Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 45 Berkelahi Lagi?


__ADS_3

Beberapa karyawan kantor yang dilewati Yudha dan Diana, mereka terus memandangi dua orang itu, namun semua bungkam, penasaran namun tak berani mencari tahu. Yudha dan Diana pun sampai di lantai 30, di mana ruangan Ivan berada.


Tink!


Suara pintu lift khusus terbuka, Amanda terkesiap melihat dua sosok yang keluar dari lift. Yudha dengan wajah yang penuh kemarahan, sedang Diana wanita itu terlihat santai tanpa expresi apapun.


"Pagi ...." sapa Amanda, namun dua orang itu berlalu begitu saja.


Ceklak!


Pintu ruangan Ivan terbuka, tampak sosok Barbara keluar dari sana memeluk beberapa berkas. Barbara masih tidak menyadari keberadaan Yudha dan Diana, dia menutup santai pintu ruangan Ivan. Saat dia menegakkan wajahnya, di depannya ada dua orang yang sering bertemu dengannya. "Selamat pagi Tuan Yudha, selamat pagi Nona Diana," sapanya.


"Pagi," sahut Yudha.


Sedang Diana hanya menganggukkan sedikit kepalanya menanggapi sapaaan Barbara.


"Ivan ada di dalam?" Yudha memastikan.


"Ada Tuan," sahut Barbara.


Yudha dan Diana pun langsung masuk kedalam ruangan Ivan.


Amanda memandang sinis kearah pintu kerja ruangan Ivan. "Mereka menyapamu, sedang aku mereka abaikan," gerutu Amanda.


"Jika ingin orang lain bersikap baik pada kita, perbaiki sikap kita dulu." Barbara tersenyum sambil berjalan mendekati Amanda. "Kita yang selalu baik saja, seringkali mendapat perlakuan tidak menyenangkan, apalagi kalau sikap kita menyebalkan lebih dulu." Barbara memberikan beberapa dokumen pada Amanda. "Ini yang harus kamu kerjakan, yang ini aku akan selesaikan."


"Kau ingin mengguruiku? Kau tahu bukan kalau aku lebih dulu bekerja di sini!"


"Tuh kan, kamu ngegas aja. Aku nggak nuduh kamu, aku cuma kasih saran. Kamu pakai silakan, enggak juga nggak apa-apa. Jangan emosian, ntar Rumah Sakit penuh sama pasien darah tinggi." Dengan santai Barbara meninggalkan meja kerja Amanda.


*


Di ruangannya Ivan terlihat sangat sibuk, bermacam berkas seakan memenuhi meja kerjanya.


Ceklak!

__ADS_1


Suara pintu yang terbuka kembali membuyarkan perhatian Ivan pada pekerjaannya, dia menegakkan wajahnya dan memandang kearah pintu, dari pintu mucul Yudha dan Diana.


“Van, tangan Diana berdarah lagi.” Yudha mengisyaratkan pada perban yang semakin memerah. “Tad—”


Drtttt!  Drttt! Drttt!


Getaran handphone membuat Yudha tidak fokus untuk melanjutkan ceritanya, melihat penelepon adalah orang penting, Yudha tidak bisa mengabaikan panggilan yang masuk. “Permisi sebentar, aku harus menerima panggilan ini.” Yudha pun langsung keluar dari ruangan Ivan.


Sekilas Ivan menatap Diana dengan tatapan mata yang begitu dingin, lalu dia kembali fokus dengan pekerjaanya. Sedang Diana dengan santai menghempaskan bobot tubuhnya di sofa yang ada di dekatnya. Selesai dengan pekerjaannya, Ivan berjalan menuju lemari, dia mengambil sesuatu dari sana, dan duduk di dekat Diana dengan kotak obat yang dia bawa. Tanpa bicara sepatah kata pun, Ivan langsung membuka perban Diana yang dipenuhi darah, dengan lembut dia membersihkan luka itu, bahkan Ivan sangat hati-hati. Merasa semua sudah bersih Ivan mengobati luka Diana, sesekali dia melirik wajah Diana, dia takut perlakuannya menyakiti Diana, namun wajah Diana terlihat begitu dingin tanpa expresi apapun. Sedang Ivan meringis sendiri meneteskan obat diatas luka yang separah itu. Selesai, Ivan pun membalutkan perban baru pada kedua tangan Diana.


“Kamu berkelahi lagi?”


Diana menggelengkan kepalanya mejawab pertanyaan Ivan. Melihat Ivan sudah selesai, Diana pun langsung berdiri. Diana berjalan menuju pintu, namun baru beberapa langkah, dia berhenti, dan berbalik kearah Ivan, perlahan dia mengetikkan kata pada handphonenya dan memperlihatkannya pada Ivan.


*Terima Kasih.


Ivan hanya diam, sedang Diana kembali meneruskan langkahnya, saat hampir sampai di depan pintu, pintu kembali terbuka, terlihat dari sana muncul dua sosok pria tampan. Diana berpapasan dengan Yudha, dan seorang laki-laki yang tidak asing bagi Diana.


“Selamat pagi, Ivan.” Sapa laki-laki itu.


Pandangan Fredy tertuju pada Diana, perasaanya sangat gembira bisa melihat Diana lagi, dia ingin menyapa Wanita itu, namun Diana mengabaikannya dan malah mengubah pandangannya, wanita itu memandang kearah Ivan. Ivan mengerti apa arti tatapan mata Diana padanya.


“Kalau kamu ingin kembali ke kampus, nanti diantar oleh supir kantor dan Barbara.” Ivan langsung meraih teleponnya.


Diana menggelengkan kepalanya, melihat Diana menggeleng Ivan pun meletakkan kembali teleponnya, dia batal menghubungi Barbara. Tidak memberi isyarat pada siapa pun lagi, Diana langsung pergi dari ruangan Ivan.


Setelah Diana pergi dari ruangan Ivan, keadaan seketika terasa canggung.


“Silakan duduk, Tuan Fredy.” Sambutan Yudha seakan meleburkan kecanggungan yang terjalin.


Dengan santai Fredy duduk di salah satu Sofa, kemudian di susul oleh Ivan dan Yudha.


"Kami sangat berterima kasih, atas keputusan Tuan Fredy yang begitu luar biasa, menolak kerjasama yang ditawarkan oleh Tuan Fazran," ucap Ivan.


"Saya melakukan itu, ada alasan khusus yang tidak bisa saya ceritakan saat ini," sahut Fredy.

__ADS_1


"Tapi, seseorang yang membuat Tuan Fredy yakin dengan keputusan itu, membuat kami sangat kagum, dia berhasil mendapat kepercayaan dari CEO Edge Group," sela Yudha.


Ketiganya mulai membahas urusan perusahaan. Tidak banyak pembicaraan mereka, karena Ivan dan Fredy sosok yang sangat dingin, kaku, dan hanya bicara seperlunya saja.


“Semoga kejadian yang baru-baru terjadi tidak mengganggu kerjasama kita,” ucap Yudha.


Fredy hanya tersenyum kecil.


“Bagaimana kalau kita bahas semua rencana lanjutan ini sambil makan siang?” tawar Ivan.


“Untuk membahas kerjasama kita, waktunya nanti kita tentukan lagi, sekarang saya hanya meluruskan yang berkaitan dengan Fazran kemaren, untuk urusan kerjasama yang lain, nanti sekretaris kita yang sesuaikan jadwal kita."


Ivan berusaha santai, ajakan makan siangnya ditolak Fredy.


"Maafkan saya Tuan Ivan, bukan maksud saya lancang menolak ajakan makan siang dari petinggi Agung Jaya. Tapi, hari ini saya masih ada urusan yang lain.” Fredy melirik arlojinya. “Sepertinya saat ini juga saya harus pergi.”


"Terima kasih, telah menyempatkan waktu berkunjung ke Agung Jaya," ucap Yudha, seraya mengulurkan tangannya.


"Sama-sama." Fredy menyambut uluran tangan Yudha. Dia memandang kearah Ivan. “Senang bisa bertemu dan bicara langsung dengan Anda, Tuan Ivan.” sambil mengulurkan tangannya pada Ivan.


“Saya juga sangat senang.” Ivan menyambut uluran tangan Fredy.


"Mari saya antar sampai ke bawah," sela Yudha.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri, terima kasih," tolak Fredy halus.


Fredy pun langsung meninggalkan ruangan Ivan. Saat keluar dari lift khusus, Fredy terlihat begitu tergesa-gesa, dia setengah berlari menuju mobilnya. Saat sudah masuk ke dalam mobil pun, dia buru-buru melajukan mobilnya. Saat keluar dari area parkir, matanya terus menyisiri keadaan yang dilewatinya, hingga hatinya seketika lega, saat matanya melihat sosok yang dia cari-cari dari tadi, sosok itu duduk santai di halte bus yang dekat dengan Gedung Agung Jaya. Fredy perlahan menurunkan kecepatan mobilnya, dan parkir di depan Wanita yang dia cari-cari. Fredy segera turun dari mobil dan menyapa Wanita itu. “Hai Diana.”


Melihat mobil yang berhenti di depannya, dan sosok yang keluar dari mobil menyebut namanya, seketika perhatian Diana tertuju ke arah itu. Kedua alis Diana tertaut saat menyadari itu adalah Fredy. Fredy terus berjalan kearahnya, dan laki-laki itu kini berdiri tepat di depannya.


Di sisi yang lain, langkah Amanda terhenti saat melihat CEO Edge Group bersama Diana, dia segera mengambil handphonenya dan mengabadikan momen itu. Senyuman licik menghiasi wajahnya, senjata yang ampuh baginya untuk membuat laporan pada Ivan nanti.


****


Siapa Fredy, nanti insya allah pada bab lanjutannya. Semua butuh proses, Editor dari misi kepenulisan butuh waktu untuk mengetik tiap bab kerangka, aku juga butuh waktu untuk memahami isi kerangka bab yang aku terima.

__ADS_1


Pemilik Ide cerita ini luar biasa, aku pun sangat kagum dengan cerita ini.


__ADS_2