Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 179 Kembali padaku


__ADS_3

Mengambil keputusan tanpa adanya kamu saja berat, Van. Bagaimana aku bisa mengambil keputusan saat kamu dan Nenekku sama-sama berdiri di depanku. Andai aku bisa memilih, aku tidak ingin meninggalkanmu, tapi aku juga tidak ingin membuat Nenekku sedih.


Andai Nenek tahu, aku menerima perjodohan ini karena dendamku, mungkin dia akan semakin marah padaku.


Kini aku tenggelam dalam dilemaku. Selain perasaan aneh ini, aku masih memiliki tujuan tersembunyi. Jika aku kekeh pada keinginanku untuk bersamamu, maka aku akan menyakiti Nenekku.


Nenekku mengira, aku bertahan karena cinta. Dia akan sangat terluka jika dia melihatku memperjuangkan hubungan ini atas nama cinta, luka lama yang ada di hati Nenekku akan terbuka lagi. Terlebih nyawaku juga dalam bahaya.


Belum lagi, misteri kematian ibuku karena obat beracun belum terungkap.


Bagaimana aku bisa merencanakan kebahagiaan bersamamu, karena mungkin saja aku tewas di tangan para pengejar harta Bramantyo.


Detakan jantung Ivan yang didengar telinga Diana, seakan menjadi melody yang menemani Diana menyelami pemikirannya.


*


Ivan juga tenggelam dalam perasaannya.


Kenapa Nenekmu ingin mengambilmu dariku, setelah kamu mengambil seluruh hatiku?


Kenapa Nenekmu tidak mengambilmu saat aku belum jatuh cinta padamu?


Ivan berusaha memahami posisi Diana. Sejak kecil hidupnya tidak bahagia, hanya Neneknya yang menjadi matahari yang menyinari suramnya kehidupan gadis yang ada dalam dekapannya.


Bukankah kamu bilang, kamu akan melindingi Diana, walau dia memilih meninggalkanmu?


Ivan memperingatkan hatinya akan tekadnya sebelumnya.


Berkata sangat mudah, tapi kenyataannya, tanpa Diana hidupku kehilangan warna. Diana adalah kaca mataku untuk melihat indahnya warna-warni yang ada di dalam kehidupan ini.


Kamu ingin membelenggu Diana dengan cintamu? Kamu ingin membuat Diana menyakiti seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya?


Aku tidak memaksa Diana untuk memilihku, apa aku salah, jika aku memperjuangkan Diana?


Ivan berusaha mengumpulkan lagi kesadarannya yang terburai. Dia memandangi Diana yang hanyut dalam dekapannya. Perlahan Ivan melepaskan dekapannya, mereka berdua kembali saling berhadapan. Kedua tangan Ivan mendarat di pundak Diana. “Jika kamu bisa memegang janjimu kalau kamu akan kembali ke sini lagi untukku, tidak masalah aku tidak ikut kamu ke desa.”


“Aku berjanji, aku akan kembali lagi ke kota ini,” ucap Diana.


"Kembali padaku?" Ivan berusaha mencari kepastian dari jawaban Diana.


"Aku tidak berani menjanjikan hal yang sulit untuk aku tepati, tapi aku berjanji aku akan kembali ke kota ini secepatnya."


“Baiklah, pulanglah temui Nenekmu dan segera kembali kesini.”


“Andai nanti aku tidak bisa kembali ke kota ini, aku akan menghubungimu,” ucap Diana lagi.

__ADS_1


“Sepertinya aku harus membuat sesuatu agar kamu harus kembali kesini,” ucap Ivan serius. "Sejauh apapun kamu pergi, hal itu akan memaksamu untuk datang lagi ke sini."


“Dengan apa?” Diana bingung.


Ivan tidak menjawab pertanyaan Diana, dia langsung menyambar bibir Diana dan membuat wanita itu berada di bawah kukungannya. Perlahan tangan Ivan melepaskan kaos yang melekat di tubuhnya dan melemparnya ke sembarang arah.


Tangan Ivan juga mulai nakal, dia melepaskan satu persatu kancing piyama tidur Diana, hingga telihat jelas kain berenda yang menutup sepasang gundukan kembar yang begitu indah.


Ivan terus mencium Diana, walau Diana menepisnya, Ivan terus menikmati setiap bagian tubuh wanita itu.


"Dengan apa kamu membuatku kembali?" Diana tengelam oleh perasaan lain.


“Dengan menghamilimu.”


Kedua bola mata Diana membulat sempurna mendengar ucapan Ivan. Apalagi saat Ini Ivan sudah melepaskan bajunya.


"Dengan kamu hamil, Nenekmu tidak akan memintamu untuk meninggalkanku." Ivan mencium lembut bibir manis itu.


Sesaat Ivan menarik ciumannya. “Kamu memang tidak pernah membutuhkan aku, kamu tidak pernah merindukan diriku, tapi benih yang aku titipkan di rahimmu, akan membuatmu kembali padaku, karena dia butuh aku.”


“Berani menyentuhku, ku potong battangmu!” ancam Diana.


“Aku meragukan hal itu, saat aku sakit, kamu juga merasa sakit, bagaimana kamu punya keberanian melakukan hal itu?”


Ivan kembali menyambar bibir Diana, tidak bisa dihindari ciuman panas itu kembali terjadi lagi. Ivan tersenyum dalam hati, persis seperti dugaannya Diana juga tidak sekeras perkataanya, saat ini Diana malah mebalas ciumannya.


Mencintai itu menjaga, bukan merenggut. Dengan membuat Diana hamil di luar nikah, kamu merenggut kehormatan, dia Ivan.


Kamu memang mendapatkan apa yang kamu mau dengan membuat Diana hamil. Tapi hubungan yang dipaksakan tidak selalu indah.


Bersabar Ivan, cari jalan lain untuk memperjuangkan cintamu.


Ivan sangat tertekan oleh nasihat yang muncul dari dalam hatinya. Perlahan dia melepaskan ciuman maut mereka. Tapi melihat Diana ikut tenggelam, Ivan berpikir hal lain.


“Tidak mengapa kita bercocok tanam sekarang?"


Diana tidak mampu menjawab, dalam dirinya ada perintah, 'tendang Ivan' namun pada sisi yang lain dia menginginkan hal itu.


"Semoga saat kamu pulang nanti Ivan Junior sudah berproses di dalam rahimmu, dan itu akan alasanmu untuk tetap meneruskan pertunangan kita.”


Ivan menyentuh bagian tubuh inti Diana, membuat Diana memejamkan matanya. Ingin menolak, tapi juga tidak mampu mengelak.


"Bersiap, aku ingin menyemai benihku di sana." Ivan langsung membekap mulut Diana dengan bibirnya. Lumayan lama persilatan lidah itu, tapi Ivan tidak melakukan pergerakan apapun, bagian bawah tubuh mereka masih lengkap.


Perlahan Ivan melepaskan ciumannya. "Ternyata kamu juga sepertiku, menginginkan hal itu, selama otakku masih sedikit sehat, aku tidak akan melakukan hal itu sebelum kita menikah."

__ADS_1


Wajah Diana memerah, dia merasa malu karena Ivan mempermainkannya. Diana langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya."


Karena candaan Ivan, keadaan seketika canggung.


“Kamu benar tidak ingin menghancurkan ED Group” Ivan berusaha mengubah arah pembicaraan mereka.


“Tidak.” Diana masih membuang wajahnya kearah lain.


“Hatiku mengatakan, saat ini kamu tengah memikirkan cara untuk menghancurkan Perusahaan itu,” goda Ivan.


“Ayolah Diana, jujur saja. Aku ini pencintamu. Apa yang kamu inginkan, akan jadi keinginanku, apa yang menjadi tujuanmu, akan jadi tujuanku juga. Ayolah ….”


“Apa kamu baru akan membuka mulutmu saat aku benar-benar membuka segel gudangmu yang di bawah?” goda Ivan lagi.


Diana menatap tajam pada Ivan. “Ya, aku memang ingin menghancurkan ED Group, tapi aku belum bisa melakukannya karena aku butuh—”


“Aku,” potong Ivan.


“Bekerjasamalah denganku, Diana. Aku yakin Tuan Muda juga mengizinkanmu bekerjasama denganku.”


“Em … apa kamu hanya suka bekerjasama dalam urusan mencetak anak saja jika denganku?” goda Ivan lagi.


“Otakmu semakin tercemar!” omel Diana.


“Jika laki-laki sehat yang bersamamu, mereka tidak bisa berpikir sehat lagi jika keajaiban dunia sepertimu ada di depan mata mereka. Apalagi aku, bagaimana aku bisa berpikir sehat, setiap hari aku harus menahan hasratku padamu,” keluh Ivan.


"Apalagi saat ini, andai aku lupa sedikit saja bagaimana masa depanmu, jika saat ini aku bablas menikmati tubuhmu."


"Ku rasa tidak masalah, karena aku ingin memanfaatkanmu, bayarannya adalah tubuhku, bagaimana?" tantang Diana.


"Aku setuju, ayo manfaatkan aku dengan mengajakku bekerjasama untuk menghancurkan ED Group," balas Ivan.


Diana turun dari tempat tidur, dia berjalan menuju ruang ganti baju, dan dia kembali dengan mengenakan baju tidur yang lain.


“Ayolah Diana, lebih baik kamu bekerjasama denganku untuk melawan ED Group.” Ivan masih berusaha agar Diana mau membawanya.


“Baiklah, aku setuju. Tapi kamu membantu dari belakang layar saja, aku tidak ingin ED Group memiliki dendam padamu.”


“Walau dia tidak tahu kalau aku terlibat dalam kehancuran Perushaan mereka, namun saat kita menikah nanti, dunia akan tahu kalau ada Agung Jaya berdiri bersama Diana,” ucap Ivan.


"Menikah? Hal yang sangat jauh, ku rasa hubungan kita tidak akan sampai ke sana," gumam Diana.


"Aku akan berjuang denganmu, atau tanpamu, aku akan memperjuangkan hubungan kita, sekuat apa yang aku bisa," ucap Ivan semangat.


“Kalau kamu siap dengan segala reseko, ya ayo kita mulai Kerjasama kita.” Diana mengulurkkan tangannya pada Ivan untuk berjabat tangan.

__ADS_1


“Setuju!” Ivan langsung menyambut uluran tangan Diana.


__ADS_2