Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 113 Aku Tidak Bisa


__ADS_3

Aridya sangat panik, Nazif di culik bukan di negaranya, tapi di Dubai, negara yang jauh, dia tidak punya kekuatan di negara itu. Aridya sangat putus asa, bayangannya saat ini hanya Fredy. Aridya langsung menelepon Fredy.


“Iya Nyonya.”


“Tuan Fredy, aku memang belum melakukan apapun untuk Diana, tapi bisakah aku meminta bantuanmu?”


Tidak ada jawaban dari  ujung telepon sana.


“Baru saja Diana meneleponku, dia memberiku kabar kalau Nazif di culik, Nazif mengikuti Diana ke Dubai.”


Tetap tidak ada jawaban, Fredy malah memutuskan sambungan teleponnya. Aridya hanya bisa menangis, berharap ada keajaiban yang menggerakan hati seseorang untuk menolong putranya.


**


Dubai.


Diana, Nizam, dan Fredy memasuki sebuah Restoran, mereka memesan menu yang mereka pilih. Hanya menunggu beberapa saat meja yang sebelumnya kosong, kini sudah dipenuhi beberapa menu makanan.


Tink!


Notifikasi Handphone Diana terdengar. Diana memeriksa handphonenya.


“Ku dengar, Nazif diculik, kamu butuh bantuanku?”


Diana menatap tajam kearah Fredy.


Tink!


Handphone Diana menerima satu pesan baru.


“Para penculik itu minta tebusan apa padamu?”


Diana mengetik begitu cepat.


\=Bukan urusanmu!


Diana melepaskan handphonenya, dia segera meraih makanannya. Namun gerak tangannya terhenti, terdengar deringan panggilan masuk. Melihat pemanggil Aridya, Diana terpaksa mengangkat panggilan itu, dia tidak bisa mengabaikan rasa takut seorang ibu yang mencemaskan putranya.


“Diana, aku mohon padamu, selamatkan putraku ….” Jerit Aridya.


“Maaf, aku tidak bisa.” Diana langsung memutuskan panggilan telepon mereka. Dia meraih lagi makanannya, tapi saat ini selera makannya sudah hilang.


Diana meraih botol air mineral, dan berjalan meninggalkan Restoran, sontak Fredy dan Nizam langsung mengejarnya. Diana berjalan cepat di depan mereka, wanita itu hanya diam, terlihat dia batuk berulang kali, melihat Diana seperti itu hati Fredy begitu sakit. Ingin rasanya melepaskan jas yang dia pakai dan menutupi tubuh Diana.


Diana sampai di kamar hotelnya, dia segera mempelajari kasus penculikan yang menjerat Nazif, Diana bisa menyimpulkan, Nazif datang ke negara ini kemungkinan diajak seseorang untuk menjebak dirinya, tapi orang yang bekerjasama dengan Nazif malah mengkhianatinya dan menjadikan Nazif sebagai umpan untuk tujuan mereka.


Diana meraih handphonenya, dia melakukan panggilan Video dengan Profesor Hadju, tidak menunggu lama, panggilan Video mereka terhubung.


"Maaf, Prof. Saya mengganggu waktu Anda lagi."


"Aku malah senang jika kamu ganggu." Profesor Hadju tersenyum. “Bagaimana keadaanmu Diana?”


“Aku baik Prof. Bagaimana keadaan Zaira?”


“Keadaanya juga baik.”


“Prof, bolehkah aku minta tolong pada Profesor lagi?”


“Ada apa Diana?”


“Aku ingin Profesor meneliti beberapa hal yang aku kirim nanti.”


“Baiklah, aku akan melakukannya untukmu.”


Pembicaraan Diana terjeda, karena ada nada panggilan dari handphonenya yang lain.


"Nada dering khusus, biasanya itu dari nenekmu," tebak Peofesor Hadju.


Diana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah, angkat sana."


“Terima kasih Prof, maaf saya malah menambah pekerjaan Profesor.”


“Tidak apa-apa Diana, setelah berbicara dengan nenekmu, istirahatlah, kamu pasti Lelah. Keadaan pasienmu yang ada di Rumah Sakitku juga semakin membaik, sekarang ada kedua orang tuanya yang menemaninya."


Diana hanya tersenyum dan menyudahi panggilan Videonya bersama Profesor Hadju. Diana kembali fokus pada Handphonenya yang satu.


“Halo nenek ….”


“Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?”


“Maaf nenek, tadi aku berbicara dengan Profesor membahas pasienku.”


“Jangan buat si tua ini mati karena perasaan cemas, cucuku.”


“Iya nenek, maafkan aku.”


“Bagaimana keadaanmu? Apa di kediaman keluarga Agung Jaya ada masalah? Ku dengar Archer datang ke kota itu untuk membereskan suatu masalah. Gurumu itu juga datang ke kota itu sekalian untuk menemuimu.”


Diana paling tidak sanggup membohongi neneknya. Kebohongannya yang pertama saat dia mengatakan sambutan keluarga Agung sangat baik, itu sangat menyakitkan baginya. “Nenek apa kabar? Aku sangat rindu nenek. Bagaimana keadaan nenek?” Diana sengaja merubah topik pembicaraan.


“Keadaan nenek baik-baik saja. Nenek juga sangat merindukanmu, permataku.”


“Aku sangat senang mendengar kalau nenek baik-baik saja.”


Diana terus berbicara banyak hal dengan neneknya, dia hanya menjawab sekenanya segala pertanyaan neneknya. Setelah keduanya menyudahi panggilan telepon mereka, Diana kembali memeriksa pesan yang dia terima dari profesor Hadju.


*Perusahaan yang kamu sebut itu mereka dalam kesulitan, keadaan keuangan Perusahaan itu sangat memprihatinkan.


Diana segera mengetik pesan balasannya.


\= Terima kasih Prof, saya akan memikirkan jalan keluar yang lain untuk kebaikan bersama.


Diana masih memikirkan Perusahaan yang dalam kesulitan itu. Tiba-tiba notifikasi pesan yang masuk membuyarkan konsentrasi Diana. Terlihat pesan baru dari seseorang yang berarti dalam hidupnya.


Dalam pesan yang Diana terima banyak hal yang di jelaskan padanya.


Jemari Diana begitu cepat mengetik pesan balasan.


\=Jangan sungkan meminta padaku, niat dan tujuan kita sama. Kalau aku ada, aku akan segera memberikannya padamu. Kalau dalam kesulitan, aku akan upayakan usaha lain. Berapa yang kamu butuhkan?


Tink!


Pesan yang baru masuk bertuliska nominal yang seseorang itu butuhkan. Diana segera mentransfer uang untuk orang itu.


*Terima kasih Diana.


\=Sama-sama, tetaplah menjadi pejuang kesehatan, jangan pernah lelah. Kalau perlu apapun bilang saja padaku.


Merasa tidak ada jawaban lagi, Diana menyimpan handphonenya dan bersiap untuk mandi. Setelah membersihkan tubuhnya, Diana melihat pantulan dirinya di cermin, dia berbalik, untuk melihat keadaan pinggannya, terlihat warna biru yang ada di sana semakin parah. Diana hanya menghembuskan napasnya kasar, dan segera menuju tempat tidur untuk istirahat.


Keesokan harinya, setelah menghabiskan sarapannya, Diana segera bergegas menuju Rumah Sakit lain, di mana dia melakukan Operasi pada Zaira. Sesampai di sana, Diana masuk ke sebuah ruangan, di sana semua pekerja Rumah Sakit, dan pejabat Negara yang mengurus bagian Kesehatan menunggunya di sebuah ruangan. Pertemuan di sana berlangsung lama.


Setelah selesai pertemuan di sana, Diana meminta izin pada Profesor Hadju untuk menemui Zaira, Diana diantar ke salah satu ruang perawatan. Di ranjang Rumah Sakit terlihat seorang gadis tengah bercanda dengan seorang laki-laki yang memunggunginya.


“أبي ، هذه أخت جميلة ساعدتني وأمي."


'abi , hadhih 'ukht jamilat saeadatni wa'umi.


(Ayah, itu kakak cantik yang menolongku dan ibu.) Ujung jari anak kecil itu menunjuk kearah Diana.


Laki-laki itu berbalik, dia tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya. “Terima kasih banyak, karena Anda telah menolong dua orang yang sangat berarti dalam hidup saya.”


“Jangan berlebihan Tuan. Saya tidak sendiran, banyak yang terlibat untuk menyelamatkan Zaira,” sahut Diana.


“Tapi karena Anda, Zaira ditolong lebih cepat,” sela ibu Zaira.


Ayah Zaira memberi kode pada para pelayan yang berada di ruangan itu. Beberapa pelayan mendekati Diana dengan membawa hadiah yang sangat banyak.

__ADS_1


“Sebagai ucapan terima kasih kami, tolong terima semua ini,” pinta Ayah Zaira.


Diana bingung melihat sangat banyak hadiah yang diberikan Ayah Zaira untuknya. Mata Diana tertuju pada satu celengan yang ada di dekat Zaira. “Saya ingin itu.” Diana menunjuk celengan Zaira.


“ماما ، أعط هذا لأخت جميلة ، إنها تستحق ذلك ".


mama , 'aeta hadha li'ukht jamilat , 'iinaha tastahiqu dhalik ".


(Mama, berikan ini pada kakak cantik, dia pantas menerimanya.)


Ibu Zaira segera meraih celengan Zaira dan memberikannya pada Diana.


“Terima kasih atas semua hadiah ini." Diana menunjuk kesemua hadiah yang dia tolak. "Tapi saya hanya bisa menerima ini." Diana mengisyarat pada celengan Zaira yang dia peluk. "Saya terima ini sebagai hadiah dari Zaira dan saya anggap ini sebagai pembayaran operasi Zaira.”


Ibu Zaira menangis, dia langsung memeluk Diana dan berulang kali mengucapkan terima kasih pada Diana.


“ماما ، يرجى التغيير. أريد أيضًا أن أعانق أختي الجميلة.


mama , yurjaa altaghyiru. 'urid aydan 'an 'ueaniq 'ukhti aljamilata.


(Mama, tolong gantian. Aku juga ingin memeluk kakak cantik.) rengek Zaira.


Diana dan ibu Zaira melepaskan pelukan mereka, Diana berjalan mendekati Zaira dan memeluknya.


“Anda sudah lama tinggal di sini? Bahasa Arab Anda lumayan bagus,” sela Ayah Zaira.


“Saya hanya datang untuk belajar pada guru saya,” sahut Diana.


Diana melepaskan pelukannya pada Zaira, dia menatap lembut gadis kecil itu.


هل تستطيع هذه الأخت الجميلة التحدث إلى والدتك" "وأبيك؟


hal tastatie hadhih al'ukht aljamilat altahaduth 'iilaa walidatik wa'abik?


(Boleh kakak cantik ini berbicara dengan Ayah dan ibumu?)


Zaira menganggukkan kepalanya.


Diana segera mendekati ibu Zaira, dan memberikan selembar kertas padanya. "Itu adalah resep untuk Zaira, setelah ini, saya sangat berharap kalian lebih memperhatikan Zaira lagi."


Ibu Zaira hanya mengangguk.


"Maafkan atas kelancangan saya sebelumnya, dan hari ini saya akan kembali ke Negara saya."


"ماما ماذا قالت الأخت الجميلة؟ لا أفهم."


mama madha qalat al'ukht aljamilatu? la 'afhamu.


(Mama, apa yang dikatakan kakak cantik? Aku tidak mengerti.) tanya Zaira.


قالت الأخت الجميلة إنها لا شيء عزيزتي ، إنها تريد العودة" "إلى المنزل.


qalat al'ukht aljamilat 'iinaha la shay' eazizati , 'iinaha turid aleawdat 'iilaa almanzili.


(Bukan apa-apa sayang, kakak cantik bilang dia ingin pulang.) sahut ibu Zaira.


أخت جميلة ، هل نلتقي مرة أخرى لاحقًا؟


'ukht jamilatan , hal naltaqi maratan 'ukhraa lahqan؟


(Kakak cantik, apakah kita nanti akan bertemu lagi?) tanya Zaira.


إن شاء الله سنلتقي مرة أخرى.


'iin sha' allah sanaltaqi maratan 'ukhraa.


(Jika Tuhan menghendaki, maka kita akan bertemu lagi.) jawab Diana.


Diana sekali lagi memeluk Zaira dan ibunya, merasa cukup, dia pamit pergi pada mereka semua sambil memeluk celengan Zaira.

__ADS_1


__ADS_2