Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 110 Bahasa Apa?


__ADS_3

Nizam panik melihat wajah Diana begitu serius. “Ada apa Diana?”


“Keadaan Angga menurun, harusnya di detik-detik seperti ini ada keluarga yang menemaninya, sepenting apa bisnis mereka? Sehingga mereka meninggalkan Angga  sendirian di sini.”


“Kakek Agung pulang pastinya beliau panik Diana, karena membaca berita tentang pemutusan pertunanganmu dengan Ivan. Kakek Agung sepertinya mengetahui betapa istimewanya dirimu, dan beliau tidak rela kalau pertunangan kalian putus, ini pemikiran aku.”


Diana terdiam, ucapan Nizam sangat masuk akal. Mobil terus melaju menuju Rumah Sakit Profesor Hadju, sesampai di sana, Diana segera berlari menuju ruang operasi. Semua tim yang dipersiapkan Profesor Hadju juga sudah siap, bahkan beliau sendiri turun tangan membantu Diana untuk mengoperasi Angga.


Waktu terus berjalan, tim dokter sudah berapa kali pergantian shift, begitu juga profesor Hadju, Diana meminta dengan lembut agar gurunya tidak terlalu Lelah. Nizam berada di ruangan khusus, sedang dua sekretarisnya dia minta untuk menunggunya di hotel. Kini Nizam sendiri di ruangan VIP yang di sediakan Profesor Hadju untuknya beristirahat. Sambil menunggu Diana melakukan operasi, Nizam melakukan pekerjaan kantornya.


16 jam berlalu, Diana bisa bernapas lega, akhirnya proses operasi Angga berjalan lancar. Diana meminta izin menggunakan telepon Rumah Sakit untuk mengabari keluarga Agung di Negara yang berbeda. Diana memilih nomor telepon Sofian, berulang kali dia menghubungi nomor itu, tetap tidak bisa terhubung, Diana segera menelepon nomor Rani, sama juga tidak terhubung. Akhirnya Diana menekan nomor telepon kediaman kakek Agung.


Tutttt!


“Halo. Dengan kediaman keluarga Agung Jaya, ada yang bisa saya bantu?”


Terdengar sapaan dari ujung telepon sana. Diana mengenali itu suara Daima, kepala pelayan di sana. “Saya perwakilan dari dokter hebat yang menangani operasi Tuan Angga, putra dari Keluarga Agung, saya sudah mencoba menghubungi nomor kedua orang tua pasien, tapi tidak terhubung. Saya hanya mengabarkan, kalau operasi Tuan Angga berjalan lancar.”


“Terima kasih Nona, nanti akan saya sampaikan pada Tuan Besar. Untuk Tuan Sofian dan Nyonya Rani, mereka saat ini dalam perjalanan menuju Dubai.”


“Hanya itu yang ingin saya sampaikan, terima kasih.”


Diana kembali ke ruangan para tenaga medis yang menangani Angga. “Jika nanti keluarga pasien datang, kalian terangkan saja apa saja yang dilakukan saat perawatan lanjutan pasca operasi.”


“Baik dokter.”


“Berikan juga resep yang saya simpan dalam amplop ini pada keluarga pasien.”


“Siap dokter.”


“Halo dokter hebatku.”


Sapaan itu menyita perhatian Diana. Dia tersenyum melihat kedatangan Profesor Hadju.


“Bisa ikuti aku sebentar?” tanya Profesor Hadju.


“Tentu saja Prof, tapi izinkan saya mengganti pakaian saya dulu.”


**


Setelah mengganti pakaiannya, Diana mengikuti Profesor Hadju, hingga mereka sampai di salah satu ruangan. Ruangan itu bertuliskan Kepala Rumah Sakit, saat pintu ruangan terbuka, ternyata di sana sudah ada Nizam.


“Perkenalkan Diana. Dia itu seseorang yang aku percaya untuk mengemban tugas sebagai Kepala Rumah Sakit di sini, namanya Ismail Hamid.”


Diana dan kepala Rumah Sakit saling memperkenalkan diri.


“Ini kesempatan yang sangat luar biasa, selagi saya bisa bertemu langsung dengan penulis buku ini.” Ismail mengeluarkan salah satu buku dari laci. “Bolehkah saya meminta tandatangan Anda?”


Diana tersenyum, dia segera membubuhkan tandatangan di sana.


“Dan ini adalah undangan seminar untukmu Diana.” Profesor Hadju memberikan satu undangan pada Diana. “Bukankah kamu berjanji padaku akan melakukan seminar kalau kamu datang ke negara ini lagi?”


Diana tersenyum, dia menerima undangan yang Profesor Hadju berikan. “Saya akan usahkan untuk datang, Prof.”


Nizam memandangi Diana dengan tatapan kekaguman, bukan rahasia lagi jika prestasi Diana mendunia.


“Kalau teringat ini, ingin rasanya ku cekik nenekmu. Beberapa Universitas ternama Dunia memintamu mengajar di Universitas mereka, nenekmu malah mengirimmu ke pernikahan,” gerutu profesor Hadju.


“Keahlian Dokter Rahma Bramantyo sangat luar biasa, semua pencapaiannya tidak bisa diraih oleh kinerja otak, apa saja yang dokter Rahma Bramantyo lakukan adalah suatu keajaiban,” puji Ismail. Diana dikenal dengan nama Dokter Rahma jika di luar negri.


“Anda sangat berlebihan Pak,” sela Diana.


“Sama sekali tidak berlebihan, inilah fakta. Dan keajaiban yang Tuhan Karuniakan pada Anda, inilah yang mengundang segala bahaya yang selalu mengincar Anda, memegang suatu keajaiban, tanggung jawab juga sangat besar, jangan pernah menyerah dengan segala ujian yang terus menerus menerpa, dokter D'Rahma,” ucap Ismail.


"Walau ujian sangat berat, masih banyak orang-orang hebat berdiri bersama saya dan mendukung saya." Diana menyilangkan tangannya di pergelangan tangan Profesor Hadju.

__ADS_1


Di sana Diana melepas kerinduannya pada salah satu gurunya, yaitu Profesor Hadju. Lumayan lama berbincang banyak hal di sana, Diana mengajak Nizam untuk kembali ke hotel. Saat ini sekujur tubuhnya sangat kelelahan. Sesampai di hotel Diana dan Nizam masuk ke kamar mereka masing-masing.


Diana duduk di sisi tempat tidur, dia memeriksa nomor panggilan yang masuk di handphonenya, melihat ada Ivan di list panggilan masuk dan panggilan tidak terjawab, Diana langsung menghubungi nomor Ivan.


Tuttt!


Tidak menunggu lama akhirnya panggilan terhubung.


“Apa kamu tidak merindukanku?” ucap Ivan.


Diana merebahkan tubuhnya di tempat tidur, lelahnya seakan hilang mendengar suara Ivan.


“Kamu sedang apa?” tanya Ivan.


“Memejamkan mataku,” sahut Diana.


“Kamu ingin tidur?" Ivan terdengar putus asa.


Apa tidak ada kerinduannya untukku?


Ivan berusaha memahami keadaan Diana. "Pastinya kamu belum tidurkan? Ya sudah, tutup teleponnya dan tidurlah."


"Jempolku tidak bisa memutuskan panggilan ini, coba kamu lebih dulu yang matikan panggilan ini."


"Tidak, kamu duluan," ucap Ivan.


"Kamu dulu."


"Kamu." Ivan tidak mau mengalah.


"Ya sudah, kalau begitu aku memejamkan mataku saja, kalau aku tak menjawab, harap maklum."


"Aku tidak berharap jawaban darimu, Diana. Mendengar suara tarikan napasmu saja, aku sangat bahagia."


"Hmmm."


"Diana sedang memejamkan kedua matanya," ucapnya.


Ivan tertawa renyah mendengar jawaban Diana. Di ujung telepon sana, tidak dapat dipungkiri, Diana juga bahagia mendengar tawa Ivan.


"Kamu tahu, kenapa aku memejamkan mataku saat ini?"


"Karena kamu mengantuk dan lelah."


"Salah."


"Lalu?"


“Aku memejamkan mataku, karena aku membayangkan dirimu.”


Duggggg!


Jantung Ivan berdetak tidak menentu mendengar ucapan Diana.


“Dengan memejamkan kedua mataku, aku merasa kamu berada tepat di depan mataku,” ucap Diana.


Ivan tidak mampu lagi berkata atau bertanya, dia hanya bisa tersenyum, rasanya dirinya saat ini berada di tengah taman bunga.


“Kenapa diam saja? Aku sangat merindukan suaramu,” rengek Diana.


“Bagaimana aku bisa bicara, mendengar ungkapanmu, aku seakan kehilangan kemampuan untuk berbicara.”


“Bisa video call?” tanya Ivan.


Diana segera melakukan panggilan video dengan Ivan, tidak tahu harus berkata apa, melihat wajah Ivan menghiasi layar handphonenya, Diana sangat bahagia. Begitu juga sebaliknya, Ivan juga terlihat sangat bahagia. Keduanya hanya saling tatap, tidak tahu mengatakan kata apa lagi.

__ADS_1


"Kalau sudah cukup, matikan saja sambungan ini," usul Diana.


"Handphoneku eror, aku tidak bisa mematikannya," kilah Ivan.


Keduanya bersikeras tidak mau menyudahi panggilan video mereka lebih dulu. Diana sangat kelelahan, hal itu di sadari Ivan.


"Matikan saja, dan tidurlah," usul Ivan.


Diana hanya diam dan tetap memandangi layar handphonenya. Di luar batas kemampuan Diana, akhirnya dia tertidur, dan sambungan panggilan video mereka masih terhubung.


40 menit berlalu, Ivan membiarkan panggilan videonya dengan Diana terus terhubung.Dia hanya diam memandangi Diana yang tidur. Perlahan Diana mengerjapkan matanya, saat dia meraih handphonenya, dia hanya tersenyum melihat panggilan masih terhubung, Diana hanya memberi senyuman pada Ivan dan memutuskan panggilan Video mereka.


Diana merasa lebih bugar, dia memainkan game online di handphone, untuk mengusir kejenuhannya.


Ting! Tong!


Suara bel pintu membuyarkan konsentrasi Diana, Diana memastikan siapa yang memencet bel, melihat itu Nizam, Diana segera membukan pintu kamarnya. “Apa apa Nizam?”


“Cari makan yuk,” ajak Nizam.


Diana hanya menganggukkan kepalanya. "Sebentar, aku ambil tasku."


Tapi, langkah Diana tertahan saat melihat 12 orang mendekati mereka.


“ڈاکٹر رحمہ برامانتیو؟"


(Dokter Rahma Bramantyo?)


"ہاں، خود سے"


(Ya, dengan saya sendiri.) sahut Diana.


Diana menjawab ucapan mereka dengan Bahasa yang 12 orang itu fahami, sedang Nizam sama sekali tidak mengerti mereka bicara apa.


Nizam masih tercengang melihat 12 orang laki-laki mengenakan pakaian asli sana, mereka mengatakan sesuatu pada Diana.


"Mereka bicara bahasa apa?" tanya Nizam.


"Urdu," sahut Diana.


"کیا آپ ہمارے ساتھ آ سکتے ہیں؟"


ucap salah satu laki-laki.


(bisakah Anda ikut kami?)


"بالکل، ایک منٹ انتظار کریں۔"


(Tentu saja, tunggu sebentar.) sahut Diana.


Diana menatap Nizam. “Aku pergi bersama mereka, kamu tidak usah menungguku."


"Diana." Nizam meragukan orang-orang yang menjemput Diana.


"Tenang saja, mereka semua orang baik." Diana masuk ke kamarnya, dia mengambil tas dan handphonenya.


Diana menepuk lembut bahu Nizam. "Maaf aku tidak bisa menemanimu mencari makan.” Tanpa menunggu jawaban Nizam, Diana dan 12 orang laki-laki yang mengenakan gamis Panjang dan penutup kepala berjalan beriringan meninggalkan tempat itu.


***


Bersambung.


***


Untuk percakapan, aku salin dari Goo-gel transclate, kalau ada kekeliruan, maaf ya. Aku juga tidak bisa baca bahasa Urdu.

__ADS_1


Sepertinya untuk yang masalah akan datang, fokus pada karir Diana dalam dunia kesehatan.


__ADS_2