
Tugas kuliahnya hari ini cukup banyak, Diana terlambat menyelesaikan tugasnya, beruntung dosennya memberi waktu pada Diana, sedang beberapa Mahasiswa lain sudah pergi makan siang. Setelah semuanya selesai, Diana menyerahkan tugasnya, dia segera bejalan menuju kantin, saat ini band keroncong mulai konser di dalam perutnya. Saat Diana sampai di kantin, terlihat pemandangan yang sedikit berbeda. Karena beberapa stand yang menyediakan menu makan siang tutup. Diana menyisir pandangannya, dia mencari sosok Saras, dan ingin mengajak Saras makan siang di luar. Ternyata Saras sudah duduk manis di salah satu meja menikmati makananya bersama teman-temannya yang lain.
“Kamu sudah makan siang?”
Diana langsung menoleh kearah sampingnya, ternyata itu Syila. Diana hanya menggelengkan kepalanya.
“Bagaimana kita makan bersama di luar?”
Diana menyutujui ajakan Syila, saat mereka melewati halaman kampus, tidak sengaja Diana bertemu mahasiswa lain yang menjadi temannya saat bermain game online.
“Hai Diana.” Sapa salah satunya.
Diana hanya membalas sapaan temannya dengan Bahasa isyarat.
“Kalian mau ke mana?”
“Mau makan siang,” sahut Syila.
“Kalau begitu bareng saja, di dekat kampus ada sebuah Clubhouse yang menyajikan banyak makan menu makanan. Bagaimana?”
Syila mempertimbangkan ajakan Mahasiswa yang ada du depannya.
“Tenang saja, aku yang traktir,” sahut yang satunya.
“Sepertinya makan siang bersama asyik juga, walau di luar, tapi kalau sama-sama, kita akan merasa seperti kita makan siang di kantin. Bagaimana Diana?” tanya Syila.
Diana menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka berempat segera berjalan menuju gerbang kampus untuk menyetop taksi.
“Nicholas, Malvin, Diana, Syila …, kalian mau ke mana?”
“Hei! Thaby!” Malvin langsung menyambut Thaby. “Kami mau makan siang, aku mengajak dua mahasiswi cantik itu makan siang di clubhouse yang tidak jauh dari sini. Mau ikut?”
“Aku ikut,” sahut Thaby. “Kesana naik apa?”
__ADS_1
“Ini kami lagi nunggu taksi,” sahut Syila.
“Tidak perlu, kita pakai mobilku saja, Mobilku lumayan besar muat lah bawa kalian, di bagian tengah Diana dan Syila, bagian belakang Nicholas atau Malvin terserah saja.”
Mereka segera berangkat menuju tempat yang di maksud Nicholas. Tempat yang Nicholas tentukan memang sangat mewah. Thaby dan Malvin mengagumi kemewahan clubhouse yang mereka datangi.
“Ayo kita masuk, pesan apapun yang kalian mau. Aku yang akan traktir kalian semua,” ucap Nicholas begitu bangga.
“Lucas?” sapa Nicholas. Mereka bertemu dengan Lucas dan dua temannya di tempat ini. “Lebih baik kalian bergabung bersama kami Lucas,” tawar Nicholas. Lucas menyetujui ajakan Nicholas, mereka semua segera memasuki tempat yang Nicholas pilih.
"Mbak, saya mau tempat itu." Nicholas menujuk kearah Griya Tawang yang sangat indah.
"Maaf Tuan, tempat itu hanya bisa di sewa pelanggan yang memiliki kartu VIP."
Nicholas pasrah, dia hanya bisa menempati tempat yang biasa. "Ayo teman-teman, pesan apa saja yang kalian mau, tenang saja, semua tagihan aku yang tanggung. Kalian jangan takut."
"Kamu hanya pesan itu By? Ayolah pesan yang lain, jangan seperti orang susah," ucap Nicholas.
Nicholas selalu saja bersikap sombong, karena dia merasa paling kaya diantara teman-temannya. Diana mulai bosan dengan tingkah Nicholas.
Diana sangat kesal melihat tingkah Nicholas yang sangat menginjak harga diri teman-temannya. Mentraktir teman untuk makan siang, bukan berarti telah membeli harga diri mereka. Diana tidak terima perlakuan Nicholas yang menjamu, tapi seperti menginjak harga diri mereka semua.
Diana mengeluarkan kartu VIP yang Ivan berikan padanya tadi pagi. Membuat mata semua orang membulat sempurna melihat kartu yang Diana miliki. Karena uang yang banyak saja tidak cukup untuk memiliki kartu itu, hanya orang-orang terdekat pemilik tempat ini yang bisa memilikinya.
“Karena teman kami punya kartu VIP, berarti kami bisa menempati Griya tawang itu mbak?” tanya Syila pada salah satu pelayan.
“Tentu saja, silakan pilih tempat yang kalian mau.”
Syila, Nicholas, Malvin, Lucas, dan dua teman Lucas yang lain segera naik ke lantai atas dan menuju griya tawang. Di bawah hanya tertinggal Diana dan Thaby
“Diana …, jangan terlalu lama pura-pura bisu. Bagaimana kalau kamu lupa cara berbicara?” ledek Thaby.
Diana mengamati keadaan sekitar, merasa aman, dia menoleh pada Thaby. “Baguslah kalau aku lupa cara berbicara, dengan begitu aku tidak perlu mengencangkan urat leherku untuk marah-marah.”
__ADS_1
Thaby tersenyum bahagia, akhirnya dia mendengar suara Diana lagi. Mendengar suara obrolan dari arah tangga, Thaby berusaha menyembunyikan kebahagiaannya.
"Hey, kenapa kalian hanya di sana? Ayo naiklah, pemandangan diatas sangat indah," ucap Syila.
Saat beberapa saat menunggu, akhirnya menu pesanan mereka semua sudah tertata rapi di meja makan.
Nicholas memanggil pelayan, ingin membayar tagihan makan siang mereka. Tapi pelayan mengatakan semua itu sudah dibayar oleh pemegang kartu VIP. Tidak terasa satu jam berlalu, Diana yang membayar semua tagihan mereka, membuat Nicholas kesal, karena dia tidak punya kesempatan sedikit pun untuk mentraktir teman-temannya. Setelah selesai menikmati makan siang mereka, Nicholas dan Marvin pergi lebih dulu, di susul oleh Syila, Lucas dan dua temannya yang lain. Hanya tertinggal Thaby dan Diana. Diana memainkan handphonenya, dia memesan taksi online.
Selama makan siang, Thaby terus melirik Lucas, dia curiga pada Lucas, dari tatapan matanya sepertinya Lucas menyukai Diana. “Diana, kamu dekat dengan Lucas?” tanya Thaby.
“Secara pribadi tidak, tapi sebatas sebagai mahasiswa, iya.” Diana melihat handphonenya menerima pesan dari supir taksi online, kalau dia sudah sampai.
“Aku duluan,” ucapnya, Diana pergi begitu saja dari sana. Sedang Thaby mematung di tempatnya.
Setelah sampai di asramanya, ternyata Syila belum kembali, Diana meraih laptopnya, dia berusaha memperlajari tentang operasi yang akan dia lakukan. Diana merasa kesulitan di beberapa hal, dia segera menelepon Profesor Hadju.
“Maaf Pof, saya mengganggu Anda.”
“Tidak apa-apa, Diana. Katakan ada apa?”
Diana mulai menjelaskan beberapa hal yang sulit dia mengerti. Profesor Hadju menjelaskan pada Diana.
“Biar kamu mudah memahami, coba kamu temui Russel, dan tanyakan padanya. Agar dia menjelaskan secara langsung.”
Seetelah menyudahi pembicaraanya dengan Profesor Hadju, Diana segera keluar dari kamar dan mencari Russel, saat dia melewati salah satu kelas, tiba-tiba seseorang menariknya ke dalam kelas yang dia lalui.
“Diana, ada berita heboh kemaren!”
Diana bertanya dengan Bahasa isyarat.
Saras langsung menarik Diana ke salah satu kursi, mereka duduk berdampingan. “Ada artikel yang memuat berita tabrak lari, dan tersangkanya adalah kamu.” Saras memperlihatkan layar handphonenya pada Diana.
Tertulis di artikel itu, kasus tabrak lari yang melibatkan dirinya.
__ADS_1
“Akhirnya alam pun memberi tahu kalau wanita desa sok polos itu adalah seorang penjahat.”