tahu bagaimana menghadapi Ivan, suaminya, juga mertuanya nanti. “Wilda keterlaluan!”
Di kantor Agung Jaya.
Dillah membaca membaca berita online yang memuat kabar pemutusan pertunangan antara Ivan dan Diana. Membaca berita ini, mau tak mau Dillah harus melapor pada Ivan. Padahal Dillah tidak ingin mengusik konsentrasi Ivan, namun masalah ini sangat penting, Dillah segera menghubungi Ivan dan menceritakan berita tentang tabrak lari yang dilakukan oleh Diana, hingga berdampak dengan pemutusan pertunangan mereka.
“Maafkan saya, Tuan. Saya sengaja tidak memberitahu Anda tentang kasus Nona Diana, karena tadinya saya sendiri yang akan membantu untuk menyelesaikannya. Tapi, sekarang ini menyeret tentang hubungan kalian, saya tidak berani bertindak lebih jauh tanpa komando dari Anda.”
“Terima kasih, Dillah. Karena kamu bekerja keras untuk ini.”
“Tuan, apakah benar berita pemutusan pertunangan secara sepihak ini? Kalau tidak benar saya sudah menyiapkan team public relation, agar berita ini ada kepastian.”
“Tidak perlu Dillah. Biarkan saja opini ini terus mengambang.”
“Baik Tuan.”
__ADS_1