
Ivan membisu mendengar jawaban Diana.
“Kamu benar, dengan kamu pergi meninggalkanku maka aku akan mati perlahan, dan cara mati seperti itu sangat menyakitkan, Diana. Jika kau pergi meninggalkanku membuatku mati perlahan,” ucap Ivan.
“Memangnya ada cara mati yang tidak menyakitkan?” tanya Diana.
Ivan mendekti Diana. “Ada, jika aku mati dengan cara itu, hal itu tidak menyakitkan sama sekali, malah itu adalah cara mati yang membahagiakan.”
“Dengan cara apa? Barangkali aku bisa membantumu memakai cara itu," tawar Diana.
Ivan terkekeh mendengar perkataan Diana. “Tentu saja kamu bisa, karena untuk mati dengan cara itu aku butuh dirimu.”
Diana menatap Ivan dengan sorot mata yang penuh pertanyaan.
“Aku akan mati dengan bahagia, jika aku mati dalam pelukanmu.”
Diana langsung bangkit dan berdiri tegak tepat di depan Ivan. “Hanya mati dalam pelukan?”
Ivan menganggukan kepalanya pelan. “Rasanya berada dalam pelukanmu adalah kenikmatan yang hakiki."
Diana menggiring Ivan menuju tempat tidur, dia mendorong tubuh Ivan hingga Ivan tertelentang diatas tempat tidur Diana, perlahan Diana merangkak diatas tubuh Ivan, melihat Diana seperti membuat Ivan kesulitan bernapas.
“Yakin hanya ingin mati dalam pelukanku?"
Ivan mengangguk pelan.
"Padahal ada Lebih dahsyat daripada berada dalam pelukanku."
"Apa itu?" Getaran yang begitu hebat dari dalam dirinya membuat suara Ivan juga ikut bergetar.
"Mati diatara kedua—” Diana sengaja menggantung ucapannya. Menurutnya Ivan sudah fahan apa maksudnya.
Ngekk!
Ivan kembali menelan salivanya, dia tidak menyangka Diana memahami hal 21 hiya-hiya dot com. Apalagi saat ini Diana duduk diatas angggota intinya. Ivan dan Diana saling tatap, keduanya hanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Saat Diana ingin turun dari tubuh Ivan, Ivan sengaja menahannya dan membalikan posisi mereka, sehingga saat ini Ivan berada diatas tubuh Diana.
“Diana, boleh aku bertanya?”
Diana mengedipkan matanya, memberi Isyarat pada Ivan kalau boleh bertanya padanya.
“Bagaimana pendapatmu tentang aku?”
__ADS_1
Diana tidak menjawab pertanyaan Ivan, dia membuang wajahnya kearah lain. Ivan memegang lembut dagu Diana, dengan lembut dia mengarahkan wajah Diana agar melihatnya. “Kenapa?” tanya Ivan lembut.
“Tidak apa-apa,” sahut Diana dingin.
“Diana, dalam hidupmu adakah keinginan untuk berpacaran sebelumnya?”
Diana kembali diam, dia tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Ivan.
“Diana, kita bertemu karena perjodohan, tapi maukah kamu membuka hatimu untukku? Agar kita Bersatu karena rasa cinta?"
"Pilihan mati yang kamu tawarkan tadi, mati dianatara anumu, semua itu sangat sempurna jika ada cinta diantara kita," ucap Ivan lembut.
"Dengan adanya cinta, ini akan menjadi cerita indah di suatu hari nanti untuk kita banggakan pada anak cucu kita?” sambung Ivan.
Ivan memandangi wajah Diana dengan tatapan penuh damba. “Saat ini, aku benar-benar mencintaimu Diana, jangankan melindungimu, memberi nyawaku untukmu, aku juga rela. Aku mencintaimu, Diana. Aku sangat mencintaimu. Aku sangat-sangat mencintaimu.”
Ivan terus mengulangi pernyataan cintanya, hingga kata-kata berulang itu berganti dengan suara decakkan yang sangat lembut saat bibirnya dan bibir Diana bersatu. Keadaan semakin tidak terkondisikan lagi. Ivan semakin tenggelam dalam lautan nappsunya. Dengan susah payah dia mengakhiri kegiatan yang sangat memabukan ini.
“Sudah malam, sebaiknya kamu tidur, kamu sudah melewati hari yang berat.” Ivan menarik Diana ke dalam pelukannya.
“Aku akan tidur, tolong pergi dari sini," pinta Diana.
“Aku tidak akan pergi, lebih baik kamu tidur dalam pelukanku. Bukankah tidur dalam pelukanku sangat nyaman?"
"Jangan bohongi dirimu Diana. Aku akan menemanimu malam ini.” Ivan terus memaksa Diana agar diam dalam pelukannya.
Diana terus berontak dan mengusir Ivan, tapi Ivan kekeh bertahan, dan dia terus berusaha memeluk Diana. “Jika dalam 30 menit kamu tidak bisa tidur dalam pelukanku, maka aku akan pergi.”
Mendengar usul Ivan, Diana setuju, akhirnya dia diam dalam pelukan Ivan. Detik demi detik terus berlalu, di luar kendalinya pelukan Ivan sangat ampuh dari obat penenang, Diana pun tidak mampu lagi menahan kedua matanya agar tetap terbuka.
30 menit berlalu Ivan masih terjaga, saat dia melonggarkan pelukannya, Diana benar-benar terlelap dalam pelukannya. Ivan tersenyum, dia kembali mengeratkan pelukannya dan memejamkan kedua matanya.
**
Diana merasa sangat nyaman, berulang kali dia menggesekan hidungnya ke bantal yang sangat itu, Diana merasa bantalnya berbeda dari biasanya, saat dia membuka kedua matanya, dia baru sadar kalau dia tidur dalam pelukan Ivan. Diana menatap dalam wajah Ivan, wajah yang memiliki garis ketampanan yang nyaris sempurna.
Jodoh itu dibentuk, bukan di cari. Jodohmu adalah cerminan diri. Bentuklah dirimu dengan budi yang baik, maka jodohmu akan datang dengan bentuk yang baik pula.
Diana teringat kata-kata yang dia temukan di internet. Perlahan tangannya mengusap lembut wajah Ivan.
Kamu pribadi yang sangat baik, Van. Apa aku pantas menjadi pendampingmu?
Kekaguman Diana akan ketampanan wajah Ivan seketika buyar, saat Ivan mulai menggeliat, Diana kembali memejamkan kedua matanya berpura-pura tidur.
__ADS_1
Perlahan Ivan mengerjapkan matanya. Saat kedua matanya terbuka sempurna Ivan sangat terkejut melihat Diana ada dalam pelukannya. Perlahan Ivan mengingat kejadian tadi malam.
Diana mulai bergerak, Ivan perlahan melepaskan pergelangan tangannya yang menjadi bantalan tidur Diana. Ivan lega, dia bisa melepaskan tangannya tanpa membangunkan Diana.
Bugggh!
“Awh!” Ivan menjerit, dia terlempar dari tempat tidur karena di tendang oleh Diana. “Ya ampun, tidurnya lasak sekali.” Ivan menggelengkan kepala melihat Diana.
Ivan segera bangkit, dia berjalan menuju Apartemennya dan segera membersihkan diri, beberapa menit kemudian Ivan kembali ke kamar Diana dengan membawa bahan-bahan untuk di masak, dengan santainya Ivan memasak di dapur yang ada di Apartemen yang Diana tempati, selesai memasak Ivan membawa semua masakannya menuju kamar Diana.
Bau menggoda yang berasal dari makanan yang Ivan masak, membuat Diana tidak mampu menahan kelopak matanya agar terus tertutup rapat, Diana membuka kedua matanya dan melihat Ivan membawa makanan ke kamarnya.
“Ayo makan dulu,” ajak Ivan.
Diana berjalan menuju kamar mandi, dia mencuci wajah dan membersihkan mulutnya di sana, Diana kembali dengan wajah segarnya dan langsung mencicipi makanan yang ada. “Enak sekali,” pujinya.
“Kamu suka?” tanya Ivan.
Diana menganggukan kepalanya menanggapi pertanyaan Ivan, dan kembali melanjutkan makannya.
“Baguslah, kalau kamu mau aku akan memasak setiap hari untukmu,” ucap Ivan.
Diana berusaha menelan makanan yang memenuhi rongga mulutnya. “Kamu masak sendiri?”
“Iya aku masak sendiri.”
Setelah selesai sarapan, Diana memastikan keadaan Angga via telepon, mendengar Angga membaik, Diana segera menuju Universitas, sedang Ivan langsung menuju kantornya.
*
Hari semakin siang, mata kuliah yang Diana ikuti untuk hari ini selesai, Diana bergegas menuju Rumah Sakit. Saat yang sama Ivan juga berada di Rumah Sakit, dia sangat bahagia bisa melihat Diana di Rumah Sakit.
“Ada tugas kuliah di sini?” tanya Ivan.
“Tidak ada, aku hanya menunggu seseorang,” sahut Diana.
Ivan dan Diana berjalan bersama melewati Lorong Rumah Sakit, saat melewati salah satu ruangan ada seseorang yang memanggil Ivan.
“Diana tunggu di sini sebentar, aku ke sana dulu. Jangan pergi, aku hanya sebentar.”
Diana patuh, dia berdiri di depan ruangan yang Ivan masuki. Dari kejauhan ada seorang laki-laki yang berlari cepat kearah Diana.
“Maaf Diana, aku terlambat,” ucapnya. Laki-laki itu tidak meneruskan ucapannya saat dia melihat seorang laki-laki bertubuh tegap muncul dari belakang Diana.
__ADS_1