
Di gedung tempat seminar berlangsung terdengar suara tepuk tangan yang sangat gemuruh. Setelah Anton menekan satu tombol pada handphoenya, saat itu juga langit dihujani dengan ribuan drone yang masing-masing drone membawa T779.
Bahkan beberapa tamu yang menghadiri seminar terlihat menangis, sebanyak apapun uang mereka, tidak mudah mendapatkan obat itu, kini obat itu akan dibagikan merata dan gratis.
Anton meminta semua peserta seminar untuk tenang. Seketika suara tepuk tangan itu pun berhenti.
"Ini adalah wujud mimpi dari seorang gadis yang sangat jenius, tapi dia meminta identitasnya dirahasiakan, terwujudnya mimpi ini, juga karena bantuan organisasi IMO yang tidak kenal lelah mengembangkan obat ini." Anton memberi senyuman pada perwakilan Organisasi IMO yang hadir.
"Perwakilan IMO, apakah ada kata-kata yang ingin disampaikan?" tanya Anton.
Perwakilan IMO berdiri dan meminta mic, dia langsung berbicara. "Saya berdiri di sini hanya sebagai perwakilan Organisasi, karena Ketua kami masih cuti, dan wakil ketua juga jajaran tertinggi masih melakukan tugas penting. Jadi saya tidak punya kata-kata yang di sampaikan."
Mentri kesehatan yang hadir ikut berdiri dan meminta mic. "Tidak apa-apa Nyonya, perwakilan IMO ikut hadir, kami sangat tersanjung."
Suara tepuk tangan yang menggemuruh kembali terdengar. Di bagian tamu undangan Rani duduk bersama Sofian, keduanya hadir sebagai perwakilan Universitas Bina Jaya.
"Rani, berhentilah menilai orang lain dari penampilannya, lihat pemuda yang seumuran Ivan itu, dia sangat sederhana, kemejanya lusuh. Tapi hatinya sangat mulia, dia adalah penemu T779, dia malah membagikan obat itu secara gratis. 1 dosis T779 bisa mencapai 1 miliar, tapi dia membagikan cuma-cuma, bagiku dia adalah manusia terkaya di dunia. Orang kaya itu bukan seberapa banyak harta mereka, tapi seberapa berani mereka berbagi."
Melihat istrinya bungkam, Sofian tersenyum, dalam hatinya dia ingin Rani menerima kedua calon menantunya dengan senang hati, tanpa memandang kasta mereka.
Di tempat lain.
__ADS_1
Jennifer dan Angga berada di salah satu pusat perbelanjaan, layar besar dan setiap speaker di sana menyiarkan berita heboh hari ini, tentang hujan bintang di langit siang. Melihat berita itu Jennifer menenggelamkan wajahnya di dada Angga.
Mulanya Angga mengira Jennifer ingin bermanja padanya. Namun samar terdengar isak tangis Jennifer, membuat Angga panik.
"Sayang ... kamu kenapa?" Angga mengusap lembut punggung Jennifer.
"Aku bahagia, hiks!" Jennifer masih menyembunyikan wajahnya.
"Bahagia? Lalu kenapa kamu menangis?"
"Hujan bintang di langit siang, itu adalah mimpi Diana, kini Diana telah mewujudkan salah satu mimpinya, membagi obat T779 secara gratis dan merata." Isak tangis Jennifer masih terdengar.
Pengunjung sekitar hanya memahami tangis Jennifer seperti mereka yang terharu karena sangat bahagia mendengar kabar itu. Terlebih di televisi Mentri Kesehatan mengatakan obat itu gratis, dengan hanya memberikan kartu identitas mereka untuk mendaftar, dan nantinya mereka akan tedaftar di sebuah sistem. Jika ada yang menarif harga dari pengobatan T779 akan diberi hukuman.
Setiap kota di Negara itu diselimuti kebahagiaan. Sedang pada sisi lain, yang berjuang demi obat itu kini diselimuti asap beracun, dan terkurung dalam sebuah ruangan kaca.
Veronica sangat bahagia melihat Diana, dia yakin Diana sangat tersiksa, dia masih ingat bagaimana jeritan seeokor tikus saat mereka menguji coba racun itu.
“Aku memang tidak bisa lagi berada di samping Ivan, tapi aku akan menyingkirkan wanita mana saja yang akan berada dalam pelukannya. Aku tidak bisa menjadi pendampingnya, maka tidak satu pun wanita yang ada di muka bumi ini bisa memilikinya.” Veronica sangat puas melihat pemadangan di depan matanya.
"Selama aku hidup, aku akan berjuang demi kebahagiaan Tuanku, dan akan menyingkirkan hama sepertimu jauh-jauh dari sisi Tuanku!" ucap Dillah.
__ADS_1
"Sayangnya, hidupmu juga tidak lama lagi, Dillah," ledek Veronica.
"Aku merasakan sebaliknya, aku merasa hidup Anda yang tidak lama lagi, bumi ini sudah lelah menampung manusia bejat sepertimu, bumi mengatakan ingin menelanmu kedalam perutnya!" ucap Dillah lantang.
"Jangan buang tenagamu untuk meladeni orang putus asa seperti dia," tegur Fablo.
"Aku malah mencium bau keputus asaan darimu, Tuan Muda ED Group," ledek Dillah.
Sorang laki-laki dengan seragam lab datang kearah Fablo. “Tuan, jangan membunuhnya sekarang, dia sosok yang sangat cerdas dan kuat, lebih baik kita kurung dia di lab untuk kita jadikan kelinci percobaan. Saat ini dia telah terpapar racun yang hanya bisa di sembuhkan dengan T779-20. Nah kita usaha membuat T779-20 dengan mengujinya langsung padanya."
Fablo terlihat memikirkan ucapan peneliti yang bekerja padanya.
“Saat ini kita memiliki dua botol T779-20. Kita tinggal meneliti dan meraciknya, hasil racikan akan kita bandingkan dengan obat yang ada, lalu kita uji coba pada dokter itu.”
“Kelinci percobaan? Aku tidak setuju! Lebih baik bunuh dia saat ini juga!" protes Veronica.
"Jangan bawa urusan hati pada urusan bisnis!" tegur Fablo.
"Ini bukan urusan hati! Semakin lama dia hidup, semakin berbahaya! Kalian belum tahu bagaimana tangguhnya wanita itu!” protes Veronica.
Fablo tahu bagaimana ketangkasan bela diri Diana, sebab itu dia selalu gagal dalam rencananya untuk membunuh Diana. Tapi menjadikan kelinci percobaan atau membunuhnya saat ini sama-sama ide yang bagus.
__ADS_1