
Ternyata perasaanya tidak salah, dirinya memang aneh saat ini. Apalagi melihat tiga orang yang mematung melihatnya saat ini. Bahkan setiap orang yang berpapasan dengannya terasa aneh, karena mereka tidak berhenti memandanginya.
Amanda berusaha mengembalikan kesadarannya. “Selamat sore Nona Diana.
Diana hanya menganggukkan kepalanya, menanggapi sapaan Amanda. Diana meraih handphonenya dan mulai mengetik.
*Sepertinya aku harus pulang, aku merasa aneh mengenakan gaun ini, pas di butik aku sadar kalau ini salah, tapi aku tetap saja bodoh dan malah mengenakannya, aku merasa sangat bodoh sekarang.
Membaca apa yang Diana tulis, kesadaran Yudha juga kembali. “Tidak Diana, pakaianmu tidak salah, dan kamu tidak terlihat bodoh. Bahkan kamu terlihat semakin cantik. Aku kira tadi aku sudah berada di surga karena dilibas oleh cahaya laser yang terpancar dari sepasang mata Ivan.”
Merasa namanya disebut, Ivan pun juga tersadar. Dia hanya diam menatap Diana.
Diana kembali mengetik.
*Yakin ini tidak membuatku semakin terlihat aneh?
“Kamu sangat cantik Diana,” puji Yudha.
*Sepanjang jalan, aku merasa orang-orang terus memandangiku, aku merasa yang pakai ini aneh.
Yudha tersenyum membaca jawaban Diana. "Mereka memandangimu, karena mereka mengagumimu, Diana." Yudha terus memuji kecantikan Diana, dan meyakinkan wanita itu, kalau yang dia kenakan bukan hal yang bodoh.
*Rencananya, aku akan pakai gaun ini untuk menghadiri acara ulang tahun kakek besok.”
“Pilihan yang sempurna Diana,” puji Yudha lagi.
Ivan masih membisu, dia tidak bisa mengucapkan satu kata jua pun. Terpana melihat Diana, juga tidak suka melihat Yudha terpesona pada Diana.
“Oh ya Diana, tadi Dosen Wali kamu menelepon Ivan, katanya kamu banyak membolos pada mata kuliah kampusmu.”
Diana merubah arah pandangannya kearah Ivan, sejenak pandangan keduanya beradu tatap.
“Kamu masuk ke ruangan itu!” Ivan menunjuk kearah pintu ruangan khusus yang biasa dia pakai untuk beristirahat.
Diana langsung berjalan menuju ruangan yang Ivan maksud. Diana mengenakan pakaian biasa, dengan atasan lengan Panjang dan celana Panjang, bagi Yudha itu suatu keindahan yang luar biasa. Senyuman terus merekah menghiasi wajah Yudha, pandangan matanya pun terus tertuju pada Diana, hingga Diana menghilang dibalik pintu ruangan pribadi milik Ivan. Kali ini Diana terlihat luar biasa cantik mengenakan baju feminim yang saat ini dia kenakan. Melihat Yudha tidak bisa berhenti memandangi Diana, Ivan semakin geram, namun dia sembunyikan di balik wajahnya yang dingin.
What? Diana disuruh masuk ke ruangan pribadi Tuan Ivan? Jangankan orang lain, selama ini Yudha saja tidak diperbolehkan masuk ke ruangan itu.
Amanda masih dengan expresi terkejutnya, setelah mendengar Ivan menyuruh Diana masuk ke ruangan pribadi.
“Tuan Ivan, kedekatan Nona Diana, dan Tuan Fredy bukan masalah sepele, ini sangat membahayakan perusahaan Agung Jaya, Tuan.”
“Kalian berdua bisa keluar dari ruanganku?” Ivan memandangi Yudha dan Amanda bergantian.
Tanpa protes apapun, Yudha dan Amanda langsung keluar dari ruangan Ivan. Ivan melonggarkan dasinya sambil berjalan menuju ruang pribadinya.
***
Saat memasuki ruangan pribadi Ivan, Diana duduk diatas sofa empuk yang ada di dalam sana, sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Ceklak!
Pintu terbuka, terlihat Ivan memasuki ruangan yang sama dengannya, Diana pun langsung berdiri, bersiap menerima kemarahan Ivan karena dirinya banyak membolos pada setiap mata kuliahnya.
__ADS_1
“Selama kau sakit, bukankah sudah ku minta kamu untuk izin dulu? Kamu tahu, tidak semua orang seberuntung dirimu bisa menimba Ilmu Di Fakultas impian mereka. Mimpimu ingin menjadi dokter bukan? Kuliah dengan benar, kalau kau tidak bisa masuk izin dengan benar. Jangan membolos!”
“Mimpi tidak akan bisa kau gapai jika kamu sendiri tidak sungguh-sungguh untuk mencapainya.”
“Huhhh!” Ivan menghempas napasnya begitu kasar. “Maaf, karena kamu bersamaku, maka aku bertanggung jawab penuh atas dirimu.”
“Kakekku sudah berjanji pada nenekmu untuk menjagamu. Jika kamu berhasil mewujudkan mimpimu, senyuman kebanggaan nenekmu padamu, adalah yang yang melegakan bagi kami. Kami tidak ingin melukai perasaan nenekmu. Nenekmu adalah panutanku, aku sangat-sangat mengagumi beliau. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan beliau jika kami gagal menjalankan Amanah yang dia titipkan pada kami. Bagi nenekmu kamu adalah permata terindah yang dia miliki, dan kami harus jaga itu.”
Diana tertegun melihat pancaran rasa cinta yang terlihat di mata Ivan, saat Ivan menyinggung tentang neneknya.
“Jangan membolos lagi.”
Diana mengangguk, dia memahami kemarahan Ivan.
“Kamu mengenal Fredy?”
Diana mengambil handphonenya dan mulai mengetik ….
*Aku tidak mengenalnya, seniorku di kampus dulu adalah teman dekatnya.
“Kamu memiliki hubungan dengan Fredy?”
*Saat ini tidak ada. Dulu dia pernah berusaha mendekatiku, tapi aku menolaknya.
Ivan terkekeh membaca kalau Diana menolak Fredy. Seorang pebisnis yang sukses ditolak seorang gadis yang ada di depannya. Bagi Sebagian gadis yang ada di kota ini, sosok Fredy adalah impian mereka untuk dijadikan pasangan, sedang Diana malah menolaknya. Hal ini membuat Ivan semakin tertarik untuk bertanya lagi. “Kenapa kamu menolaknya?”
Diana kembali mengetik ….
*Karena dia tua.
Ivan menghembuskan napasnya lagi, menetralkan perasaan yang menggelitik perutnya. Dia duduk di sofa tunggal yang ada di dekat Diana. Dengan santai dia meraih tangan Diana, dia memeriksa tangan Diana yang kini tidak di balut perban lagi. Melihat gurat kekhawatiran di wajah Ivan, Diana melepaskan tangannya yang dipegang Ivan, dan mengetik di handphonenya.
*Aku tidak apa-apa. Ini biasa. Karena dari kecil sudah biasa terluka. Sejak kecil aku belajar bela diri, medis, bahkan tentang bedah pada nenek, sehingga tanganku sering terluka.
“Iya, tapi lain kali hati-hati.”
Berada sedekat ini dengan Diana, ada hawa yang terasa aneh dari dalam diri Ivan. “Oh ya, jangan lupa minum obatmu tiap waktu.” Ivan berusaha mengalihkan perasaannya.
Diana hanya menganggukkan kepalanya.
“Luka di telapak tanganmu belum sepenuhnya sembuh, hati-hati menggunakan tanganmu.”
Ivan kembali melihat keadaan luka yang ada di telapak tangan Diana. “Lumayan membaik.” Ivan pun menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Sesaat keduanya terdiam.
Keadaan hening, hanya deraan napas keduanya yang terdengar. Diana juga menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa panjang yang dia tempati, entah kenapa kelopak matanya terasa sangat berat. Hingga kedua kelopak matanya pun terpejam.
“Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan tentang nenekmu, tapi aku Lelah menunggumu mengetik jawaban.”
Hening ….
“Diana.” Ivan menoleh kearah Diana, namun dia tidak melanjutkan perkataanya, karena Wanita itu telah memejamkan kedua matanya.
“Diana, Diana, kamu seperti orang yang kekurangan tidur saja,” gerutu Ivan. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia tidak menoleh kearah gadis itu.
__ADS_1
Perhatian Ivan tertuju pada kedua paha Diana yang putih mulus, hal yang sangat menyesakkan dadanya untuk terus dipandangi, namun juga sulit mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang indah itu, karena bagian gaun yang Diana gunakan diatas lutut, hingga dalam posisi duduk seperti ini, gaun itu tidak menutupi kedua paha Diana. Ivan menelan salivanya karena pemandangan indah yang ada di depan matanya membuat ada yang mendidih di dalam dirinya. Ivan mulai mendekati Diana sambil melepas jasnya. Lalu menutup paha Diana yang menyapa kedua mataya dengan jasnya. “Setelah ini, kamu tidak boleh memakai pakaian seperti ini Diana,” gerutunya.
Ivan memperbaiki posisi Diana, perlahan dia merebahkan Diana di sofa Panjang, dan menyangga kepala Diana dengan bantal kecil yan ada di dekatnya. Ivan kembali merapikan jasnya agar menutup dengan benar bagian tubuh Diana, merasa semua oke, dia pun keluar dari ruang istirahatnya.
Saat Ivan keluar dari pintu ruangan pribadinya, saat yang sama Yudha juga masuk ke ruangannya. “Mana Diana?” tanya Yudha.
“Dia tidur, sepertinya dia masih kelelahan,” sahut Ivan. Mata Ivan tertuju pada berkas yang ada di tangan Yudha. “Dokumen apa itu?”
“Owh, ini berkas perkara Veronica, dan Quenzee.”
“Apa jadi sidangnya dimulai hari ini?”
“Iya, proses pengadilannya dipercepat. Pengacara Nizam sangat berambisi memasukkan Veronica dan sekutunya secepatnya ke penjara, bahkan dia menggunakan semua koneksinya agar bisa mempercepat semua proses, hingga pengadilan kasus ini dipercepat.”
“Pengacara Nizam memang sangat hebat, dia tahu kalau lawannya akan membuat proses hukum ini berjalaan lamban, dan pastinya menunda-nunda jadwal sidang, tapi pengacara Nizam berhasil membuat semuanya berjalan lebih cepat, karena semua bukti yang dia miliki sangat kuat untuk menjadi tiket VVIP Veronica menuju jeruji besi.”
Ivan menganggukkan santai kepalanya, dia senang proses peradilan dipercepat. "Yap, begitulah cara penjahat menghindar, saat di-introgasi, orang tanya apa, dia jawab apa, agar dia bisa menghindar dari mengakui kesalahannya, seperti halnya sidang, selama bisa ditunda, apapun mereka terus lakukan agar selalu bisa menunda dan terus menunda, agar keputusan semakin lama diambil hakim, dan berusaha membuat orang lupa dengan masalah yang sebenarnya."
"Seperti pengalihan issue," sela Yudha.
"Yupp!" Ivan menjentikkan jarinya, karena tanggapan Yudha sangat tepat.
“Aku ingin kamu melakukan satu hal.” Ivan meminta Yudha mendekat, dia pun berbisik di sisi wajah Yudha.
Raut wajah Yudha seketika berubah setelah mendengar semua rencana Ivan. “Rencanamu kurang baik Van. Bagaimana pun Fazran berjasa besar pada perusahaan ini. Sekarang saja mereka sudah mengembalikan semua sahamnya ke Agung Jaya.”
Ivan mentap tajam pada Yudha, tatapan mata yang penuh penekanan, membuat bulu kuduk Yudha berdiri di tatap Ivan seperti itu. “Baiklah, aku akan melakukan seperti apa yang kamu mau.” Yudha segera bangkit dan keluar dari ruangan Ivan.
Yudha baru keluar dari lift, dia berjalan santai menuju mobilnya.
Kring! Kring!
Yudha berdering, langkahnya pun terhenti, Yudha memeriksa siapa yang menghubunginya. Saat melihat layar, identitas pemanggil adalah ibunya. “Iya mama.”
Saat yang sama Veronica muncul di depan matanya. “Hai Yudh, bisa kita bicara? Aku ingin bicara sesuatu denganmu.”
Yudha hanya tersenyum dingin, fokusnya tetap pada mamanya.
“Yudha, untuk kasus Veronica, kita jangan ikut campur, Nenek sudah memaafkan Veronica.”
Perkataan ibunya di ujung Telepon sana membuat Yudha terdiam.
“Tadi, Nyonya Olla datang menemui nenek, beliau meminta maaf atas perbuatan Veronica. Nenekmu tidak tega kalau tidak memaafkan Veronica, karena bagi nenekmu Veronica seperti cucunya sendiri, jadi nenek sudah memaafkan Veronica.”
“Jadi, kita tidak ikut menuntut Veronica, dan kita jangan ikut proses hukum yang menyeret Veronica.”
Yudha masih diam, untuk kasus malpraktek, jika pasien memberi maaf pada pelaku, maka masalah terselesaikan setengahnya. Merasa ibunya tidak bicara lagi, Yudha pun menutup sambungan teleponnya.
“Yudha.”
Kesadaran Yudha kembali, dia baru ingat ada Veronica di depan matanya.
“Kita tumbuh dari kecil sama-sama Yudh, aku, kamu, Ivan, kak Angga, Qiara. Keluarga kita mulanya terikat karena bisnis, namun karena sangat dekat, kita semua seperti sebuah keluarga. Nenekmu juga seperti nenekku sendiri. Kejadian kemaren murni kecelakaan saja Yudh ….” Veronica menunduk, napasnya terdengar sedikit berat, saat dia menegakkan wajanya kedua matanya terlihat sembab.
__ADS_1
“Kejadian kemaren tentu tidak mudah membuatmu agar percaya padaku. Karena kamu lebih percaya dengan apa yang Diana tuliskan.”