
Hampir 8 jam mereka memasuki hutan, akhirnya mobil itu pun berhenti. Rani bertanya dengan Bahasa isyarat pada Sofian.
“Kita makan siang dulu, setelah selesai makan siang maka perjuangan yang sesungguhnya dimulai dari sini.”
Kedua bola mata Rani membulat sempurna. Dia semakin tegang saat Sofian mengalungkan peluit ke lehernya.
“Kalau mama dalam bahaya, mama tiup peluit ini agar papa bisa menemukan keberadaan mama.”
Rani bergegas mengetikan kata.
*Apa hutan ini aman pa?”
“Mama sering menonton film kan? Ya hutan ini sama dengan hutan-hutan pada umumnya, rumahnya para hewan, tentunya ada banyak binatang buas juga.” Sofian memandangi keadaan hutan. “Semoga saja di hutan ini tidak ada suku kanibal.”
Kedua lutut Rani langsung gemetaran mendengar suku kanibal, banyak kata yang ingin dia ucapkan, namun jemarinya tidak lincah untuk mengetik banyak kata. Rani mempercepat langkahnya menyusul Sofian.
1 jam perjalanan dengan berjalan kaki telah dilalui, melihat istrinya kelelahan Sofian meminta mereka semua beristirahat, Saat istirahat Sofian menyeduh minuman herbal yang sesungguhnya dari Diana, dia memberikan minuman itu pada Rani. Rani meminumnya tanpa curiga, saat ini dalam dirinya hanya ada semangat ingin memberi restu pada anak dan menantunya. Setelah beristirahat 30 menit, mereka memulai kembali perjalana mereka.
Shutt!
Tiba-tiba sebuah anak panah melesat di depan mata Rani dan mendarat di sebuah pohon yang ada di dekatnya. Rani sangat ketakutan, dia mencoba mencoba mencari tau arah asal anak panah itu. Hingga pandangannya berhenti pada sosok aneh dengan bermacam coretan di wajahnya.
Rani panik, dia mengambik peluitnya dan meniupnya sekuat tenaga.
Pritttt! Pritttt!
Mendengar suara peluit, Sofian berhenti, namun saat yang sama mereka dikelilingi banyak orang yang berpakaian aneh, Sebagian membawa tombak, Sebagian membawa panah.
Shuttt!
Sebuah tombak menancap di tanah, hanya berjarak beberapa centi dari Rani.
“Akkkkkkk!” Teriakan keras itu keluar dari mulut Rani, membuat burung-burung yang bertengger di pohon beterbangan karena teriakan itu.
Shupp!
Wajah Rani ditutup kain oleh orang-orang pedalaman hutan itu. Saat wajahnya ditutup, saat itu juga Rani kehilangan kesadarannya.
Uwwuuwuwuwuwwuuu!
Suara teriakan bersahutan itu membuat Rani tersadar. Saat dia membuka kedua matanya, saat ini dia dikelilingi orang-orang berpakaian aneh, mereka menari mengelilingi api unggun.
*Kenapa nasibku miris sekali, aku hanya ingin menemui anak dan menantuku, dan mengatakan maaf, dan mengatakan aku merestui mereka, tapi kini akhir hanyatku berakhir menjadi santapan manusia-manusa primitif ini.
__ADS_1
Rani hanya bisa menjerit dalam hatinya.
*Papa ….
Rani teringat suaminya.
“Papa!”
Menyadari dirinya mampu bicara, sesaat Rani mematung.
“Aku bisa bicara?”
“Tidak sia-sia perjuangan papa membawa mama ke hutan, hasil rasa tertekan mama benar-benar membuat mama bisa bicara lagi.”
Rani terkejut melihat Ivan ada di depan matanya.
“Apa aku berkhayal? Aku melihat putraku yang sangat ku rindukan,” ucap Rani.
“Maafkan aku tante, aku tidak bisa berbuat apa-apa, seharian ujian yang tante jalani hari ini, ini semua rencana Ivan dan papanya.”
“Diana? Kenapa Ivan dan Diana ada di depan mataku? Apa karena aku sangat merindukan kalian?” Rani masih merasa ini mimpi.
Salah seorang yang berpakaian aneh mulai membuka ikatan Rani. “Maafkan kami semua Nyonya. Kami hanya menjalankan perintah dari Tuan Ivan.”
“Mama … berhenti menyakiti diri sendiri, ini mama sudah sampai dikediaman Nenek Zelin.”
“Apa mama tidak bisa mengenali mereka yang berpakaian aneh itu? Mereka semua pengawalku mama ….” Ivan mengisyarat pada orang-orang yang dia atur berpakaian aneh, terlihat mereka mulai membersihkan wajah mereka.
Saat wajah mereka bersih, Rani sangat kesal, ternyata itu pasukan keamanan khusus Agung Jaya. “Kalian ….”
“Maaf mama, kata Diana mama harus dipancing untuk takut hingga berteriak, aku bingung hal apa yang membuat mama takut," ucap Sofian.
"Mama tahu, kami stres membayangkan rencana apa yang membuat mama takut, pakai cerita hantu? hantu saja takut sama mama," ledek Sofian.
Seketika tawa menggemuruh.
"Yang mama takutkan hanya takut miskin, hal itu sulit untuk aku dramakan, secara kedua menantu Agung Jaya adalah anak tunggal pengusaha," ucap Ivan.
Ivan mendekati ibunya. "Hingga saat papa memberi kabar mama ingin memberi restu pada kami, ide ini terlintas,” ucap Ivan.
“Aku sangat marah! Tapi aku juga bahagia.” Rani berdiri dan memeluk Ivan dan Diana.
Perlahan Rani melepaskan pelukannya. "Diana maafkan aku."
__ADS_1
"Jangan minta maaf, aku memahami semua perlindungan tante selama ini, tante hampir 40 tahun menjaga harta Agung Jaya demi kebahagiaan Ivan, wajar tante selektif." Diana menepuk lembut pundak Rani.
“Permisi maaf mengganggu, Nyonya Zelin menunggu kalian semua di meja makan.”
Ucapan pelayan yang datang itu menyita perhatian mereka. Mereka segera masuk kedalam rumah dan makan malam bersama Nenek Zelin.
Rani sangat kelelahan, malam itu dia tidur nyenyak di rumah Nenek Zelin. Saat sinar matahari mulai masuk di celah gorden, Rani baru bisa membuka matanya. Setelah selesai membersihkan diri, Rani keluar dari kamar, terlihat mereka semua berkumpul di ruang makan.
“Bagaimana tidurmu?” sapa Nenek Zelin.
“Sangat nyaman, Nyonya, sehingga aku tidak rela untuk bangun,” sahut Rani. Rani merasa pernah melihat gadis yang duduk di samping Diana. “Apa aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?”
“Mungkin pernah ma, dia teman kuliah Diana,” sahut Ivan.
Mereka terus mengisi perut mereka yang kosong. Hingga semua isi piring itu telah berpindah ke lambung mereka.
Diana menoleh pada Saras. “Apa kegiatanmu hari ini?”
“Mungkin menyelesaikan materi kemaren yang tidak aku fahami,” jawab Saras.
“Profesor Hadju guru yang hebat, jangan pernah menyerah ya ….”
Saras tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Sedang kamu, apa kegiatanmu hari ini?” tanya Ivan pada Diana.
“Paling ke kampus sebentar, membuka kelas untuk menyeleksi Mahasiswa yang beruntung untuk belajar pada profesor Hadju.”
“Apa? Ke kota? No, no, no! sebentar lagi resepsi kalian, kamu harus jaga Kesehatan kamu Diana,” sela Rani.
“Tenang tante, aku tidak akan lewat hutan, aku ke kota lewat jalur aman,” sahut Diana.
“Apa maksudnya?” Rani masih belum mengerti.
“Yang mama lalui kemaren bukan jalan satu-satunya mama, ke sini bisa dengan helikopter atau mobil.” Ivan kembali menceritakan kejahilan mereka.
Suara tawa pun pecah di meja makan, karena Ivan, Yudha, dan Dillah juga melewati jalur yang sama.
“Ternyata cucuku masih nakal!” ucap Nenek Zelin.
“Dia nakal, tapi aku sangat sayang Nek,” ucap Ivan.
**
__ADS_1
Pagi itu Saras berangkat ke rumah Profesor Hadju untuk belajar, sedang Ivan dan Diana kembali ke kota. Diana mengajar di Universitas untuk seleksi, sedang Ivan ke kota untuk menjemput Kakeknya. Di desa sendiri kekeluargaan terasa sangat kental. Rani kagum melihat keakraban mereka semua, di desa ini harta dan tahta tidak dinilai, kebanyakan mereka adalah orang-orang hebat yang bersembunyi. Mereka sangat mencintai kekeluargaan dan persaudaraan.