Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 282


__ADS_3

Ivan sangat bahagia mendengar perkataan Nenek Zelin, dia mencium kedua tangan keriput itu. “Terima kasih telah mempercayaiku untuk menjaga permata Terindah yang Nenek jaga selama ini.”


Nenek Zelin mengusap lembut pucuk kepala Ivan. “Aku titipkan Diana padamu, bahagiakan dia. Jika kamu menyakitinya, dia tidak akan membalas apa-apa, dia hanya diam. Tapi aku dan orang-orang yang mencintainya tidak akan diam.”


“Hanya orang bodoh yang menyakiti Diana, jika tahu siapa Diana, semua orang akan mencintainya.”


“Saat ini aku bahagia, mulanya aku takut, jika aku pergi dan belum ada orang yang mengikat hatinya, maka Diana akan pergi entah kemana tanpa tujuan. Andai nanti aku tiada, Diana masih memiliki rumah untuk dia kembali, yaitu dirimu.”


“Nenek … jangan bicara begitu, dokter memang punya vonis tersendiri, tapi kuasa Tuhan juga yang berkuasa. Aku dan Diana sangat berharap Nenek sehat dan Panjang umur, hingga bisa melihat bagaimana kebahagiaan kami.”  Ivan duduk leseh di lantai, dia merebahkan kepalanya di pangkuan Nenek Zelin.


“Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, atas dasar apa Nenek memilihku untuk Diana, secara Diana mampu melakukan apa saja sendirian. Apapun alasan Nenek, aku sangat berterima kasih, demi umurku, aku mengabdikan seluruh hidupku untuk membahagiakan Diana, dan aku selalu menjunjung sumpah pernikahan kami di depan Tuhan.”


Diana melihat semua momen itu dari pintu, mendengar kalimat terakhir Ivan dan sorot mata Neneknya yang begitu bahagia, Diana meninggalkan pintu itu, dia bersembunyi di ruangan lain dan menumpahkan air mata bahagianya.


Di ruang tamu.


Nenek Zelin menegakan wajah Ivan. “Bolehkan orang tua ini meminta sesuatu padamu?”


“Katakan, apa yang Nenek mau?”


“Aku sudah tua, sulit bagiku untuk ke kota untuk menghadiri resepsi pernikahan kalian. Apakah kamu bersedia mengadakan resepsi secara sederhana di sini? Hanya dihadiri orang-orang dekatmu.”


Ivan tersenyum dan kembali menciun tangan Nenek Zelin. “Tentu saja aku mau, kapan Nenek ingin acara itu dilangsungkan? Aku akan membawa keluargaku ke sini.”

__ADS_1


“Tanyakan pada keluargamu, kapan mereka bisa kemari, kita akan atur tanggalnya sama-sama.”


“Boleh aku menghubungi keluargaku sekarang?” tanya Ivan.


“Tunggu apalagi, cepat pinta mereka datang ke sini!”


Saat Ivan undur diri untuk menelepon keluarganya, Nenek Zelin meminta pelayan setianya membawa ke kamarnya. Di teras rumah Nenek Zelin Ivan saat ini berbicara dengan Kakeknya, menceritakan keadaan Nenek Zelin dan permintaan Nenek Zelin agar Ivan dan Diana mengadakan resepsi sederhana di desa. Kakek Agung sangat setuju dengan permintaan Ivan. Beliau berjanji akan datang ke desa, namun tidak menjanjikan kehadiran Rani.


“Kakek masih simpan paket titipan Diana untuk mama?” tanya Ivan.


“Masih, dan masih aku sembunyikan, tidak akan ku berikan jika dia belum minta maaf pada Diana.”


“Kakek jahat sekali, Diana saja mau mengobati mama walau mama masih membencinya.”


“Ya sudah, terserah kakek saja.”


**


Di sisi lain ….


Pesawat yang Rani tumpangi baru saja mendarat di tanah air. Saat Rani dan Sofian berada di bandara, banyak foto-foto Diana terpajang di sana dengan segala kalimat motivasi untuk semua anak Negri.


POV Rani.

__ADS_1


Aku terbang ribuan kilometer hanya untuk mengobati diri sendiri, apa kata dokter di sana? Sang penyembuh hanyalah seorang dokter bedah yang diperebutkan banyak Rumah Sakit, dan dia adalah wanita muda yang selalu ku benci.


Dia yang ku anggap parasit yang ingin numpang hidup, numpang tenar lewat nama besar keluarga kami, ternyata dia bukan gadis kampung biasa, melainkan seorang ilmuan dunia dan dokter bedah yang terkenal di Rumah Sakit kami.


Mengetahui kenyataan itu, bukan hanya tidak bisa berkata-kata, namun kemampuanku untuk berkata saat itu hilang.


Gadis bisu! Siapa yang bisu? Yang bisu aku sendiri.


Bukan tidak menyadari kesalahan diri, tapi aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Gadis yang ku benci dengan segenap jiwa, karena aku takut dia akan menguasai harta kami.


Saat melihat kenyataan dia bak seorang dewi. Rasanya aku ingin mati saja agar tidak tenggelam dalam lautan malu.


Namun Tuhan berkata lain, dia ingin aku meminta maaf pada Diana, dan merasakan sekali lagi bagaimana keajiban dari kejeniusannya.


Memandangi semua orang yang berpapasan denganku, mereka memandagi foto Diana dengan penuh cinta, oh tuhan … betapa butanya aku selama ini. Sepanjang kaki melangkah, ucapan Ivan tentang istimewanya Diana terus terngiang.


Andai ada mesin waktu yang mengantarku pada masa lalu, aku ingin menghapus semua titik di mana aku menghujani Diana dengan kebencian.


“Permisi Tuan, apakah langsung ke rumah besar?”


Pertanyaan supir itu membuyarkan lamunanku.


“Iya, kita langsung pulang saja,” sahut suamiku.

__ADS_1


Mobil kami melaju cepat meninggalkan bandara.


__ADS_2