Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 85 Pura-Pura Tidur


__ADS_3

Hari semakin sore, Pengacara Nizam dan Sekretarisnya sangat sibuk menyelesaikan semua perkara yang menyeret Diana. Akhirnya, Diana dibebaskan sementara dengan jaminan dari pengacara Nizam. Wajah mereka terlihat begitu Lelah. Mereka bertiga berjalan menuju mobil


“Kamu ingin ku antar kemana, Diana?”


Diana menjawab dengan ketikan di handphonenya.


*Aku kembali ke Asrama.


“Baiklah, aku akan mengantarmu.” Pandangan mata Nizam tertuju pada Asistennya. “Naila, kamu duduk di depan saja, di belakang biar aku dan Diana.”


“Baik Tuan.”


Mereka bertiga segera masuk ke dalam mobil, supir yang mengemudikan mobil Nizam segera melajukan mobilnya setelah melihat ketiga orang itu masuk dan memasang sabuk pengaman mereka. Diana menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, Diana terbayang segala kata-kata Wena tadi siang, yang mengatakan kalau Rani sudah mengumumkan pemutusan pertunangan dirinya dengan Ivan. Kini antara dirinya dan Ivan tidak ada hubungan apa-apa lagi.


“Kasus yang menjebakmu ini sangat sempurna, Diana. Bahkan semua aspek diperhitungkan begitu sempurna dan tidak ada celah,” puji Nizam.


“Rencana dalang dibalik kasus ini sangat luar biasa, dia bisa menghilangkan pelaku asli dan melimpahkan kesalahan pelaku asli padamu. Tapi, rencana kamu juga jauh lebih sempurna, sehingga malam ini semua masalah yang menyeretmu selesai. Ini semua karena rencanamu yang begitu hebat,” puji Nizam.


“Semoga jebakkan kamu untuk para pelaku berjalan mulus, Diana.”


Diana diam, Nizam memaklumi itu, karena di dalam mobil ini ada supir pribadinya dan Nayla.


“Diana, seperti kata-kataku sebelumnya, kamu harus berhati-hati pada Ivan.”


Mendengar Nizam mulai menyebut nama Ivan, Diana memejamkan matanya, dia berpura-pura tidur.


“Sebaiknya kamu putuskan pertunanganmu dengan Ivan. Terlalu bereseko jika kamu mempunyai hubungan dengan Ivan, Diana.”


Nizam khawatir menyinggung perasaan Diana, dia segera menyalakan lampu di dalam mobilnya, saat lampu menyala, sangat jelas Nizam melihat Diana memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


Dari tadi aku biacara dengan orang tidur?


Nizam membuang napasnya begitu kasar, namun dia tidak bisa menyalahkan Diana, seharian berada di kantor polisi sangat melelahkan. Setelah sampai di halaman Universitas Bina Jaya, Nizam segera membangunkan Diana. Diana hanya mengetik kata ‘Terima kasih’ lalu segera melangkah menuju kamar asramanya. Beruntung di kamar Asrama tidak ada Syila, kebanyakan Mahasiswi di asrama hanya bermalam pada saat-saat tertentu, seperti ada tugas malam dan sejenis itu.


**


Pagi ini tidak ada yang berbeda dari Universitas Bina Jaya. Tapi Diana pagi-pagi sudah pergi meninggalkan Universitas, dia ingin menyelesaikan semua rencananya. Sedang di Kampus, Dosen BK memanggil Dosen wali di kelas Diana. Dia menanyakan banyak hal tentang Diana pada Febrian.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukkan pintu membuat obrolan Dosen BK dan Febrian terhenti, saat pintu terbuka, tampak wajah angkuh Wilda.


“Bagaimana Prima, sudah kamu proses usulanku kemaren?" Tanya Wilda.


“Ini saya sedang berbicara mengenai hal itu dengan Febrian, dan tinggal tanda tangan saja, maka Diana Resmi di keluarkan dari Universitas ini.”


Surat resmi pun di tanda tangani oleh beberapa dosen terkait tentang dikeluarkannya Diana dari Universitas.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan kembali diketuk. Terlihat salah satu petugas keamanan kampus datang dengan seorang wanita paruh baya.


“Selamat pagi Pak Prima, berhubung Pak Abi berada di luar kota, dan ada orang tua Mahasiswi ingin berbicara masalah anaknya, jadi saya antar dia ke sini,” ucapnya.


“Anak ibu siapa?” tanya Prima.


“Anak tiri saya tepatnya, namanya Diana.”


“Wah, sayang sekali, anak tiri ibu bukan mahasiwi kampus ini lagi,” ucap Prima.

__ADS_1


“Aku sangat heran, bagaimana caramu mendidik anak tirimu? Dia seperti manusia purba yang tersesat di tengah manusia modern,” hina Wilda.


Aridya berusaha menahan kekesalannya, dia tetap memasang wajah sendu. Aridya mendekati Prima. “Tolong Pak, apakah ada jalan lain selain mengeluarkan Diana dari kampus ini? Menjadi dokter impian Diana, memang Diana bukan pribadi yang penurut, tapi saya mohon … maafkan anak tiri saya.”


“Maaf, Nyonya. Diana sudah dikeluarkan, jadi—” Prima tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena handphonenya berdering. Melihat nama Pak Abimayu tertera di layar handphonenya, Prima tidak bisa mengabaikan panggilan itu. Prima meminta izin dengan bahasa isyarat, kalau dia ingin menerima panggilan.


“Selamat pagi Pak Abi,” sapa Prima pada seseorang yang berada di ujung telepon sana.


“Berikan telepon ini pada Wilda!” perintah Pak Abi.


Prima menoleh kearah Wilda. “Pak Abi ingin berbicara dengan Anda,” ucapnya, seraya menyerahkan handphonenya pada Wilda.


Wilda langsung menerima handphone dari Prima, dan menempelkannya ke sisi telinganya. “Iya pak Abi.”


“Wilda, saya memang sangat menghormati Anda karena Anda adalah putri Pak Agung Jaya. Tapi jangan sampai saya melupakan rasa hormat saya pada Anda! Karena Anda ikut campur dalam urusan Universitas!”


Wilda hanya bisa menelan saliva-nya, seketika tubuhnya gemetar mendengar gertakkan Pak Abi.


“Berikan lagi handphonenya pada Prima, aku ingin bicara padanya.”


“Baik, Pak.” Wilda segera memberikan handphonenya pada Prima. “Pak Abi ingin berbicara padamu.”


Prima menerima lagi handponenya. “Iya Pak Abi.”


“Berani-berani sekali kamu mengambil keputusan tanpa persetujuanku!” maki Pak Abi.


“Tapi untuk kasus Diana, ini sudah terlewat—”


“Ini Bukan urusanmu! Urusan tentang Diana biar menjadi urusanku!” maki Pak Abi lagi.

__ADS_1


__ADS_2