Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 25 Belum Saatnya


__ADS_3

Diana sampai di Gedung yang menjulang tinggi, bagian depan gedung terpampang jelas 'Agung Jaya group'. Diana terus melangkah memasuki area perkantoran tersebut, langkahnya begitu menatap menuju meja yang bertulis 'Receptionis'.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa Receptionis begitu ramah.


Diana memberikan lembaran kertas yang sudah dia tulis maksud kedatangannya.


*Saya diminta Tuan Ivan untuk mengantarkan berkas. Sebelumnya Sekretaris Ivan yang bernama Amanda menelepon saya.


"Bisa tunggu sebentar? Saya harus konfirmasi dulu."


Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Receptionis cantik itu langsung meraih telepon dan berbicara dengan seseorang di sana.


"Selamat Siang Nona Amanda, di bawah ada seorang wanita, katanya datang atas pemintaan Anda."


"Iya Nona. Baiklah." Receptionis mengakhiri teleponnya, dia kembali tersenyum pada Diana. "Anda sudah di tunggu. Kata Nona Amanda, langsung saja Anda ke ruang rapat, ruangannya ada di lantai 30. Paling ujung."


Diana tersenyum, dia mengatupkan kedua tangannya, isyarat berterima kasih pada Receptionis yang sangat ramah menyambutnya.


Diana segera menuju lift, menekan angka 30 pada papan tombol yang ada di sisi pintu lift. Akhirnya kotak besi itu mengantarkan Diana sampai ke lantai atas tempat ruang kerja Ivan berada. Di lantai 30 keadaan terlihat tenang, Diana berusaha mencari ruangan yang dimaksud si Receptionis sebelumnya.


Sedang di ruangan lain, yang hanya bersekat kaca, seorang pemuda tampan dengan setelan jasnya terus memandangi perempuan yang berjalan di luar ruangan tempatnya berada.


“Aku nggak mimpi kan Van?” Pandangan mata Yudha tertuju kearah luar ruangan meeting, di sana dia sangat jelas melihat Diana.


Sekilas Ivan menoleh kearah Yudha. "Mimpi?!"


"Iya, mimpi melihat Diana ada di kantormu."


"Diana?!" Dia ikut menoleh kearah pandangan mata Yudha tertuju. Benar saja ada Diana di luar sana. Ivan sangat terkejut melihat Diana ada di kantornya


“Kenapa Diana ada di sini Van?” tanya Yudha.


“Maaf Tuan. Tadi saya yang menelepon Nona Diana. Karena ada dokumen yang ketinggalan di Apartemen Tuan Ivan, saya juga meminta Nona untuk mengantarkannya,” sela Amanda.


"Kesalahan saya, karena saya lupa memberitahu Tuan Ivan, kalau dokumen untuk rapat hari ini, saya serahkan bersama dokumen yang lain, yang telah Tuan bawa pulang."


"Kamu ini sudah lama bekerja di sini, hal ini saja kamu teledor!" Yudha terus memandang kearah pintu, melihat Diana dia merasakan hal yang indah.


"Maafkan saya Tuan Yudha, saya juga baru menyadarinya barusan, kalau dokumen rapat hari ini, saya serahkan pada Tuan Ivan, dan lupa memberitahunya."


Ivan tidak mendengari penjelasan Amanda, dan teguran Yudha, untuk Amanda. Dia segera membuka pintu ruang meetingnya. “Diana!” panggilnya.


Melihat sosok Ivan. Akhirnya pencarian Diana selesai. Dia segera memberikan dokumen yang dia bawa pada Ivan, dan meminta izin untuk langsung pulang. Sedang Ivan segera kembali ke ruang meeting.


5 menit berlalu, beberapa orang perwakilan perusahaan lain yang menjalin Kerjasama dengan perusahaan Ivan mulai memenuhi ruangan rapat.

__ADS_1


“Semua sudah hadir, rapat akan segera kita mulai.”


Dengan santainya Ivan perlahan membuka dokumennya, Ivan ingin menjelaskan tentang proyek Kerjasama mereka. Sesaat Ivan terdiam, karena dokumen tersebut penuh dengan coretan.


Melihat Ivan terdiam, Amanda pun mendekati Ivan. “Ada masalah, Tuan?” Sontak Manda menutup mulutnya kala sepasang matanya melihat coretan abstrak yang memenuhi dokumen penting milik Ivan.


"Apa dia mengajak Tuan bercanda?" Amanda berusaha menekan suaranya, agar tidak terdengar klien yang hadir.


“Kenapa bisa seperti ini Tuan?” Amanda berusaha menahan suaranya. “Apa Diana pikir ini--” Amanda berusaha memancing kemarahan Ivan.


“Ini sangat tidak mungkin kalau Anda yang melakukannya. Kita semua bekerja keras untuk merencanakan semua yang ada dalam Dokumen. Apa Anda punya masalah dengan Diana?"


“Kamu kembali ketempatmu.”


"Tapi, Tuan--"


"Kembali ketempatmu!"


Tanpa komentar, Amanda terpaksa kembali ketempatnya. Sedang Ivan segera memulai rapat, menjelaskan semua presentasinya pada kliennya, tanpa bantuan catatan dari dokumen penting itu. Rapat pun berjalan sangat lancar, semua puas dengan presentasi Ivan.


Selesai rapat, Ivan dan sahabatnya Yudha segera ke ruangannya. Keduanya membahas tentang hasil rapat sebelumnya.


Tok! Tok!


Suara ketukkan pintu membuat obrolan keduanya terjeda. “Masuk,” sahut Ivan.


“Maafkan saya Tuan, karena kecerobohan saya, dokumen Anda jadi kacau,” sesal Amanda.


“Sudahlah Amanda, rapatnya juga sudah selesai. Semuanya berjalan dengan sempurna.”


Amanda sangat tidak terima dengan jawaban Ivan. “bagaimana mungkin dibiarkan begini saja Tuan? Bagaimana kalau Nona Diana kembali berulah seperti tadi?”


"Saat ini Perusahaan selamat, karena Tuan hafal semua hal penting yang tercatat dalam dokumen, bagaimana kalau Tuan tidak hafal?"


"Perbuatan Diana sangat membayakan Perusahaan Tuan."


“Ini bukan ketidak sengajaan Tuan, Nona Diana pasti sangat sengaja. Tuan tidak bisa diam saja. Tuan harus memberi efek jera pada Nona Diana, agar suatu saat nanti dia tidak berani mempermainkan Tuan.”


“Urusan Diana, aku bisa mengurusnya,” sahut Ivan santai.


“Ini sangat kelewatan Tuan, kalau Anda santai seperti ini—”


“Amanda, Diana biar menjadi urusanku. Urusanmu bukan Diana, tapi kerjakan pekerjaan yang lain.”


Amanda terdiam, dia sangat tidak puas dengan jawaban Ivan, sejak di ruang rapat hingga detik ini, tidak ada terrlihat percikan kemarahan dari Ivan. “Baik Tuan.” Amanda pun terpaksa keluar dari ruangan Ivan.


Tuk! Tuk! Tuk!

__ADS_1


Yudha berulang kali mengetukkan ujung jarinya di meja kerja Ivan, pikirannya masih bekerja, apa mungkin itu perbuatan Diana? Terlebih akhir-akhir ini, Diana selalu difitnah, namun kenyataannya Diana tidak seperti apa yang mereka tuduhkan.


“Van ….”


“Hmm,” sahut Ivan.


“Menurutmu, apa mungkin Diana melakukan seperti yang Amanda tuduhkan?”


“Huhhh!” Ivan menghempas kasar napasnya. “Kamu baca sendiri, pesan yang Diana kirim padaku.” Ivan memberikan handphonenya pada Yudha.


Yudha sangat cermat membaca pesan yang Diana kirim, juga pesan balasan Ivan pada Diana.


*Apa Anda sengaja mengangguku?


"'Mengganggu apanya?


*Sebelumnya Sekretarismu yang bernama Amanda meneleponku, katanya ada berkas penting yang tertinggal.


"'Iya, memang ada berkas penting, dan Amanda baru memberitahuku, kalau berkas itu dia berikan bersama berkas yang lain, yang aku bawa pulang.


*Kata Amanda, dokumennya pada map warna hijau.


"'Iya benar, Amanda juga mengatakan hal yang sama padaku.


*Anda yakin ini?


Diana mengirim beberapa foto dokumen yang dimaksud.


*Yakin ini dokumen penting?


*Anda menyita waktuku hanya untuk mengirim berkas ini?


"'Sepertinya ada sesuatu, kembalilah ke kampusmu, dokumen itu sudah tak penting lagi.


Yudha berulang kali menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. "Amanda, licik sekali dia."


"Makanya, aku sangat kaget saat kau bilang Diana ada di kantor ini, padahal aku sudah mengatakan padanya 'Tidak usah diantar.' Tapi, dia tetap datang."


"Tapi bagus Diana datang, Amanda berpikir rencananya berhasil," puji Yudha.


"Yup! Ini yang terlihat, entah yang tersembunyi."


“Diana saja ragu kalau itu dokumen penting, karena saat dia menemukan Dokumen itu dengan keadaan yang sudah seperti itu. Sedang kamu tahu dokumen itu hanya pernah dipegang Amanda.”


“Kenapa kamu tidak menyangkal tuduhan Amanda? Dan buka semuanya, kalau kamu tahu, semua itu ulah dia.” Yudha terlihat sangat kesal.


“Belum saatnya,” sahut Ivan dengan santainya.

__ADS_1


Yudha pun mengerti apa maksud Ivan.


__ADS_2