
Virus yang berkembang dalam tubuh Agis dan Nazif, hampir sama dengan Virus yang membunuh mamamu, juga persis dengan Virus yang mendera CEO EDGE Group, siapa namanya aku lupa." Russel berusaha mengingat CEO yang berusia 38 tahun itu.
"Fredy."
"Yup! Fredy. Dulu kamu sangat mudah menyembuhkannya, dengan beberapa metode kuno dan sedikit keahlianmu, dia sangat mudah sembuh. Tapi untuk kasus Agis dan Nazif, tidak perlu melakukan operasi."
"Iya aku mengerti, biarkan aku melakukan tugasku." Diana segera menuju ruang ganti, dia mengenakan pakaian keamanan, dan segera memasuki ruangan Agis dan Nazif.
Di luar Aridya terus menangis dan terus mondar-mandir berharap keajaiban itu mau mendatanginya.
"Selamat siang, Nyonya Aridya. Sepertinya kedua anak Anda akan selamat, dokter hebat yang dulu berhasil menyembuhkan penderita yang sama seperti kedua anak Anda, saat ini dokter itu sudah melakukan pertolongan."
Aridya berlari kearah ruangan penanganan kedua anaknya, terlihat beberapa orang melakukan pertolongan pada kedua anaknya. 1 jam berlalu, akhirnya dokter itu keluar, dan Aridya langsung berlari mendekati dokter itu.
"Bagaimana keadaan kedua anak saya, dok?"
Dokter itu membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Kau?!" Aridya syok melihat penolong itu adalah Diana. Seketika Aridya jatuh tak sadarkan diri.
Para perawat langsung mengangkat Aridya dan membawanya ke ruangan Diana, atas permintaan Diana. 20 menit berlalu, kini di dalam ruangan itu hanya ada Diana dan Aridya.
Perlahan Aridya mengerjapkan matanya, saat matanya terbuka sempurna, dia menyisir ruangan tempatnya berada. Hingga dia menemukan sebuah papan nama yang bertuliskan dr. Diana Rahma Adelia Bramantyo.
"Sudah sadar, Nyonya? Bagaimana perasaanmu?" tanya Diana.
"K-k--kau--" Aridya terbata menyadari siapa Diana.
"Kedua anakmu selamat, hanya menunggu beberapa jam lagi, mereka akan sadar," ucap Diana.
"Kenapa kamu menolongku? Kenapa kamu menyelamatkan kedua anakku?"
"Mengingat apa yang kamu lakukan pada ibuku, pada dasarnya aku ingin membunuhmu! Tapi jika aku melakukan itu, apa bedanya aku dan kamu?"
"Kau membunuh ibuku karena mencintai Ayahku, dan aku menyelamatkan kedua anakmu demi cintaku pada kedua orang tuaku."
Aridya terisak, sepanjang hidupnya dia ingin menghabisi wanita yang berdiri di depannya ini.
__ADS_1
"Silakan keluar dari ruanganku," usir Diana.
Perlahan Aridya menyeret kedua kakinya meninggalkan ruangan Diana. Rasa sesak karena terkurung dalam ruangan sempit, atau dihunus jutaan anak panah, rasanya masih sakit keadaan hatinya saat ini.
"Hiks!" Aridya terus tenggelam dalam tangisnya.
Di ruangannya, Diana hanya diam. Dia tidak tahu harus apa, saat melihat Nazif dan Agis sekarat, bayangannya adalah ibunya.
Drtttttt!
Getaran Handphone membuat Diana tersadar dari lamumannya.
"Nona Diana?"
"Iya, dengan saya sendiri, ini siapa ya?"
"Saya salah satu utusan kantor catatan pernikahan, kemana saya harus mengantar dokumen pernikahan Anda?"
"Biar aku saja yang mendatangimu, Pernikahan kami masih kami ingin jadikan kejutan bagi keluarga," sahut Diana.
"Baiklah, kalau Anda berkenan menyusul saya, saat ini saya ada di gedung catatan Pernikahan di kota Anda."
***
Perjalanan udara Ivan.
Perjalanan masih jauh, Yudha menoleh pada Anton. “Anton, setelah usaha kami menyingkirkan perusahaan kecil yang merugikan mayarakat dan hanya memperkaya dirinya sendiri, Agung Jaya akan berusaha mensejahterakan warga di sekitar tambang."
"Bagus itu, jadi orang kecil di sana juga merasakan kesejahteraan," sahut Anton.
"Semoga itu bisa menjadi contoh langsung untuk penduduk desamu nanti. Jika kepala Suku mu tertarik dengan perkembangan yang ada, lalu mengizinkan tanbang untuk dibuka, apakah kamu mau bekerjasama dengan kami?” rayu Yudha.
“Kami semua tidak tertarik dengan materi, hidup nyaman di alam yang indah, ini saja tujuan kami,” sahut Anton.
Yudha bingung bagaimana lagi membujuk Anton. Yudha menoleh pada Ivan. “Van, ayolah bujuk Anton ….” Rengek Yudha.
“Lupakan kalau di desa itu banyak berlian, hormati keputusan kepala suku di sana. Andai mereka ingin harta dan tahta, tanpa mengeruk perut bumi pun mereka bisa kaya, kamu lupa siapa saja yang tinggal di sana?”
__ADS_1
Yudha membisu, dia baru ingat kalau banyak orang hebat sembunyi di desa itu, termasuk Anton sendiri, yang menggratiskan T779, padahal obat itu sangat bernilai tinggi. Desa itu bukan hanya menyimpan berlian yang berupa batu, tapi berlian yang sangat berharga bagi Dunia, yaitu orang-orang cerdas seperti dokter Zelin dan Diana.
Di sisi lain.
Nizam sangat sibuk menyelesaikan berkas perceraian Archer dan Arli. Archer melimpahkan kasusnya pada Nizam. Saat Nizam keluar dari Gedung catatan pernikahan, dia bertemu sahabat lamanya.
“Marko!” Nizam sangat semangat, dia langsung memeluk sahabatnya itu. “Tumben kamu ke sini, ada apa?”
“Aku di utus untuk mengantarkan catatan Nikah, warga negara ini, beberapa waktu lalu mereka menikah di Jerman.”
“Kamu pasti sulit menemukan alamatnya bukan. Bagaimana kalau aku antar?” tawar Nizam.
“Tidak perlu, aku sudah berjanji dengan mempelai wanita bertemu di sini.”
“Marco Jarod?”
Mendengar namanya di sebut, laki-laki yang berdiri bersama Nizam menoleh kearah suara itu berasal. “Wah Nona Diana, cepat sekali Anda, baiklah, langsung saja ya. Ini dokumen yang berisi catatan pernikahan Anda.” Marco memberikan dokumen itu pada Diana.
“Terima kasih,” ucap Diana.
“Sama-sama, tapi maaf saya harus langsung pergi,” ucap Marko.
Mengingat yang mengambil adalah mempelai wanita, dan yang datang adalah Diana, membuat Nizam bungkam.
“Nizam, maafkan aku. Aku harus pergi masih banyak pekerjaan yang harus aku urus, nanti kita telepon lagi ya.” Marco tidak bisa tinggal lebih lama, dia langsung pergi dari sana.
Merasa di sana hanya ada mereka berdua, Nizam menatap tajam pada Diana. “Apa yang aku dengar tadi mimpi?”
“Apa yang kamu dengar, itulah yang telah terjadi,” sahut Diana.
“Kapan kalian menikah?”
“Saat aku berada di Jerman, Ivan menyusulku, dan kami menikah di salah satu gereja yang ada di st peter ording.”
“Keputusanmu menikah di usia muda membuatku terkejut, kamu tahu sendiri kehidupan setelah pernikahan itu ribet.”
“Tidak selalu, malah kehidupanku terasa lebih indah, Ivan laki-laki yang sangat pengertian dan penuh cinta.”
__ADS_1
“Apa tujuanmu menikah dengan Ivan, Diana?”
“Uang.” Wajah Diana sangat serius.