
Diana heran dengan perubahan raut wajah Ivan. Diana terus menatap Ivan, membuat laki-laki itu sadar kalau ada tatapan yang tertuju padanya. Sesaat pandangan Ivan dan Diana bertemu. Diana bertanya dengan Bahasa isyarat. Ivan juga menjawab pertanyaan Diana dengan isyarat, kalau dirinya baik-baik saja.
Lumayan lama Diana berbincang dengan nenek Zunea, akhirnya Diana dan Ivan izin pergi karena hari semakin sore. Mobil Ivan melaju santai membelah jalanan yang terlihat ramai.
“Tugas kuliahmu masih banyak?” tanya Ivan.
“Tidak terlalu,” sahut Diana.
“Bisa kembali ke Apartemenku?” sekilas Ivan melirik kearah Diana.
Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ivan menambah kecepatan mobilnya, agar mereka cepat sampai di tujuan mereka.
Sesampai di Apartemen Ivan, Diana menuju kamarnya, sedang Ivan duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaannya. Sepanjang sore Ivan bekerja, hingga dia ketiduran di sofa.
Hari mulai gelap, Diana keluar dari kamarnya, melihat Ivan tertidur Diana menatap wajah Ivan dengan tatapan yang begitu dalam. Garis wajah yang Ivan miliki membuat Diana terpana. Saat Ivan bergerak, Diana tersentak dari kekagumannya, dia segera menuju pantry dan menyeduh teh di sana.
***
Indera penciuman Ivan mengendus bau khas herbal yang sangat menenangkan. Hal itu membangunkannua dari alam mimpi. Perlahan Ivan membuka kedua kelopak matanya. Dia berjalan menuju pantry, dan dia melihat Diana duduk santai di salah satu kursi. “Kamu menyeduh teh herbal kiriman nenekmu?”
“Mau?” tanya Diana.
“Boleh.”
Diana memberikan satu cangkir yang berisi seduhan teh herbal. Diana dan Ivan mulai menikmati teh mereka.
“Aku masih sangat kaget mengetahui kalau Lucas sepupumu.” Ivan menatap Diana begitu lembut. Dengan tatapan lembutnya, Ivan berharap Diana mau menceritakan tentang Lucas versi dia, walau Ivan sudah tahu informasi tentang Lucas lewat pesan yang dikirim Dillah.
“Huhhh!” Diana menghempas kasar napasnya. “Aku tidak tahu harus memulai cerita dari mana. Aku dan Lucas, saat kami masih kecil, kami sering bermain bersama. Tapi saat Lucas berusia 10 tahun, dia dibawa ibunya, karena ibunya dan Pamanku bercerai.”
Diana meletakan cangkir yang dia pegang perlahan. “2 tahun yang lalu, kami bertemu lagi, dan sekarang ternyata kami kuliah di Universitas yang sama.”
__ADS_1
Ivan menganggukan kepalanya mendengar cerita Diana. Dia memperlihatkan cangkir tehnya yang kosong pada Diana. Diana langsung meraih teko, Diana mengira Ivan meminta teh lagi, namun gerak Diana terhenti saat Ivan memberi isyarat cukup.
“Aku kira kamu mau tambah teh lagi,” ucap Diana.
“Bukan, aku hanya bilang kalau aku sudah menghabiskan minumanku.” Tatapan mata Ivan masih tertuju pada Diana. “Bisa lanjutkan ceritamu?”
Sorot mata Diana yang begitu dingin tertuju pada Ivan. “Tidak ada yang bisa ku ceritakan tentang masa laluku.” Ucapnya ketus.
“Tapi aku tertarik cerita tentang dirimu, Diana.”
“Tidak ada yang menarik tentang masa laluku, aku bukan wanita baik-baik, aku hanya seorang wanita barbar yang suka berkelahi dan melakukan kekerasan, suka membuat kekacauan, suka menjebak orang, bahkan aku tidak segan untuk merampok jika itu perlu.” Sorot mata Diana masih begitu dingin.
“Apa yang menarik dari kehidupan gadis kriminal sepertiku?” Diana sangat kesal, dia merasakan Ivan sudah tahu tentang dirinya, saat ini Ivan hanya memancing kejujurannya.
Diana berusaha menenangkan perasaannya, namun pertanyaan Ivan tentang masa lalunya membuat moodnya terus memburuk. Diana meninggalkan Ivan dan berjalan cepat menuju kamarnya. Melihat Diana menuju kamarnya, Ivan segera menyusul Diana.
“Kenapa kamu menceritakan tentang Lucas hanya sebatas itu? Kenapa kamu tidak menceritakan kalau Lucas tidak pernah berbuat baik padamu?”
Jantung Diana berdegup kencang saat dugaannya benar, kalau Ivan sudah mengetahui masa lalunya, bahkan tentang bagaimana hubungannya dengan Lucas, Diana yakin Ivan sudah mencaritahu semua tentang Lucas dan masa lalu mereka. Kemarahan Diana semakin besar dan menyelimuti seluruh hatinya. Diana berbalik menghadap Ivan. “Sudah ku katakan padamu! Tidak ada yang menarik tentang masa laluku! Berhenti mencari informasi tentangku!” kedua bola mata Diana terlihat merah.
Diana mengarahkan ujung telunjuk tangannya kearah wajah Ivan. “Jangan berbuat macam-macam pada Lucas! Walau dia jahat padaku, tidak aku izinkan kamu menyakitinya!” Diana berjalan cepat menuju kamarnya.
Brrakkkk!
Diana sengaja membanting pintu kamarnya sekuat tenaganya.
Ivan menatap kosong pintu kamar Diana.
Aku tetap berusaha mencari tahu tentangmu Diana, walau akhirnya aku harus memanen kemarahan darimu.
Ivan meninggalkan Apartemennya, dia melajukan mobil menuju rumah kakeknya. Ivan yakin kakeknya tahu tentang Diana, tapi kakeknya juga ikut merahasiakan semua itu darinya. Sesampai di rumah kakek Agung, Ivan tidak menyapa setiap pelayan yang memberi hormat padanya, Ivan terus berlari menuju kamar kakek Agung.
__ADS_1
“Ivan?” kakek Agung sangat terkejut melihat cucunya datang tiba-tiba.
“Boleh aku minta waktu kakek?” tanya Ivan lembut.
“Masuklah.”
Ivan segera mendekati kakek Agung, dia duduk di sofa yang ada di dekat kasur kakek Agung.
“Kek, apa alasan Kakek menerima tawaran perjodohan dari Nenek Zelin selain pertimbangan balas budi?”
Kakek Agung terlihat bingung, dia membuka mulutnya, tapi sepatah kata tidak keluar juga dari mulutnya.
“Kalau atas balas budi, saat ini perusahaan kita sudah Berjaya, andai Nenek Zelin dalam masalah keuangan, maka jalan keluarnya adalah membantu dia dengan harta yang kita miliki, bahkan kalau harus kehilangan Perusahaan untuk membantu Nenek Zelin, aku rela.”
Kakek Agung masih bingung.
“Pasti ada alasan lain kan Kek? Sehingga kalian berdua menjodohkan kami, tanpa alasan yang kuat, Kakek tidak akan mungkin menjodohkanku dengan wanita sembarangan. Bagi Kakek aku sangat berharga, sama seperti Diana yang sangat berharga bagi Neneknya.”
Ivan memegang kedua telapak tangan kakeknya. “Kek, aku dan Diana akan menjalani ikatan yang sangat suci, apa aku tidak boleh tahu apa alasan kalian hingga memutuskan perjodohan ini?”
Kakek Agung tidak punya alasan untuk tidak menjawab segala pertanyaan Ivan.“Charlie Bramantyo adalah pemilik terbesar saham keluarga Bramantyo, dia adalah Ayah kandung Diana. Saat Charlie meninggal, Diana di-urus oleh keluarga besar Bramantyo."
Kakek Agung menarik napas dalam, dan melanjutkan ceritanya. "Karena Ayahnya meninggal, maka Diana kecil yang menjadi pewaris utama semua harta Ayahnya. Diana kaya raya sejak lahir, kekayaannya sangat banyak, puluhan mobil mewah, Apartemen, bahkan bermacam Gedung di kota itu milik Diana. Tapi Zelin mencurigai kalau Diana mendapat perlakuan buruk dari keluarga Bramantyo yang lain.”
Kakek Agung terdiam sejenak, dia menatap Ivan dengan begitu lembut. “Kenapa aku tahunya Diana bisu, dan Diana dikenal bisu oleh kebanyakan orang? Karena saat umur 5 tahun Diana tidak bisa bicara. Sebab ini semua orang hanya tahu Diana gadis bisu."
"Iya, aku mengerti kek. Bukan maksud Diana membohongi semua orang, dia hanya berbuat seperti yang orang sangka."
Kakek Agung kembali melajutkan ceritanya. "Melihat pertumbuhan Diana yang tidak wajar, Nenek Zelin semakin yakin cucunya disiksa keluarga itu. Sejak itu Nenek Zelin melakukan berbagai cara untuk merebut Diana dari cengkraman keluarga besar Bramantyo. Saat usahanya merebut Diana berhasil, Zelin merawat Diana dan mereka bersembunyi di desa.”
Kakek Agung berulang kali menarik napasnya, hatinya sangat sesak mengingat cerita tentang Diana. “Zelin sudah membawa Diana jauh dari keluarga Bramantyo, bahkan dia membiarkan semua harta Diana dikuasai keluarga Bramantyo. Tapi keluarga Bramantyo, mereka masih mentargetkan Diana."
__ADS_1
Kakek Agung terbayang cerita Nenek Zelin saat dia memilih Ivan sebagai pasangan Diana. "Salah satu alasan Zelin memilih keluarga kita untuk cucunya. Karena dengan menikah denganmu, maka Diana terlindungi. Keluarga Bramantyo masih berusaha menyakiti Diana, bahkan tidak menutup kemungkinan yang ingin mencelakai Diana semakin banyak, karena ada beberapa aset yang tidak bergerak, karena harus Diana sendiri yang menanganinya. Kekayaan Diana sangat banyak, dengan membunuh Diana, maka semua harta akan menjadi milik mereka.”