Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 166 Tidak Murni


__ADS_3

Malam itu Diana tidak bisa tidur dengan nyenyak, misteri kematian ibunya yang memang disembunyikan, juga misteri kecelakaan Ayahnya. Jika teringat dua hal pahit yang terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, Diana terbayang lagi kejadian masa kecilnya yang pahit.


Istana besar itu sangat memanjakan Aridya dan kedua anaknya. Nazif selagi kecil selalu dimanja, begitu juga Kakaknya. Diana kecil diperlakukan sangat buruk, mereka selalu menyiksanya, seoalah tidak menerima keberadannya, tapi mereka juga tidak mau melepaskannya.


Keesokan harinya.


Diana berusaha membangun kembali modnya, melupakan kenangan buruk itu, jika penyiksaan yang dilakukan Pamannya padanya masih belum sebanding dengan rasa sakit yang diberikan guru bela dirinya. Merasa lebih baik, Diana bergegas menyeret kopernya menuju Universitas Bina Jaya. Sesampai di sana, Diana langsung menuju kamar Asramanya. Saat melihat semua barang yang kamarnya semua serba hitam, Diana yakin hal ini adalah ulah Lucas, karena Lucas yang tahu kalau Diana menyukai hal apa saja yabg berwarna hitam. Bahkan semua piyama tidur koleksinya berwarna hitam.


Diana mengambil handphonenya dan langsung menelpon Lucas.


Tutttt ….


Panggilan telepon Diana tidak diangkat Lucas. Diana mengulangi lagi panggilan kedua, tapi tetap tidak diangkat Lucas.


***


Di tempat lain.


Lucas dan Malvin berjalan bersama menuju Universitas Bina Jaya. Saat handphonenya berdering, Lucas memeriksanya, ternyata pemanggilnya adalah Diana.


"Lihat, Diana meneleponku," Lucas memperlihatkan layar handphonenya pada Malvin.


"Kenapa tidak kamu angkat?" tanya Malvin.


"Nanti saja, paling dia ingin menceramahiku."


"Dulu kamu sangat membencinya, sekarang kamu sangat memperhatikan dia, aneh." gerutu Malvin.


"Ceritanya panjang, sebelumnya aku mengira Nenek tidak sayang lagi padaku karena kehadiran Diana, ternyata ada Diana atau tidak, kasih sayang Nenek padaku tidak berubah."


"Nenek kalian orang yang sama?" tanya Malvin.


"Nenek kami bersahabat," kilah Lucas.


Mereka terus melangkah bersama menyusuri trotoar.


Tink!


Handohone Malvin berdering, setelah membaca pesan itu wajah Malvin seketika berubah.


"Ada apa Malvin?" tanya Lucas.


"Ada kelas yang akan segera di mulai, kita harus sampai lebih cepat, bagaimana kalau kita ambil jalan pintas?" usul Mavin.


"Jalan pintas?" Lucas terlihat ragu.


"Iya, kalau kita lewat sana, kita akan memotong jalan." Malvin menunjuk jalan di seberang mereka.


"Harus menyeberang?" Lucas memperhatikan keadaan jalanan yang sangat ramai.

__ADS_1


"Iya, kita menyeberang."


"Tapi di sekitar area ini tidak ada jembatan penyeberangan, aku tidak bisa menyeberang kalau tidak lewat jembatan penyeberangan."


"Tenang, ada aku. Aku biasa menyebrang tanpa melewati jembatan," ucap Malvin.


"Tapi itu berbahaya, Malvin,"


"Yakinlah padaku dan ikuti aku, kita menyeberang jalan sama-sama." Malvin memberikan tangannya pada Lucas.


Keduanya bergandengan tangan. Dengan santai Malvin dan Lucas berhasil menyeberang satu ruas jalan. Mereka mulai menyeberangi jalanan yang satunya. Saat mereka berada di tengah-tengah jalan, handphone Lucas berdering kembali.


Lucas sangat bahagia melihat Diana terus menerus mencoba menghubunginya, rasa bahagia itu membuat Lucas lupa posisinya saat ini, dia melepaskan tangan Malvin dan fokus memandangi handphonenya.


Malvin mengira Lucas sudah berani karena melepaskan tangannya, dengan santai dia terus melangkah tanpa menoleh pada Lucas lagi.


Sedang Lucas terus tersenyum melihat nama Diana di layar handphonenya. Dia memegang erat handphonenya 


Brakkkk!


Sebuah mobil menabrak Lucas, membuat pemuda itu terpental beberapa meter dari posisinya.


Mendengar suara gebrakan itu, Malvin terkejut, dia langsung berbalik, kedua matanya membulat sempurna saat melihat Lucas terkapar di jalanan.


"Lucas!"


Lucas mengisyarat pada handphonenya, di sana dering panggilan terus berulang, terlihat nama Diana yang meneleponnya.


"Jangan sampai Diana tahu kalau aku kecelakaan, tolong jangan beritahu dia."


Malvin belum menjawab permintaan Lucas, ambulan sudah tiba dan membawa Lucas menuju Rumah Sakit Healthy And Spirit.


Selama perjalanan menuju Rumah Sakit, Malvin terlihat gelisah, Lucas seperti ini penyebabnya juga dirinya.


Sesampai di Rumah Sakit, pihak Rumah Sakit langsung mengabari Rektor Universitas Bina Jaya, kalau salah satu Mahasiswanya mengalami kecelakaan.


Di kantor Rektor.


Mendengar kalau Lucas kecelakaan, Pak Abi langsung menghubungi Ayah kandung Lucas. Berulang kali dia menghubungi nomor itu, namun tidak kunjung diangkat.


Pak Abi tertekan, dia harus menelepon siapa lagi, tiba-tiba sosok Diana terlintas di pikirannya. Pak Abi langsung menelepon Diana.


"Iya ada apa Pak Abi?" Sapa Diana di ujung telepon sana.


"Diana, Lucas mengalami kecelakaan, dia sudah di bawa ke Rumah Sakit."


Mendengar kabar itu, Diana langsung menyudahi panggilannya, dia buru-buru menuju Rumah Sakit Healthy And Spirit.


Sesampai di Rumah Sakit, Diana langsung mencari Lucas. Di ruang UGD Diana melihat Lucas masih di tangani petugas medis di sana.

__ADS_1


"Diana?" Sapa Malvin.


"Malvin?" Diana heran karena Malvin juga ada di Rumah Sakit.


"Kenapa kamu bisa di sini?"


"Kamu sendiri, kenapa kamu bisa ada di sini?" Diana balik bertanya.


"Sebelum kecelakaan Lucas bersamaku, aku menemaninya dari TKP hingga saat ini."


"Bagaimana ceritanya sehingga Lucas kecelakaan?" Tanya Diana.


Malvin terlihat gugup. "Aku tidak tahu, Diana. Kami menyeberang bersama di jalan raya, aku berjalan di depan, jadi aku tidak tahu kejadian di belakangku."


"Di wilayah mana kecelakaan itu?"


Malvin menyebutkan area jalanan tempat Lucas kecelakaan.


"Bagaimana surat persetujuan ini?" Malvin memperlihatkan kertas yang dia pegang. "Tidak ada anggota keluarga Lucas, sedang dokter meminta tanda tangani surat persetujuan ini secepatnya demi keselamatan Lucas."


"Persetujuan apa?" Tanya Diana.


"Kaki Lucas harus di amputasi."


Diana menatap Malvin dengan tatapan kecurigaan, dia melihat keadaan Lucas tidak terlalu parah, dan tidak perlu melakukan amputasi pada kaki Lucas.


"Kamu bantu aku untuk mencari teman dekat Lucas dan coba tanyakan kontak keluarganya," usul Diana.


"Bagaimana surat persetujuan ini?" tanya Malvin lagi, "Kalau tidak ada anggota keluarga yang menyetujuinya, biar aku saja. Yang penting Lucas selamat," ucap Malvin.


Diana semakin curiga dengan Malvin yang begitu keras ingin menandatangani surat persetujuan amputasi Lucas. "Ada aku di sini, aku akan bertanggung jawab, kamu pergilah." Diana sangat berharap Malvin mau pergi dari sini.


"Kamu pasti akan setujui surat ini?" tanya Malvin.


"Jika ini darurat dan mengancam nyawanya, mengapa tidak?"


Malvin masih ragu.


"Tenang saja, aku akan membantu dan bertanggung jawab untuk Lucas di sini, bagaimana?" Diana meyakinkan.


Malvin setuju, dia segera menuju universitas untuk mencari tahu keluarga Lucas dari teman dekat yang lain. Diana merasa sangat lega, akhirnya Malvin pergi, dia segera menghubungi Nizam via telepon.


"Ada apa, Diana?"


"Aku butuh bantuanmu, tolong periksa detik-detik kecelakaan hari ini." Diana menyebutkan nama jalan di mana Lucas mengalami kecelakaan.


"Baik, Diana."


Ku rasa ini bukan murni kecelakaan, sepertinya ada yang sengaja mencelakai Lucas.

__ADS_1


__ADS_2