Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 106 Dia Gila


__ADS_3

Menyadari siapa saja yang datang bersama kakek Agung, Wilda sangat takut, sekarang video yang dia pegang tidak bisa dia pakai untuk memenjarakan Diana, yang ada dirinya yang mendekam di penjara jika nekat membongkar video sebuah penelitian rahasia dari Departemen Kesehatan.


Gadis udik ini sangat berbahaya, semua orang yang selalu membelanya bukan golongan kaleng-kaleng. Batin Wilda.


“Maaf, ini adalah urusan keluarga Agung Jaya, bukan saya lancang, tapi orang luar jangan ikut campur masalah keluarga kami,” ucap Wilda dengan nada sombong.


“Setiap orang yang mendedikasikan hidup mereka untuk Kesehatan adalah keluarga besar Agung Jaya. Dari Universitas Bina Jaya, Rumah Sakit Bina Jaya, sampai relawan Kesehatan di mana pun! Mereka adalah bagian keluarga Agung Jaya!” Kakek Agung sangat marah pada putri bungsunya. “Lancang sekali kamu menyebut pahlawan Kesehatan seperti mereka dengan sebutan orang lain!”


“Perjuangan keluarga Agung sangat fokus pada Kesehatan, kalau kamu lupa apa motto keluarga Agung Jaya, berarti kamu bukan bagian keluarga ini! Dan sebaiknya mulai sekarang tutup mulutmu!” maki Sofian.


“Ehem!” Archer berdeham. “Bolehkan orang lain ini ikut bicara?”


“Bicara saja nak,” sahut kakek Agung.


“Sangat banyak keistimewaan tentang Diana yang aku ketahui, tapi aku tidak tahu harus bercerita dari mana.”


“Hilih, berapa Diana membayarmu? Sehingga kamu memuji dia berlebihan seperti itu?” hina Wilda.


Kakek Agung sangat marah, tapi dia menahan suaranya saat melihat isyarat tenang dari Archer.


“Anda jangan menghina Tuan Muda Archer, walau usia beliau baru 30 tahun, tapi beliau sangat terkenal di dunia Akademis,” sela Pak Abimayu. Pak Abi ingin meneruskan perkataannya, melihat isyarat cukup dari Archer, Pak Abi diam.


“Tidak perlu mengatakan kalau gula itu manis pada seekor lalat, karena bagi lalat sampah busuk adalah hal yang sangat indah.” Archer tersenyum simpul.


Mendengar perkataan Archer Wilda sangat marah. Tapi dia hanya bisa menahan kemarahannya.


“Baiklah, aku tidak akan mengatakan bagaimana luar biasanya seorang Diana Bramantyo, aku hanya mengatakan fakta, kalau Diana adalah muridku, dan aku tidak memiliki murid yang lain, Diana adalah muridku satu-satunya. Aku menganggapnya seperti anakkku, ku ajari dia pengetahuan apa saja yang aku miliki, keluarganya adalah keluargaku, teman-temannya adalah teman-temanku, dan musuhnya juga adalah musuhku.” Archer menatap tajam pada Wilda. “Apakah Anda salah satu dari golongan yang memusuhi Diana?”


Wajah tampan Archer tidak membuat hati Wilda tenang, wajah tampan itu saat ini sangat menakutkan.


“Kalau benar Anda salah satu musuh Diana, maka aku tidak akan melepaskan Anda!” ucap Archer.


“A—aku me—mang pu—pup—punya  masalah dengan Diana, ta-tapi itu salah Diana, karena melukai putriku.” Wilda ketakutan, sangat sulit dia mengucapkan kata-kata. “A-ku pu-punya bukti kak-kalau—”


Plak!

__ADS_1


Wilda belum selesai mengucapkan kalimat pembelaan dirinya, tiba-tiba Gwen melempar dokumen keatas meja. Dokumen itu langsung dibuka kakek Agung. Sepasang mata kakek Agung membulat sempurna melihat bukti kejahatan Qiara untuk menjebak Diana. Kakek Agung merasakan sakit yang begitu hebat di bagian dadanya, cucu dan putrinya melakukan kejahatan besar demi ambisi mereka.


“Ayah ….” Sofian sangat takut melihat keadaan Ayahnya.


Kakek Agung tidak menghiraukan Sofian dia bangkit dan berjalan mendekati Wilda. Merasa Ayahnya menghampirinya Wilda juga langsung berdiri.


“Ayah …”


Plak!


Plak!


Plak!


Plak!


4 kali tamparan dari kakek Agung mendarat di pipi kanan dan kiri Wilda. Wilda hanya diam memegangi pipinya yang sakit.


“Argggghhh!” Kakek Agung menjerit. Dia memukul wajahnya sendiri berulang kali.


“Kakek!” Ivan panik melihat kakeknya yang begitu tertekan. Dia menahan pergerakan tangan kakeknya, agar beliau tidak menyakiti diri sendiri.


“Tuan, Anda tidak salah. Tapi hawa naffsu dan ambisi yang membutakan mata hati anak Anda,” Pak Abi berusaha menguatkan kakek Agung.


“Aku orang tua yang gagal.” Kakek Agung tenggelam dalam kesedihannya.


“Anda tidak gagal, Anda sangat sukses mendidik keturunan Anda. Lihat pemuda ini.” Pak Abi menepuk lembut bahu Ivan. “Dia pasti orang special, sehingga Tuhan mengirimkan Diana untuk menjadi pendampingnya.”


Sofian mendekati Ayahnya. “Ayah tidak pernah gagal dalam mendidik anak, Ayah tidak pernah gagal menjadi orang tua kami. Tapi anak-anak Ayah yang gagal menjadi anak yang baik, bahkan anak Ayah gagal menjadi manusia." Pandangan mata Sofian begitu tajam tertuju pada Wilda.


Sofian menoleh kearah kakek Agung lagi. "Tapi ini bukan salah Ayah, Ayah adalah orang tua terbaik.”


Ivan dan Sofian berusaha mengangkat kakek Agung kembali ke sofa. Keadaan mulai lebih tenang, kakek Agung juga terlihat lebih baik. Ivan menunduk, hatinya sangat sakit melihat kakeknya terpuruk seperti itu. Dia mengetik pesan begitu cepat.


Wilda bingung harus bagaimana, saat ini dia tidak bisa membela diri sendiri. Tiba-tiba handphonenya berdering. Terlihat nama suaminya yang tertera di layar. Wilda langsung menggeser icon berwarna hijau.

__ADS_1


“Iya papa.”


“Ma, tolong papa.”


“Tolong apa?” Wilda sangat terkejut.


“Saat ini papa ditangkap pihak kepolisian, semua patner Kerjasama perusahaan kita melaporkan papa dengan kasus penipuan. Bank tempat kita meminjam uang juga melaporkan papa, karena jaminan yang papa berikan pada bank dinyatakan palsu. Tolong mama, bagaimana ini? Dillah juga tidak bisa di hubungi.”


“Bagaimana bisa patner kita melaporkan papa atas kasus penipuan? Selama ini kita tidak menipu mereka.”


“Ivan menarik semua investasnya pada perusahaan kita, dan mereka merasa ditipu karena tidak ada kekuatan Agung Jaya di perusahaan kita.”


Kedua mata Wilda melotot, dia memandang Ivan dengan tatapan kebencian. “Mama akan mengurusnya, papa bersabar ya.” Wilda langsung menyimpan handponenya. Dia berjalan mendekati Ivan. “Kamu sengaja menjebak suamiku Ivan?!”


“Menjebak? Menjebak dari mana?” Ivan pura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan bibinya.


“Saat ini suamiku ditangkap polisi, pasti ini jebakan kamu bukan!?”


Ivan tetap terlihat seperti tidak mengerti. “Tante jangan menuduh pihak kepolisan bodoh, mereka tidak akan berani menangkap menantu Agung Jaya jika dia tidak bersalah. Anak tante yang jelas-jelas bersalah dan ada bukti saja, mereka tidak menangkap, bagaimana mungkin mereka berani menangkap om jika tanpa bukti?” ledek Ivan.


“Kenapa kamu menarik investasi tanpa pemberitahuan lebih dulu!? Kamu kejam Ivan! Bahkan pada keluarga sendiri kamu sangat kejam!” Wilda berteriak histeris.


“Hei kalian.” Ivan mengisyarat pada dua petugas keamana yang sedari tadi menunggu perintah darinya.


“Tolong bawa Nyonya ini ke Rumah Sakit Jiwa, sepertinya kejiwaaanya terganggu.”


“Ivan!!” teriak Wilda.


“Wah … aku takut,” ejek Ivan.


“Aku ini tantemu, kenapa kamu tega padaku?”


“Bukankah sudah aku katakan pada tante, jika aku sudah bertindak, jangan salahkan aku jika aku tidak memandang tante sebagai keluargaku. Ingat kata-kataku ini?”


“Argggggtttt!” Wilda menyerang Ivan.

__ADS_1


Namun sekali tangkisan Wilda langsung jatuh.


“Dia benar-benar gila. Cepat bawa Dia pergi dari sini,” titah Ivan.


__ADS_2