
Melihat seorang laki-laki tampan dengan setelan jas lengkap seketika membuat semua perhatian tertuju padanya. Mata para Mahasiwi yang ada di sana berbinar melihat sosok tampan itu.
"Suami masa depanku," gumam salah satu Mahasiswi.
"Tampan sekali, lihat ke sini tampan ...." Mahasiswi yang lain sangat berharap laki-laki tampan itu menoleh kearahnya.
"Kalau si tampan itu bukan jodohku, setidaknya beri aku salah satu dari dua orang yang mengikutinya," Mahasiswi yang lain mengagumi 2 orang yang berjalan di belakang sosok tampan itu.
Semua dosen yang berada di lapangan terlihat tegang melihat sosok itu.
“Se-se-selamat datang Tuttt-Tuan Ivan,” sambut salah satu dosen terbata.
“Kenapa di parkiran sangat ramai? Apa yang terjadi?” Suara Ivan terdengar begitu tegas, membuat nyali lawan bicaranya seketika ciut.
“Kata mama Tera, Diana yang menyebabkan ledakan kemaren, katanya Diana ceroboh dia mencampurkan secara sembarangan cairan kimia yang ada di Laboraturium," adu salah satu Dosen.
Pandangan Ivan langsung tertuju pada pengurus asrama yang akrab dipanggil mama Tera. “Anda punya bukti kalau Diana bertindak demikian?” Pertanyaan Ivan sangat menekan.
Mama Tera menggelengkan kepalanya. “Saya tidak punya bukti Tuan. Tapi saya melihat langsung hanya ada Diana di sekitar Gedung laboraturium itu.”
"Diana berada di TKP seorang diri, bukan berarti dia tersangkanya!"
Mahasiswi yang berkerumun merasa sakit mendengar dan melihat Ivan membela Diana.
"Tidak salah lagi, Tuan Ivan memang salah satu langganan Diana."
"Benar sekali, ternyata kabar itu bukan gosip semata, kalau Tuan Ivan tidak mendapat keuntungan dari kemolekan tubuh Diana, untuk apa dia membela Diana seperti ini."
"Diana luar biasa, pelanggannya orang berada dan berkelas."
Ivan sangat geram mendengar desas-desus miring yang menyudutkan dirinya dan Diana. Tapi saat ini lebih utama membuktikan kalau Diana tidak bersalah.
"Yudha, berikan padaku foto-foto dampak ledakan itu," pinta Ivan.
Yudha segera memberikan yang Ivan minta padanya.
Ivakan memberikan salinan laporan penyelidikannya pada gedung yang terbakar, dan segala hal yang terdampak. “Kamar Asrama Diana dekat dengan Gedung itu, lewat Gedung itu adalah akses tercepat untuk Diana kembali ke asrama! Ledakan terjadi saat Diana melewati area itu, apa kalian buta? Atau kalian memang tidak ingin melihat kenapa ledakan ini terjadi?! Sangat jelas, ledakkan itu mentargetkan Diana! Lihat semua bukti!" Wajah Ivan terlihat merah menahan kobaran api kemarahannya.
__ADS_1
Para Dosen masih memahami laporan yang mereka terima dari Ivan.
“Kenapa Universitas mempekerjakan orang boddoh seperti dia!” tunjuk Ivan pada mama Tera. “Tanpa bukti dia memfitnah Diana, apa dia tidak punya otak untuk berpikir?! Sangat jelas ledakkan itu targetnya Diana?” Pandangan mata Ivan sangat tajam tertuju pada mama Tera, tatapan itu seakan bersiap untuk menelan mangsanya. “Dan Anda dengan bangganya menjadikan Diana tersangka dari kasus ini.”
Rahang Ivan mengerat, rasanya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memberi hukuman pada wanita paruh baya itu, namun tepukau Yudha menyadarkannya agar lebih menahan diri. “Karena tuduhan Anda!" Ujung jari telunjuk Ivan mengarah pada mama Tera. "Romur jelek tentang Diana kembali berkembang, saya akan memberi perhitungan dengan Anda!”
Diana memegang lembut pergelangan tangan Ivan, perbuatan Diana seketika membuat kemarahan Ivan mereda. Semua orang semakin tercengang, Diana berani menyentuh cucu pemilik Universitas ini, dan semakin membuat mereka takjub, kemarahan Ivan mereda karena Diana.
Pengurus Asrama itu berjalan mendekati Diana. “Maafkan saya Nona Diana,” ucapnya penuh penyesalan.
Perhatian Diana pada pengurus Asrama buyar, dia ingin berkata apa juga seketika lupa, saat melihat Ivan berlutut dengan satu lutut mendarat diatas tanah. Dia meraih kedua tangan Diana.
“Apa yang Anda lakukakan?” protes Diana.
Perbuatan Ivan membuat semua yang melihat semakin syok, termasuk Dillah dan Yudha.
"Kita memang sudah resmi bertunangan, tapi sepertinya banyak orang yang tidak mengetahui kabar ini."
Para Mahasiswi yang mendengar ucapan Ivan sangat syok.
Ivan menatap lembut pada Diana. “Pertunangan kita terjadi atas dasar perjodohan, mau kah kamu menerimaku sebagai pasanganmu atas keinginanmu sendiri, bukan karena permintaan kakek dan nenek kita?”
“Jawab aku Diana, maukan kamu menerimaku atas keinginanmu sendiri?”
Diana menatap kearah semua orang yang memandanginya, dia tidak tahu harus berkata apa, dia melepaskan tangannya yang Ivan pegang dan pergi dari sana.
Semua orang terkejut melihat reaksi Diana. Hampir semua wanita yang ada di kota ini berlutut mengemis cinta seorang Ivan Hadi Dwipangga, Diana malah menelantarkan laki-laki impian yang tengah berlutut di depannya.
"Dasar gadis udik!"
"Belagu dia! Kayaknya memang sengaja mempermainkan Ivan."
"Mungkin dia ingin menunjukkan pada kita, kalau dia istimewa."
Perasaan Ivan semakin memburuk mendengar desas-desus itu. Yudha sangat prihatin dengan Ivan, dia segera membantu Ivan untuk berdiri, sedang Dillah meminta semua orang untuk bubar, dia takut Ivan kehilangan kendali untuk membungkam mulut semua orang yang menghina Diana.
Diabaikan Diana membuat perasaan Ivan sangat hancur. Kini di tempat parkir hanya ada mereka bertiga.
__ADS_1
“Andai bukan permintaan neneknya, Diana juga pasti akan menolakku,” gerutu Ivan.
"Mungkin Diana hanya kaget saja Van, nanti bicarakan dengannya secara 4 mata," usul Yudha.
"Biar aku tidak merasa malu ya Yudh, saat Diana menolakku." Ivan menatap Yudha dengan tatapan kosong.
"Bukan begitu, Diana gadis yang berbeda, kamu pasti tahu itu." Yudha bingung harus menyemangati Ivan dengan kata-kata apa, dia hanya menepuk pundak Ivan berulang kali, berharap tindakkanya bisa memberi rasa lega pada batin Ivan.
“Kita kembali ke kantor,” titah Ivan. Dia masuk ke mobil lebih dulu.
Yudha dan Dillah saling pandang, mereka tidak tahu bagaimana nanti menghadapi Ivan, tapi keduanya segera menyusul Ivan. Yudha duduk di samping Ivan, sedang Dillah duduk di depan disamping supir pribadi Ivan. Perlahan mobil Ivan meninggalkan area Universitas Bina Jaya.
Pikiran Ivan masih melayang, memikirkan ledakan itu, juga memikirkan sikap Diana. Tiba-tiba sosok Veronica terlintas di benak Ivan.
“Veronica masih kuliah di sana?” tanya Ivan pada Dillah.
“Setahu saya, dia tidak kuliah lagi, entah keluar atau dikeluarkan, saya belum mencaritahu.”
“Apa mungkin ledakan itu dalangnya adalah Veronica?” tanya Ivan. "Menurut laporan sebelumnya, Veronica sekamar dengan Diana, tapi saat ledakan hanya Diana yang menempati blok itu."
Dillah membuka tabletnya dan memberikannya pada Ivan. “Menurut hasil penyelidikan, Veronica tidak terlibat dalam kasus ini. Beberapa bukti yang saya dapat malah mengarah pada keluarga Bramantyo.”
"Kamu yakin Veronica tidak terlibat?" Ivan menatap Dillah begitu tajam.
"Saat ini memang tidak ada Tuan. Dugaan terkuat tersangka ledakan ini dari keluarga Bramantyo."
“Maksudmu Nyonya Aridya?” sela Ivan.
“Nyonya Aridya hanya menantu di keluarga itu,” sahut Dillah.
“Lalu?”
“Kecurigaan kami, ini perbuatan anggota keluarga dari Ayah kandung Diana. Sepertinya Diana dan ibunya tidak disukai keluarga Bramantyo. Nanti saya akan cari lebih lanjut lagi," terang Yudha.
"Bagaimana mungkin! Diana keturunan Bramantyo, artinya mereka ingin melenyapkan anggota keluarga mereka sendiri?"
"Saya belum tahu Tuan, ini juga masih dalam penyelidikan."
__ADS_1
“Selidiki semua kasus ini sampai tuntas!” titah Ivan.
“Saat ini sedang saya kerjakan,” sahut Dillah.