Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 32 Lapar


__ADS_3

Menyadari Diana sudah menghilang dari pintu UGD, Ivan berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya. Dia berlari keluar mencari sosok Diana. Ivan mematung, saat dia melihat Diana berada tidak jauh dari posisinya, Diana terlihat menerima kunci mobil dari seseorang yang tidak asing bagi Ivan, laki-laki itu salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya. Saat pelayan itu sudah menyerahkan kunci mobil pada Diana, dia pun pergi dari sana.


Perlahan Ivan mengayunkan langkahnya lagi, kini posisi Ivan berada tepat di samping Diana. "Kita pulang sekarang?"


Diana menoleh, dan dia langsung memberikan kunci mobil yang dia terima sebelumnya, pada Ivan. Keduanya segera masuk kedalam mobil, perlahan mobil itu meninggalkan area Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan, banyak hal yang mereka lalui, dari ruko berlantai dua, hingga gedung-gedung pencakar langit. Tapi saat kali mobil Ivan melewati sebuah Restoran, leher Diana seakan berputar 360° memandangi setiap Restoran yang dilalui.


Ivan menyadari hal itu, perlahan dia menurunkan kecepatan mobilnya, karena di depan sana ada sebuah Reatoran. Mobil yang Ivan kemudikan semakin mendekati sebuah Restoran. Mobil itu berbelok perlahan ke halaman luas Restoran mewah. Mobil Ivan terparkir sempurna di area parkir sebuah Restoran, namun keduanya masih saling diam.


"Apa kamu lapar?" Tanya Ivan halus.


Dengan santai Diana menganggukkan kepalanya.


Ivan langsung  mematikan mesin mobilnya. "Ayo kita turun."


Keduanya memasuki Restoran mewah tersebut, dengan ramah para pelayan menyambut mereka.


Sebuah meja yang ada di dekat kaca, menjadi pilihan Diana, mereka berdua segera menempati meja tersebut. Para pelayan memberikan buku menu pada Ivan dan Diana.


"Mau pesan apa Tuan, Nona?"


"Berikan saja kertas dan penanya pada dia, biar dia menulis sendiri pesanannya," ucap Ivan pada salah satu pelayan.


Diana pun berusaha menulis menu yang dia inginkan.


Ivan menyerahkan kembali buku menu yang diberikan pelayan padanya. "Saya pesan coffe saja." Kini pandangan matanya tertuju pada Diana, dia teringat kedua telapak tangan Diana terluka. "Kamu bisa menulis pesananmu? Kalau--" ucapan Ivan terputus saat melihat Diana memperlihatkan tulisan menu apa yang dia pesan, lalu dia serahkan pada pelayan yang setia berdiri di sampingnya.


"Mohon untuk menunggu sebentar, pesanan Tuan dan Nona akan kami persiapkan.


Tidak berselang lama, meja yang tadi kosong kini sudah berisi makanan pesanan Diana, sedang Ivan menikmati secangkir kopi pesanannya.


Tangan kanan Diana hanya tergores sedikit sabetan pisau, dia masih bisa mengoperasikan tangannya untuk mengantar sesuap demi sesuap makanan yang dia nikmati.


Ivan masih memandangi Diana yang begitu semangat menghabiskan isi piringnya. "Apa kamu sangat hobi berkelahi, Diana?"


Tangan Diana yang semula sibuk menyendok makanannya, seketika terhenti, dia menegakkan pandangan padanya yang sedari tadi menunduk memandangi makanan yang dia nikmati. Kini sepasang matanya memandang Ivan. Tangannya sibuk dengan sendok, dia tidak bisa mengetik jawaban untuk Ivan.


"Apa karena kamu tidak bisa bicara? Hingga kamu lebih suka berbicara dengan tanganmu?"


Diana tetap diam, dia meneruskan misinya mengosongkan piring yang menampung makanan yang dia nikmati.


Melihat Diana sudah selesai makan, Ivan memberi isyarat pada salah satu pelayan. "Tolong billnya." 


Salah satu pelayan segera memberikan tagihannya pada Ivan. Ivan menyelipkan beberapa lembar uang pada billnya, dan memberikanya pada pelayan yang berdiri di dekatnya. 


"Terima kasih banyak Tuan, Nona, atas kunjungannya." Pelayan itu pun pergi.


"Dengar Diana, bukan maksudku untuk mengingkari perjanjian kita, sedikitpun aku tidak ingin mengaturmu, atau mencampuri urusanmu. Tapi aku mohon dengan sangat, tolong jaga kelakuanmu, jaga emosimu, jika ada yang menyusahkanmu, katakan padaku, aku akan membantumu menyelesaikan semua dengan cara baik-baik, bukan dengan otot."


"Orang-orang sudah mengenalmu sebagai calon menantu keluarga Agung, jika Image mu buruk, bukan hanya mencoreng namaku, tapi juga nama kakek."


"Sekali lagi, Aku tidak bermaksud mengaturmu atau mencampuri urusanmu, tapi aku hanya ingin, kamu turut serta menjaga nama baik keluargaku."


"Tindakanmu di basement itu, sangat mencoreng nama baik keluargaku, Diana."


Diana mulai mengetik jawaban pada handphone nya.


^^^Baiklah, lain kali aku akan lebih hati-aku, aku tidak akan berkelahi ditempat yang ada cctvnya.^^^


Mulut Ivan terbuka lebar membaca jawaban Diana, dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

__ADS_1


Diana melangkah lebih dulu keluar Restoran, sedang Ivan geram sendiri dengan jawaban Diana, dia tidak tahu harus marah pada siapa lagi. "Huhhhh!" Ivan berusaha menenangkan perasaannya, dan segera menyusul Diana.


Selama perjalanan pulang, Ivan hanga fokus pada jalanan yang dia lalui, sedang Diana bersandar pada sandaran kursi mobil, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, dirinya saat ini sangat letih.


Akhirnya mobil Ivan sampai di gedung Apartemennya, keduanya masih betah membisu. Diana langsung masuk ke kamarnya, begitu juga Ivan.


Menit demi menit berlalu. Ivan keluar dari ruang ganti dengan wajah segar, dan pakaian santai yang melekat di tubuhnya.


Tlink!


Suara notifikasi handphonenya membuat perhatian Ivan tertuju pada benda pipih persegi panjang tersebut.


...Rekaman cctv permintaan Tuan pada petugas keamanan Rumah Sakit Healthy And Spirit, sudah di dapat. Barusan saya kirimkan pada Tuan....


Ivan segera memeriksa video yang Amanda kirimkan padanya. Dari tayangan cctv, sangat jelas Diana kena sabetan senjata tajam yang ditodongkan perawat itu padanya. Rasa khawatir seketika menyeruat dari dalam diri Ivan, entah dari mana kekhawatiran itu muncul, sontak Ivan melangkah begitu tergesa menuju kamar Diana.


Handphone Ivan bergetar lagi, terlihat Amanda menghubunginya. Ivan mengangkat panggilan Amanda, dan kembali melanjutkan langkahnya. 


"Halo Tuan. Nama wanita itu: Quenzee. Dia seorang perawat di Rumah Sakit Healthy And Spirit.


"Sepertinya ini hanya persaingan, Diana marah pada Perawat itu, karena perawat itu yang mendapat kepercayaan untuk melakukan operasi bersama dokter hebat, sedang Diana ... dia tidak diberi kesempatan untuk mendampingi dokter hebat yang tengah melakukan operasi besar."


Amanda melanjutkan laporannya. "Karena serangan Diana, perawat itu di rawat di Rumah Sakit, cedera beberapa bagian tubuhnya cukup parah Tuan."


"Ini sangat mencoreng nama baik keluarga Agung Jaya, saya menganjurkan agar Diana mendatangi keluarga korbannya, dan meminta maaf pada mereka semua.Semoga mereka mau menyelesaikan kasus ini dengan jalan kekeluargaan, demi nama baik Perusahaan, dan nama baik keluarga besar Tuan."


Saat yang sama, Ivan sampai di depan pintu kamar Diana, dia perlahan membuka pintu kamar itu. Saat separu pintu kamar terbuka, mata Ivan melihat sosok Diana yang tertidur pulas di tempat tidur, Ivan bisa melihat jelas, Diana sangat kelelahan, bahkan wanita itu tidur tanpa mengganti pakaiannya.


Ivan kembali menutup pintu kamar. "Sudah?" Tanya Ivan, pada wanita yang terus mengoceh di ujung telepon sana.


"Sudah Tuan."


Tanpa bicara lagi, Ivan langsung menutup panggilan teleponnya.


***


Hari paling melelahkan itu berlalu begitu saja. Kini matahari kembali menyinari bumi bagian itu. Rasa lelah yang menghinggapi tubuhnya, membuat Diana tidak bisa mengontrol tidurnya. Perlahan kedua mata yang terpejam itu mengerjap, dengan susah payah akhirnya Diana berhasil membuka sempurna kedua matanya. Saat melihat jam weker yang ada di nakas, jam menunjukkan jam 12 siang.


Diana segera bangun, perutnya sangat lapar. Saat dirinya melewati ruang tamu, di saja ada Yudha, juga seorang wanita muda.


"Akhirnya kau bangun juga, lebih baik kamu makan dulu, di dapur ada bubur, makanlah, pulihkan tenagamu," ucap Ivan.


Diana segera menuju bagian dapur yang masih satu ruangan dengan ruang tamu, dia tidak memperdulikan 3 orang yang ada di ruang tamu. Melihat Diana duduk sendirian di meja makan, Yudha segera berdiri dan berjalan cepat mendekati Diana, dia meninggalkan Ivan dan Barbara, sekretaris kedua Ivan.


Saat sampai di dekat Diana, Yudha melihat Diana mulai menyantap bubur yang disediakan Ivan.


"Bagaimana buburnya? Kamu suka?" Yudha menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja makan.


Namun Diana hanya diam dan meneruskan usahanya memindahkan isi mangkok itu ke dalam perutnya.


"Tadi pagi, Ivan memintaku membeli bubur, kalau kamu suka, aku akan membelikan lagi di sana, kalau kamu tidak suka, aku akan beli ditempat lain."


Diana tetap fokus dengan mangkok buburnya, tidak memperdulikan ucapan Yudha. Sedang Yudha tersenyum melihat Diana tidak peduli padanya. Semakin Diana mendiamkannya, Yudha semakin semangat. Apalagi kini dia tahu, Diana adalah cucu dari dokter legenda sahabat neneknya. Pandangan Yudha tertuju pada tangan kiri Diana yang berbalut perban. Perlahan Yudha menggerakkan tangannya, ingin menyentuh permukaan perban yang membalut telapak tangan Diana.


"Kamu bukan dokter Yud! Jangan sentuh tangan Diana! Bagaimana kalau tanganmu tidak steril? Yang ada hanya membuat luka Diana infeksi!"


Teguran itu sontak membuat Yudha menahan pergerakan tangannya. Dia menoleh kearah sofa tamu, Ivan masih di sana, bahkan matanya fokus memandangi layar laptopnya.


Pakai mata yang mana dia bisa tahu, kalau aku ingin memegang tangan Diana.


Tatapan mata Yudha terus tertuju pada Ivan.

__ADS_1


Ivan merasakan sorot mata Yudha yang hanya tertuju padanya. "Luka di telapak tangan kiri Diana ada dua, sebab itu aku melarangmu melakukan hal yang bukan tugasmu!" Ucapnya, tanpa merubah sedikitpun arah padangan matanya yang terus memandangi layar laptop.


"Untuk laporan pada berkas itu." Ivan mengisyarat pada hal yang dia maksudkan pada Barbara. "Ada sedikit koreksi. Setelah sampai kantor, tolong kamu perbaiki, Barbara."


"Siap Tuan," sahut Barbara.


Ivan meneruskan pekerjaannya. Sedang Yudha terus memperhatikan Diana.


Akhirnya mangkok itu kosong, semua isinya sudah berpindah ke dalam perut Diana. Diana bangkit dan meletakkan mangkok kosong itu di wastafel, tubuhnya masih lelah, Diana segera kembali berjalan menuju kamarnya. Yudha tersenyum melihat Diana seperti itu, walau hanya memandang, Yudha sangat puas, dia segera kembali mendekati Ivan dan Barbara.


Di dalam kamar Diana, dia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya, dan dia segera kembali ke luar, menghampiri Ivan. Diana memberikan beberapa lembar uang yang dia pegang pada Ivan, sebagai ganti biaya pengobatan yang Ivan tanggung. Ivan tidak mau berdebat saat ini, dengan santai Ivan menerima uang yang Diana berikan padanya.


Barbara dan Yudha saling pandang melihat kejadian barusan. Seorang Ivan Hadi Dwipangga, CEO muda, penerus utama tahta Agung Jaya, tidak kekurangan apapun, bahkan hidupnya bergelimangan harta, saat ini malah menerima beberapa lembar uang dari seorang gadis bisu.


Ivan menyimpan uang yang Diana berikan padanya, berusaha tidak memperdulikan sorot mata Yudha dan Barbara. "Kamu sudah minta izin, kalau tidak kuliah hari ini? Tanya Ivan pada Diana.


Diana membuka handphonenya, jemarinya terus menggeser hal yang dia cari. Diana memperlihatkan layar handphonenya, yang berisi chat dia dengan dosen yang mengajar hari ini.


Ivan lega, ternyata Diana sudah meminta izin dari kampusnya. "Baguslah."


Merasa tidak ada keperluan bersama tiga orang tersebut, Diana berbalik dan kembali mengayunkan kakinya menuju kamarnya.


Perhatian Ivan tertuju pada Yudha, dia menangkap basah Yudha yang tidak bisa berhenti memandangi Diana, ada perasan jengkel yang muncul melihat Yudha memandang Diana seperti itu, ingin rasanya dia mencongkel kedua bola mata Yudha.


Ivan berusaha mengembalikan kesadarannya. "Yud!"


Panggilan Ivan, membuat Yudha harus menyudahi keindahan yang dia pandang, dia merubah arah pandangannya kearah Ivan. "Iya."


"Bagaimana keadaan nenekmu?"


Mendengar pertanyaan Ivan yang menanyakan nenek Zunea, tanpa Diana sadari langkah kakinya terhenti. Diana mematung di tempatnya.


"Nenekku semakin membaik, Van." 


"Syukurlah, aku sangat bahagia mendengarnya," sahut Ivan.


Diana tersenyum, rasanya ratusan anak panah yang menancap di punggungnya ikut tercabut, mendengar nenek Yudha membaik, Diana sangat lega mendengar kabar itu.


"Aku tidak menyangka Van, ternyata dokter hebat orang yang misterius selama ini adalah pengacara Nizam!"


Mendengar ucapan Yudha, kedua alis Diana tertaut.


"Kamu yakin, kalau Nizam adalah dokter hebat itu?" tanya Ivan.


"Kamu ingat saat genting itu? Aku mendengar suara laki-laki dari ujung telepon, bukan cuma itu, aku juga mencari tahu tentang pengacara Nizam, ternyata sebelum dia jadi seorang pengacara, dia adalah seorang dokter."


Ivan berusaha mencerna semua ucapan Yudha.


"Bukan cuma itu, Van. Aku juga sudah bertanya langsung pada pengacara Nizam, dan pengacara Nizam mengakui, kalau dirinya dokter hebat itu," ucap Yudha mantap.


"Kau tau apa yang dia katakan padaku, Van?"


"Apa yang dia katakan?"


"Jika di masa depan kamu bertemu dengan dokter hebat ini, kamu harus sujud syukur di depannya." Yudha menirukan gaya berbicara pengacara Nizam.


"Sangat berlebihan!" Protes Ivan.


"Bagiku tidak, karena dia telah menyelamatkan nenekku."


Kesadaran Diana kembali, dia meneruskan langkahnya menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2