
Ivan memilih taman samping rumahnya untuk menerima panggilan dari Diana. Ivan duduk di salah satu bangku taman. "Diana."
"Hmmm ...."
Rasanya sangat indah, bunga-bunga yang bermekaran di depan matanya, berada di bawah lampu taman yang bersinar terang, ditambah mendengar suara Diana. Ivan merasa tempat ini sangat mendukung suasana hatinya.
"Kenapa lama?" Tanya Diana di ujung telepon sana.
"Aku mencari tempat yang nyaman untuk berbicara denganmu," sahut Ivan.
"Tidak terasa, hampir satu bulan kita tidak bertemu," ucap Diana.
"Hmmm, hidupku terasa hampa, Diana. Apalagi saat mendengar laporan Dillah, laporan Dillah, kamu bekerja terus menerus, jam tidur dan jam makanmu berantakan, sarapan saat hampir siang, makan siang saat hampir sore, dan makan malam saat dini hari. Katanya … bahkan kamu sering tidak makan."
"Kan itu katanya, bukan kataku," ucap Diana.
"Diana, tolong jaga dirimu baik-baik di sana, kalau kamu kenapa-napa, jangan salahkan aku jika aku menyusulmu."
"Bukankah kalau aku sakit, malah kamu bisa dekat denganku? Karena dokter yang mampu merawatku hingga sembuh hanya kamu," goda Diana.
"Jangan menguji kesabaranku, Diana. Sejak kemaren aku ingin menyusulmu."
"Aku sengaja seperti ini, karena kalau aku sakit, kamu sangat memperhatikanku," goda Diana.
"Kamu tidak sakit pun, aku selalu memperhatikanmu, dipikiranku saat ini hanya ada kamu," ucap Ivan.
"Diana, jaga dirimu ya. Jangan sampai aku mendengar berita buruk tentangmu, jika itu ku dengar, aku bisa kehilangan kesabaranku lalu menyusulmu ke sana," ucap Ivan.
"Aku meragukan kamu berani menyusulku," goda Diana.
"Jangankan ke Jerman! Ke kutub utara pun kamu akan ku susul!" ucap Ivan penuh keyakinan.
__ADS_1
Dari kejauhan, Agis sangat kesal melihat Ivan terlihat sangat lepas dan bahagia, berbeda jauh saat bersamanya. Agis terus tenggelam dengan kekesalannya, hingga dia tidak menyadari kalau Ivan sudah selesai bertelepon dengan Diana.
"Agis? Kenapa kamu di luar?"
Sontak pertanyaan itu mengejutkan Agis. Agis berusaha mengembalikan sisa kesadarannya. "Itu makan malam akan di mulai, kasihan mereka masih menunggumu, makanya aku ke sini untuk memanggilmu," kilah Agis.
"Aku baru saja bicara dengan adikmu, kenapa dia sangat keras kepala?"
Rahang Agis mengeras mendengar Ivan menyebut nama Diana.
"Aku mengutus Asistenku untuk menjaganya, Asistenku sering melapor, katanya Diana sering tidak makan di sana, dia terlalu sibuk dengan tugas kuliah, kalau dia sakit bagaimana?" Wajah Ivan terlihat sangat cemas.
Agis berusaha menyembunyikan kekesalannya. "Asisten? Jadi selama ini kalian masih berhubungan baik? Bukankah beberapa waktu lalu ada berita, katanya pertunangan kalian putus."
"Putus? Pertunanganku dan Diana tidak pernah putus, dan tidak akan putus. Kamu ada di sini karena ikatanku dengan Diana, dan aku sangat menghormatimu, karena kamu calon Kakak iparku, walau kalian hanya saudara tiri, tapi pernikahan ibumu dan Ayah Diana, membuat kalian menjadi saudara bukan?" ucap Ivan.
"Ayo kita kedalam." Agis berusaha mengalihkan fokus Ivan dan berusaha mengusir rasa kecewa yang kini menyelimuti hatinya.
Makan malam berjalan lancar, dihiasi perbincangan ringan setiap Anggota keluarga. Setelah makan malam selesai, Jennifer pamit undur diri pada keluarga Ivan. Saat yang sama, Agis dan Aridya juga berpamitan.
Di luar rumah Agung Jaya.
Jennifer berdiam diri di dekat mobil Angga, karena Angga masih berbincang dengan keluarganya di dalam. Jennifer menyusul seorang laki-laki yang bersembunyi di luar pagar rumah Ivan.
"Berapa Agis membayarmu?"
"Apa maksud Nona?" Laki-laki itu pura-pura tidak mengerti.
"Berikan semua foto yang kamu ambil, dan jangan pernah mempublish berita itu." Jennifer memberikan tiga ikat uang dengan pecahan besar.
"Bekerja sama denganku, lalu pulang berkumpul dengan keluargaku, atau bekerjasama dengan Agis, dan hidupmu tidak tenang karena membuat seorang Agung Jaya marah, karena privasi mereka di umbar?"
__ADS_1
Laki-laki itu langsung memberikan kartu memory kameranya pada Jennifer.
"Pilihan yang bagus," ucap Jennifer.
Laki-laki itu segera pergi meninggalkan kediaman Agung Jaya dengan wajah bahagia.
Saat Jennifer berbalik, dia Melihat Agis dan ibunya baru keluar dari pintu utama, keduanya berjalan menuju mobil Ivan, jennifer langsung menyusulnya.
Brakkk!
Tubuh Agis terpental di sisi mobil Ivan karena dorongan dari Jennifer.
"Berani-beraninya kamu mendorong putriku!" Aridya ingin menyerang Agis, tapi dia jua terlempar dan terjatuh ke tanah.
Jennifer mencekik leher Agis. "Licik sekali dirimu, kamu membayar paparazzi supaya kabar malam ini diketahui publik, apa kamu tidak malu? Ivan sedikitpun tidak mencintaimu! Jangkan mencintaimu, melihatmu saja dia tidak!"
"Lepaskan putriku anak kampung!" hardik Aridya.
Jennifer melepaskan cengkramannya pada Agis, membuat perempuan itu terbatuk-batuk.
"Perempuan kasar dan barbar sepertimu tidak pantas mendampingi Angga!" maki Aridya.
"Sudah miskin! Kasar! Ditambah tidak punya sopan-santun!" Ucap Agis.
"Kamu belum tahu bagaimana pengaruh kami di kota ini, kamu akan merasakan akibatnya jika mencari gara-gara dengan kami!" Ucap Aridya.
Jennifer membusungkan dadanya. "Kita lihat besok, siapa yang kena imbas buruk karena kelakuan busuk, aku atau kamu!" Ujung jari telunjuk Jennifer mengarah pada Agis.
"Kau Nona Wagiswari Wulandari, besok pagi Anda harus datang ke Perusahaan Widori Group, ada kejutan yang menunggumu di sana!" Jennifer ingin meneruskan memaki Agis, namun dia melihat Ivan. Entah apa yang Ivan pikirkan, dia terlihat berjalan kembali ke dalam rumah.
"Ivan!" Panggil Jennifer.
__ADS_1
Merasa namanya dipanggil, Ivan berbalik kembali, dan berjalan mendekati Jennifer. "Iya, Kakak Ipar?"