
Sesampai di Apartemen Ivan, Diana mulai mengemasi beberapa barangnya. Ivan hanya diam memperhatikan Diana berjalan ke sana kemari.
“Kenapa kau sangat buru-buru? Kau bahagia bisa jauh dariku?” tanya Ivan.
“Sebelum jam 5 sore, aku harus masuk asrama, sebab itu aku ingin menyelesaikan semuanya.” Diana menghentikan kegiatannya dia duduk di dekat Ivan. “Setelah jam kuliahku longgar, aku akan kembali.”
Keinginanku, kamu selalu disisiku setiap waktu, Diana. Jerit hati Ivan.
Ivan berusaha memasang wajah dinginnya. “Ingin ku antar?”
“Tidak perlu, nanti aku naik taksi online saja.”
“Ya sudah, kalau begitu aku ke kantor dulu, sejak kemaren aku tidak masuk, pastinya banyak file yang rindu dengan sentuhanku.”
Diana menahan pergerakan Ivan dengan memegang lengannya. "Terima kasih karena kamu rela tidak bekerja hanya untuk menjagaku. Sedang aku, setelah baik-baik saja, aku malah meninggalkanmu."
"Kau ingin menahan kepergianku?" goda Ivan.
Diana menautkan kedua alisnya mendengar pernyataan Ivan.
"Kalau masih merindukanku, tahan saja aku, aku pasti akan patuh padamu."
Diana baru sadar kalau dia memegang lengan Ivan. "Maafkan aku."
"Tidak perlu minta maaf, aku tahu kalau kamu sangat suka ku peluk."
"Jangan narsis!" gerutu Diana.
"Aku tidak narsis, memang realitanya kamu tidak bisa jauh dariku." Ivan tersenyum melihat raut kekesalan menyelimuti wajah Diana. "Aku yang tidak bisa jauh darimu, bukan kamu." Ivan mengusap lembut sisi kepala Diana. "Aku pergi dulu."
Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Entah dorongan dari mana, tiba-tiba Ivan dengan percaya dirinya mendaratkan kecupann lembut di pucuk kepala Diana.
Ivan menyudahi ciuman hangatnya, dia menatap Diana begitu lembut. "Air yang tenang tidak menimbulkan ombak, tapi namanya kehidupan, seperti lautan. Tanpa diduga ombak itu tiba-tiba datang, ada yang besar ada yang kecil. Ombak itu laksana permasalahan hidup kita, selama kita hidup, tidak sunyi dari masalah. Saat tenang nikmatilah, jangan pernah mencari-cari masalah atau masuk kedalam masalah, namun saat mendapatkan masalah, bersiaplah, dan hadapilah dengan tenang, karena ujian hidup menghadapi masalah yang datang dan menyelesaikannya."
"Aku tidak pernah cari masalah, tapi masalah selalu datang padaku," ucap Diana.
"Aku tahu, karena kamu istimewa. Palu tidak akan berhenti memukul paku yang lurus. Paku yang bengkok setelah dipukul tidak akan dipukul lagi. Pengorbanan paku yang terus dipukul berkali-kali merekatkan. Berkat ketabahan dan kekuatan paku itu terekatlah hubungan yang indah, sebuah rumah papan yang indah melalui perjuangan panjang, salah satunya perjuangan paku-paku yang dipukul berkali-kali." Ivan terus memandangi wajah Diana.
"Aku istimewa?"
"Sangat!" sahut Ivan.
"Karet berapa?"
Ivan kesal dengan tanggapan Diana, dia mencubit pelan hidung Diana dan segera pergi dari Apartemennya.
***
__ADS_1
Pekerjaan Ivan di kantor tidak terlalu penting, tapi saat ini dia butuh pengalihan untuk mengalihkan perasaannya yang begitu kacau karena ditinggal Diana lagi. Sesampainya di kantor Agung Jaya, Ivan menyibukkan dirinya dengan bermacam pekerjaan, agar pikirannya sibuk dengan pekerjaan, bukan sibuk mengingat Diana lagi.
Apartemen Ivan.
Diana selesai mengemas semua barangnya, dia melihat menunjukkan jam 3 siang. Diana memutuskan untuk ke asrama lebih cepat, karena di Apartemen Ivan sendirian dia merasa kesepian. Setelah menaiki taksi online, akhinya Diana sampai di Universitas Bina Jaya.
“Diana!”
Pekikan teriakan itu menyita perhatian Diana, saat Diana menoleh, dia tersenyum melihat seorang gadis yang berlari ke arahnya.
Gadis itu langsung memeluk Diana. “Apa kabarmu? Aku sangat merindukanmu.”
“Aku baik-baik saja. Kabarmu bagaimana Saras?”
“Aku buruk, aku terus memikirkan kamu.”
“Sekarang aku kembali, semoga kamu lebih baik.”
Saras melepaskan pelukan mereka. “Barangmu banyak, Diana?”
“Tidak, hanya sedikit. Kenapa?”
“Kalau banyak, aku sedih, karena aku tidak bisa membantumu, sebentar lagi mata kuliahku akan di mulai.” Saras melihat jam tangannya.
“Aku pikir ada sesuatu. Ya sudah sana, belajar yang benar.”
"Tidak apa-apa, aku malah menyukai tempat sepi."
“Kalau begitu, aku ke kelas dulu. Sampai jumpa Diana.”
Diana hanya tersenyum dan membalas lambaian tangan Saras. Saras berlari menuju kelas, sedang Diana berjalan menuju bangunan Asramanya. Sesampai di kamar Asramanya, keadaan tampak berbeda benar seperti ucapan Saras, bagian asrama Diana terasa sepi, semua pintu yang dia lewati tertutup rapat, dia tidak menemui satu pun Mahasiswa di lingkup ini, sesampai di kamrnya juga terlihat ranjang biasa ditempati Syila, kosong. Diana menaruh kopernya di dekat dinding, dia memandangi pantulan dirinya di cermin, Diana melepas bajunya, dia melihat keadaan memar pada bagian belakangnya lumayan membaik, tidak terlalu biru lagi.
Tink!
Suara notifikasi pesan membuat gerak tangan Diana begitu cepat menyambar benda pipih persegi Panjang itu.
*Diana, ku dengar kamu kembali ke kampus hari ini, kalau kamu tidak terlalu sibuk, bisakah kamu datang ke ruanganku?”
Diana mengetik begitu cepat
\=Saya akan ke ruangan Anda Pak, tapi saya harus membereskan barang-barang saya dulu.
Setelah mengirim pesan balasan, Diana segera Menyusun beberapa barang yang dia bawa dari Apartemen Ivan. Setelah semua pekerjaanya selesai, Diana segera pergi menuju ruangan Abimayu.
**
Di ruangan Abimayu.
Febrian mengadukan banyak hal pada Pak Abi, sedang Pak Abi hanya diam dan mendengarkan semua aduan Febrian.
__ADS_1
Febrian memberikan beberapa lembar kertas pada Pak Abi. “Diana memberi pengaruh buruk pada Universitas ini Pak, walau berita kemaren sudah lenyap, tapi dampaknya tetap ada. Saras termasuk Mahasiswa yang lumayan, nilainya tidak terlalu bagus, tapi juga tidak terlalu jelek, tapi ujian kemaren, Nilai Saras sangat buruk, saya yakin masalah ini pasti berkaitan dengan Diana.”
“Saras memikirkan Diana apa itu salah Diana?” tanya Pak Abi.
Febrian terdiam.
“Pengaduanmu sangat tidak masuk akal, silakan keluar dari ruanganku.”
Mau tak mau Febrian harus pergi dari ruangan Pak Abi. Saat dia baru keluar dari ruangan Pak Abi, dia berpapasan dengan Diana.
“Diana kamu sudah kembali?”
Diana hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana urusan pribadimu? Sudah selesai?”
“Sudah.”
Ceklak!
Suara pintu terbuka, membuat Febrian tidak meneruskan untuk menanyai Diana.
“Diana, masuklah,” ucap Pak Abi.
Diana segera masuk ke dalam ruangan Pak Abi.
“Tadi Febrian mengadukan nilaimu dan nilai Saras yang sangat jelek, aku tahu dirimu tidak peduli pada nilai, tapi jika kamu setuju aku bisa membantumu untuk memperbaiki Nilai kalian.”
“Tidak perlu Pak, kwalitas manusia bukan pada nilai pada lembaran ujiannya, tapi kepekaan, kepintaran dan kecerdasannya, apa gunanya nilai yang tinggi jika tidak mampu menolong dirinya sendiri. Menolong diri sendiri tidak mampu, bagaimana bisa menolong orang lain?"
“Aku hanya menawarkan bantuan padamu, kalau kamu menolak, aku tidak marah.” Pak Abimayu memberikan dokumen pada Diana. “Bisa bantu koreksi beberapa hal? Itu naskah pidato yang akan dibawakan oleh salah satu profesor nanti sebagai perwakilan si dokter hebat.”
“Boleh saya bawa ke kamar? Biar saya menelitinya dulu.”
“Tentu saja Diana.”
“Ada lagi?”
“Tidak ada, kamu boleh pergi.”
Diana segera meninggalkan ruangan Pak Abi. Diana mengambil jalan lain untuk menuju asramanya, saat Diana melewati Gedung laboraturium, karena dari sini jarak menuju kamar Asramanya lebih dekat, ketika Diana melintas di sana, dia merasakan firasat aneh. Ada aroma cairan aneh yang terendus hidungnya.
Crakkkk! Crakkkk!
Suara itu terdengar sangat jelas. Diana berlari cepat menjauhi Gedung itu.
DOAAARRRR!
Suara ledakkan hebat terdengar begitu keras, tubuh Diana terpental karena ledakkan itu. Api yang besar juga melahap area gedung itu.
__ADS_1