
Beberapa Mahasiswa lain yang merasa ditipu Diana langsung memarahi Diana, mereka memaki dan menghujat Diana. Saat yang sama Nicholas merekam kejadian ini, lalu mempostingnya ke media sosial. Lucas mendapat notifikasi kalau salah satu teman media sosialnya baru memposting sesuatu. Saat Lucas membuka handphonenya, ternyata itu postingan Nicholas.
“Nicholas! Apa yang kau lakukan!” Lucas geram melihat video yang Nicholas posting, karena postingan Nicholas semakin memperburuk keadaan.
“Memperburuk apanya? Kita mau menolongnya dia malah memanfaatkan kita semua demi nama baiknya!” maki Nicholas, dia segera membereskan barang-barangnya dan pergi dari sana.
Setelah Nicholas pergi, beberapa mahasiwa lain juga pergi dengan rasa kesal mereka pada Diana, tinggal Lucas dan Thaby, juga dua teman Lucas yang lain. Diana mengambil handphonenya, mengetik kata dan memperlihatkan pada teman yang lain.
*Lebih baik kita juga pergi.
“Tapi, Dia—” Thaby tidak bisa meneruskan kata-katanya Diana pergi begitu saja.
“Lebih baik kita kembali ke asrama saja,” ajak Lucas. Mereka semua segera pergi meninggalkan Clubhouse mewah itu.
**
Rani sangat kesal, karena selama berada du bandara, handphonenya terus berdering. Rani terpaksa mengangkat panggilan yang terus berulang.
"Halo."
"Halo, selamat siang bu, kami dari pihak kepolisian--"
"Maaf sekali, saya sedang sibuk saat ini." Mendengar kalau panggilah dari pihak Rani tidak ingin keberangkatan keluarganya terusik oleh masalah.
"Urusan ini pastinya sangat serius, bisakah nanti hubungi saya lagi? Atau jika ini hal yang sangat penting, Bapak telepon ke rumah keluarga Agung, di sana ada adik ipar saya dan putrinya.”
“Baik bu.”
Setelah melepaskan kepergian Angga, Ivan, Sofian, dan kakek Agung. Rani segera kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Rani segera mencari Wilda dan Qiara. “Wilda, tadi ada pihak kepolisian terus meneleponku. Tapi, mereka ku minta menelepon ke rumah, aku tidak mau berbicara dengan kepolisian di depan Ayah dan suamiku. Aku tidak ingin pikiran mereka ternganggu karena masalah yang timbul. Apa kepolisian sudah menelepon kalian?”
“Sudah,” jawab Wilda.
“Ada masalah apa?” tanya Rani.
“Diana menabrak seseorang,” adu Wilda.
Seketika kemarahan Rani meledak. “Diana lagi, Diana Lagi Arrgggg!”
“Bukan hanya itu tante, selain menabrak orang, bukannya bertanggung jawab, dia malah kabur.”
“Kenapa wanita udik itu tidak pernah berhenti membuat masalah!”
__ADS_1
Melihat Rani yang begitu marah dan tertekan, Wilda berusaha menenangkan kakak iparnya itu. “Tenang Rani, kontrol emosimu.”
“Aku tidak bisa tenang kalau gadis itu masih memiliki ikatan dengan kita! Aku baru bisa tenang kalau Ayah memutuskan pertunangan antara Ivan dan gadis bisu itu! Selama mereka masih bertunangan, aku tidak bisa tenang!" ucap Rani.
Wilda mengusap pundak Rani. “Iya, aku sangat faham dengan perasaanmu.”
Rani memandangi Qiara dan Wilda. “Apa kalian berdua keberatan jika aku minta kalian menangani kasus yang Diana timbulkan? Aku sangat malas melihat wajah si udik itu!”
“Tentu saja Rani, aku dan Qiara akan menangani kasus ini,” jawab Wilda.
**
Setelah pergi dari Clubhouse, Nicholas menghentikan motornya di tepi jalanan yang sepi. Dia segera menelepon seseorang.
“Halo kak Shady, target sudah masuk dalam perangkap.”
“Bagus, kabari aku tentang perkembangannya.”
“Siap kak.”
Setelah menerima laporan dari Nicholas, Shady segera melajukan mobilnya menuju kediaman Veronica.
Suara gemericik air terdengar, di kolam renang pribadinya Veronica terus berenang dengan berbagai gaya.
“Permisi Nona, di depan ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda.” Ucap salah satu pelayan.
“Siapa?”
“Tuan Shady.”
Mendengar nama Shady, Veronica tersenyum. “Bawa dia ke sini.”
“Baik Nona."
Beberapa saat kemudian Shady sampai di area kolam renang, saat matanya menoleh kearah kolam renang, rasanya tenggorokkannya diikat tali tambang, jantungnya juga seketika tidak bisa bekerja dengan normal, ketika sepasang matanya disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa. Veronica mengenakan bikini yang sangat seksi, dia terus berenang dengan berbagai gaya, pura-pura tidak menyadari keberadaan Shady.
Shady tidak bisa mengalihkan pandangannya. Melihat Veronika memakai pakaian lengkap saja dirinya sulit mengendalikan perasaanya, saat ini di depan matanya Veronica hanya mengenakan bikini yang sangat mini. Di sana Veronica meraih gagang besi yang ada di tepi kolam, mata Shady semakin jelas melihat tubuh indah Veronica yang yanga ditutup oleh 3 potong kain yang sangat kecil. Kekaguman Shady seketika buyar, saat tubuh indah itu ditutup handuk, oleh seorang pelayan yang berdiri di tepi kolam renang.
“Shady ….” Veronica tersenyum dan langsung mendekati Shady.
Shady hanya bisa membalas dengan senyuman, pemandangan yang dia lihat sebelumnya seakan menyerap semua tenaganya.
__ADS_1
“Ayo duduk dulu.” Veronica mengajak Shady duduk di kursi santai yang berjejer di tepi kolam renang. Shady dan Veronica duduk berhadapan.
“Kenapa tidak menelepon dulu? Kalau kamu kabari aku bisa menunggumu.”
Shady masih kesulitan berbicara. Melihat reaksi Shady, Veronica tersenyum.
“Mbak, siapin minuman untuk kami,” perintah Veronica pada pelayannya.
“Ada apa Shady? Kenapa wajahmu terlihat sedih?” tanya Veronica.
“Ivan tidak mau membantu kasusmu Ve, aku sudah berusaha membujuknya dan mengingatkan persahabatan kita selama ini.”
Veronica beranjak dari posisinya, dan duduk di samping Shady. “Tidak apa-apa, jangan paksa Ivan,” ucapnya lembut.
“Tapi Ivan keterlaluan Ve, kenapa dia tidak mau membantumu, setiap orang pernah melakukan kesalahan dan dia berhak mendapat pengampunan.”
“Shady … jangan begitu, maklumi keputusan Ivan.”
Shady masih terlihat kesal.
“Shady, jangan bertengkar dengan Ivan hanya karena aku,” rayu Veronica.
Saat yang sama, pelayan datang membawakan minuman dingin untuk Veronica dan temannya, setelah meletakkan minuman, pelayan itu pergi.
“Dinginkan emosi kamu, Shady.” Veronica memberikan segelas minuman pada Shady.
Saat veronica ingin meminum minumannya, dia sengaja menumpahkan minuman itu ke tubuhnya. “Shitt!” upatnya, Veronica memasang wajah kesal, seolah tumpahnya minuman adalah kecerobohannya. Saat Veronica berdiri, handuk yang menutup tubuhnya seketika terlepas.
Shady semakin tidak berkutik melihat tubuh indah yang kembali menyambut kedua matanya, ingin sekali Shady membantu Veronica membersihkan setiap tetesan air yang membasahi tubuh Veronica dengan sapuan mulutnya.
****
Setelah meninggalkan Clubhouse, Diana melanjutkan tujuannya menuju kantor yang memantau jalan raya di kota itu, sesampainya di sana, Diana mengatakan maksdunya.
“Nama Anda,” tanya petugas.
Diana menuliskan namanya, setelah membaca jawaban Diana, staff di sana langsung mencari tahu informasi tentang Diana, tapi tidak ada informasi apapun tentang Diana, petugas terus mencari data diri Diana, dan dia hanya menemukan Diana belum memiliki sim. Staf itu menatap Diana dengan tatapan yang tidak ramah lagi, saat dia ingin mengintrogasi Diana, tiba-tiba ….
Brakkkk!
Pintu dibuka kasar oleh seorang laki-laki aneh, laki-laki itu langsung menyerang Diana dengan membawa batu yang berukuran kepalan tangan orang dewasa.
__ADS_1