
Sesampai di Rumah Sakit, Ivan langsung menuju kamar perawatan Angga.
"Ivan?" Sofian melirik arlojinya. "Tumben kamu bisa keluar kantor saat jam bekerja?"
"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mama," sahut Ivan.
Rani menata Ivan begitu sinis, rasanya dia bisa menebak hal apa yang ingin Ivan bicarakan dengannya.
Ivan mengabaikan tatapan sinis ibunya, dia langsung mendekati Kakaknya. “Bagaimana keadaan Kakak?”
“Keadaanku semakin membaik, Van.”
“Aku sangat bahagia mendengarnya Kak, semoga Kakak pulih secepatnya.” Pandangan Ivan kemudian tertuju pada ibunya.
“Mama, apa kita bisa bicara sebentar?”
Rani terlihat malas menanggapi Ivan, tapi dia tetap melangkah keluar memberi tanda kalau dia mau berbicara empat mata dengan putranya. Ruangan Angga berada di lantai khusus, keadaan terlihat sepi, para perawat pun hanya menunggu tugas mereka di ruangan lain. Rani berjalan ke salah satu sudut.
“Mau bicara apa?” nada suara Rani terdengar sangat ketus.
Melihat bagaimana raut wajah Ivan, Rani semakin yakin kalau putranya ingin membahas tentang Diana. “Gadis desa sialan itu?” tebak Rani
Ivan menganggukan kepalanya pelan.
“Sudah kuduga!”
“Mama, aku sangat berharap mama berhenti membuat masalah dengan Diana. Selama ini Diana selalu diam atas perlakuan buruk kita semua, setelah tinggal bersamanya, aku mulai mengenalnya, dan dia tidak serendah seperti pandangan kita selama ini, mama.”
"Diana tidak seperti yang mama pikirkan, dia menerima perjodohan ini bukan karena keluarga kita kaya hingga mudah menempel numpang hidup enak. Masalah harta Diana mempunyai lebih dari apa yang mama bayangkan."
“Terus puji dia dan terus bela dia!” Rani mulai tersulut emosi.
“Aku tidak bermaksud untuk membela Diana di depan mama. Tapi … tolong mama, kalahkan ego mama, dan kalahkan kebencian mama yang tertanam begitu dalam di hati mama.”
“Ya terus saja kau bela dia, Van. Yang salah ini mama mu ini! Dan dia selalu benar, bukan?”
“Ini bukan permasalahan siapa yang salah atau benar mama, aku hanya ingin mama menerima Diana sebagai menantu mama."
"Tidak sudi!" balas Rani.
"Terserah mama, yang jelas aku sudah memohon pada mama. Karena dengan restu mama, atau tanpa restu mama, aku tetap menikahi Diana."
"Pernikahanmu tidak akan pernah terjadi!" maki Rani.
"Apa yang aku mau, itu akan ku perjuangkan. Jadi … belajarlah menerima Diana.”
“Tidak akan pernah!” sahut Rani tegas. “Aku tidak akan pernah menerima dia sebagai menantuku!”
__ADS_1
“Kenapa kamu menolak Diana, Rani?”
Ivan dan ibunya sangat terkejut mendengar ada suara lain.
“Kakek?”
“Ayah?”
Ivan dan ibunya masih terkejut melihat kehadiran kakek Agung di sana.
“Apa ada yang salah dari Diana, hingga kamu selalu menolaknya?” tanya kakek Agung.
“Aku tidak mau punya menantu udik dan kampungan seperti Diana!” sahut Rani.
Kakek Agung kembali bertanya." Hanya karena dia dari desa kamu menolaknya?”
“Aku tidak bisa menerimanya, dan aku tidak bisa katakan apa saja dasar penolakanku.”
“Kamu tahu, kalau kekasih Angga saat ini memiliki catatan kriminal? Dia pernah masuk penjara, apa kamu menunjukan penolakanmu pada kekasih Angga? Rasanya kamu diam saja, padahal Diana jauh lebih baik dari kekasih Angga."
Rani bungkam, dia tidak bisa menjawab ucapan Ayah mertuanya.
**
Setelah dari kantor Ivan, Diana kembali ke Apartemen Nizam, dia mulai membereskan barang-barangnya. Pikiran Diana terbagi, dia teringat raut keputus asaan di wajah Ayahnya, saat semua orang tidak berdaya menolong ibunya.
Diana hanya diam melihat Nenek dan Ayahnya sangat tertekan melihat ibunya yang saat ini terbaring tidak berdaya di tempat tidur.
"Kenapa kamu tidak ceritakan padaku, kalau Alinka di suntik dengan jenis obat yang berbahaya?" Air mata mulai membasahi wajah Zelin.
"Aku juga baru mengetahui hal itu dari rekan kerja Alinka, aku kurang tahu bagaimana ceritanya."
"Andai aku tahu lebih dulu, aku bisa berusaha lebih keras untuknya," ucap Zelin.
"Alinka yang memintaku untuk tidak cerita pada Ibu saat dia tahu aku mengetahuinya, dia memintaku bersumpah agar tidak menceritakan hal ini." Charlie terus menunduk, sangat jelas penyesalan tersirat di wajahnya.
"Kapan mereka menyuntik vaksin berbahaya itu pada Alinka?" tanya Zelin.
"Setahun setelah melahirkan Diana. Ibu ingat kenapa aku menikahi Aridya, aku menikahi Aridya hanya demi menebus obat penawar untuk Alinka."
"Penawar itu memang akan jadi penawar kalau diberikan dengan dosis yang benar, tapi jika kurang, maka itu adalah racun," ucap Zelin.
Dia memandang wajah Charlie dengan tatapan kesedihan. "Penawar yang kamu beri untuk Alinka tidak bekerja sebagai penawar karena kamu hanya memberi separu dari dosisnya."
"Apa? Separu?" Charlie sangat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Tapi saat itu keadaan Alinka membaik bu, ku pikir penawar itu bekerja dengan baik."
"Kau pikir orang yang mencintaimu ikhlas dan tulus membantu seseorang yang dia anggap musuh?"
__ADS_1
Diana kecil memandangi wajah Nenek dan ayahnya bergantian, dia tidak mengerti dengan pembicaraan Ayah dan Neneknya, yang menarik perhatiannya adalah botol obat yang dipegang Neneknya. Yang selalu ada dalam ingatannya itu adalah racun.
"Yang mereka suntikan pada putriku adalah racun berwaktu yang akan membunuh putriku secara perlahan!"
"Kerja racun ini ditentukan waktu, diberikan dengan dosis tertentu, ada 3 bulan setelah disuntikan target mati, ada 1 tahun, dan ada sampai 20 tahun. Saat racun ini sudah bekerja pada titik puncaknya, tidak ada penawar lagi." Zelin mengusap air mata yang membasahi wajahnya.
"Aku akan mengirim orang untuk menyelidiki semua ini, apakah racun yang berkedok vitamin yang mereka suntikan pada Alinka, merupakan milik Agung Jaya seperti penawar ini, atau bukan, saat ini utusanku masih bekerja keras," ucap Zelin.
"Jika Alinka mendapatkan setengah dosis lagi, apakah dia akan selamat?" tanya Charlie.
"Entahlah, kamu cari tahu saja apakah perusahaan yang sama, yang memproduksi penawar dan racun itu."
"Gali secepatnya, jangan sampai ada orang yang bernasib seperti Alinka lagi. Karena penawar dari racun ini masih langka," ucap Zelin.
"Bukankah penawar ini memang diproduksi oleh Agung Jaya? Aku akan mencari kontak Tuan Agung, menanyakan penawar ini. Urusan siapa yang menciptkan racun itu, kita bahaa nanti, saat ini kesembuhan Alinka yang utama."
Malam itu Ayahnya pergi.
Bayangan Diana berganti dengan kabar kematian Ayahnya, Ayahnya yang pergi dengan semangat, dan pulang dengan badan yang terbaring di tandu Ambulan.
Agung Jaya, adalah nama yang selalu Diana ingat, karena Ayahnya terus mengucapkan kata itu. Saat upacara pemakaman Ayahnya, ada wanita lain yang menggandeng dua anaknya berdiri di dekat peti mati Ayahnya. Satu anak perempuan terlihat seumuran Diana, dan sorang ana laki-laki yang lebih muda. Bahkan sampai acara pemakaman selesai, wanita itu terus berada di sana dengan Anggota keluarga Bramantyo yang lain.
Diana tidak tahu bagaimana nasib ibunya dan perjuangan Neneknya, karena setelah kematian Ayahnya, Diana tinggal bersama kekuarga Ayahnya dan dua saudara tirinya. Hingga kabar duka itu kembali terdengar, kalau ibunya juga telah tiada.
Flash Back Off
Rasa sesak yang memenuhi relung hatinya membuat air mata membasahi wajahnya. Rasa sesak itu semakin besar, hingga saat ini dia tidak tahu sejauh mana keterlibatan keluarga Agung Jaya dengan kasus kematian kedua orang tuanya.
Dengan gaya angkuhnya Diana menghapus air matanya. "Jangan jatuh cinta Diana, jatuh cinta pada orang yang salah hanya membuatmu semakin sakit."
Diana kembali fokus pada barang-barangnya Setelah semua selesai, Diana mengetik pesan untuk Nizam.
*Terima kasih bantuanmu beberapa hari ini, aku besok akan kembali ke Asrama, kamar baru untukku sudah siap.
\= Aku turut senang mendengarnya Diana, untuk kunci akses, titipkan saja nanti di receptionis.
Diana mengirim pesan lagi.
*Apakah ada perkembangan dari penyelidikan siapa yang menciptakan vaksin beracun itu?
\=Belum Diana, entah kenapa sangat sulit mencari tahu, apakah benar Vaksin beracun itu milik Agung Jaya atau tidak. Tapi penawar itu milik Agung Jaya, bahkan mereka menerima penghargaan karena memproduksi penawar yang menyelamatkan banyak nyawa.
*Iya, aku melihat sendiri miniatur dari botol penawar itu di lemari pajangan Trophy penghargaan yang di terima Agung Jaya.
\=Aku masih mencari tahu Diana, apakah racun dan penawar itu dibuat oleh perusahaan yang sama.
*Terima kasih banyak atas bantuanmu selama ini.
__ADS_1