
Ivan sangat kesal dengan sikap ibunya. “Mama, tolong diam. Dengan mama membuat kekacauan seperti ini malah akan membuat kak Angga semakin memburuk.”
Diana tidak mempedulikan kemarahan Rani, dia memberi kode pada Tony untuk segera membawa koper itu menuju ruangan Angga. Diana dan Tony meninggalkan ruang tamu.
“Kemana kau gadis sialan!” maki Rani.
Diana tidak mempedulikan teriakan Rani, Diana menghentikan langkahnya. “Jika kalian percaya padaku, tolong jaga wanita itu agar tidak menggangguku.” Diana kembali meneruskan langkahnya.
“Dasar wanita udik tidak punya sopan santun!” teriak Rani.
Melihat Diana mendekati ranjang Angga, Rani semakin tidak bisa menahan diri, apalagi teman Diana mulai menutup tirai. “Untuk apa kamu mendekati anakku?!” Rani ingin menghampiri Diana, tapi Ivan dan Yudha menahannya.
“Lepaskan aku! Tidak ku izinkan wanita pembawa sial itu menyakiti Angga!”
“Mama! Tenang! Diana tidak akan menyakiti Angga! Dia malah menyelamatkan kak Angga!” ucap Ivan.
Kedua bola mata Rani terbelalak mendengar penjelasan Ivan. Sofian juga tidak kalah terkejut mendengar hal itu.
"Menyelamatkan?" Sofian sangat tidak percaya dengan ucapan Ivan.
Andai dia tidak punya janji pada Diana, ingin rasanya dia mengatakan kalau Diana adalah dokter hebat yang mereka kagumi.
"Ceritanya panjang, saat ini dengan percaya pada Diana, itu cukup," ucap Ivan dengan nada yang lemah.
Yudha mendekati Ivan dan berbisik. “Ivan, sebaiknya kamu bawa tante Rani ke ruangan lain, berada di sini tante hanya terus membuat kekacauan,” usul Yudha.
Ivan merasa usul Yudha sangat bagus. “Mama, tolong ikut aku sebentar, ada yang ingin aku bicarakan.” Tanpa menunggu jawaban ibunya, Ivan meraih pergelangan yangan ibunya dan membawa ibunya keluar dari ruangan Angga.
"Ivan! Yang harusnya kamu seret meninggalkan ruangan ini adalah wanita desa dan teman udiknya itu!"
"Ivan! Di mana otakmu! Kamu membiarkan wanita sialan itu bersama Angga, dan malah membawa mamamu pergi dari sana."
Rani terus berontak dan berteriak, tapi Ivan tetap menyeret ibunya menuju ruangan khusus.
Di dekat ranjang perawatan Angga, Tony mengintip keadaan dibalik tirai itu.
"Maafkan mamaku, Diana. Dia hanya terlalu sayang pada kami," ucap Angga.
"Aku sangat memahami kasih sayang tante pada kalian," ucap Diana.
"Andai mamaku merasakan sendiri bagaimana pertolonganmu, aku yakin kebenciannya padamu akan padam."
__ADS_1
Diana tidak membalas perkataan Angga, dia memilih fokus pada koper besar yang dibukakan Tony di hadapannya.
Saat Diana mendekat padanya untuk mengambil beberapa benda yang ada di koper itu, Tony mendekatkan wajahnya ke sisi telinga Diana. “Apa perlu ku habisi wanita yang lancang tadi?” bisiknya.
Diana menegakan wajahnya, pandangan matanya saling beradu dengan Tonny. “Jangan ikut campur urusan ini.” Diana kembali fokus pada benda yang menjadi tujuannya.
Diana mengambil 5 jarum suntik, dan dia mengisi suntikan itu dengan cairan yang berbeda. Sekilas Angga melihat logo yang tertera pada obat yang Diana pegang. Angga sangat tahu obat yang Diana gunakan saat ini adalah obat yang sangat mahal dan langka.
Kedudukan tinggi di negara ini tidak menjamin bisa dengan mudah memiliki obat itu. Angga menatap Diana dengan tatapan kekaguman.
Bagaimana seorang gadis desa seperti Diana bisa memiliki obat yang sangat berharga itu?
Pikiran Angga tentang obat buyar, saat dia melihat Diana begitu dekat dengan laki-laki yang berdiri di sampingnya.
Beruntung saat ini Ivan sudah pergi dari sini, kalau dia melihat pemandangan ini, yang ada aku akan semakin pusing melihat Ivan yang terbakar kemarahan dan kecemburuannya.
Diana mulai menyuntikan obat itu pada Angga.
"Seorang dokter itu adalah teman, lain kali jujurlah pada dokter Anda, Kak. Kalau Kak Angga menutup diri, yang celaka Kak Angga sendiri. Dokter hanya manusia biasa Kak, bukan Tuhan yang tahu segalanya tanpa Kakak kasih tau," ucap Diana.
"Maafkan aku, Diana. Bukan maksudku tidak jujur."
"Kak Angga memburuk seperti ini, karena dokter Kakak tidak tahu jenis obat apa saja yang Kak Angga konsumsi selama ini."
Beberapa Saat mereka menunggu, setelah selesai dengan waktu yang mereka tentukan, Diana kembali membuka tirai pembatas, dia dan Tony keluar beegitu saja dari ruangan Angga tanpa menyapa siapa pun.
Setelah Diana pergi, Sofian langsung mendekati putranya. “Bagaimana keadaanmu?”
“Aku semakin membaik, papa.”
**
Di ruangan lain.
“Kenapa kamu memilih mengeluarkan ibumu dari ruangan Angga?!" maki Rani.
“Mama, andai mama bisa tenang aku tidak akan membawa mama pergi dari sana,” ucap Ivan.
"Kau lebih percaya pada si kampungan itu?!"
"Mama, aku tidak bisa menjelaskan, tapi percayalah pada Diana, mama."
__ADS_1
“Kau pikir mamamu ini akan percaya padamu? Buktikan pada mama kalau Diana sehebat yang kamu katakan?”
“Mama, aku tidak berbohong, Kak Angga membaik seperti sekarang karena kerja keras Diana.”
Rani berdecih, rasanya tekanan darahnya semakin naik menghadapi Ivan yang tidak waras lagi.
"Semenjak tinggal satu atap dengannya, sepertinya kamu kehilangan otakmu, Van."
"Kamu memuji Diana dengan kehebatan dan segutang prestasi. Tapi di mata mama, dia hanyalah gadis kampung yang selalu menimbulkan masalah!"
"Ya, dia memang hebat, tapi hebat membuat onar!"
"Tapi jika kau maksud hebat yang lain, aku tidak akan percaya!"
“Orang yang tidak memiliki sopan santun seperti gadis pembawa sial itu tidak akan memiliki kejeniusan seperti yang kamu katakan! Karena di otaknya hanya ada rencana untuk membuat kekacauan!”
Brakkkk!
Tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka paksa, membuat Rani dan Ivan terkejut. Saat Rani melihat kearah pintu, dia semakin murka mengetahui Diana yang mendobrak pintu itu.
"Lihat betapa barbarnya dia! Pintu Rumah Sakit saja dia tendang! Apa matanya tidak bisa melihat tulisan yang terpampang di depan pintu?!" maki Rani.
"Sebelum kau puji dia dengan kejeniusan, sebaiknya kamu ajarkan dia tata krama dan sopan santun!” ucap Rani pada Ivan.
“Yang seharusnya diajarkan tata krama dan Sopan Santun itu Anda, Nyonya Rani!” balas Diana.
Flash back
Diana dan Tony keluar dari ruangan Angga, Tony langsung menarik Diana ke arah sudut yang sepi, merasa tempatnya sepi, Tony berhenti di sana.
“Ada apa kau menariku?” Diana setengah berbisik karena dia tidak tau dibalik pintu-pintu itu ada orang lain atau tidak.
“Kamu tahu siapa laki-laki yang bersamamu sebelumnya?” tanya Tony.
“Ivan?” Diana memastikan orang yang Tony maksud.
"Ya, Ivan. Hanya Ivan yang tadi aku lihat ada bersamamu, saat aku pertama kali melihatmu."
"Owh, dia hanya salah satu cucu dari teman Nenekku."
"Hanya itu yang kamu tahu?"
__ADS_1
Diana berusaha memasang wajah dinginnya. "Aku tidak punya masalah dengannya, jadi untuk apa aku mencaritahu tentang dia?"
"Laki-laki itu mempunyai sesuatu yang waw, dan hal ini di luar dugaanmu," ucap Tony.