
Nazif menatap sinis Diana, melalui kaca spionnya. Tapi Diana hanya diam, bahkan bagi Diana,Nazif seolah tidak ada di sekitarnya.
Brukkk!
Suara pintu mobil yang ditutup menyadarkan Nazif, terlihat ibunya menghempaskan bobot tubuhnya di samping Diana.
"Jalan sayang," ucap Aridya pada putranya.
Nazif pun perlahan melajukan mobilnya meninggalkan Area Gedung Apartemen Ivan. Sesekali dia melirik keadaan di bagian belakangnya, melalui kaca spion yang ada di depannya. Memerhatikan ibunya dan Diana yang duduk berdampingan.
Mobil Nazif lumayan jauh meninggalkan Apartemen Ivan. Merasa jarak sudah aman, Aridya menoleh kearah Diana. “Kenapa kamu bersikukuh menyeret Quenzee dan Veronica ke pengadilan? Bukankah ini bisa selesai walau tanpa proses hukum?"
“Suatu masalah jika bisa diselesaikan dengan jalan kekeluargaan, sebaiknya selesaikan semua itu dengan jalur damai, bukan ranah hukum.”
“Sebagai orang tuamu, aku berkewajiban menasehatimu, memberi masukan padamu. Demi kebaikanmu, lebih baik kamu cabut semua tuntutanmu pada Veronica dan Quenzee.”
“Kasus ini sangat memalukan kalau sampai ke pengadilan Diana, karena tuntutanmu pada Veronica hanya karena dasar cemburu. Ivan dan Veonica dekat itu wajar, karena mereka berteman sejak kecil dan tumbuh bersama, karena keluarga Agung dan Keluarga Kesuma sangat dekat.”
“Mama benar Diana. Saat berita ini muncul ke publik, orang-orang akan menertawakan berita ini nanti, calon menantu keluarga Agung memenjarakan Veronica. Semua orang bisa menilai dan merasakan kalau perbuatanmu ini atas dasar kecemburan.” Nazif menambahi.
Senyuman dingin terukir di wajah Diana, mendengar ocehan ibu dan anak itu. Diana meraih handphonenya dan secepatnya mengetikkan kata.
*Imbalan apa yang diberikan oleh orang tua Veronica? Owh atau mereka menjanjikan pada kalian?
Melihat perubahan wajah Aridya, Diana tersenyum sinis. Dia mengetik kata baru, dan memperlihatkannya pada Aridya lagi.
*Pastinya imbalan yang mereka janjikan sangat besar bukan?
*Kapan dia menemui kalian?
*Ups, atau ... kalian yang mendatangi mereka?
“Diana!!!” Teriakkan Aridya sangat lantang, membuat Nazif yang fokus menyetir pun tubuhnya sedikit tersentak.
“Aku berbicara baik-baik padamu sebagai seorang ibu, kamu malah sangat tidak sopan dengan menuduhku! Memangnya bagaimana Salima Zelinica mengajari sopan santun pada cucunya?!”
__ADS_1
Diana mengetik ...
*Bagaimana nenekku mengajariku, itu urusan dia dan hak dia. Sedang Anda tidak berhak mencampuri bagaimana tata kesopanan padaku. Anda juga bukan orang tuaku, Anda bukan keluargaku, jadi Anda tidak berhak sedikitpun meminta apapun padaku, apalagi memintaku untuk menarik tuntutanku pada Veronica dan Quenzee. Anda bukan siapa-siapa saya Nyonya Aridya Helmina!
Aridya sangat geram, usahanya untuk membujuk Diana supaya mencabut tuntutannya malah gagal. Aridya ingin sekali menampar Diana, namun tamparan kecil tidak berarti apapun pada Diana, wanita ini sangat Tangguh dan keras kepala. Aridya memastikan batu berlian yang ada pada cincinya letaknya sempurna agar menjadi stempel indah di wajah Diana saat kepalan tangannya mendarat nanti, semua kekuatan pun dia fokuskan untuk mendaratkan bogeman mentahnya ke wajah Diana.
Bouggg!
Tinjuan Aridya malah mendarat di kaca mobil di samping Diana, bogeman mentah itu gagal mendarat di wajah Diana, Wanita itu sangat gesit menghindari layangan kepalan tangan Aridya. Aridya meringis, buku-buku jarinya terasa sangat sakit karena menghantam begitu kuat jendela kaca mobil. Aridya meringis sambil memegangi tangannya yang sakit karena misinya yang gagal.
Melihat sekilas kejadian di belakangnya dari spoin, Nazif langsung memberhentikan mobilnya, dia berbalik ingin membantu ibunya untuk memberi sentuhan pada Diana.
Shappp!
Nazif melayangkan pukulannya pada Diana, namun kepalan tangannya Diana tahan dengan telapak tangannya yang berbalut perban. Perlahan warna merah terlihat jelas di perban yang membalut tangan Diana, pertanda luka Diana mengeluarkan darah lagi.
Diana mengabaikan lukanya yang kembali mengerluarkan darah, dengan kasar dia mendorong Nazif, hingga pemuda itu terjungkal, punggungnya terbentur bagian setiran mobilnya.
Diana langsung membuka pintu mobil yang ada di sampingnya dan keluar dari sana.
"Diana!" teriak Aridya.
Diana tersenyum dingin, dia membanting begitu keras pintu mobil itu.
Brakkkk!
Sontak membuat tubuh Aridya dan Nazif terperanjat. Aridya semakin emosi, dia langsung keluar dari mobil. Nazif pun ikut keluar dari mobilnya. Mereka berdua menyusul Diana. Saat Aridya dan Nazif beridiri di dekat Diana, saat yang sama sebuah mobil ferrari berhenti di depan mobil Nazif. Dari mobil itu keluar seorang pemuda tampan dengan setelan jas lengkapnya. Dengan tatapan mata dinginnya dia terus mendekati Diana dan dua orang yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia berdiri di samping Diana. Tatapan laki-laki itu memancarkan kemarahan, kala kedua matanya melihat jelas perban yang membalut tangan Diana dipenuhi warna merah. Dia yakin luka Diana kembali berdarah, pikirannya Diana ditindas oleh dua orang yang ada di depannya saat Diana berada dalam mobil bersama mereka.
“Ada masalah?” Dia bertanya pada Diana.
“Tidak ada masalah apa-apa, anak muda. Biasa ada hal kecil antara ibu dan anak,” ucap Aridya lembut. “Perkenalkan saya adalah Nyonya Alinka Yolanda.” Aridya mengaku sebagai ibu kandung Diana.
Laki-laki itu terkekeh menertawakan Wanita yang berdiri di depannya mengaku sebagai ‘Alinka Yolanda.’ “Saya Yudha Alberto.” Ucapnya seraya menahan tawanya.
Tapi Aridya terlihat biasa-biasa saja, karena dia tidak mengenal siapa sosok Yudha. “Kenapa Anda tertawa, ada yang lucu?” tanya Aridya.
__ADS_1
Yudha berhenti tertawa, wajahnya sangat serius. “Sejak kapan Nyonya Alinka Yolanda hidup lagi? Kapan Anda bangkit dari kuburan?”
Duggggg!
Mata Aridya terbelalak, dia tidak menyangka pemuda yang berdiri di depannya mengetahui tentang Alinka Yolanda yang asli sudah meninggal dunia.
Sorot mata tajam yang begitu dingin terpancar dari mata Yudha, seketika membuat nyali Aridya ciut.
“Berani-beraninya Anda mengaku-ngaku sebagai Nyonya Alinka Yolanda, Anda tidak pantas sedikitpun menjadi Nyona Alinka!"
"Apa kalian berdua sudah bosan hidup?!” gertak Yudha.
Aridya bungkam, dia tidak tahu harus berkilah dengan cara apa.
Pandangan mata Yudha yang begitu teduh dan menyejukkan tertuju pada Diana. “Diana, kamu duluan masuk ke mobilku,” pintanya. Diana pun segera berjalan menuju mobil Yudha.
Yudha kembali menatap tajam Aridya dan Nazif. “Aku akan balas semua perbuatan kalian pada Diana!” Yudha pun segera berjalan menuju mobilnya. Yudha ingin memberi perhitungan langsung, namun saat ini dia lebih memikirkan keadaan Diana, daripada dua orang yang menyebalkan itu. Sesaat setelah Yudha masuk ke dalam mobilnya, mobil itu langsung melaju meninggalkan area tersebut.
Aridya masih memandangi mobil yang semakin diluar batas pandangan matanya. “Dia siapa?”
"Entahlah, mama." Nazif pun masih memandang kearah mobil Yudha melaju. “Nanti kita cari tahu, ma.”
***
Di dalam mobil Yudha, fokus Yudha terbagi, antara fokus dengan jalanan, tapi juga mengkhawatikan keadaan Diana, matanya sesekali tertuju pada perban Diana yang kini semakin dipenuhi darah, namun dia juga harus memperhatikan jalan yang dilalui.
Diana merasakan kekhawatiran Yudha, dia membalas pandangan pada Yudha yang sesekali memandangi perbannya. Diana mencari handphonenya, ingin mengatakan pada Yudha, kalau dirinya baik-baik saja.
"Tidak perlu menenangkanku, aku tahu kalau kau mau bilang kamu baik-baik saja," sela Yudha.
Diana menoleh pada Yudha.
"Maaf, aku tidak bisa percaya kalau kau baik-baik saja. Kamu harus ikut aku ke Perusahaan Agung Jaya, biar Ivan melihat semua ini, dan biar dia tahu langsung bagaimana keadaaanmu.” Yudha langsung menambah kecepatan laju mobilnya, dia ingin lebih cepat sampai di Perusahaan Ivan. Dirinya tidak sanggup lagi menahan rasa panik melihat warna merah di perban semakin banyak.
Flash Back
__ADS_1
Yudha melajukan mobilnya begitu santai, dari kejauhan dia melihat sebuah mobil berhenti di tepi jalan, Yudha mengira mobil itu memiliki masalah. Dia pun semakin menurunkan kecepatan mobilnya.
Saat melihat seorang wanita keluar dari mobil itu, Yudha yakin itu Diana. Perasaannya seketika tidak enak, Yudha langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil yang berhenti di tepi jalan.