Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 41 Ingin Berdamai


__ADS_3

Setelah sampai di depan pintu utama, sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu Ivan dan Diana, Ivan langsung masuk ke bagian depan, duduk di samping supir, sedang Diana duduk sendirian di bagian belakang.


Sepanjang perjalanan pikiran Ivan kalut, entah kenapa dirinya tidak suka melihat laki-laki lain berada di dekat Diana. Apalagi kalau memandangi Diana dengan tatapan yang penuh harap. Pengacara Nizam, professor Russel, bahkan Yudha sekali pun. Perasaan apa ini? Ivan geram dengan dirinya sendiri. Beruntung kali ini mobil yang dia tumpangi di setir oleh supir pribadinya, andai menyetir sendiri, rasanya dia tidak bisa fokus.


Wahai hati … bisakah engkau bersikap masa bodoh terhadap Diana?


Tink!


Tink!


Tink!


Tink!


Tidak terhitung berapa notifikasi yang terdengar dari handphone Diana, hal itu menbuat Diana fokus pada rentetan pesan yang masuk. Ivan tersadar dari pikiran yang membingungkan dirinya, keadaan otak dan hatinya yang tidak sinkron. Sekilas Ivan menoleh kearah Diana. “Tanganmu sudah baikan?” Dia perhatikan Diana sangat sibuk dengan handphonenya.


Diana mengubah tampilan layar handphonenya menjadi tampilan game, dia memperlihatkan layar handphonenya pada Ivan, seketika raut wajah Ivan berubah menjadi masam, saat melihat tampilan aplikasi game pada layar handphone Diana. Diana meraih handphone yang satunya, dan mengetikkan kata.


*Aku sangat rindu bermain game, kemaren aku tidak bisa bermain, sekarang tanganku sudah lumayan.


Ivan membuang napasnya begitu kasar, dan kembali pada posisi semula. Sedang Diana kembali fokus pada handphonenya, dia sengaja beralasan main game, agar Ivan tidak menaruh curiga padanya. Padahal sedari tadi professor Russel yang mengiriminya pesan.


*Kamu harus meningkatkan kewaspadaan kamu, Diana. Ada seseorang yang ingin membunuhmu


^^^Kira-kira siapa?^^^


*Maaf Diana, aku belum tahu. Sampai saat ini aku masih berusaha menyelidikinya.


Sepanjang perjalanan Diana terus berkirim pesan dengan Profesor Russel, tidak terasa mobil Ivan sampai dikediaman kakek Agung.


Belum turun dari mobil, Ivan lagi-lagi dibuat kesal melihat sebuah mobil yang parkir di depan rumah kakeknya, dia mengenali siapa pemilik mobil yang terparkir di sana. Ivan berusaha menetralkan kekesalannya, dan mengajak Diana untuk segera masuk ke dalam rumah kakeknya.

__ADS_1


Di dalam rumah kakek Agung.


Sejak kedatangan Pengacara Nizam, wajah Rani selalu dihiasi senyuman, ucapannya pun selalu bernada sangat lembut.


“Mendengar cerita dari suami saya, katanya sangat susah untuk mengoperasi tangan saya yang patah, tapi berkat tangan Ajaib sang dokter hebat, saya bisa sembuh. Terima kasih banyak, nak.”


Entah berapa kali ucapan ‘Terima kasih’ yang terus terlontar dari mulut Rani. Nizam berusaha bersikap sopan, walau dirinya mulai bosan dengan obrolan Rani.


Pandangan mata Pengacara Nizam tertuju kearah pintu, di sana ada hal yang membuat semangatnya seketika berkobar, kala matanya menangkap sosok Diana muncul dari pintu. “Hai Diana.” Sapa Nizam.


Raut wajah Rani yang sebelumnya  selalu dihiasi senyuman, seketika senyuman manis itu lenyap, kala sepasang matanya melihat kehadiran Diana.


Ivan sangat kesal melihat Nizam memandangi Diana seperti itu, yang masuk kedalam rumah ini dirinya bersama Diana, namun pengacara itu hanya melihat Diana.


“Wah … ini tepat sekali, Tuan Ivan datang bersama Nona Diana, karena keluarga Harisons sebentar lagi sampai,” ucap Daima.


"Aku datang bersama Diana, karena kakek yang meminta," sela Ivan.


“Ivan … Diana ….”


Pendangan Ivan dan Diana kompak tertuju ke arah suara sapaan itu berasal. Terlihat dari arah lain Sofian datang memapah kakek Agung. Melihat kakeknya dipapah Ayahnya, Ivan langsung berlari mendekati kakeknya.


“Kakek sakit?” wajah Ivan Nampak begitu cemas.


“Sudah nak, biar papa saja yang membantu kakek,” sela Sofian.


Kakek Agung tersenyum melihat kecemasan di wajah Ivan. Dia menepuk lembut bahu Ivan. “Ah … biasa, penyakit U kakek lagi kambuh.” Pandangan kakek Ivan tertuju kearah ruang tamu yang ada di bagian luar. “Semua sudah berkumpul?”


“Belum Tuan besar, keluarga Harisons belum datang,” sahut Daima.


“Sambil menunggu keluarga Harisons, kita tunggu di ruang tamu yang di dalam saja.”

__ADS_1


“Maaf, apakah kami terlambat?”


Langkah kaki mereka seketika terhenti. Kakek Agung tersenyum melihat tamu yang baru datang. “Tidak terlambat, yang lain juga baru sampai. Ayo semua kita masuk ke dalam,” ajak kakek Agung.


*


Mereka semua berkumpul di ruang tamu kedua yang ada di rumah kakek Agung. Semua masih setia dengan jurus bungkam mereka. Kakek Agung memandangi wajah-wajah yang ada di ruang tamu. “Fazran, aku sangat berharap agar kita menyelesaikan kasus yang anak-anak muda ini lakukan diselesaikan secara kekeluargaan saja.”


“Kami sangat berharap semua ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan, jangan sampai Tindakan generasi yang baru ini menghancurkan jalinan kekeluargaan dan bisnis diantar keluarga kita jadi renggang. Untuk ganti rugi, aku akan membantu berbicara pada keluarga Diana, biar keluarga Diana yang membayar. Keluarga Diana pasti mau—"


“Kami juga ingin berdamai. Kami sangat berharap agar keluarga kakek Agung dan nak Diana menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan saja." Fazran memtong ucapan Rani.


“Untuk ganti rugi, kami yang akan membayar semuanya.” Wena mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Ini nilainya tidak seberapa, tapi kami sangat berharap agar nak Diana berkenan mencabut semua tuntutannya, dan menyelesaikan semua ini secara kekeluargaan.”


Rani melihat nominal yang tertera pada lembaran cek yang disodorkan Wena. Nominalnya sangat besar. Membuat semua orang yang ada dalam ruangan terkejut, harusnya mereka yang memberikan uang ganti rugi pada keluarga Harisons, agar bisa berdamai. Ini malah kebalikannya.


Fazran memandang kearah Diana. “Nak Diana.”


Panggilan Fazran berhasil membuat Diana menoleh padanya.


“Nak Diana, masalahku dan Tuan Fredy hanya salah faham saja.”


“Maaf Tuan Fazran, pembicaraan tentang bisnis, sebaiknya kita bicarakan di perusahaan saja.”


Mendapat jawaban Ivan demikian, Fazran mengira Ivan dan keluarga Agung memaafkan mereka, dan menerima uang damai dari merekaz urusannya dengan Diana juga selesai, pikirnya. Dia menoleh kearah istrinya, keduanya menghembuskan napas lega.


“Kalian bedua! Pergi dari sini dan bawa cek kalian itu!” ucapan Ivan begitu dingin, seketika  menerbangkan rasa lega yang baru beberapa detik dirasakan Fazran dan istrinya.


“Per-gi dan bawa cek itu!”


Rasa takut kembali menyelimuti hati Wena dan Fazran, dengan tangan genetaran Wena meraih cek yang dia letakkan diatas meja dan segera pergi bersama suaminya meninggalkan kediaman Agung Jaya. Terhempas sudah khayalan damai yang mereka bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Rani masih tidak mengerti dengan keadaan ini, kenapa keluarga Harisons begitu ketakutan, sedang saat bertemu di Rumah Sakit, mereka terlihat sangat marah dan sangat bernappsu memejarakan Diana dan mengancam akan memutuskan kerja sama. “Ada yang bisa jelaskan padaku? Ada apa sebenarnya yang telah terjadi?”


__ADS_2