Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 266


__ADS_3

Di kantor Nizam.


Nizam sangat bangga dengan keberanian Nazif membuka siapa Diana. Selama ini publik selalu menyudutkan Diana sebagai anak Pelakor, kini semua bukti sangat jelas kalau Diana adalah pewaris sah Aset Bramantyo.


Sedang Diana merasa kesal dengan berita yang saat ini dia tonton. Melihat wajah Diana terlihat murung, Ivan menyadari ketidak nyamanan Diana.


"Jangan begitu, Aridya dan kedua anaknya hanya ingin membersihkan nama mamamu, apa kamu rela selamanya orang berpikir mamamu adalah Pelakor?"


Diana terdiam mendengari ucapan Ivan.


"Aku tahu kamu tidak peduli bagaimana pemikiran orang-orang terhadapmu, tapi niat Aridya, dia hanya ingin membersihkan nama mama mu."


Setiap penjuru kota yang mengetahui kisah cinta Charlie dan Alinka pun terkejut, mereka selama ini membully Alinka sebagai pelakor, teenyata yang dituduh pelakor itu adalah istri sah.


Seiring berjalannya waktu permasalahan itu perlahan menguap. Hari demi hari berlalu, akhirnya hari besar yang ditunggu, keamanan juga semakin diperketat. Area Universitas Bina Jaya seketika sepi. Terlihat penjagaan ketat berlapis di setiap jalan menuju Universitas itu.


Hari semakin siang, para Mahasiswa perlahan berkumpul di tempat acara. Saat Saras melintas di depan kamar Diana, saat yang sama Diana juga keluar dari kamarnya.


"Diana, aku pikir kamu akan melewatkan acara besar ini," ucap Saras.


"Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi keadaan mengharuskanku ikut."


Saras dan Diana berjalan bersama menuju tempat acara.


"Saras ...."


"Iya."


"Apapun yang kamu lihat di tempat acara nanti, ku harap hal itu tidak merubah ikatan kita."

__ADS_1


"Kamu bicara apa sih, aku nggak faham, Diana."


"Aku sosok yang misteri, aku hanya khawatir kamu tidak mau jadi temanku lagi saat kamu perlahan mengetahui segala rahasia tentangku. Bahkan setelah acara selesai, masih banyak rahasia yang belum terungkap."


"Nanti ngobrolnya. Kita simak acara dulu. Lihat, itu Anton Permana penemu T779." Saras sangat antusias mendengarkan Anton yang saat ini mulai memberi motivasi pada Mahasiswa Universitas Bina Jaya.


Melihat Saras begitu asyik menyimak, perlahan Diana meninggalkan tempat mereka, tempat Diana saat ini di tempati oleh Mahasiswi lain, Saras tidak menyadari itu, dia masih mengira Diana berada di sampingnya.


Diana berjalan cepat menuju tempat yang disiapkan untuknya, menurut jadwal, setelah Nenek Zelin memberi sambutan, saat itu Diana juga berdiri bersama Neneknya. Saat sampai di depan ruangan yang dikelilingi banyak penjaga itu, Diana memperlihatkan kartu akses miliknya. Pengawal yang berjaga itu begitu terpukau dengan sosok misterius itu. Dia langsung memperbolehkan Diana masuk.


Saat Diana masuk ke area itu, saat yang sama Rani melihat hal itu. Sontak Rani marah, dia berjalan menuju area terlarang itu. Dengan kemarahan yang berkobar, Rani menerobos penjagaan ketat itu.


"Maaf Nyonya, kartu Akses Anda tidak berlaku ke area ini."


"Kalian memperbolehkan si udik masuk, tapi malah melarangku untu masuk! Kalian tidak tahu siapa aku!?"


Rani semakin marah, dia tetap berusaha menerobos, sehingga salah satu petugas keamanan menempelkan alat pada Rani, saat juga Rani mematung karena aliran listrik yang penjaga itu alirkan pada tubuh Rani.


"Anda dilarang keras mengganggu ilmuan Negara!"


Rani semakin syok mendengar tempat itu, tempat untuk pada Ilmuan Negara. Otaknya masih mencoba memahami kenapa Diana bisa masuk dengan mudah.


Beberapa petugas membopong Rani meninggalkan Area itu, mereka mengantar Rani ke ruangan yang lain. Sedang yang lainnya mengadukan kejadian barusan pada Sofian dan menceritakan yang terjadi sebelumnya.


Sofian sangat kesal, padahal saat ini dia ingin mendengar langsung pidato Nenek Zelin, karena Rani, dia harus memeriksa keadaan istrinya. Sesampai di ruangan Rani di beri perawatan, Sofian mendekati istrinya itu.


"Mama kenapa cari masalah? Dulu mama bilang Diana sumber segala masalah, selalu mencari masalah, dan mempermalukan nama baik keluarga kita. Saat ini malah mama sendiri yang menimbulan masalah! Papa juga malu karena perbuatan nekat mama!"


"Ini salah Diana!" ucap Rani.

__ADS_1


"Berhenti menyalahakan Diana! Diana tidak melakukan apa-apa, masih saja mami menyalahkan dia!"


"Mama memberontak tadi karena melihat Diana!"


"Sudah, ini pidato dokter Zelin sudah selesai, papa tidak ingin ketinggalan bagaimana antusias melihat si Miss Genius datang."


"MG?"


"Iya, setelah sambutan dokter Zelin, saat itu miss Genius muncul."


Walau masih gemetaran karena kejutan getaran cinta dari alat petugas Keamanana, Rani berusaha menguatkan dirinya, sejak kemaren dia penasaran dengan soksok itu. Sofian meminta izin agar Rani bisa menyimak acara yang berlangsung.


Saat Rani dan Sofian meninggalkan ruangan itu, saat yang sama keduanya melihat Diana berjalan menuju tempat acara, tapi sangat banyak keamaman yang menjaga Diana.


"Lihat! Apa-apaan itu!" Rani berjalan cepat menyusul Diana.


"Mama! Jangan memancing keributan!" tegur Sofian.


Saat Rani hampir mencapai Diana, beberapa petugas keamanan pasang badan melindungi Diana.


"Sudah kami peringatkan! Dilarang keras mengganggu ilmuan Negara!"


"Terima kasih dokter Zelin, ini adalah hal sangat berharga dalam hidup kami semua, saat ini kami bisa melihat sosok menginspirasi seperti Anda."


"Nah, ini detik-detik yang kita tunggu, di mana inisial MG ini adalah orang yang sama, dia adalah ketua Organisasi IMO, juga dokter bedah hebat yang diperebutkan beberapa Negara. Jadi tidak perlu berlama-lama, kita sambut Dokter Bedah Rumah Sakit healthy Anda Spirite. Diana Rahma Adelia Bramantyo."


Suara tepuk tangan pun menggemuruh, namun lebih menggemuruh batin Rani saat mendengar pembawa acara menyebutkan nama Diana.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2