
Diana masih berada di toilet perempuan, dan sambungan teleponnya dengan wakil ketua IMO masih terhubung.
“Apakah Anda sibuk, ketua?”
“Tidak terlalu, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Diana.
"Tidak ada, hanya saja tadinya saya mengira Ketua sudah bertugas, saya hanya ingin menyerahkan kembali semua amanah yang Ketua beri pada saya."
Diana menghela napasnya. "Untuk saat ini, aku masih istirahat."
“Kapan Ketua bisa bertugas lagi?”
“Belum tahu.”
“IMO tanpa ketua rasanya ada yang kurang, walau semua baik-baik saja, tapi rasanya IMO kehilangan roh-nya, selama Ketua masih aktif bersama kami, bermacam pencapaian kita raih, terjun ke pelosok untuk penelitian, dan banyak hal. Bahkan saat Ketua bersama kami, kita semua bisa menciptakan penawar Virus yang menebar di beberapa tempat. Ketua bagai nyawa organisasi ini."
“Kamu terlalu berlebihan, IMO walau tanpa aku, organisasi ini sangat hebat, banyak prestasi yang mereka ukir jauh sebelum aku bergabung, sangat nyawa yang diselamatkan oleh organisasi itu dan hebatnya lagi semua tim selamat dari bermacam misi. Sangat terkenal kalau Anggota IMO tidak pernah gugur saat bertugas.”
“Tapi kebanyakan pencapaian gemilang itu diraih karena kerja keras Anda, Ketua. Saya mulai faham, kenapa Tuan Muda Archer menunjuk Anda sebagai penggantinya."
"Saat Tuan Muda Archer melepas jabatannya, dan meyerahkan tampuk jabatan itu pada Anda, saya salah satu yang meragukan, selain Ketua waktu itu anggota paling muda di IMO, ketua juga anggota baru. Tapi Ketua tidak pernah berkata apapun pada kami, padahal sangat jelas kami keberatan saat Anda ditunjuk sebagai Ketua. Hingga Ketua membungkam semua keraguan dengan segala pencapaian dan prestasi ketua.”
Diana terbayang perjuangannya saat aktif di Organisasi itu. Diana teringat saat Archer terluka dan tidak bisa lagi melanjutkan jabatannya sebagai Ketua IMO, hingga Archer menunjuknya sebagai penerus jabatan Archer. Diana menyadarkan diri dari lamunan masa lalunya. “Kamu apa kabar?”
“Saya baik Ketua, ketua sendiri?”
“Aku baik, sahut Diana.
Diana mendengar suara pintu terbuka, artinya ada yang masuk ke area itu. “Sudah dulu ya, nanti kita sambung lagi.” Diana sengera memutuskan sambungan telepon mereka. Setelah itu dia keluar dari toilet.
Diana kembali ke kelas, tidak kama setelah dia masuk, Dosen yang mengajar mata kuliah juga masuk.
"Akhirnya kamu masuk juga Diana." ucap Dosen.
__ADS_1
Diana hanya tersenyum kecil dan sedikit menunduk.
"Apa semua urusan pribadimu sudah selesai?" tanya Dosen.
"Untuk saat ini sudah Prof, semoga saja tidak ada hal mendesak lagi," sahut Diana.
Mata kuliah di mulai. Selama pelajaran berlangsung Saras terlihat sangat kesulitan memahami materi pelajaran yang dia dapat.
"Ada apa?" tanya Diana.
"Aku tidak mengerti." Saras menceritakan hal yang menurutnya sulit.
Diana dengan santai menjelaskan secara ringkas agar lebih mudah dimengerti Saras.
Melihat perhatian Diana padanya, tidak terasa air mata Saras terlepas begitu saja. “Semakin dekat denganmu, ternyata kamu pribadi yang sangat asyik, menyenangkan, dan sangat perhatian.”
“Fokus-Fokus, Profesor menatap kita,” tegur Diana.
"Kalau kalian tidak ingin belajar, silakan keluar dari kelasku!" tegur Profesor.
"Sekarang masih tidak mengerti?"
"Sekarang saya mengerti Prof," sahut Saras.
"Kalau kamu mengerti, semoga nilaimu membaik, Saras."
Berkat bantuan Diana, Saras merasa lebih mudah memahami mata kuliah mereka hari ini, penjelasan yang dia dapat dari Diana, lebih singkat dan langsung pada inti. Tugas sudah selesai mereka kerjakan, Saras dan Diana sama-sama mengumpulkan tugas mereka.
Dosen itu langsung memeriksa tugas Saras. Senyuman melengkung di wajahnya saat melihat semua kinerja Saras. "Ternyata kamu memang mengerti, bagus Saras tingkatkan nilaimu, minimal kamu pertahankan!"
"Siap Prof." Saras sangat bahagia, dia mendapat pujian dari dosen yang mengajar.
Semua Mahasiwa yang menyelesaikan tugas mereka dipersilakan untuk istirahat. Diana dan Saras berjalan bersama menuju kantin, seharian belajar di kelas membuat perut mereka mulai konser minta diisi. Diana dan Saras masih mengantri di salah satu sudut kantin.
__ADS_1
“Penyampaian darimu dangat mudah ku fahami, harusnya kamu yang jadi dosen, Diana.”
“Apa selama jam pelajaran masih kurang untuk membahas mata kuliah? Jam makan siang pun kamu masih membahas tugas kuliah,” gerutu Diana.
Saras hanya tersenyum kaku memperlihatkan deretan gigi-giginya yang putih. "Aku hanya bahagia, karena bantuanmu aku bisa memahami materi mata kuliah yang berlangsung."
Setelah mendapatkan menu yang mereka inginkan, Saras dan Diana mencari tempat untuk menikmati makanan mereka. Tidak butuh waktu lama, semua makanan yang ada di atas nampan sudah berpindah kedalam perut mereka.
“Mata kuliah selanjutnya masih lama, kamu juga belum mendapat asrama baru, bagaimana kalau kamu istirahat di kamarku dulu, aku kecil, kamu kecil, ranjang itu muat untuk kita berdua,” usul Saras.
“Aku ketinggalan banyak mata kuliah karena banyak tidak masuk, jadi setelah ini aku mau ke perpustakaan, aku ingin menyelesaikan beberapa tugasku.”
"Butuh bantuanku?" tanya Saras.
"Terima kasih, tapi sebaiknya kamu istirahat saja."
"Kalau butuh aku, telepon aku ya," pinta Saras.
Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua sama-sama meninggalkan kantin, saat di ujung lorong keduanya berpisah. Diana menuju perpustakaan, sedang Saras kembali ke asramanya. Di perpustakaan Diana mencari beberapa buku, dia melanjutkan risetnya pada dua pasien. Pasien pertanya adalah Angga, setelah operasi di Dubai, keadaan Angga belum sembuh total, masih menunggu tahap pemulihan. Bagaimana hasil operasi, masih menunggu proses pemulihan. Setelah tentang Angga dia temukan, Diana melanjutkan risetnya pada calon pasien kedua, yaitu teman Fredy. Diana berusaha memahami penyakit yang di derita teman Fredy, dan jalan untuk penyembuhannya.
Di Kantor Agung Jaya.
Rahang Ivan tampak mengeras setelah menonton video-video hoax dan berita hoax yang beredar di lingkup Universitas tentang Diana, berita mengabarkan Diana bisa hidup mewah karena menjual dirinya pada sugar daddy, Ivan dan Russel adalah langganan Diana. Banyak lagi semua fitnahan yang tertuju pada Diana.
“Yudha! Bereskan semua ini, siapa saja yang berani mencela Diana, memfitnah Diana, beri mereka peringatan!” perintah Ivan.
“Untuk apa kamu memikirkan masalah ini Van? Diana saja tidak pernah perduli dengan berita-berita maya yang selalu menyudutkannya,” sela Yudha.
“Aku tahu Diana tidak pernah peduli dengan segala hinaan yang tertuju padanya, bahkan dia tidak ambil pusing segala berita hoax yang selalu membuat namanya buruk. Diana tidak pernah menggannggu orang, cenderung dia suka menolong orang. Dianaku polos Yudh, dia tidak pantas diperlakukan oleh warganet atau para mahasiswi dengan perlakuan buruk seperti ini!”
“Mereka yang selalu memojokkan Diana tidak pernah mendapat teguran, sebab itu mereka tidak pernah bosan mengganggu Diana,” protes Ivan lagi.
Yudha memahami kemarahan Ivan. “Dillah, segera kamu bereskan semua kekacauan ini.” Perintah Yudha.
__ADS_1
“Baik Tuan.”