Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 123 Diana!


__ADS_3

Diana mempredeksi keadaan saat ini, terlebih saat ini dia berada di laboraturium Universitas, tentunya di dalam sana banyak cairan kimia yang berbahaya. Diana berlari cepat, dia berusaha mencari tempat aman terdekat, sesaat dia melihat lorong kecil yang tak jauh darinya, Diana terus berlari di lorong sempit itu, saat hampir mencapai belokan.


Doarrrr!


Tubuh Diana terpental, dan punggungnya membentur keras ke sisi lorong itu.


Ngung ....


Kedua telinga Diana berdengung, Diana berusaha mengumpulkan sisa kesadarannya, Diana bangkit, dan terus berlari. Saat dia menemukan tempat yang dia yakini aman dari kobaran api, Diana bersembunyi di sana.


Suara ledakkan yang begitu keras diiringi kobaran api yang besar terjadi di Gedung itu. Mendengar suara ledakkan yang sangat keras, seketika teriakkan alarm kebakaran aktif di mana-mana. Keadaan yang tadinya hening, seketika menjadi ramai, para Mahasiswa dan guru-guru berlarian menyelamatkan diri mereka, khawatir kobaran api akan melahap bangunan yang lain. Keadaan semakin mencekam saat para petugas pemadam kebakaran bertugas memadamkan api, keadaan semakin tidak terkendali.


Penghuni Asrama juga berlari berhambur keluar dari tangga darurat, beruntung ledakkan itu hanya menghancurkan salah satu bangunan asrama mereka. Segala kegiatan terhenti karena kebakaran yang melanda gedung laboraturium.


"Diana!!" Saras sangat histeris melihat bangunan Asrama yang hancur adalah Asrama Diana. "Diana!!" Saras berusaha berlari kearah arah Asrama Diana.


Tapi dia tidak bisa melepaskan diri dari petugas pemadam kebakaran yang menahannya.


"Diana ...." Saras hanya menangis.


Setelah 30 menit berlalu, api berhasil di padamkan, api juga hanya melalap Gedung itu, ledakkan sebelumnya juga tidak berdampak pada Gedung yang lain, hanya satu satu asrama yang dekat dengan Lab itu yang rusak parah dan terbakar. Petugas kepolisian segera menyelidiki tempat kejadian, memastikan sebab kebakaran di Gedung itu. Para petugas sibuk dengan tugas mereka. Disimpulkan tidak ada korban jiwa dari ledakkan itu.


Mendengar tidak ada korban jiwa, Saras merasa lega, dia segera mencari Diana ke bangunan lain.


Saat semua orang sudah kembali ke tempat mereka, hanya petugas kepolisian dan pemadam kebakaran yang masih di sana.


Di sudut lain.


Diana keluar dari tempat persembunyiannya, dia mencoba menyimpulkan apa dampak dari ledakkan ini. Diana menatap kearah bangunan Asrama yang bersebelahan dengan Gedung laboraturium.


“Apa mereka mentargetkan diriku? Kamarku terkena dampak ledakan dan kebakaran. Aku harus menemui Russel untuk mencari tahu semuanya.” Diana segera berjalan menuju Gedung yang lain.


Sedari tadi mama Tera berbicara dengan pihak kepolisian, raut wajahnya yang sopan seketika  berubah muram, saat dia melihat Diana keluar dari lorong yang tidak jauh dari Gedung yang terbakar. “Sudah kuduga dia penyebabnya.” ujung jari telunjuk mama Tera mengarah pada Diana.


Seketika semua perhatian terfokus pada Diana. Seorang wanita paruh baya yang mengemban tugas sebagai ibu Asrama itu menatap Diana begitu tajam.


“Apa maksud Anda Nyonya,” tanya salah satu polisi.


“Sebelum ledakkan terjadi hanya Diana yang berjalan kearah Gedung itu, aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku.”

__ADS_1


"Tidak ada orang lain, hanya Diana! Sudah pasti ledakkan itu karena perbuatannya!"


Diana sangat malas mendengar tuduhan mama Tera. “Berapa kerugian yang terjadi karena ledakkan itu?” sela Diana. “Hitung semua kerugiannya mama Tera, dan berikan padaku, aku akan mengganti semua kerugian.” Ucap Diana lagi,  saat ini dia hanya ingin bertemu profesor Russel. Diana melengos begitu saja melewati semua orang yang memandanginya.


“Nona Diana!”


Panggilan itu membuat langkah Diana terhenti, dia berbalik menoleh kearah suara itu berasal.


“Aku sangat khawatir saat mendengar ada ledakkan di Universitas ini, aku berlari seperti orang gila ke sini.”


“Aku baik-baik saja Dillah.”


Dillah sangat lega mendengar jawaban Diana.


“Dillah.”


“Iya Nona.”


“Tolong, kamu jangan beritahu Ivan tentang kejadian ini.”


Dillah hanya diam, dia tidak yakin kalau diam Ivan akan memaafkannya.


Tok! Tok! Tok!


“Masuk.”


Mendapat izin untuk masuk, Diana segera memasuki kantor profesor Russel.


“Diana?”


“Aku boleh minta bantuanmu?” Diana langsung duduk di salah satu kursi yang ada di depan meja Russel.


“Katakan, kamu perlu apa?”


“Terjadi ledakan di Gedung Laboraturium, aku ingin kamu memeriksa cctv di sana.”


Russel segera mengotak atik laptopnya, berusaha meng akses CCTV yang mengawasi Gedung Laboraturium. Dia menemukan beberapa orang asing, yang jelas bukan Mahasiswa di Universitas Bina Jaya. Terlihat mereka mencampur beberapa cairan kimia yang sangat berbahaya. Sangat jelas mereka mengatur ledakkan itu saat Diana melewati Gedung itu atau saat Diana berada di kamarnya, karena dampak ledakkan itu menghanguskan bangunan asrama yang Diana tempati, dan kamar Diana ikut terbakar saat kebakaran melahap gedung Laboraturium.


“Jauh sebelum ini, aku terus menyelidiki orang yang ingin membunuhmu, dari segala petunjuk yang aku miliki, semua mengarah pada keluarga Ayahmu."

__ADS_1


Russel mengisyarat kejadian pada layar cctv. "Ledakkan ini, target mereka ada dirimu. Tidak menutup kemungkinan mereka adalah utusan dari keluarga Bramantyo."


"Lihat mereka sangat tepat memperhitungkan dampak ledakkan itu. Pantas saja kamar-kamar yang ada di sisi ini di kosongkan beberapa hari yang lalu, katanya akan ada perawatan di bagian itu." Russel masih mengamati tayangan CCTV yang dia putar berulang-ulang.


“Tapi aku tetap kembali ke kamarku sebelumnya, dan tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada kegiatan dari petugas kebersihan atau siapa pun.”


“Jelas tidak ada, itu hanya alibi, karena target mereka adalah kamu.”


Diana ikut menonton CCTV sebelum ledakkan terjadi.


“Ini sangat berbahaya untukmu Diana, semoga secepatnya aku bisa mengungkap kasus ini dan mendapat bukti kuat yang menunjukkan siapa dalang semua ini,” gerutu Russel.


**


Di Gedung Agung Jaya.


Setelah memastikan Diana baik-baik saja, Dillah segera kembali ke Gedung Agung Jaya. Dia terus berlari, agar sampai lebih cepat ke tujuannya. Saat hampir sampai ke ruangan Ivan, di depannya ada Yudha yang tengah membuka pintu ruangan Ivan.


“Dari mana kamu? Lihat semua berkas ini seharusnya tugasmu untuk membawanya,” maki Yudha.


“Ada hal darurat Tuan, sebaiknya aku cerita di dalam saja, agar aku tidak perlu bercerita dua kali.” Dillah mengambil semua berkas yang Yudha peluk, keduanya segera memasuki ruangan Ivan. Dillah meletakkan perlahan semua berkas yang dia peluk keatas meja Ivan.


“Tuan, ada kejadian mengerikan yang terjadi di Universitas Bina Jaya,” adu Dillah.


“Apa maksudmu? Kamu jangan main-main Dillah, saat ini Diana berada di sana.” Ivan terlihat sangat panik.


“Ada ledakkan di salah satu Gedung yang ada di lingkup Universitas Bina Jaya. Menurut saksi mata, saat ledakkan berlangsung, Nona Diana berada di Kawasan itu.”


Ivan meraih jas dan kunci mobilnya, dia berlari kearah pintu.


“Tenang Tuan, aku sudah bertemu Nona Diana, dan dia baik-baik saja.”


Mendengar Diana baik-baik saja, langkah Ivan menuju pintu terhenti, dia berjalan mendekati Dillah.


“Apa ledakkan ini rencana Veronica?”


“Aku belum tahu, Tuan.”


“Selidiki penyebab ledakkan ini!” perintah Ivan.

__ADS_1


Dillah hanya menganggukkan kepalanya, sedang Ivan kembali meneruskan tujuannya untuk menemui Diana.


__ADS_2