Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 207 Aku Masih Normal


__ADS_3

Saat berada di deck, Ivan tidak menyadari luka Diana, karena bau darah di sana tercium dari berbagai arah. Sedang di kabin, hanya ada mereka berdua. Bau amis darah yang terendus indra penciuman Ivan, membuat Ivan harus mengumpulkan sisa kesadarannya yang terbang entah kemana karena rayuan Diana.


Ivan kembali fokus mengobati luka Diana.


"Aww!" Diana menjerit.


"Sudahi dramamu, rasa sakit yang lebih besar dari ini saja kamu sanggup menahannya. Justru harusnya aku yang menjerit," gerutu Ivan.


Diana diam, pikirannya tertuju pada penyerang yang berhasil mereka tangkap. Diana memikirkan cara untuk mengintrogasi mereka dan memberi pelajaran yang tidak bisa dia lupakan.


Sedang Ivan masih fokus pada luka Diana. Ivan berusaha terlihat tenang, dan mempertahankan raut wajah kakunya, pandangan matanya terus memandang luka Diana. Diana yang terluka, tapi dia yang merasakan sakit itu. Sekali sapuan kapas yang ditetesi obat menyentuh permukaan luka Diana, batin Ivan menjerit. Mendengar Diana menjerit, Ivan semakin merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Diana memandangi wajah Ivan sangat serius, dia mulai membalut perban di pergelangan tangannya. "Sejak mengenalmu lebih dekat, entah kenapa aku menjadi sangat lemah, kekuatanku saat ini tunggal satu, dan itu adalah kamu."


Ivan meletakan kotak obat yang dia pangku ke pangkuan Diana, sedang Ivan menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Diana tertawa melihat tingkah Ivan. "Kenapa?"


"Andai aku tercebur ke lautan ini, hal wajar aku mati lemas, tapi saat ini aku berada didalam kapal yang masih selamat, tetap saja aku hampir lemas." Suara Ivan tertahan oleh bantal.


"Lemas kenapa?" Tanya Diana.


"Lemas karena rayuanmu."


Ivan bangkit, dia duduk berhadapan dengan Diana. "Kamu ingat, pas kamu bertanya padaku apa aku melihat ada sesuatu di halaman kantorku?"


"Hemmm, ingat," sahut Diana.


"Aku berlari dari lantai 30 ke lantai dasar." Wajah Ivan terlihat sangat sedih.


"Siapa yang menyuruhmu berlari?" Tanya Diana.


"Tidak ada, hatiku yang membuatku berlari, aku mengira kamu pulang dan berdiri di depan kantorku."


Diana menepuk jidatnya. "Pantas saja napasmu begitu memburu."


"Itu hal wajar, aku sangat merindukanmu." Ivan menarik Diana kedalam pelukannya.


"Kapan kamu kembali? Aku sangat merindukanmu," bisik Ivan.

__ADS_1


Diana menarik diri dari pelukan Ivan. "Aku belum bisa kembali dalam waktu dekat ini."


"Tugasmu belum selesai?"


"Tugasku mana pernah bisa selesai, tapi cukup iya."


"Terus apa yang membuatmu tertahan hingga kamu tidak bisa pulang? Apa kamu tidak merindukan aku? Apa kamu tidak rindu pelukanku, suaraku?"


Ivan langsung membuang napasnya kasar. "Aku lupa, kamu tidak pernah benar-benar merindukanku."


"Aku pergi dulu, aku mau memeriksa keadaan di kapal sebelah."


Diana menahan pergerakan Ivan dengan memegang pergelangan tangan Ivan.


"Kenapa buru-buru? Katanya rindu padaku." Diana bangkit, dia berdiri berhadapan dengan Ivan.


Diana mendekatkan wajahnya ke wajah Ivan, jemari lentiknya perlahan membelai sisi wajah Ivan, menyentuh permukaan kulit wajah Ivan dengan lembut.


Ivan berusaha menahan napasnya karena sentuhan Diana. "Jangan menggodaku."


"Apa aku saat ini menggodamu?"


"Aku hanya ingin mengintrogasi penyerang itu."


"Lebih penting mereka, apa aku?" Diana mendorong Ivan keatas tempat tidur, membuat laki-laki itu tertelentang di sana.


Diana merangkak naik keatas tubuh Ivan, jemarinya mulai nakal, perlahan dia membuka satu per satu kancing kemeja Ivan. Baru dua kancing yang terlepas, gerak tangan Diana terhenti, karena Ivan menahanya.


"Kamu belum mengatakan, kenapa kamu tidak bisa pulang," ucap Ivan.


Diana terdiam, sesaat kemudian keadaan berbalik, saat ini Ivan yang berada diatas tubuh Diana.


"Bisa ceritakan padaku apa alasanmu?"


Melihat Diana membisu, Ivan kembali duduk, Diana pun ikut duduk di samping Ivan.


"Ada pengkhianat di organisani IMO, dan aku ingin membereskan si pengkhianat ini."


***

__ADS_1


Tanah Air.


Pekerjaan di kantor Agung Jaya terasa sangat melelahkan, hari ini Yudha mengerjakan semua pekerjaan sendirian, biasanya pekerjaan itu dia kerjakan bersama dengan Ivan.


Selesai membersihkan tubuhnya, Yudha menghempas kasar bobot tubuhnya keatas tempat tidur. Rasa lelah itu membuat Yudha larut begitu saja ke alam mimpi.


Beberapa jam berlalu.


Yudha masih larut di alam bawah sadarnya, namun suara deringan handphone yang berulang, membuat Yudha terbangun.


Dengan sangat malas Yudha bangkit dari tempat tidur dan meraih handphonenya, wajahnya seketika masam saat melihat nama Dillah di layar handphonenya. "Ada apa Dillah? Apa kamu tidak ada pekerjaan di sana? Kamu tahu sekarang di sini jam berapa?" omel Yudha.


"Aku tidak tahu di sana pukul berapa, yang jelas di sini jam 21.30," ucap Dillah.


"Di sini sudah jam 02.30!"


"Anda begadang Tuan?" tanya Yudha.


"Aku tidak begadang! Aku sudah tidur! Aku terbangun karena panggilanmu, katakan ada hal penting apa? Kalau bukan hal penting ku kebiri nanti kau saat kembali nanti!" maki Yudha.


"Anda sangat bernappsu menjadikanku ehemmu!" goda Dillah.


"Katakan maksudmu!" Yudha semakin marah.


"Tuan Ivan menjelma jadi malaikat penolong saat ini," ucap Dillah.


"Maksudmu?"


Dillah menceritakan kejadian saat kejadian tembak-menembak, hingga akhirnya sosok Ivan muncul saat mereka hampir kalah.


"Pantas saja kata Narendra Ivan terlihat sangat gusar, ternyata dia merasakan firasat buruk yang menimpa Diana." Yudha sangat bahagia mendengar cerita Dillah, kalau Ivan datang di saat yang tepat.


"Hei Dillah! Kau tidak ingin memberinya pelajaran?"


Suara wanita itu sangat jelas Yudha dengar. "Waw, cepat juga dirimu menemukan pasangan."


"Jangan cemburu Tuan, aku tetap setia pada Anda, sepertinya belok dengan Anda hal yang sangat menantang, dan aku suka tantangan." goda Dillah.


"Asem kau! Aku masih normal!" Yudha langsung memutuskan sambungan telepon mereka.

__ADS_1


__ADS_2