
Diana bosan menunggu, lumayan lama dia berdiam di mobil, tapi Ivan belum juga kembali. Dillah juga sudah pergi lebih dulu. Diana mengisi waktunya dengan lanjut bermain game online.
30 menit berlalu, akhirnya Ivan datang, dengan santai dia masuk ke dalam mobil dan mulai melajukan mobilnya menuju kastil.
“Kemampuan menembakmu sangat bagus,” puji Ivan. “Di mana kamu berlatih?”
“Latihan khusus tidak ada, hanya Latihan dadakan saja, saat aku kecil, guruku membuang ku ke tengah hutan, dia ingin melihat bagaimana kemampuan kami bertahan di tengah hutan.”
Itu sangat mustahil, Diana. batin Ivan.
Ivan berusaha memasang wajah seolah dia percaya dengan cerita Diana. “Kami?” Ivan merasa janggal dengan kata ‘kami’
“Iya. Aku, Lucas, dan Nizam. Kami belajar pada beberapa guru yang sama, dan guru yang melatih kami bertahan di alam liar juga orang yang sama.”
“Berapa usiamu saat kamu dilatih bertahan hidup di alam bebas?” tanya Ivan.
“Mungkin 7 atau 8 tahun.”
Kenapa masa kecilmu begitu berat Diana, apa karena penyiksaan yang kamu alami, sehingga kamu di didik sekeras itu?
Ivan menyadarkan diri dari lamunannya. “Kejam sekali gurumu, anak kecil ditinggalkan di tengah hutan.” Ivan sangat sakit mendengar cerita masa kecil Diana.
“Guruku tidak kejam, dia sangat baik. Dia melakukan itu untuk melatih kami, karena ujian bertahan di alam bebas itu aku mulai terbiasa memanah untuk bertahan hidup.”
Ivan membuang napasnya begitu kasar. “Mulai sekarang, kamu tidak boleh menderita lagi, kamu lakukan apa saja yang kamu suka, aku akan selalu bersamamu, selama aku ada aku akan berusaha membuatmu bahagia.”
“Jangan mengucapkan janji yang sulit untuk ditepati, Van.”
“Bukanya janji di ucap untuk diingkari?” Ivan berusaha bercanda.
“Ya bisa jadi, seperti peraturan yang susah payah ditegakan hanya untuk dilangar,” balas Diana.
Keduanya tersenyum kecil, Ivan kembali fokus pada jalanan di depannya, sedang Diana membuang pandangannya kearah samping.
Setelah sampai di kastil, Ivan dan Diana menempati kamar mereka masing-masing. Suasana terasa sepi, karena mereka menempati kamar mereka masing-masing.
Keadaan sepi ini dimanfaatkan Diana untuk berkomunikasi dengan Nizan via chat pribadi.
*Bagaimana resep itu? Apakah semua obat sudah didapat? Pesan Diana.
\= Sudah, tidak kurang satu pun.
*Baguslah, rekam medis Angga yang kamu berikan padaku sudah lengkap?
__ADS_1
\=Sudah, Angga sudah menceritakan obat apa saja yang pernah dia konsumsi rutin selama ini.
*Baguslah, aku memintamu mendekati Angga agar dia nyaman berbagi denganmu. Terkadang beberapa laki-laki memiliki rahasia tentang jenis obat yang biasa mereka minum, maaf aku hanya memastikan.
\=Aku memahami kekhawatiranmu, Diana.
Merasa tidak ada yang ditanyakan lagi pada Nizam, Diana memilih memejamkan matanya.
Hari semakin malam, aroma ayam bakar seakan memenuhi udara di kastil itu, terlihat Yudha, Nicholas, dan Dillah membantu para pelayan membakar ayam.
"Pesta ayan bakar kita malam ini," seru Nicholas.
"Iya, mendadak banyak Ayam di sini." Yudha memandangi ayam-ayam yang terlihat lezat di panggangan.
Dillah ingin mengatakan bagaimana akhir kehidupan ayam-ayam itu, tapi dia mengingat pesan Ivan, agar tidak menceritakan keajaiban yang dia lihat di tempat pelatihan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian ayam bakar tersaji di meja makan.
"Wah, Ayam bakar." Angga terlihat sangat tergoda dengan hidangan makan malam mereka.
"Ayo Kak kita nikmati, jangan cuma di pandang saja." Ivan membantu Angga duduk. Setelah Angga duduk, dia menatap kearah Diana.
"Ada apa?" tanya Diana, dia merasa heran dengan sorot mata Ivan yang terus tertuju padanya.
"Kamu di sini, dekat denganku." pinta Ivan.
Diana tidak mau cari masalah, dia segera duduk di kursi yang Ivan minta. Ivan mengambilkan beberapa potongan ayam bakar, dan menaruhnya di piring Diana.
"Sudah cukup," ucap Diana.
Mereka semua mulai menikmati ayam itu dengan sangat lahap. Yudha berusaha menahan pandangannya agar tidak menoleh kearah Ivan dan Diana, karena di arah itu, Ivan terlihat sangat memanjakan Diana. Tapi kekepoannya tidak bisa menahan gerak wajahnya. Hingga saat dia memandang kearah Ivan, terlihat Ivan menyapu sisi bibir Diana dengan tisu, karena ada minyak di sana.
Ya Tuhan, kenapa aku harus satu meja dengan orang yang baru jatuh cinta, saat ini aku seperti manekin saja di sini, jerit hati Yudha.
Nicholas juga sesekali melirik kearah Diana. Selama ini dia tidak pernah melihat Ivan bersikap semanis itu terhadap perempuan. Bahkan dengan Veronica, terhadap perempuan biasanya Ivan sangat cuek dan dingin.
Seperti apa keistimewaan Diana di mata Ivan? Sehingga Ivan memperlakukannya begitu romantis, batin Nicholas.
Aku sangat bahagia melihat Tuan seperti ini, sejak kehadiran Diana, aku melihat sisi hangat dan lembut seorang Ivan Hadi Dwipangga, batin Dillah.
Setelah selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang tamu, kecuali Angga dan Dillah, dua orang itu langsung menuju ke kamar yang Angga tempati.
Diana dengan santai menikmati sebiji apel, sedang Nizam terus menegak botol minuman yang berisi bir. Nizam meraih botol bir baru, dia mengisi penuh gelas kosong yang ada di dekatnya dengan bir, lalu memberikannya pada Diana.
__ADS_1
Melihat hal itu, Ivan sangat kesal, dia mengambil gelas itu dan memberikannya pada pelayan, juga meminta pelayan itu untuk membuangnya. Ivan mengambil jus buah, lalu mengisi gelas dengan jus dan memberikannya pada Diana.
“Jangan minum bir dulu, kamu masih sibuk dengan tugasmu, jaga kesehatanmu,” ucap Ivan lembut. “Aku mau memeriksa keadaan kak Angga dulu.” Ivan segera berjalan menuju tangga.
Nicholas terus memandangi Diana.
Walau dia dari desa, ternyata dia sangat cantik, selama makan malam, Ivan terus memanjakannya. batin Nicholas.
Drttt …
Merasa handphonenya bergetar, Diana segera memeriksa handphone miliknya, di sana ada pesan baru dari Tony.
*Diana, situs web kemaren merubah hadiah mereka.
\=Kapan situs itu berubah?
*Baru saja, Diana.
Diana mulai memikirkan berbagai kemungkinan.
“Gawat! Kak Angga kembali memburuk!”
Semua langsung menoleh kearah tangga, terlihat Dillah menuruni anak tangga dengan panik.
“Apa yang terjadi?” tanya Yudha.
“Setelah Angga meminum obat dari resep yang Diana berikan, seketika keadaannya semakin memburuk,” ucap Dillah.
“Bagaimana mungkin?” tanya Diana.
“Entahlah, padahal Angga sudah memastikan obat itu sebelum dia minum.”
“Cepat siapkan mobil, Dillah!” teriak Ivan.
Keadaan seketika panik, beberapa pelayan turun menggendong Angga menuruni tangga, keadaan Angga benar-benar buruk.
Pak Jo dan Nicholas menatap Diana dengan tatapan kemarahan.
“Semua ini gara-gara Nona yang sok hebat ini!” maki Nicholas.
“Benar, padahal Tuan Angga sudah membaik, dan dia makan dengan lahapnya tadi,” tambah Pak Jo.
“Tidak ada yang salah dengan obat yang Diana berikan!” teriak Ivan. Ivan menatap Pak Yo dan Nicholas dengan tatapan kemarahan. “Berani menyalahkan Diana, ku robek mulut kalian!” maki Ivan.
__ADS_1
Pandangan mata Ivan yang begitu lembut tertuju pada Diana. “Diana, bisa periksa Kakakku?”
Diana menganggukan kepalanya dan segera berlari menuju mobil.