
Ivan dan Diana melepaskan jabatan tangan mereka.
“Sini aku beritahu beberapa cara untuk menghancurkan image seseoang atau menghancurkan sebuah perusahaan,” ucap Ivan.
Diana terlihat serius siap mendengar apa yang Ivan katakan.
“ED Group perusahaan yang sangat kuat, membuat anjlok perusahaan itu adalah tujuan dari Sebagian besar Rival bisnis ED Group. Jadi ini tugasmu dan tim. Kalian buat mereka seolah saling senggol-bacok, untuk data-data Perusahaan mereka, aku akan berikan nanti.”
“Aku bukan pebisnis, bagaimana membuat mereka saling berseteru?” tanya Diana.
“Mudah sekali, di IMO kamu memiliki ahli ITE yang handal, tinggal buat berita hoax tentang perusahaan Rival."
"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan." Diana menggelengkan kepalanya. "Menumbangkan sebuah Perusahaan besar, dengan Fitnah? Wah ... kamu licik sekali."
"Begitulah, kan sebelumnya sudah aku katakan, aku bukan orang baik." Ivan tersenyum smirk.
"Dalam postingan yang kalian buat nanti, sanjung salah satu produk dari ED Group, dan lecehkan produk perusahaan lain yang sejenis. Otomatis Rival ED berpikir ED Group menjatuhkan mereka, dan mereka tidak akan diam," ucap Ivan.
"Hmmm, jadi Rival menyerang, ED menyerang, dan terus saling balas demi membela perusahaan masing-masing." Diana mencoba memahami.
"Yup! Saat mereka saling serang, aku akan melindungi perusahaan-perusahaan kecil itu, jika mereka bagkrut karena bermasalah dengan ED Group, ini urusanku.”
“Dengan kamu membela rival bisnis ED Group sama saja kamu menujukan wajah kamu ada di pertarungan ini.”
Ivan tersenyum melihat kekhawatiran Diana. “Dalam segi bisnis, aku akan muncul seperti pembela ED Group, misal seolah membeli perusahaan yang bangrut dengan harga murah dan banyak lagi, bagaimana nanti, itu urusanku. Tugasmu, kamu segera hubungi tim kamu, dan susun rencana pertama seperti yang aku usulkan tadi.”
Diana segera meraih handphonenya, dia mengatur janji pertemuan dengan timnya.
Melihat Diana selesai mengetik pesan, dan dia telah menyimpan handphonenya kembali, Ivan memegang kedua tangan Diana.
“Terima kasih, karena mengizinkan aku untuk membantumu.”
“Maafkan aku, karena kamu akan rugi banyak untuk membantuku,” ucap Diana.
“Tidak ada rugi untukku, sekalipun aku harus melepas semua hartaku, semua itu tidak ada nilainya. Karena yang paling berharga untukku saat ini adalah dirimu dan kebahagiaanmu.”
Diana membuang wajahnya kearah lain. “Aku mengantuk,” ucapnya.
“Mari kita tidur.” Ivan merebahkan dirinya di tempat tidur Diana dan meminta Diana untuk masuk kedalam pelukannya.
Diana segera berbaring, dan masuk kedalam pelukan Ivan, keduanya sama-sama memejamkan mata mereka.
**
Keesokan harinya.
Diana, Archer, Tony, Hadhif, dan Zhafqar, bertemu di salah satu Restoran.
“Aku sudah menemukan rekan untuk membantu misi kita,” ucap Diana.
“Siapa dia?” tanya Tony.
“Lupakan siapa dia, tapi dia minta kita melakukan hal ini untuk langkah awal.” Diana mulai menjelaskan seperti yang Ivan katakan tadi malam.
__ADS_1
“Baiklah, untuk tugas berita hoax itu akan menjadi tugas Zhafqar dan Hadhif, tapi kalian harus membuat berita itu dari negara lain, andai sarver ED Group melacak sumber itu, pertama kali mereka temukan adalah sarver negara itu.”
“Jerman,” ucap Diana.
“Kenapa Jerman?” tanya Tony.
“Perusahaan utama ED Group ada di negara itu, jadi untuk memperkuat berita nanti, rivalnya semakin yakin kalau berita itu memang dibuat oleh ED Group,” terang Diana.
“Berarti Negara tujuan kalian bertiga adalah Eropa,” ucap Archer.
“Kapan kita akan berangkat?” tanya Tony.
“Besok,” sahut Diana.
“Baiklah, berarti saat ini pertemuan kita yang terakhir di tempat ini, besok aku juga akan melakukan perjalanan keluar kota, semoga misi kita semua berjalan lancar.”
Mereka semua segera membubarkan diri dan mempersiapkan untuk perjalanan misi mereka ke Negara Eropa. Sesampai di Universitas, Diana meminta bantuan Pak Abi untuk masalah absennya beberapa hari kedepan, namun dia tidak menceritakan kemana dia akan pergi, Pak Abi juga sangat memahami Diana, apa yang wanita itu lakukan selalu demi kepentingan banyak orang.
"Kepergianku kali ini akan memakan waktu lama, Pak."
"Tidak apa-apa Diana, aku akan membantumu untuk masalah absen di Universitas.
***
Keesokan harinya, paspor dengan identitas palsu mereka sudah mereka terima, Diana, Hadhif, dan Tony berada di bandara menunggu jadwal keberangkatan mereka.
Tony membaca jeli data dirinya. “Kenapa di sini aku berperan sebagai pengawas kalian?” protes Tony.
“Itu sangat tepat, karena kami masih manis dan kamu terlihat senior,” sahut Hadhif.
“Bukan aku, semua ini pekerjaan Tuan Mudah AA.”
“Bisakah kalian tidak ribut?” Diana kesal melihat Tony dan Hadhif yang selalu bertengkar.
“Ini, data ini keterlaluan Diana, apa tidak bisa aku menjadi Mahasiswa seperti kalian berdua?” keluh Tony.
“Diana!” panggilan itu menyita perhatian Diana, Hadhif dan Tony.
“Nizam?” Diana sangat terkejut melihat Nizam ada di bandara.
“Mau kemana kamu?" tanya Nizam.
"Kamu sendiri mau kemana?" Diana balik bertanya.
"Aku ingin pergi untuk menyelesaikan urusan Perusahaan papa. Kamu?" Nizam bertanya lagi.
"Pertukaran pelajar," kilah Diana.
"Kenapa kamu tidak mengajakku?” protes Nizam.
“Apa kamu Mahasiwa Bina Jaya juga, sehingga ingin ikut kami?” sela Hadhif.
“Diam kau! Aku hanya ingin bicara dengan Diana,” protes Nizam.
__ADS_1
“Nizam, ada hal yang harus aku lakukan sebagai Mahasiswi Bina Jaya, bukan berarti aku tidak mau mengajakmu,” ucap Diana.
“Kemana saja kamu, dan apa saja yang kamu lakukan, aku harus ikut! Aku harus mengawalmu Diana, kamu kadang terlalu lembut namun juga kadang terlalu ceroboh, pokoknya aku ikut! Katakan Negara mana yang kalian tuju?”
"Lebih baik lakukan pekerjaan kamu sendiri Nizam, urusanku tidak penting bagimu," ucap Diana.
"Urusanku tidak penting lagi, karena yang penting itu menjagamu," ucap Nizam.
Walau Nizam membantu dirinya dalam banyak hal, namun Diana tetap merahasiakan Sebagian besar kegiatanya dari Nizam.
“Maaf, Nizam. Untuk urusan kali ini aku tidak bisa membawamu. Karena ini urusan Universitas,” ucap Diana.
“Aku tetap ikut!” ucap Nizam.
“Kita memang berteman, bahkan aku menganggapmu Kakakku, karena selalu melindungiku, tapi tidak semua hal yang aku lakukan kamu harus ikut dan tahu,” ucap Diana lembut.
“Musuhmu masih tidak jelas siapa, bagaimana aku bisa tenang dan mempercayakan keselamatanmu pada dua pemuda lemah seperti mereka?”
“Maaf Tuan, bukan keselamatan Nona yang kami pegang, tapi keselamatan kami di tangan Nona, di sini yang melindungi kami adalah Nona,” ucap Tony ketus.
“Yang bukan Bernama Diana, tolong diam! Aku hanya ingin bicara dengan Diana,” ucap Nizam tegas. “Izinkan aku pergi bersamamu, Diana.”
Diana menatap Nizam dengan tatapan yang penuh kekecewaan, dia tidak membawanya bukan karena tidak percaya, hanya saja meningkatkan kehati-hatian, karena IMO sudah bocor, dan Diana tidak mau memperbesar dampaknya. Tanpa berkata sepatah kata lagi, Diana memberi isyarat pada Tony dan Hadhif, untuk segera pergi dari sana.
Diana masuk kedalam sebuah taksi, dia duduk di kursi depan, di susul Hadhif dan Tony. Mereka berdua duduk berdampingan di kursi belakang.
“Jalan Pak.” Titah Diana pada supir taksi.
“Kemana, Nona?”
“Jalan dulu saja Pak, nanti saya akan katakan kemana.”
“Baik.”
Taksi mulai melaju meninggalkan Bandara.
Nizam menatap nanar mobil taksi yang membawa Diana dan dua rekannya.
Di dalam mobil.
“Kapan kita akan berangkat kett—” hampir saja Tony memanggil Diana dengan panggilan ketua.
“Kapan kita akan berangkat, Diana?” tanya Tony.
“Belum tahu, keberangkatan kita undur dulu,” sahut Diana.
Maafkan aku Nizam. Aku tidak bisa berbagi denganmu kalau menyangkut IMO. Aku tidak ingin menyakiti perasaanmu, aku hanya berharap kamu memahami dan mau mengerti privasi seseorang.
Tink!
Suara pesan masuk membuyarkan lamunan Diana. Diana segera memeriksa handphonenya.
*Diana, di mana kamu? Bisa datang ke kantorku?
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Ivan, Diana kembali menyimpan handphonenya. “Pak, antar kami ke Gedung Agung Jaya Group,” pinta Diana.