
Di kamar Diana.
Hening, hanya helaan napas keduanya yang terdengar. Ivan merasa napas Diana sudah mulai normal, dia perlahan melepaskan pelukannya. "Lupakan mimpimu, ayo tidur lagi,” ucap Ivan lembut.
Diana menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak bisa tidur lagi.”
“Baguslah kalau kamu tidak bisa tidur.” Ivan Menyusun bantal di sandaran tempat tidur Diana, dia dengan nyaman bersandar di sana.
"Kalau kamu tidak bisa tidur, artinya kita bisa mengobrol banyak hal."
“Ayo sini.” Ivan mengisyarat agar Diana masuk kedalam pelukannya.
Diana segera masuk kedalam dekapan Ivan, dengan nyamannya dia bersandar di dada bidang Ivan.
Ivan mengusap lembut helaian rambut Diana. “Oh ya, untuk kasus kecelakaan Lucas, semua itu di urus Nizam.”
“Iya, aku sudah mempercayakan kasus itu pada Nizam,” ucap Diana.
“Aku masih tidak mengerti dengan kejadian ini. Kenapa ED Group ingin mencelakai Lucas?"
"Entahlah," sahut Diana begitu malas.
"Apakah mereka sudah tahu kalau Lucas sepupumu?"
"Sepertinya iya, aku curiga, orang yang mengambil fotoku secara diam-diam adalah orang dari ED Group," ucap Diana lirih.
"Berarti sebenarnya ini adalah peringatan untukmu, Diana.”
“Entahlah,” sahut Diana dingin.
“Apa kamu mengenal CEO ED Group? Mungkinkalian memiliki hubungan sebelumnya? Atau … ada sesusatu yang CEO ED Group inginkan darimu?”
“Bisa bertanya satu-satu?” gerutu Diana.
“Yah … kamu bisa jawab pertanyaan aku yang kamu ingat saja.”
“Apa yang bisa aku jawab? Bukan sebuah rahasia lagi kalau Tuan Muda CEO ED Group adalah orang yang licik dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Kamu seorang pengusaha, ku rasa kamu sudah lama tahu hal ini, jika berurusan dengannya, pastinya kamu bisa menilai sendiri bagaimana CEO ED Group tanpa bertanya padaku.”
Ivan menghembuskan napasnya begitu kasar. "Ya, kalau sudah menjadi target CEO ED Group, kamu diam atau bertindak, selalu salah di mata mereka," ucap Ivan.
"Ya, begitulah. Di mata orang-orang yang berhati busuk, dan mempunyai pikiran licik, bagaimana saja kita, tetap salah dan selalu di salahkan. Kita diam, atau bicara, tetap saja kita yang dijadikan tersangka atas kejahatan mereka," ucap Diana.
“Ya, dari dulu sudah diketahui kalau ED Group perusahaan yang licik, tapi pengaruh mereka begitu kuat. Makanya tidak mudah menghancurkan Perusahaan itu, kalau boleh aku berkata kasar, ED Group seperti Veronica, dia yang jahat, dia juga yang berpura-pura jadi korban."
__ADS_1
"Kau merindukan Veronica?" goda Diana.
"Setiap kejahatan yang terjadi di sekitarku, selalu mengingatkanku pada Veronica, dia ratunya kelicikan."
"Hmmm ...." Diana sengaja menggoda Ivan.
"Menghancurkan ED Group sangat susah, mereka licin seperti belut, hukum di negara ini, atau di negara mereka tidak berani menyentuh perusahaan mereka," jelas Ivan.
"Ya, seperti Veronica yang tetap di sanjung dan selalu lolos dari jerat hukum," Diana menambahi.
"Persis!" ucap Ivan.
"Tapi ….” Ivan sengaja menahan ucapannya.
“Tapi apa?” Diana penasaran.
Ivan melepaskan pelukannya pada Diana, kini posisi mereka saling berhadapan.
"Tapi bukan hal sulit bagiku untuk menghancurkan Perusahaan itu, apalagi ED Group sangat percaya pada Agung Jaya, perusahaan kami sudah menjalin kerjasama semenjak kepemimpinan Kakek."
Diana teringat miniatur botol obat yang ada dalam lemari yang menyimpan berbagai pernghargaan untuk Agung Jaya. "Aku melihat obat yang tidak asing dalam lemarimu, kenapa miniatur obat itu ada bersama Trophy perghargaan Agung Jaya?" tanya Diana.
"Mungkin kamu pernah mendengar berita, kalau beberapa wilayah terjangkit virus aneh, nah saat Agung Jaya di pimpin papaku, papa memberikan obat itu gratis ke segala penjuru, hingga Perusahaan Agung Jaya mendapat penghargaan atas obat itu."
"Itu dulu." Ivan merangkak mendekati Diana, membuat Diana terpojok di sandaran tempat tidurnya.
"Selama kamu bersamaku, selama aku bisa, masa depanmu hanya ada tawamu dan kebahagiaanmu. Sudah cukup kamu menderita, Diana. Siapa saja yang ingin menyakitimu, mereka berurusan denganku."
Fokus Ivan pada bibir Diana yang sangat seksi baginya. Ivan terus memandangi bibir itu dan ingin melahapnya sekuat yang dia bisa. Saat jarak mereka tinggal beberapa centi lagi, Diana sengaja mendorong Ivan.
"Apa lagi berita yang kamu dapat tentang ED Group?" Diana berusaha membuang perasaan yang hampir menghipnotisnya.
“Aku tidak melakukan penyelidikan lebih lanjut. Jika kamu ingin menghancurkan ED Group, aku bisa membantumu."
"Aku ini manis, lembut, lugu, dan kalem, tidak punya bakat untuk berbuat Anarkis," ucap Diana santai.
Ivan sangat gemas melihat Diana memasang wajah lugu dan manisnya. Dia mencubit gemas hidung Diana. "Manis, lembut, kalem dari Hongkong!"
"Aww!" Diana mengelus hidungnya yang terasa hangat karena cubitan Ivan.
"112 preman terkapar, anak buah Tante Wilda tidak berdaya melawanmu, terus 20 ekor ayam mati nahas karena anak panahmu, itu Diana manis, kalem, lembut, dan lugu?" ledek Ivan.
Ivan berusaha meneruskan bahasan mereka sebelumnya. "Kalau aku boleh menyombongkan diri, hanya aku yang bisa menghancurkan perusahaan itu.”
__ADS_1
“Ya aku percaya kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau,” ucap Diana.
"Tidak semua yang aku mau bisa aku lakukan, contoh nyata, aku mau kamu mencintaiku, tapi aku tidak bisa membuatmu mencintaiku."
Ivan berusaha merubah pembicaraannya. “Kamu mau mengajakku bekerjasama untuk menghancurkan ED Group?” tawar Ivan.
“Em ... kurasa tidak,” sahut Diana tegas.
“Ayolah Diana, terima tawaranku, kamu dan tim mu tidak akan sanggup untuk melawan ED Group tanpa aku.”
“Tapi tujuanku bukan menghancurkan ED Group,” kilah Diana.
“Ayolah Diana, aku tahu kamu berambisi menghancurkan mereka, libatkan aku kedalam misimu,” Ivan memohon.
“Aku tidak ingin mengajakmu menghancurkan Perusahaan Orang, Ivan. Tapi aku menginginkan hal lain darimu,” balas Diana.
“Apa? Katakan apa yang kamu mau dariku?” tanya Ivan.
“Bawa aku kedalam dekapanmu seperti tadi.” Diana mendorong Ivan untuk bersandar di bantal, dan dia langsung bersandar di dada bidang Ivan.”
Walau kesal, tapi Ivan bahagia melihat Diana yang bermanja padanya, dengan nyamannya Diana bersandar di dadanya. Ivan mengusap lembut sisi kepala Diana. Sedang Diana tenggelam dalam pemikirannya.
Sebanyak apapun perusahaan yang kamu hancurkan memang tidak akan mengganggu kekokohan perusahaanmu, Van. Tapi maafkan aku, aku tidak ingin kamu bermasalah dengan orang-orang licik seperti ED Group, kamu orang baik, Van. Tidak seharusnya kamu mengotori tanganmu untuk menyentuh sampah-sampah itu.
“Diana,” panggil Ivan lembut.
“Hmm ….” Diana berdeham.
“Kapan liburanmu tiba?”
“Memangnya kenapa? Masih ingin merayuku atau mengancamku agar kamu bisa ikut aku ke desa?”
"Aku pengen bilang tidak, tapi itulah yang aku inginkan, aku ingin ikut bersamamu ke desa."
"Kenapa sangat ingin ikut aku pulang?" tanya Diana.
“Selain tidak bisa berpisah denganmu, aku juga ingin bertemu dengan Nenekmu.”
“Aku pulang hanya sebentar, apa kamu tidak bisa bersabar sebentar untuk menungguku kembali lagi?” tanya Diana.
“Aku bisa menunggumu, tapi aku takut kamu tidak kembali lagi ke sini.”
“Aku tahu berat bagimu untuk membawaku bersamamu, karena di sana kamu harus memutuskan sesuatu.”
__ADS_1
Diana menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Ivan.