Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 121 Pura-Pura


__ADS_3

Diana berhasil melepaskan diri dari Nizam, dia segera bangun. Nizam masih meracau, dia berusaha bangun dan terus mengatakan hal-hal yang tidak jelas.


“Cemen sekali, baru minum sebotol bir sudah mabuk,” ledek Ivan.


Ivan memandang kearah Diana. "Biarkan saja dia."


"Dia sedang mabuk, setidaknya bantu dia untuk ketempat aman," sahut Diana.


Nizam berusaha keras untuk menegakkan tubuhnya, setelah dia bisa berdiri dia kembali menempel pada Diana, hal ini semakin membuat Ivan dibakar oleh api kecemburuannya. Ivan langsung mendekati Diana dan Nizam, dia berusaha menjauhkan Nizam agar tidak menempel pada Diana.


"Nizam! Kamu tidak kasihan apa? Diana perempuan, malah harus menahan bobot tubuhmu yang berat ini!" Ivan berusaha menahan keseimbangan tubuh Nizam.


"Kamu siapa?" Nizam menepuk pipi Ivan berulang kali.


Sumpah demi apapun, Ivan sangat marah, Andai tidak ada Diana, dia akan lemparkan laki-laki ini dari lantai teratas rumah Archer.


"Jangan kurang ajar kamu!" maki Ivan.


"Ivan, dia mabuk mana bisa berpikir normal!" sela Diana.


“Ada apa ini?” sela Archer.


“Ada anak mamy yang mabuk karena minum sebotol bir,” sahut Ivan.


Archer merasa aneh, tapi dia tidak mau ada keributan di rumahnya. “Lebih baik antar dia ke kamar untuk beristirahat,” usul Archer.


“Baiklah, biar aku saja yang mengantarnya,” sela Ivan. “Di mana kamar tamunya?”


“Lantai 2.”


Ivan segera memapah Nizam untuk menaiki tangga, saat baru sampai di kelokan tangga kedua, tiba-tiba Nizam melepaskan gandengan tangannya pada Ivan dan melompat ke tangga kelokan pertama. Ivan sangat marah menyadari kalau Nizam pura-pura mabuk.


“Apa maksudmu dengan berpura-pura mabuk?” tanya Ivan.


“Aku hanya menunjukkan padamu, kalau hubunganku dengan Diana sangat baik.”


“Diana membantumu dengan tulus, dan kau malah menipunya, ini yang kau maksud dengan hubungan baik? Ketulusan yang kamu balas dengan tipuan?” Ivan menuruni tangga menyusul Nizam. Dia mencnegkram kuat krah kemeja Nizam. “Kalau kau mengulangi lagi perbuatanmu ini, maka kamu akan melihat bagaimana sisi lain dari seorang Ivan Hadi Dwipangga!” gertaknya. Ivan mendorong kuat tubuh Nizam, hingga punggung Nizam terbentur dinding begitu keras.


Ivan kembali mencengkram krah baju Nizam. "Ingat ancamanku ini! Jangan pernah kamu berniat untuk menipu Diana lagi!"


Saat yang sama, Diana berada di bawah tangga, Ivan mau pun Nizam tidak menyadari keberandaannya. Diana teringat akan momen Ivan pura-pura mabuk.


Kenapa kalian harus pura-pura mabuk untuk dekat dengan seseorang?


Wajah Diana terlihat sangat kecewa, dia tidak menyangka Nizam tega menipunya dengan berpura-pura mabuk. Diana segera keluar menemui Archer.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Archer, saat dia melihat Diana keluar sendirian.


"Ivan bisa sendiri."


"Baguslah."


"Aku keluar duluan ya, kalau Ivan mencariku, katakan aku menunggunya di mobil."


Archer tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Baru beberapa menit Diana keluar, Ivan juga muncul dari arah Tangga. Dia memandangi keadaan sekitar, kini hanya ada Archer dan para pelayannya. “Di mana Diana dan Yudha?”


“Yudha tadi izin pergi, sedang Diana menunggumu di mobil katanya.”


“Owh, kalau begitu aku juga pamit. Terima kasih banyak atas jamuannya.” Ivan mengulurkan tangannya pada Archer.


“Sama-sama, semoga kita bisa berkumpul lagi di kesempatan akan datang,” sahut Archer, seraya menyambut uluran tangan Ivan.


"Semoga saat kita bertemu lagi, Nona Muda Archer ada di kota ini, sangat menyenangkan jika kita bisa berkumpul bersama."


Archer hanya tersenyum dan menepuk pundak Ivan berulang kali.


“Nizam masih diatas, mungkin sebentar lagi keadaannya stabil.”


“Iya tidak apa-apa, dia teman Diana, berarti dia juga temanku.”


Dillah tidak berani masuk ke rumah Tuan muda Archer, sedari tadi dia menunggu Yudha di dalam mobil Yudha. Saat melihat Diana dan Ivan datang, perasaan Dillah tidak tenang, dia mempersiapkan dirinya untuk meminta maaf dan berterima kasih saat menghadap Diana nanti. Lamunan Dillah buyar saat melihat Yudha keluar dari pintu utama rumah Archer. Dillah keluar dari mobil dan menyambut Yudha.


“Acara jamuannya sudah selesai?”


“Sudah,” sahut Yudha. Saat yang sama handphone Yudha berdering, dia berjalan ke tempat lain untuk menerima telepon.


Dillah memandangi pintu utama rumah Archer. Jantung Dillah seketika berdetak tidak menentu saat melihat Diana keluar dari sana. Dillah langsung menghampiri Diana dan berlutut di depan wanita itu.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Diana.


“Maafkan aku Nona,” isak Dillah.


“Aku sudah memaafkanmu. Bangunlah.”


“Terima kasih banyak Nona, karena Anda telah menyelamatkan saya dari kematian,” ucap Dillah lagi.


“Setiap orang pantas menerima kesempatan kedua, pergunakan kesempatan keduamu dengan sebaik mungkin.”


Dillah sangat bahagia mendengar jawaban Diana, dia segera bangkit dan berlari menuju mobil Ivan. Dia membukakan pintu mobil Ivan untuk Diana. “Sebaiknya Anda menunggu Tuan di dalam mobil saja,” ucap Dillah.


Saat Dillah membuka pintu mobil Ivan, Yudha baru selesai berbicara di telepon. Dia tersenyum saat melihat jelas ada sebuah celengan di dalam mobil Ivan.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa membuka mobil Ivan?” tanya Yudha pada Dillah. “Apa kamu mencuri kuncinya?”


“Pas aku kembali ke kantor, aku menemukan beberapa kunci mobil Tuan Ivan, saat ku lihat Tuan Ivan datang dengan mobil ini, aku langsung menyiapkan kunci ini.” Dillah memperlihatkan kunci mobil yang dia pegang.


“Celengan siapa itu?” Yudha menunjuk celengan yang ada dalam mobil dengan gerak matanya.


“Punyaku,” sahut Diana.


“Kamu harus menabung di sana?” Yudha sangat tidak percaya benda yang dia lihat. “Aku tidak menyangka, ternyata Ivan sangat pelit, pantas saja kemaren dia menerima uang yang kamu berikan padanya.”


“Siapa yang pelit?!”


Yudha menoleh kearah suara itu berasal, melihat Ivan berjalan kearahnya. Yudha menepuk bahu Dillah. “Cepat kita pergi dari sini.”


Keduanya berlari cepat ke mobil Yudha, dan segera melajukan mobil itu meninggalkan area rumah Archer.


Ivan mendekati Diana. “Siapa yang Yudha katakan pelit?”


“Bagaimana keadaan Nizam?” Diana sengaja mengalihkan pikiran Ivan.


“Dia baik-baik saja, mungkin sebentar lagi akan sadar.”


“Dia berbicara sesuatu padamu?” Diana berusaha memancing Ivan.


“Perkataan orang mabuk mana bisa ku mengerti.” Ivan langsung masuk kedalam mobilnya. Dia heran melihat pintu depan di dekat Diana terbuka. “Apa tadi aku lupa mengunci pintu mobil?”


“Tadi Dillah membukannya untukku, dia pikir kamu masih lama di dalam.”


“Owh.”


Setelah Diana masuk kedalam mobil Ivan perlahan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Archer.


“Setelah ini kamu mau kemana?” tanya Ivan.


“Menyelesaikan mengemas barang yang akan ku bawa ke Asrama.”


“Semuanya?”


"Kamu ingin aku membawa semuanya?"


"Diana ...."


Diana tersenyum melihat kekhawatiran Ivan. “Tidak, hanya beberapa yang aku perlukan saja.”


Ivan melajukan mobilnya menuju Apartemennya.

__ADS_1


__ADS_2