Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 31 Aku Siapa?


__ADS_3

Pengacara Nizam dan Pak Abimayu langsung menemui perawat yang berusaha menggagalkan operasi yang Diana jalankan, yang semakin membuat Pak Abimayu marah, insiden itu melukai Diana. Perawat itu memanen kemarahan semua tim yang membantu jalannya operasi. Sumpah serapah beberapa dokter pun terus tertuju padanya. Malu, takut, cemas, bercampur jadi satu. Quenzee terus menunduk, menerima semprotan kemarahan semua orang yang ada dalam ruangan.


Nizam pamit pada Pak Abi, setelah semua urusannya dengan Pak Abimayu selesai. Nizam belum puas, walau sudah memberi gertakan untuk perawat yang Bernama Quenzee. Tapi saat ini Diana yang paling penging, Nizam sedari tadi terus memikirkan keadaan Diana. Pengacara Nizam berniat kembali menemui Diana di ruangannya, untuk memastikan keadaannya.


Saat melintasi lorong, dia melihat seorang wanita berdiri di depan lift, mengenakan jaket lengan Panjang, bahkan lengan itu menutupi sampai ujung jari tangannya, membuat perhatian Nizam tertuju pada sosok itu, dia mendekati Wanita itu, perasaannya mengatakan itu adalah Diana. Benar saja feelingnya, itu adalah Diana.


“Diana!” panggilnya.


Seketika Diana menoleh kearahnya, melihat wajah Diana yang begitu pucat, Nizam tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. “Diana, lukamu sudah dirawat dengan benar?”


Diana menggelengkan kepalanya.


“Ayo kita obati dulu lukamu.”


Walau hanya dengan sebelah tangan, Diana dengan cepat mengetikkan kata pada layar handphonenya.


^^^Tidak usah, aku tidak membutuhkan perawatan untuk Lukaku. Yang kubutuhkan saat ini hanya istirahat. Aku sangat mengantuk dan ingin sekali tidur.^^^


“Tapi—”


Ting!


Saat yang sama pintu lift terbuka, tanpa menunggu izin Nizam, Diana langsung masuk kedalam lift.


“Diana! Lukamu sangat dalam, obati dulu, itu tidak memakan waktu lama!”


Pintu Lift itu sudah tertutup. “Diana ….” Nizam hanya bisa mengeluh, melihat Diana yang tidak memerhatikan luka yang menderanya.


Kotak besi yang bertugas mengantarkan penumpangnya naik dan turun di Gedung itu akhirnya sampai pada lantai paling bawah. Diana segera menunggu taksi yang sebelumnya dia pesan, dia meminta supir taksi untuk menjemputnya di basement Rumah Sakit.


Langkah kaki Diana terhenti, saat melihat perawat yang berusaha mengacaukan operasinya sebelumnya. Perawat itu pula yang membuat telapak tangannya terluka. Mata perawat itu menatapnya dengan sorot mata kemarahan yang teramat.


“Kenapa kau melaporkanku pada Pak Abimayu?!” Ternyata perawat itu juga mengenali Diana.


"Apakah kebisaanmu hanya bisa berlindung dibawah ketek Kepala Rumah Sakit?"


Diana memasukkan handphonenya ke dalam tas, dan melepaskan tasnya perlahan ke sisinya.


“Kalau dendam padaku, selesaikan denganku! Bukan meminta perlindungan pada orang lain!”


Perawat itu mengeluarkan pisau dari balik punggungnya. Dia melangkah begitu cepat mendekati Diana.


Sheppppt!

__ADS_1


Mata pisau itu melesat kearah Diana. Dengan gesit Diana menghindari serangan perawat tersebut. Perawat itu tidak berhenti, dia tetap berusaha menyerang Diana. Mata Diana tertuju pada kamera cctv yang ada di basement, seketika dia menghadang sabetan pisau tajam itu dengan tangannya yang satunya.


Shutsss!


Mata senjata tajam yang perawat itu layangkan menggores permukaan kulit telapak tangan Diana. Hingga tangan yang satunya juga terluka. Seringai kemenangan menghiasi wajah perawat itu, karen berhasil melukai Diana. Semangatny semakin berkibar dan kembali berusaha keras menyerang Diana lebih beringas lagi. Walau dengan tangan kosong yang terluka, Diana membalas serangan perawat itu.


Bough! Boug! Boug!


Brugggg!


Tubuh perawat itu terpental beberapa meter dari posisinya semula. Dia tetap berusaha bangkit, dan kembali menyerang Diana, tetap sajaz akhirnya dia kembali terkapar di lantai. Hanya dengan ayunan tangan kosong, perawat itu tersungkur lagi ke lantai basement. Pisau yang dia gunakan untuk menyerang Diana juga terlempar begitu saja. Diana duduk diatas tubuh perawat yang sudah tidak berdaya karena serangan balasan darinya. “Sampaikan pesanku pada Tuanmu! Jangan bermain-main denganku! Juga katakan padanya untuk berhati-hati! Jika tidak … maka akibatnya diluar batas yang dia bayangkan.”


Tangan perawat itu berusaha mencapai pisau yang tergeletak tidak jauh darinya. Saat tangannya berhasil mencapai pisau itu, dia ingin menusukkan pisau itu lada lawannya.


Namun ....


Bought!


Krekkkk!


Suara pukulan sangat jelas terdengar. Saat yang sama ....


Trankkk!


“Argggggghhtt!” Jeritan perawat itu menggema di basement tempat mereka berduel.


Diana bangkit, dia meraih tasnya dan segeera pergi begitu saja meninggalkan perawat yang berusaha menyerangnya, walau kini kedua tangannya kembali meneteskan darah segar, Diana melupakan lukanya, dia terus melangkah keluar dari basement. Sebuah mobil melintas di sampingnya, tiba-tiba mobil itu berhenti di depan Diana, Diana tidak peduli, dia terus meneruskan langkahnya.


“Diana!”


Penumpang dalam mobil itu memanggil namanya, perlahan kaca mobil bagian depan turun, membuat Diana menoleh kedalam mobil. Di dalam mobil ada Yudha.


“Diana. Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Yudha.


Kaca jendela mobil bagian belakang juga perlahan terbuka, terlihat wajah Ivan kala kaca itu turun sempurna. Ivan terlihat mengendus, dia mencium bau darah segar dari arah Diana. Ivan merasa ada yang tidak beres. “Diana masuk!” titahnya.


Diana tidak ingin berdebat dengan Ivan, saat ini dia sangat lemas dan sangat Lelah, tanpa protes apapun lagi, dia langsung masuk dari sisi pintu mobil yang lain.


Perlahan mobil yang di kemudikan sopir itu melaju meninggalkan basement.


Yudha menunduk, mendengar penjelasan dokter apa yang membuat neneknya drop bukan karena perbuatan seseorang, tapi murni karena penyakit yang di derita neneknya. Yudha tetap setia menunduk. “Diana, maafkan aku. Setelah mendengar semua keterangan dokter, kritis nenekku tidak ada kaitannya denganmu. Maafkan aku dan ibuku, Diana.” Sesal Yudha.


Ivan tidak menyimak perminta maafan Yudha, dia fokus pada Diana. “Coba kulihat tanganmu!”

__ADS_1


Diana memperlihatkan kedua telapak tangannya pada Ivan.


“Huhhh!” Ivan sangat kesal melihat luka pada kedua telapak tangan Diana. Apalagi luka pada tangan kirinya, terlihat luka itu sangat dalam.


“Pak, ke UGD!” Titah Ivan.


Mobil itu saat keluar dari basement, langsung menuju UGD Rumah Sakit itu.


“Diana, kamu ikut aku. Yudha, kamu pulang duluan.”


Yudha bingung, kenapa Ivan dan Diana ingin turun di depan UGD, dia pun menoleh kearah kursi belakang, kedua matanya disambut luka yang ada di kedua telapak tangan Diana, luka itu menjawab pertanyaan yang belum dia lontarkan.


Tanpa pamit pada Yudha, Ivan dan Diana turun dari mobil, keduanya berjalan menuju UGD. Sedang Yudha pulang bersama supirnya. Di UGD Diana mendapat penanganan untuk lukanya, sedang Ivan menunggunya di luar, wajahnya sangat gusar, dia merogoh handphone yang tersimpan di balik saku bagian dalam jasnya.


“Hallo. Febrian …, tolong kamu cek cctv Rumah Sakit bagian Basement. Ada insiden yang cukup serius yang barusan terjadi di sana, dan aku butuh rekaman itu, untuk menyelesaikan semuanya.”


“Baik, Tuan Ivan. Kami akan segera memeriksanya untuk Anda.”


Saat yang sama, luka Diana sudah selesai diobati, kini kedua telapak tangan Diana berbalut perban. Saat Ivan menyudahi panggilan teleponnya, Diana baru keluar dari ruang penanganannya, dia berjalan mendekati Ivan sambil mengetikkan kata pada layar handphonenya.


^^^Biaya pengobatanku?^^^


“Sudah ku bayar,” sahut ivan.


Diana kembali mengetik.


^^^Berapa biayanya?^^^


Ivan menatap Diana dengan tatapan yang sulit diartikan, keadaan seperti ini Diana memikirkan berapa biaya pengobatan lukanya di UGD.


Diana kembali mengetik.


^^^Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku hanya ingin membayarnya. Aku tidak ingin berhutang padamu.^^^


“Astaga!”


^^^Saat sampai di rumah, semuanya aku ganti.^^^


“Huhh!” Ivan membuang napasnya begitu kasar.


Diana sudah berjalan keluar dari UGD. Sedang Ivan masih tidak percaya dengan pertanyaan Diana sebelumnya. Matanya memandangi punggung Diana yang semakin menjauh.


“Ya Tuhan … Apa dia tidak mengenal siapa aku?” Ivan memegangi dahinya, biaya yang besar saja dia tidak permasalahkan, gadis itu malah ingin membayar, seakan dirinya orang yang tidak sanggup menanggung pengobatan Diana.

__ADS_1


__ADS_2