
Selesai acara jumpa Pers yang diadakan di hotel Ivan, mereka berempat berkumpul di Restoran yang ada di hotel itu. Tidak ada pembicaraan, mereka fokus menikmati hidangan yang mereka inginkan.
“Diana, setelah mengantar Zunea ke rumahnya, Nenek langsung pulang ke desa,” ucap Nenek Zelin.
“Kenapa langsung pulang, Zelin?” sela Kakek Agung.
“Aku terlalu nyaman di desa, jadi menurutku, ini sudah terlalu lama aku meninggalkan desa.” Nenek Zelin menoleh pada Ivan. “Sudah atur waktu kunjunganmu ke desa kami?” tanya Nenek Zelin pada Ivan.
“Sudah Nek, jika tidak ada halangan, 2 minggu lagi kami akan berkunjung ke desa Nenek.”
“Baguslah, aku tunggu kedatanganmu,” ucap Nenek Zelin.
“Nek ….” Panggil Diana.
“Apa sayang?”
“Setelah dari sini, aku tidak bisa melepas kepergian Nenek, aku ingin ke Rumah Sakit untuk menjenguk tante Rani.”
“Rani kenapa?” tanya Nenek Zelin.
“Sebenarnya aku ingin melindungi nama mamaku, tapi ku rasa Nenek sudah tahu bagaimana perlakuan buruk mama, penilaian buruk mama, dan pandangan menghinakan dari mama yang selalu tertuju pada Diana, saat dia tahu siapa Diana, saat itu juga dia pingsan,” terang Ivan.
Nenek Zelin menghela napasnya berulang kali, sesaat dia menoleh pada Kakek Agung. “Maafkan aku Gung, aku tidak punya banyak waktu, jadi aku tidak sempat menengok putrimu.”
“Tidak masalah, Zelin. Semoga perjalananmu lancar,” ucap Kakek Agung.
Setelah selesai menikmati hidangan mereka, Nenek Zelin pergi bersama para pengawalnya, sedang Diana, Ivan, dan Kakek Agung berada di satu mobil menuju Rumah Sakit di mana Rani dirawat. Sepanjang perjalanan handphone Diana terus bergetar, sesaat Diana mengintip layar handphonenya, banyak pesan masuk dari Mahasiwa Universitas Bina Jaya, Sebagian besar pesan hanya berisi hal basa-basi. Diana muak dengan hal seperti itu, saat dia tidak terlihat semua orang menghujat, menghina, mengucilkan, dan menuduh yang bukan-bukan, saat tabir itu terbuka, mereka seakan Amnesia akan perlakuan mereka pada Diana, dan berusaha bersikap ramah dan manis padanya.
__ADS_1
Diana ingin mematikan handphonenya, namun jemarinya terhenti saat dia teringat sosok Saras yang tulus, yang mau menjadikan dirinya teman saat dia dilihat bukan siapa-siapa. Diana mulai mengetik pesan untuk Saras.
*Saras, untuk sementara nomor ini aku nonaktifkan, jika masih berkenan menerimaku sebagai temanmu, hubungi aku di nomor ini.
Diana memberikan nomor pribadinya pada Saras. Setelah mengirim pesan pada Saras, Diana segera mematikan handphonenya.
**
Sesampai di Rumah Sakit, mereka langsung menuju lantai khusus yang dikhususkan untuk keluarga Agung Jaya. Saat pintu terbuka, terlihat beberapa dokter sibuk memantau keadaan Rani, sedang Sofian berdiri mematung menyaksikan Tindakan yang dokter berikan. Saat melihat Diana masuk, beberapa dokter terlihat sungkan.
“Bagaimana keadaan mama saya dok?” tanya Ivan.
“Beliau mengalami tekanan yang begitu dahsyat, jadi kami tidak tahu bagaimana menyadarkan beliau.” Dokter itu menoleh pada Diana. “Sekiranya dokter Rahma berkenan memeriksa mertua Anda.”
Diana memandangi Rani, dari diagnosa yang dia ambil dari pandangannya, dia menyimpulkan sendiri, tidak ada yang membahayakan pada Kesehatan Rani. “Istilah ringannya, Nyonya Rani hanya ingin terus tenggelam dalam mimpinya, dia tidak punya cara untuk bangun, namun juga tidak ingin berusaha untuk bangun, tenang saja, ini tidak berbahaya. Jika beliau Lelah dalam alam mimpi, nanti beliau juga menemukan cara untuk membuka mata, untuk saat ini, biarkan beliau berlayar di alam mimpi.”
“Apa kamu tidak ingin membantu mamaku untuk bangun?” sela Ivan.
“Kamu yakin ingin beliau bangun?” Diana memastikan. "Jika dibangunkan, beliau masih belum bisa menerima kenyataan yang sangat mengoncang kejiwaan beliau."
“Aku tidak tenang jika terus melihat mamaku seperti itu.”
"Baiklah, ini karena kamu yang meminta." Diana berjalan mendekati Rani, dia menekan beberapa titik saraf Rani, beberapa saat kemudian perlahan jari-jari Rani bergerak, melihat hal itu Ivan sangat bahagia. Sedang tim medis yang menyaksikan kejadian itu semakin kagum dengan sosok Diana.
Melihat istrinya bangun, Sofian sangat bahagia. Dia langsung mendekati Rani. “Akhirnya mama sadar juga, bagaimana keadaan mama?” tanya Sofian.
Rani sangat terkejut setelah pandangannya mulai jelas, saat ini dia berada di kamar Rumah Sakit, di sampingnya ada Ayahnya dan suaminya, juga beberapa petugas medis.
__ADS_1
“AA—a—aa” Rani tidak mampu mengucapkan satu kata, rasanya ada yang mengganjal di tenggorokannya.
“Mama kenapa?” Sofian semakin panik.
“Aaa—” Rani hanya bisa membuka mulut, namun tidak mampu bicara.
“Diana, apa yang terjadi pada mamaku?” tanya Ivan.
“Sepertinya Tekanan yang mendera Nyonya Rani, membuat dia kehilangan kemampuan untuk bicara,” sahut Diana.
Kedua bola mata Rani membulat sempurna mendengar kalau dirinya bisu.
“Apa ada cara untuk membuat mamaku bisa bicara lagi?” tanya Ivan.
“Yang pasti butuh waktu, Beliau mungkin bisa bicara lagi jika bisa mengontrol emosi dan tekanan beliau.”
Aaaa tolong aku, aku tidak mau jadi bisu ….
Rani hanya bisa menjerit dalam hati. Air mata pun seketika tumpah menyadari dirinya saat ini bisu.
Melihat Rani sangat tertekan, Diana mendekati Ivan. "Beri semangat pada mamamu, aku pergi ke ruanganku untuk menyelesaikan tugasku."
"Kenapa pergi?" tanya Ivan.
"Keberadaanku di sini berdapak buruk bagi mental mamamu, demi kebaikan beliau, biarkan aku pergi dulu."
Aku tidak mau bisu! Tolong lakukan apa saja untukku, agar aku bisa bicara lagi ....
__ADS_1
jerit hati Rani.