
Nazif, Agis, dan Aridya bergegas ke kamar mereka untuk bersiap menemui Nizam. Tiba-tiba ketiganya serentak menghentikan langkah mereka.
“Kalau kita sama-sama ke sana, pasti The Bramantyo curiga!”
Agis, Nazif, dan Aridya saling tatap bergantian, ketiganya mengucapkan kalimat yang sama.
“Bagaimana ini mama?” rengek Agis.
“Biar Nazif saja yang menemui Nizam. Dia lebih lihay mengalihkan perhatian. Beberapa waktu lalu saja dia pergi ke Dubai tanpa sepengatahuan kita,” ucap Aridya.
“Baiklah, aku akan segera bersiap menemui Nizam, semoga aku tidak mengecewakan kalian,” ucap Nazif.
Seperti yang Aridya usulkan, Nazif segera menuju kantor Nizam. Persis seperti dugaan mereka, ada mata-mata yang mengikuti Nazif saat dia keluar dari rumah. Nazif terpaksa mengambil jalur memutar, setelah naik taksi kearah yang berlawanan dengan kantor Nizam, dia naik bis, lalu sengaja naik kereta. Saat penguntit tidak terlihat, Nazif mengganti bajunya dan segera melanjutkan tujuannya menemui Nizam.
Di kantor Nizam.
Nizam masih sibuk dengan berkas-berkas kasus kliennya, deringan telepon kantor membuyarkan fokusnya, Nizam langsung menyambar gagang telepon itu. “Iya ada apa?”
“Tuan, ada seorang anak muda yang ingin bertemu dengan Anda, katanya ada hal penting tentang Diana.”
“Antar dia ke ruanganku.”
Nizam sangat panik jika hal menyangkut tentang Diana, baginya Diana adalah keajaiban dunia yang harus dia jaga, dan tidak seorang pun yang boleh mengusiknya, bahkan sampai detik ini dia masih ragu, apakah Ivan sosok yang tepat untuk menjaga dan memiliki Diana yang sangat berharga.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Nizam. Perhatiannya seketika tertuju pada pintu ruangannya. “Masuk!”
Perlahan pintu terbuka, memperlihatkan sosok Sekretaris Nizam dan adik tiri Diana.
“Ini tamunya, Tuan.”
“Kamu lanjutkan pekerjaanmu, dan kau Nazif, silakan masuk.”
Saat sekertaris itu pergi, Nazif perlahan mendekati Nizam. “Apakah aku hanya dibiarkan berdiri saja?”
“Apa keperluanmu? Kenapa memakai nama Diana untuk menggangguku?”
“Aku bukan mengganggu Anda menggunakan nama Diana, tapi memang pada kenyataannya Diana jadi target kejahatan seseorang.”
__ADS_1
“Maksudmu?”
Nazif mulai menceritakan rencana Arli yang ingin meledakan bom saat acara seminar berlangsung, target utama mereka adalah Diana, namun dampak lain jeleknya nama Agung Jaya yang tidak menjaga keamanan padahal dalam acara itu banyak pejabat dan tamu luar Negri.
“Aku, Kakak, juga mamaku tidak tahu dengan cara apa untuk menyelamatkan Diana. Aku tidak meminta Anda untuk percaya padaku, tapi demi keselamatan Diana, kami rela menukarnya dengan Nyawa kami.”
“Aku akan membicarakan ini dengan tim, entahlah sulit bagiku untuk percaya padamu, tapi yang kamu katakana bukan hal yang tidak mungkin.”
“Tolong lindungi permata Charlie dan Nyonya Alinka,” ucap Nazif.
“Dengan segenap hidupku,” sahut Nizam.
Nazif memberikan rencana Arli pada Nizam, dan menerangkan semuanya. Setelah semua selesai, Nazif kembali mengganti bajunya dan meninggalkan kantor Nizam dengan mobil Nizam, Nizam meminjamkan mobilnya, dan meminta Nazif meninggalkan mobilnya di tempat yang sudah dia tentukan. Sedang Nizam langsung melaporkan cerita Nazif pada Tuan muda Archer.
**
Matahari semkain meninggi, hawanya pun semakin panas. Helikopter yang membawa Ivan, Diana, Yudha, dan Dillah mendarat di atap Gedung Agung Jaya. Dillah dan Yudha langsung menuju ruangan mereka, begitu juga Ivan dan Diana, mereka berjalan bersama menuju ruangan Ivan.
Ivan menghempaskan bobot tubuhnya di sofa, sedang Diana berbaring di sofa Panjang itu berbantalkan kedua paha Ivan. Keduanya sama-sama merehatkan tubuh mereka.
Drttttt!
“Ivan ….”
“Hmmm ….” Ivan masih bersandar dan memejamkan kedua matanya.
“Boleh aku pulang?”
“Tentu saja permataku, seminggu ini kita sudah sangat Lelah.”
Banyak kata yang ingin Diana ucapkan, tapi dirinya juga bingung harus memulai cerita dari mana. Diana memilih pergi begitu saja dari sana.
***
Saat taksi yang Diana tumpangi hampir sampai ke tujuannya, Diana sengaja turun lebih dulu. Hingga dia sampai di sebuah rumah yang dikelilingi pagar beton tinggi dan dijaga banyak keamanan. Salah satu keamanan mengenali Diana, pintu gerbang yang menjulang tinggi pun langsung di buka. Mata Diana langsung di sambut deretan mobil mewah yang berwarna hitam terparkir rapi di depan rumah Neneknya.
“Ternyata kamu langsung datang permataku.”
Diana menoleh kearah suara itu, senyuman manis menghiasi wajah cantiknya. “Nenek ….” Diana berlari kearah wanita tua itu dan memeluknya erat.
__ADS_1
Pelukan itu cukup lama, hingga keduanya perlahan melonggarkan pelukan mereka.
“Bagaimana keadaan Nenek?”
“Kau bisa lihat dan rasakan sendiri, sayang.” Nenek Zelin mencubit pelan hidung mancung Diana.
“Ayo kita masuk sayang, banyak hal yang ingin Nenek bicarakan denganmu.”
Setelah mereka masuk kedalam rumah, Nenek Zelin mulai membahas undangan yang tertuju untuk cucu kesayangannya.
“Sepertinya kamu tidak bisa bersembunyi lagi, permataku. Kalau kamu sembunyi orang-orang akan menganggap kamu sombong, di mana banyak orang hadir dalam acara nanti, sedang dirimu?”
Diana terdiam mendengar ucapan Neneknya. “Aku harus menampakan wajahku, Nek?”
“Nenek datang ke sini untuk berdiri di sampingmu, sayang.”
“Nenek?” Diana sangat bahagia mendengar Neneknya juga akan ikut dalam acara besar itu.
“Selain itu, Nenek juga punya tujuan lain.” Nenek Zelin berbisik di sisi telinga Diana.
“Siap, Nek. Aku akan segera lakukan.” Diana meraih tasnya dan melangkah cepat dan memasuki salah satu mobil yang berbaris.
Mobil yang Diana tumpangi melaju cepat, selama perjalanan, Diana meminta Ivan dan Yudha untuk menemuinya di rumah Yudha. Diana melepaskan Handphonenya saat dia menyadari dia sudah sampai di kediaman Yudha. Diana turun dari mobil, dia memperhatikan rumah Yudha. Sama seperti saat sebelumnya, terihat sepi. Hanya beberapa pelayan yang melakukan pekerjaan mereka.
“Diana, keberuntungan apa yang memihakku melihatmu datang mengunjungiku?”
Diana perlahan mendekati Nenek Zunea, "Sayang sekali, kedatanganku kali ini membawa berita kurang mengenakan." Diana terlihat sedih.
"Katakan, ada apa Diana?"
"Nek ... maafkan aku, aku membatalkan rencana kita untuk membawa Anda menemui Nenekku," sesal Diana.
Wajah Nenek Zunea seketika muram. "Aku berlatih setiap hari hanya karena semangatku akan bertemu sahabatku, dan sekarang ...." Nenek Zunea berusaha mencapai kursi taman yang ada di dekatnya.
"Diana tidak bisa membawamu ke desanya, karena aku tidak rela membiarkan sahabatku menempuh perjalanan jauh hanya demi menemuiku, makanya rencana itu Diana batalkan, karena aku sendiri yang datang menemuimu."
Wajah muram Nenek Zunea seketika sangat bahagia saat melihat sosok yang berdiri di belakang Diana. "Zelin ...."
"Sudah, diam di sana, biar aku yang ke sana dan memelukmu."
__ADS_1