Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 56 Tato


__ADS_3

Kriuk! Kriuk! Kriuk!


Suara itu seakan memenuhi ruangan yang hanya dihiasi cahaya temaran. Diana terlihat begitu santai menikmati camilannya. Seolah tidak terjadi hal apapun padanya. Bau amis darah seakan memenuhi ruangan itu, namun tidak mengusik kenikmatannya menikmati cemilannya.


Ceklak!


Mendengar suara pintu yang terbuka membuat Diana menoleh kearah pintu, saat dia melihat siapa yang datang, dia menaruh cemilannya dan meraih handphonenya.


*Maaf ….


Namun Ivan tidak mempedulikannya, Ivan berlalu begitu saja menuju pantry. Di Pantry juga hanya diterangi oleh cahaya lampu temaram. Ivan berusaha tidak peduli pada Diana yang berdiri di dekatnya dan berusaha meminta maaf padanya.


*Atas kejadian tadi siang, aku akan menjelaskan sendiri nanti pada kakek.


Ivan terdiam membaca tulisan itu. Berulang kali terdengar dia menghela napasnya begitu dalam. “Aku tidak marah padamu, Diana. Kamu tahu betapa khawatirnya aku?”


Diana melihat jelas bagaimana kekhawatiran yang terpancar dari raut wajah Ivan.


“Aku tidak tahu harus apa, aku sudah mengutus anak buahku, tapi tidak juga menemukan tempat di mana anak buah tante Wilda menyembunyikanmu.” Sejenak pandangan Ivan tertuju pada Diana lagi. Dia mengendus, menajamkan indera penciumannya, Ivan bergegas berjalan menuju saklar lampu, lalu menyalakan lampu terang. Pandangan matanya tertuju pada tangan kiri Diana. Hati Ivan begitu sakit melihat tangan Diana berdarah lagi, padahal sebelumnya luka itu sudah hampir sembuh.


Ivan melangkah mencari kotak obatnya, tanpa berbicara dia menarik Diana dan mengobati luka Diana dengan baik. “Kamu berkelahi?”


Diana hanya diam.


“Maafkan aku karena tidak berusaha lebih keras untuk mencarimu, sebenarnya aku tidak percaya pada isi pesanmu, saat kau bilang kau pulang duluan.”


"Terima kasih, karena berusaha membuatku tidak khawatir. Tapi perasaanku tidak bisa percaya pada isi pesanmu waktu itu.”


Diana diam memandangi wajah Ivan yang diselimuti kecemasan dan kekhawatiran yang sangat jelas.


“Kakek sudah meminta tante Wilda untuk melepaskan kamu, tapi tante Wilda bersikeras tidak mau melepaskan kamu.”


Tink!


Mendengar suara handphonenya, Ivan segera mencari benda itu, satu pesan baru dari anak buahnya yang dia utus mencari Diana.


*Tuan, sepertinya Nona Diana berhasil melarikan diri dari penyekapan. Kami baru saja mendapatkan informasi, bahwa rekan kami yang lain ada melihat Nona Diana menyetop sebuah taksi.


Ivan mengetik pesan balasan.


\=Kalian semua kembalilah, tugas kalian sudah selesai.


Perhatian Ivan tertuju pada Diana lagi. Melihat luka Diana terbuka seperti ini, pikran Ivan melayang entah kemana, seolah membayangkan duel Diana dengan orang-orang Wilda. Melihat luka Diana terbuka seperti ini, dia sangat yakin kalau Diana menggunakan tangannya untuk hal yang membutuhkan tenaga extra. “Kamu kabur dari penyekapan?”


Diana hanya menatap Ivan, namun tatapan itu membuat Ivan yakin kalau Diana melarikan diri dengan melawan anak buah tante Wilda.


“Apa kamu terluka?” Ivan memeriksa bagian tubuh Diana.


Diana berusaha menenengkan Ivan yang panik dengan bahasa isyarat kalau dirinya baik-baik saja, namun Ivan tidak mempercayai Diana. Dengan kepanikan yang menyelimuti hatinya Ivan terus memeriksa bagian-bagian tubuh Diana.


“Buka bajumu.”


Sontak kedua bola mata Diana membulat sempurna mendengar perintah Ivan, dengan cepat Diana menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak ingin macam-macam denganmu, aku hanya ingin memastikan kamu tidak terluka.”


Diana tetap menggelengkan kepalanya.


“Ku mohon Diana, sebelum aku memastikan keadaanmu, aku tidak bisa tenang.”


Melihat tatapan mata Ivan yang begitu cemas, juga wajahnya yang diliputi gurat kekhawatiran, membuat Diana mengalah, Diana berbalik memunggungi Ivan, perlahan dia mengangkat bajunya.


Sangat jelas Ivan melihat punggung Diana yang mulus putih bersih, tidak ada luka sedikitpun di tubuh mulus itu, Ivan pun merasa lega melihat Diana benar-benar tidak terluka sedikit pun, namun satu hal yang menarik perhatian Ivan. Satu tato burung kecil yang ada di bagian pinggul kanan Diana.


Drtttttt!


Getaran handphone yang ada di sakunya, membuat Ivan kembali sadar dari pikirannya tentang tato burung kecil yang terlukis di permukaan kulit Diana. Saat Ivan menegakkan pandangannya Diana sudah menurunkan bajunya kembali. Ivan segera memeriksa handphonenya. Ternyata pesan dari Diana.

__ADS_1


*Percaya kalau aku baik-baik saja?


Ivan menoleh kearah Diana dan pelahan menganggukkan kepalanya, rasanya tato burung itu mengambil kemampuan Ivan untuk bicara.


Drtttt!


Pesan dari Diana lagi.


*Terima kasih karena mengobati Lukaku. Sekarang apa boleh aku istirahat?


Ivan kembali menganggukkan kepalanya. Diana pun segera melangkah menuju kamarnya, begitu juga Ivan.


**


Malam semakin larut, Wilda keluar dari kediaman Agung dengan beberapa orang kepercayannya, dia langsung menuju tempat di mana dia menyembunyikan Diana. Saat sampai di sebuah Gudang. Wilda dan bodyguardnya pun turun.


“Telepon Marcher kalau kita datang,” titah Wilda.


Bodyguardnya pun langsung melakukan perintah Wilda, dia langsung menghubungi rekannya. Beberapa kali mencoba, dia masih tidak bisa menghubungi rekannya.


“Tidak diangkat Nyonya,” adunya.


Wilda merasakan firasat tidak enak. “Cepat ketuk pintunya, kalau mereka tidak membukakan dobrak saja.”


Mereka semua berlari menuju pintu masuk. “Marcher!” teriak salah satu bodyguard.


“Marr—” teriakkannya terhenti saat pintu utama bisa dibuka. Seketika Wilda dan beberapa bodyguardnya langsung masuk ke dalam, mereka sangat syok melihat keadaan yang ada di depan mata mereka. Orang-orang yang diutusnya menyekap Diana, saat ini mereka semua terkapar di lantai tak sadarkan diri dengan wajah lebam.


“Bangunkan mereka semua,” titah Wilda.


Bodyguardnya yang lain pun langsung membangunkan rekan-rekannya yang pingsan. Beberapa saat kemudian mereka semua tersadar.


“Mana gadis bisu itu?!” tanya Wilda.


“Dia melarikan diri, Nyonya.”


“Kalian semua tidak berguna! Menjaga seorang gadis kecil saja tidak becus!” maki Wilda.


“Dia memang gadis kecil, tapi dia sangat Tangguh Nyonya, ilmu bela dirinya sangat hebat. Bahkan pukulan kami semua selalu meleset.”


“Argggggggttttt!” Wilda geram, dia meninggalkan tempat itu dan di susul beberapa bodyguard yang selalu bersamanya. Wilda meminta supirnya mengantarnya  ke Rumah Sakit, dia memilih menemani putrinya malam ini di sana.


****


Matahari baru saja menampakkan cahayanya, namun hawa yang begitu panas terasa di kediaman Agung, seperti hawa panasnya terik matahari saat siang. Kepala pelayan laki-laki yang bekerja di keluarga Agung Jaya hanya diam, kala dia melihat rona kemarahan yang terlihat begitu jelas di wajah kakek Agung, saat pria tua itu menonton video yang di posting oleh cucunya, dan membaca semua komentar hujatan pada video itu.


“Siapkan mobil untukku!” titah kakek Agung.


“Baik Tuan.” Kepala pelayan laki-laki itu pun segera memerintahkan salah satu supir yang bekerja di keluarga Agung Jaya bersiap untuk mengantar Tuan Besar mereka.


Kakek Agung berjalan begitu cepat, membuat Sofian dan Rani tercengang.


“Ayah ….” Sapa Sofian, namun kakek Agung tidak mempedulikan dirinya. Laki-laki tua itu terus melangkah melewati dirinya.


Sofian mendekati kepala Keamanan. “Ada apa? Kenapa Ayah terlihat sangat marah?”


“Tuan Besar sangat marah melihat video yang di posting Nona Qiara.”


“Terus, itu Ayah mau kemana?”


“Ke Rumah Sakit, menemui Nona Qiara.”


Rani dan Sofian pun segera membuka handphone mereka, mencari tahu video apa yang Qiara unggah ke internet sehingga membuat Ayah mereka semarah ini.


***


Di ruangan perawatan Qiara.

__ADS_1


Gadis itu baru selesai diperiksa oleh seorang perawat. “Pertolongan dini yang dilakukan si penolong sangat luar biasa, karena pertolonganya, racun itu dimuntahkan oleh Nona. Keadaan Nona saat ini juga semakin membaik,” ucap perawat itu.


Wilda senang mendengar putrinya baik-baik saja.


“Permisi Nyonya, permisi Nona.”


Perawat itu pun pergi. Saat perawat itu membuka pintu, kakek Agung sudah berdiri di depan pintu dengan wajah yang diselimuti kemarahan. Kakek Agung masuk ke dalam ruangan Qiara dan berdiri di dekat cucunya itu. Sedang perawat itu langsung pergi dari ruangan Qiara.


“Kenapa kamu memposting video itu ke internet?! Bukankah sudah ku katakan! Aku sendiri yang akan menyelesaikan semuanya!”


Tubuh Qiara sedikit terperanjat karena bentakkan dari kakek Agung.


“Ayah ….”


“Diam kau Wilda!”


Wilda pun terdiam sambil menahan kekesalannya, dia tidak rela anaknya di marahi seperti ini, walau Qiara membaik, dia masih tidak memaafkan Diana yang berani menorehkan luka di area leher putrinya. Di depannya kakek Agung terus memarahi Qiara, sedang jemari Wilda menari diatas handphonenya, dia mengirim pesan pada seseorang dan merencanakan rencana lagi.


* Di Apartemen Ivan.


Setelah sarapan bersama Diana, Ivan masih betah berada di meja makan, namun yang ada di depannya bukan piring yang berisi sarapan, melainkan handphone dan laptopnya. Ivan terlihat sangat serius mengotak atik laptopnya. Entah mengapa video yang Dillah maksud sangat sulit untuk ditemukan. Namun Ivan tidak menyerah, dia terus berusaha mencari Video yang dia inginkan. Sambil menyesap kopi panasnya,Ivan masih giat mencari video itu.


Ceklak!


Mendengar suara pintu terbuka, Ivan menegakkan wajahnya, dari sana terlihat Diana keluar dari kamarnya, Wanita itu juga terlihat fokus dengan handphonenya. Melihat Diana duduk di salah satu Sofa, Ivan pun kembali fokus pada laptopnya.


Sedang Diana, dia membaca semua pesan dari pengacara Nizam.


*Diana, dari laporan medis, sepertinya memang benar ada yang berusaha meracuni Qiara.


*Kamu ada waktu? Kalau bisa, kita harus bertemu, ada beberapa hal yang ingin ku katakan langsung padamu.


*Jangan lupa, cek postingan Qiara. Tadi malam gadis itu memposting sesuatu.


Diana segera kembali ke kamarnya, dia bersiap untuk menemui pengacara Nizam. Saat dia keluar dari kamar, Ivan tiba-tiba berdiri di depan pintu kamarnya.


Ivan mencermati penampilan Diana, jika Diana berpenampilan seperti saat ini biasanya Wanita itu akan pergi. “Mau kemana kamu?”


Diana menatap Ivan dengan tatapan yang penuh pertanyaan. Mendapat tatapan seperti itu Ivan diam, tatapan itu seolah memperingatkan dirinya tentang perjanjiannya bersama Diana, saat Diana mengajukan 3 perjanjian. Salah satunya 'Jangan campuri urusanku.' Ivan mundur selangkah dari posisinya berdiri saat ini. Diana pun berlalu begitu saja, dia pergi dari Apartemen Ivan.


“Huhhh ….” Ivan membuang napasnya begitu kasar. Dia lebih memilih kembali pada pekerjaanya, mencari video yang dia inginkan sebelumnya.


Ivan seketika menegakkan punggungnya, saat video yang dia cari akhirnya ditemukan. Ivan sangat fokus menonton Video itu.


Dalam video itu, terlihat seorang pemuda terus memberi instruksi pada seseorang yang ada di sampingnya, agar memberi napas buatan setiap 3 detik pada seorang korban kecelakaan. Suasana Nampak ramai. Mereka semua tegang, berharap korban itu bisa di selamatkan.


“Sudah telepon Ambulan?” tanya salah satu pria yang ada dalam video itu. Sedang orang di sampingnya terus memberi napas buatan pada korban.


“Sudah, Ambulan sedang dalam perjalanan,” sahut yang lain.


“Dia bisa meninggal kalau lama. Korban tidak bisa bernapas, ada tekanan pada peru-parunya , kita harus secepatnya membawanya ke Rumah Sakit.” Laki-laki itu terlihat frustasi melihat korban kecelakaan yang berusaha dia tolong.


Tiba-tiba seorang gadis mendekati laki-laki itu, dia mengambil kotak pensil dari dalam tasnya, dia mengambil cutter mini, alkohol dan satu bilah pena. Dia melepas kedua ujung bagian pena dan mengeluarkan isi pena, lalu meraba bagian dada korban, dengan santainya dia mengiris bagian dada korban.


Laki-laki yang sedari tadi berusaha menolong korban, terpana dengan Tindakan gadis kecil itu. Dia berusaha memahami apa yang gadis kecil itu lakukan.


“Hei! Apa yang kau lakukan!?” teriak salah satu warga yang ada di tempat kejadian, dia histeris melihat seorang gadis kecil menyayat bagian tubuh korban.


“Dia sedang membuka paru-paru yang tertekan, agar korban bisa bernapas,” sahut laki-laki yang sedari tadi menolong korban.


Setelah selesai membuat sayatan pada bagian dada korban. Gadis itu menyiram pena yang sudah dia kosongkan dengan alkohol, lalu menancapkan pena itu pada bagian dada korban yang dia iris. Seketika korban bisa bernapas.


“Dia bisa bernapas!” jerit salah satu warga.


Semua orang pun bertepuk tangan, bangga dengan pertolongan yang gadis kecil itu berikan. Tidak berselang lama petugas Ambulan datang, korban pun langsung di bawa ke Rumah Sakit.


*

__ADS_1


Ivan terpana dengan kejadian dalam Video itu, dia curiga gadis kecil itu adalah Diana, dan laki-laki itu adalah pengacara Nizam. Tapi sayang gadis kecil dan laki-laki itu mengenakan masker, hingga Ivan tidak bisa melihat wajah mereka.


__ADS_2