
Nicholas dan Pak Jo sangat bingung dengan permintaan Ivan, sangat jelas Angga memburuk karena obat yang Diana resepkan, tapi Ivan tetap meminta wanita itu untuk menangani kakaknya. Melihat Ivan berlari keluar, semuanya juga mengikuti Ivan.
Nicholas menahan langkah Ivan. “Van apa kamu sadar dengan keputusanmu? Kak Angga seperti ini karena Diana, dan kamu masih percaya padanya?”
"Angga memburuk bukan kesalahan Dian." Ivan menepis tangan Nicholas dan melanjutkan langkahnya.
Nicholas tidak diam begitu saja mendapat jawaban Ivan. Dia kembali menahan Ivan. "Kedua matamu dan kedua telingamu masih berfungsi kan?"
"Lepaskan aku, Nicholas!" ucap Ivan tegas.
"Aku akan melepaskanmu. Tapi dengarkan aku." Nicholas mulai melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Ivan. "Tapi dengarkan aku dulu, aku menganggapmu teman, karena Shady sangat menghormatimu."
"Katakan, aku tidak punya banyak waktu!"
"Buka matamu lebar-lebar Van. Memang Diana membantu Kak Angga lebih baik setelah menajalani akupuntur, kita semua melihat keajaiban itu, tapi kamu jangan menutup mata Van, Angga memburuk seperti ini karena obat yang dia minum, dan obat itu di resepkan Diana. Diana yang membuat Angga memburuk seperti ini," jelas Nicholas.
“Diam bangsatt!” maki Ivan.
Bouggt!
Ivan menedang Nicholas cukup keras, membuat laki-laki itu tersungkur ke tanah.
Ivan ingin menendang Nicholas lagi, tapi geraknya terhenti karena Pak Jo menagannya.
"Fokus keadaan Tuan Angga dulu, Tuan." ucap Pak Jo.
Perlahan kemarahan Ivan mereda, dia masih menatap Nicholas dengan tatapan kemarahan. Mengingat Angga, dia melupakan Nucholas, saat ini keadaan Angga yang paling penting.
Ivan melanjutkan langkahnya, saat dia mencapai mobil di sana terlihat Diana membantu Angga.
"Bagaimana?" tanya Ivan
Diana menggelengkan kepalanya. "Saat ini juga Kak Angga harus dibawa ke Rumah Sakit."
Keadaan Angga benar-benae buruk, sekujur tubuh Angga terlihat gemetaran, dia juga terus menerus muntah.
"Kakak ...." Ivan tidak tahu harus melakukan apa.
“Ivan ... kepalaku sangat pusing,” ucap Angga pelan.
“Tunggu apa lagi, kita harus membawa Kak Angga ke Rumah Sakit, sangat berbahaya jika terlalu lama dibiarkan seperti ini!" jerit Diana.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada Kak Angga?" sela Yudha.
"Kak Angga mengalami gagal napas, dan ini ada beberapa kemungkinan.” Diana bingung, harusnya obat yang dia beri tidak berdampak seperti ini. "Apa mereka salah menebus obat?" Diana memandangi Dillah, Ivan, Yudha, bergantian.
"Tidak mungkin salah, yang membantu menebus obat ini dokter Nizam, dia juga yang memastikan jenis obat yang diminum," sela Dillah.
"Dillah, bawakan padaku obat yang diminum kak Angga, dan bawakan juga kemasan obat yang belum di minum,” pinta Diana.
Diana memandang kearah Ivan. "Kamu bawa kak Angga sekarang, kami akan menyusul setelah menemukan penyebab dari semua ini," ucap Diana pada Ivan.
"Baiklah, aku duluan. Jangan terlalu lama, kak Angga dan aku butuh kamu."
"Secepatnya kami akan menyusul," ucap Diana lembut.
Ivan bersama supirnya membawa Angga ke Rumah Sakit. Di jalanan mobil melaju cepat dan hampir saja menyerempet mobil yang lain. Supir pribadi Ivan sangat panik, dia hanya ingin cepat sampai di Rumah Sakit dan melupakan keselamatan mereka.
Di Perkebunan.
Dillah segera melakukan yang Diana perintahkan, Diana mondar-mandir di depan kastil, dia gelisah menunggu Dillah. Tidak beselang lama, Dillah membawakan obat yang Diana minta.
"Ini obatnya." Dillah menyerahkan semuanya pada Diana.
Diana mengamati obat yang diminum Angga sebelumnya. "Tidak ada yang salah dengan campuran obat ini, semuanya seperti yang aku resepkan."
Diana menegakan wajahnya memadang Yudha dan Dillah. “Mana Nizam?” tanya Diana.
"Setelah makan malam, aku tidak melihatnya lagi," ucap Dillah.
Tidak ada yang tahu di mana keberadaan Nizam, semua yang tersisa mulai berpencar mencari Nizam, sedang Diana menunggu mereka di depan kastil. Beberapa saat kemudian Yudha datang menyeret Nizam.
"Aku menemukannya!" seru Yudha.
Yudha mendorong Nizam ke hadapan Diana. “Dia mabuk!”
Diana sangat miris melihat keadaan Nizam, tapi pertanyaan yang berputar di kepalanya harus dia tanyakan. "Apa rekam medis Angga yang kamu berikan padaku sudah lengkap semuanya?” tanya Diana.
"Lengkap, Diana."
"Yakin semua obat yang pernah diminum Angga sudah kamu masukan ke daftar?" tanya Diana lagi. "Coba cermati ini!" Diana memberikan obat yang dia resep.
Nizam seketika terdiam saat melihat beberapa logo yang tertera pada obat yang Diana berikan.
__ADS_1
"Kalau benar yang kamu tulis itu semuanya, maka semua ini tidak mungkin terjadi!" Diana terlihat begitu hancur.
Nizam mulai menyadari kesalahannya. “Ya Tuhan … sepertinya Angga mengkonsumsi salah satu obat yang berlawanan dengan obat ini, dan dia menyembunyikanya dariku, mungkin juga dia menyembunyikannya dari kita semua.”
“Bukankah sudah ku peringatkan dari awal! Dekati dia dan pastikan kamu tahu jenis obat apa saja yang dia kunsumsi!” Diana terlihat sangat marah.
Semua orang menatap Diana dengan tatapan tidak percaya, seorang Mahasiswi Kedokteran memerintah seorang dokter hebat dan berani memakinya.
“Kalau sudah seperti ini terlambat!” ringis Diana. “Apa gunanya kamu menjadi dokter hebat! Pasienmu mengkonsumsi jenis obat apa saja kamu lengah!” maki Diana.
Nizam sadar obat yang di konsumsi Angga menghalangi kinerja obat yang Diana berikan. “Maafkan aku Diana, semua ini salahku, andai keluarga Agung menuntut, aku siap bertanggung jawab.”
Diana menoleh kearah Dillah. “Bawa aku ke Rumah Sakit secepatnya.”
Dillah segera mengambil mobil, mereka semua segera masuk ke dalam mobil. Dillah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Sesampai di Rumah Sakit, mereka semua berlari menuju UGD. Melihat Ivan begitu tertekan, Diana menarik Ivan kedalam pelukannya, berusaha menenangkan laki-laki itu dalam pelukannya.
"Tenanglah, kak Angga laki-laki kuat, dia pasti bisa melalui semua ini." Diana menepuk lembut pundak Ivan.
“Aku tidak rela kalau kakakku kenapa-napa,” ringis Ivan.
“Tenanglah, Kak Angga akan baik-baik saja, kita butuh waktu dan aku butuh salah satu obat untuk kesembuhan kak Angga," ucap Diana.
"Aku akan melakukan apa saja demi obat yang bisa menyelamatkan Kakakku." Ivan terus meringis dalam pelukan Diana.
"Aku akan membantumu mendapatkan obat itu, setelah mendapatkan obat itu, Kak Angga akan segera pulih.”
"Lakukan apa saja demi keselamatan Kakakku, Diana."
Diana mengusap lembut pundak Ivan. Semua yang ada di sana membisu melihat pemadangan yang ada di depan mata mereka.
Merasa Ivan mulai lebih baik, Diana perlahan melepaskan pelukannya. Nizam perlahan mendekati Diana, dia berdiri di samping Diana. "Semua kecelakaan yang terjadi karena kecerobohanku, apapun yang terjadi, jangan menyalahkan Diana." Nizam terus menunduk.
Seorang laki-laki berjalan kearah mereka, laki-laki itu memandang kearah Diana. “Dok, ruang operasi sudah siap.”
Semua yang ada di sana mengira kalau laki-laki itu berbicara dengan Nizam.
“Baiklah, saya akan berusaha semampu saya untuk menyelamatkan Angga,” ucap Nizam.
“Aku tidak mengizinkan siapa pun memasuki pintu itu!” teriak Ivan.
__ADS_1
Nizam mematung, dia tidak berani melangkah untuk memasuki ruangan itu karena larangan Ivan.
“Kecuali Diana.” Ivan meraih kedua tangan Diana. “Diana, tolong kakakku, aku percayakan dia padamu, aku serahkan keselamatannya di tanganmu."