
Fredy masih memohon pada Diana, agar Diana mau melakukan Operasi pada temannya. "Aku tidak tahu, atas dasar apa kamu bersedia menolongku, mengingat sebelumnya aku melakukan kesalahan besar. Tapi, aku tetap mengemis pertolonganmu demi keselamatan seseorang? Aku sangat yakin, jika kamu yang melakukan operasi, temanku pasti selamat."
"Hidup atau tidaknya seseorang, selamat atau celaka, semua itu di tangan Tuhan, Fredy." ucap Diana.
"Memang benar, tapi perantara pertolongan Tuhan dalam tindakan medis yang sangat indah adalah dirimu."
Fredy menatap sendu pada Diana. “Aku sudah merasakan sendiri, bagaimana karunia Tuhan yang DIA titipkan pada kedua tanganmu dan otakmu, sebab itu—” Fredy tidak bisa mengatakan kalau dia rela mendedikasikan sisa hidupnya hanya untuk membantu Diana.
"Aku hampir putus asa, karena bermacam pengobatan dan terapi aku jalani, semua itu gagal, tapi karena pertolonganmu aku sembuh, dan aku sehat hingga detik ini. Aku berharap, temanku juga bisa merasakan bagaimana keajaiban yang aku rasakan, saat dia menerima pertolongan medis darimu, Diana."
Diana diam, dia ingat kalau pernah menolong Fredy sebelumnya. “Baiklah, aku akan melakukan operasi pada temanmu, dengan tarif 10 kali lipat dari tarif normal.”
Fredy tersenyum, dia sangat bahagia. “Jangankan 10 kali lipat, 100 kali lipat pun tetap aku bayar.”
"Kirimkan via email riwayat penyakit temanmu, beserta rekam medis yang lain, juga kirimkan aku video keadaanya saat ini. Ingat hanya itu, jangan coba-coba mengirim pesan selain itu!"
"Pembayarannya aku bayar di depan," ucap Fredy.
“Urusan itu bisa di bahas nanti, saat ini aku ingin pulang, aku Lelah.” Ucap Diana.
Fredy hanya tersenyum, dan segera pergi dari sana.
Nizam mencermati keadaan Diana, dia merasa Diana terlihat sangat Lelah. “Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik-baik saja, aku hanya mengantuk.”
Nizam tertawa. “Selama perjalanan dari Dubai kamu tidur sepanjang perjalanan, dan masih ngantuk?”
"Yang masih ingin berpejam mataku, aku hanya ingin memberikan haknya."
__ADS_1
“Diana.”
Sapaan seseorang membuat obrolan Diana dan Nizam terhenti, keduanya sama-sama menoleh kearah yang sama.
Cihh! Kenapa dia muncul secepat ini!
Nizam sangat kesal melihat Ivan ada di bandara ini. Sedang Ivan semakin dekat dengan mereka. Saat jaraknya dengan Diana hanya tinggal beberapa meter lagi, senyuman yang sebelumnya menghiasi wajah Ivan seketika lenyap.
“Diana, kamu sakit?” Ivan menaruh punggung telapak tangannya diatas alis Diana.
“Aku baik-baik saja, aku hanya mengantuk, aku tidak apa-apa.” Diana menepis tangan Ivan yang mendarat di atas keningnya.
“Ya, terus saja bilang baik-baik saja, Diana sangat keras kepala, dan aku kewalahan untuk menasehatinya,” celoteh Nizam.
“Simpan buat nanti ceramahmu, saat ini aku akan membawa Diana pulang bersamaku," ucap Ivan.
“Kalau terjadi apa-apa, tolong kabari aku. Dia seperti ini karena mengikutiku,” ucap Nizam.
“Kami duluan, terima kasih untuk jalan-jalan gratisnya.” Diana melambaikan tangannya pada Nizam.
Nizam juga segera memacu langkahnya menuju mobilnya.
Selama dalam perjalanan menuju Apartemen, Ivan selalu memperhatikan Diana, dia merasa ada yang tidak baik, Ivan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga mereka sampai di Apartemen lebih cepat. Diana tidak bicara apa-apa, dia langsung menuju kamarnya. Saat ini dia hanya ingin membersihkan diri dan tidur.
“Diana, tunggu dulu, aku buatkan teh manis hangat untukmu."
Tapi Diana tetap terus menuju kamarnya. Ivan bergegas menyeduh teh untuk Diana, selesai, dia segera membawa secangkir teh hangat menuju kamar Diana.
Ivan berulang kali mengetuk pintu kamar Diana, tapi tidak juga mendapat jawaban, Ivan perlahan mendorong pintu kamar, saat daun pintu terbuka, sangat jelas Ivan melihat Diana berbaring diatas tempat tidurnya. Ivan tersenyum, dia teringat melakukan video call lama dan hanya memandangi wajah Diana dari layar handphonenya.
__ADS_1
Ivan terus masuk ke kamar Diana, dia ingin melihat langsung saat Diana tertidur. Ivan menaruh gelas teh di nakas yang ada di dekat Diana, sedang dia duduk lantai, dia memandangi Diana begitu dalam.
“Wajah yang sangat cantik.” Ivan mengusap lembut bagian-bagian wajah Diana. “Saat tertidur seperti ini wajahmu terlihat begitu hangat, penuh cinta, berbeda sekali dengan saat kau bangun. Saat kau sudah bagun, jutek, dingin, dan sangat tidak peduli. Tapi di balik semua sikap menyebalkanmu, ada sifat ketulusan yang penuh cinta di dalam sana.”
Ivan terus memandangi wajah Diana dan mengusap lembut berulang kali. “Selamat istirahat Diana.” Ivan mendaratkan ciuman lembutnya diantara kedua alis Diana, dia bangkit dari posisinya, berniat membenarkan selimut yang menutupi tubuh Diana.
Belum sempat Ivan meraih selimut yang hanya menutup sampai batas pinggang Diana, saat yang sama Diana bergerak, Ivan sangat tegang, dia pikir wanita itu bangun, tapi Diana hanya mengubah posisi tidurnya, kedua matanya masih terpejam rapat. Ivan merasa sedikit lega, namun kelegaan itu seketika berubah menjadi rasa panik, kala kedua matanya melihat memar pada pinggang Diana. Ivan menaikkan atasan piyama tidur yang Diana kenakan. Dia teringat akan rekaman video yang diperlihatkan Narendra padanya.
“Ini pasti ulah premannya tante Wilda.”
“Ini juga karena Dillah, dia telah menjebakmu, dan kamu malah memaafkannya.” Ivan sangat marah mengingat kejadian pengeroyokan itu. "Mengingat semua ini, bagaimana bisa aku memaafkan Dillah?!"
"Andai dia sudah mati, kekesalanku sedikit berkurang." Ivan terus marah-marah sendirian.
Ivan duduk di sisi Diana, dan perlahan menggoyangkan tubuh Diana. “Diana, bangun. Kita ke Rumah Sakit sekarang.”
"Diana." Ivan berulang kali menepuk lembut bahu Diana. Dia terus berusaha membangunkan Diana.
“Diana.”
Berulang kali Ivan membangunkan Diana. Tapi, Diana tetap hanyut dalam tidurnya.
Ivan mengalah, dia segera keluar dari kamar Diana, memberi Diana waktu untuk beristirahat.
**
4 jam berlalu, Ivan kembali ke kamar Diana, berusaha membangunkannya, tapi wanita itu tetap tidak bangun. Ivan semakin khawatir. Ivan menyentuh bagian atas alis Diana, dan dia merasakan suhu tubuh Diana yang tidak normal. Ivan segera menelepon dokter dari klinik lain untuk memeriksa Diana.
Hanya menunggu beberapa menit seorang dokter dan perawat perempuan datang, dan memeriksa keadaan Diana. Ivan menjelaskan kegiatan Diana sebelumnya. Dokter itu segera memasang infus di punggung tangan Diana.
__ADS_1
Setelah beberapa macam obat disuntikan pada selang infus, akhirnya keadaan Diana mulai membaik. Selang infus pun di lepas dari punggung telapak tangan Diana. Seharian ini tidak beranjak dari sisi Diana, bahkan makan dan minumnya hanya di kamar Diana. Ivan terus berada di sisi Diana, dia melepaskan semua pekerjaanya demi menjaga Diana.