Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 139 Tahan


__ADS_3

Perusahaan Agung Jaya.


Setelah selesai makan siang, Dillah kembali bekerja keras, tapi bukan mengerjakan urusan perusahaan, tapi dia berusaha mencari informasi tentang IMO, dia bekerja sama dengan Narendra, juga beberapa tim yang bekerja dibalik layar. Mata Dillah membulat sempurna saat dia menemukan website yang memuat infomasi terbaru tentang IMO.


"Narendra, informasi ini hoax apa benar?" Yudha mengisyarat pada laman yang dia peroleh.


"Sebentar aku periksa." Narendra berusaha mencari tahu keakuratan informasi yang mereka terima. "Ini benar."


Dillah sangat semangat, baginya ini sangat berharga. Dia menghabiskan banyak waktu berada di depan laptop hanya untuk mencari tahu semua tentang IMO. “Aku permisi dulu Narendra, info ini sangat penting bagi Tuan.”


Narendra menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Dillah. "Aku akan berusaha cari informasi yang lain."


Dillah berlari menuju ruangan Ivan membawa tabletnya.


Brak!


Dillah membuka pintu ruangan Ivan begitu kasar. Hal itu memancing kemarahan Yudha.


“Apa kamu tidak bisa mengetuk lebih dulu!” maki Yudha.


“Maaf Tuan Yudha." Dillah berjalan cepat mendekati Ivan dan Yudha.


"Informasi tentang IMO yang saya dapat barusan, membuat saya hanya ingin memberitahu hal ini dan melupakan yang lainnya.” Dillah memberikan tablet yang dia bawa pada Ivan. “Foto Ketua IMO, tapi fotonya hanya tampak belakang.”


Ivan membisu melihat foto yang ada di tampilan tab Dillah, ingin sekali mengingkari segala pikirannya yang mengatakan Ketua IMO adalah Diana. Foto ini membuat otaknya bekerja semakin liar. Tidak ada alasan bagi Ivan untuk mengelak dari semua fakta yang ada di depan matanya.


Foto ini diambil di kota yang sama dengan kejadian waktu Diana menyelamatkan orang.


Ivan berusah fokus pada foto dan semua informasinya, walau otaknya terus memikirkan banyak hal. Kejadian saat Yudha dirampok saat membawa obat, peristiwa itu terjadi disebuah kota kecil yang ada di Dubai. Ivan teringat video viral saat Diana menolong korban kecelakaan dengan selongsong pena. Video itu juga diambil di kota yang sama dengan peristiwa buruk yang dialami Yudha. Bukan hanya di kota yang sama, tapi foto ini dan video waktu itu pada waktu yang hampir bersamaan, yaitu pertengahan oktober tahun lalu.


Ivan meremas kasar rambut kepalanya, dia teringat saat seseorang mengiriminya pesan, dan mengatakan padanya, kalau Diana adalah Ketua IMO. Ivan tidak ingin mempercayai hal itu, dia meminta bukti jelas atas tuduhannya, dan Ivan menjanjikan banyak bonus jika orang itu punya bukti kuat. Ivan sulit percaya karena selama Diana bersamanya saja sangat banyak fitnah yang terus membidik Diana. Apalagi tuduhan yang berkaitan dengan IMO. Organisasi IMO bukan Organisasi biasa, semuanya memiliki bakat khusus dan sangat terlatih.


Ivan membuang kasar napasnya, mengingat bagaimana keahlian dan kepintaran Diana, hal ini semakin menguatkan dugaannya kalau ketua IMO itu adalah Diana.


Yudha mengambil tab Dillah yang Ivan pegang, wajah Dillah terlihat begitu hancur. “Lihat, Ketua IMO sama persis dengan Diana.”


“Apa aku salah, jika menduga ketua IMO adalah Nona Diana?” sela Dillah.

__ADS_1


“Sabar dulu, jangan gegabah lagi, kita bermain santai dulu,” sela Ivan.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat obrolan Ivan, Dillah, dan Yudha terhenti. Ketiganya kompak menoleh kearah pintu.


“Narendra, ada apa?” tanya Ivan.


Narendra langsung masuk kedalam ruangan Ivan. “Tuan, sebentar lagi kita akan menggali informasi tambahan tentang IMO.”


Dugggg!


Ivan sangat syok.


Jangan sampai mereka menemukan bukti kuat, kalau Diana ketua IMO. Aku harus melindungi Diana.


“Tahan dulu pencarian kita, Narendra.” Ucap Ivan.


Yudha sangat tidak percaya dengan yang dia dengar barusan. “Apa? Tahan?”


"Pencarian kita hampir menemukan hasil!" ucap Yudha.


"Kita baru melakukan kesalahan Yudh, jangan sampai mereka tahu kalau kita masih bekerja."


“Kamu menyembunyikan sesuatu dari kami?” tanya Yudha pada Ivan.


“Menyembunyikan apanya?”


“Kita hampir mendapatkan semua informasi tentang Ketua IMO, dan kamu meminta tim kita untuk berhenti sementara?”


“Yudha, kita tidak pernah tahu secanggih apa peralatan mereka, aku tidak mau rencana kita kembali diretas oleh mereka,” jelas Ivan.


“Kamu merencanakan sesuatu?” Yudha menatap Ivan penuh selidik.


“Aku tidak meencanakan apa-apa, hanya sedikit mengulur tali, dan pada saat yang tepat, kita Tarik tali itu sama-sama.”


Sulit bagi Yudha untuk percaya, saat hampir sampai, Ivan malah meminta berhenti.

__ADS_1


"Rencana kali ini harus benar-benar sempurna Yud, kalau gagal lagi, maka selamanya kita tidak akan menemukan tentang mereka lagi. Sebab itu kita harus membuat mereka berpikir kita menyerah. Kalau mereka sadar bahwa kita berhasil mendapatkan informasi tentang mereka sampai detik ini, hal ini membuat IMO menyadari kekurangan mereka, sehingga mereka akan lebih waspada. Pastinya mereka akan tutupi kekurangan itu, saat mereka semakin waspada, kita juga yang kesulitan Yudh."


Yudha, Dillah, Narendra, berusaha memahami kata-kata Ivan, dan kekhawatiran Ivan masuk akal, jika mengingat siapa target mereka.


Melihat Yudha, Dillah, dan Narendra percaya dengan rencananya, Ivan merasa sangat lega. Ivan mengembalikan tablet itu pada Dillah.


"Kalian lanjut kerjakan pekerjaan Perusahaan dulu. Untuk urusan IMO, aku akan memanggil kalian jika waktu itu sudah tepat untuk kita melanjutkan misi kita," ucap Ivan mantap.


Ivan kembali ketempat duduknya, tangannya menari diatas keayboard kumputernya, kedua matanya memandang layar kumputer, tapi otak dan hatinya memikirkan Diana.


Andai memang kamu ketua IMO, aku tidak bisa membencimu, perasaan cintaku sudah memadamkan semua kemarahanku, tapi orang lain tidak akan bisa menerima semua ini.


Ivan melirik kearah Yudha. Pikirannya kembali tertuju pada Diana.


Aku harap kamu bisa memanfaatkan sedikit waktu yang aku beri, Diana. Kalau sampai terbongkar kalau Ketua IMO adalah dirimu, kamu akan dihukum berat, sebelum itu terjadi, sebisaku aku akan melindungimu. Aku tidak rela kalau sampai mereka tahu semua tentangmu, Diana.


Biar saja semua orang memandangmu gadis desa bodoh dan rada gila. Dengan begitu, posisimu aman.


**


Mata kuliah hari ini kosong, Diana sengaja menghabiskan waktunya di perpustakaan. Diana mencari bermacam materi untuk tugas kuliah dan operasi berikutnya. Diana sangat fokus pada halaman buku yang dia baca.


Tapp!


Tidak sengaja Diana menumpahhkan gelas kopi, hingga mengenai bajunya. Diana menghembuskan napasnya, dia segera berjalan menuju toilet. Setelah keluar dari Perpustakaan, Diana melepas kemeja panjangnya, hingga kemeja putih polos yang lumayan ketat, hingga mempertontonkan kemolekan tubuhnya. Semua mata sangat jelas melihat indahnya lekukan tubuh Diana.


Suit! Suit!


Beberapa Mahasiswa yang Diana lewati bersiul mengagumi keindahan bentuk tubuh yang Diana miliki.


“Gila, tu body sempurna bangettt! Gitar spanyol aja kalah seksi bro!” ucap salah satu mahasiswa.


"Yoi, indah banget bro. Kapan tangan gue beruntung bisa mendarat di lekukan surgawi itu." Salah satu Mahasiswa menggelengkan kepalanya, khayalannya kedua tangannya memegang lekukan pinggang Diana.


Langkah Diana terhenti mendengar kata-kata itu, dia berbalik dan menoleh kearah kumpulan mahasiswa yang membicarakan bentuk tubuhnya. “Bisa kalian ulangi!” ucap Diana tegas.


Para Mahasiswa itu langsung melarikan diri. Diana melanjutkan langkahnya menuju toilet, sesampai di sana, Diana membersihkan baju kemejanya yang kena kopi, karena bagian bawah baju itu basah, Diana mengikat baju kemeja itu di pinggangnya. Tanpa Diana sadari ada orang lain yang bersembunyi di toilet, dan mengarahkan mata kameranya kearah Diana.

__ADS_1


__ADS_2