Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 74 Kekasihmu?


__ADS_3

Saras menatap jeli layar handphone Syila, sangat jelas wajah laki-laki yang dia kira Ayah Diana. Diana menautkan kedua alisnya merasa namanya disebut oleh Syila.


“Apakah dia kekasih Diana?” Syila mengulangi pertanyaannya.


“Aku tidak tahu,” jawab Saras.


Syila memperlihatkan layar handphonenya pada Diana. Kedua mata Diana sangat jelas melihat wajah Ivan pada layar handphone Syila.


“Laki-laki itu datang ke kampus ini hanya menunggu kamu, saat setelah selesai berbicara denganmu ditelepon, dia langsung pergi. Terlihat gurat kekecewaan di wajahnya saat dia pergi, setahuku mahasiswi yang bernama Diana di kampus ini untuk saat ini hanya kamu. Apakah laki-laki itu kekasihmu?”


Diana mengetik kata di handphonenya.


*Apakah kamu butuh bantuan untuk membawa barang-barangmu?


“Kalau kalian mau membantu, aku sangat senang.”


Diana dan Saras segera membantu Syila membawa barang-barang Wanita itu, sepanjang perjalanan Syila terus menanyakan apa hubungan Diana dan laki-laki yang dia lihat sebelumnya. Baik Diana juga Saras keduanya kompak membisu. Hingga Syila diam, karena Lelah bertanya. Mereka sampai di kamar Diana dan Syila. Diana dan Saras meletakkan barang-barang Syila di dekat tempat tidur Syila.


“Terima kasih Saras, Diana.”


“Sama-sama, Syil,” sahut Saras. Sedang Diana hanya tersenyum menanggapi ucapan Syila.


“Saras, kamu berbagi kamar dengan siapa?” tanya Syila.


“Saat ini aku sendiri, entah nanti.”


“Wah, bagus kalau begitu, karena sebentar lagi Veronica akan kembali ke kampus ini, jadi temanmu Diana bisa pindah ke kamarmu.”


“Aku sangat senang kalau bisa sekamar dengan Diana,” sahut Saras.


“Akhirnya, segala fitnah yang tertuju pada Veronica berhasil dia tepis, aku tidak mengerti kenapa orang-orang yang irinya padanya malah menyudutkannya.”


Saras menatap tajam pada Syila, namun tatapan kemarahannya perlahan meredup saat melihat isyarat dari Diana. “Fitnah dari mana? Veronica terjebak oleh perbuatannya sendiri," ucap Saras.


“Itu hanya presepsi dari orang-orang tanggapan orang-orang yang iri pada Veronica,” bela Syila.


“Terserah apa penilaianmu, aku cukup percaya dengan semua bukti-bukti yang ada.”


Diana segera menarik Saras pergi dari kamar itu, dia tidak ingin Saras dan Syila bersitegang hanya karena masalahnya dengan Veronica. Diana mengajak Saras menuju kantin. Mereka makan siang bersama.


“Kenapa kamu menarikku Diana?” Saras sangat kesal.


Diana meraih handphonnya dan memperlihatkan ketikkannya pada Saras.


*Tidak ada gunanya kamu mengencangkan urat leher untuk membelaku. Lebih baik kita makan.


“Kamu tidak pernah mengganggu orang, tapi kenapa orang-orang suka mengganggumu?”


Diana tersenyum dan menepuk lembut bahu Saras. Setelah sampai di kantin, Diana dan Saras mengambil makanan yang mereka inginkan, lalu membawanya ke meja yang masih kosong. Perlahan keduanya menikmati makanan mereka.

__ADS_1


“Diana, apa aku boleh bertanya sesuatu? Tapi kamu jangan marah.”


Diana mempersilakan Saras untuk bertanya dengan bahasa isyaratnya.


“Setiap kali professor Russel mengajar, aku selalu memperhatikan dia, ku lihat selalu memperhatikan kamu. Apakah kamu dan professor Russel saling kenal secara pribadi? Bukan hanya sekadar antara pelajar dan gurunya maksudku.”


Diana menggelengkan kepalanya.


“Owh ….” Saras berusaha percaya, dia pun melanjutkan menyuap makananya.


“Permisi ….”


Tiba-tiba seseorang duduk di dekat Diana dan Saras, perlahan dia menaruh nampan yang berisi makanan dan minumannya. “Aku boleh duduk di sini 'kan?”


“Tidak ada larangan kamu ingin duduk di mana pun, Syila.” sahut Saras.


Mereka bertiga melanjukan makan mereka.


Tink!


Handphone Diana menerima satu pesan. Diana langsung meraih handphone dan membaca pesannya yang dikirim oleh Profesor Russel.


*Diana, apa kamu sibuk? Kalau tidak sibuk bisa temui aku di Gedung Laboraturium sekarang?


\=Saat ini aku lagi makan siang, setelah makan aku akan segera ke sana.


“Diana, aku ingin kembali ke kamar, mau bareng?”


Diana menulis di handphonenya.


*Kalian duluan saja, rasanya aku masih ingin makan.


Saras dan Syila saling pandang setelah membaca jawaban Diana.


“Baiklah, kami duluan Diana,” ucap Saras.


Saat Saras dan Syila pergi, Diana segera bersiap menuju Gedung laboratorium untuk menemui Profesor Russel.


“Akhirnya kamu datang, Na.” Profesor Russel langsung merapikan beberapa lembar kertas, lalu membawanya kearah Diana. “Kamu sangat tahu 'kan bagaimana kedisiplinanku dalam mengajar? Aku sangat-sangat tidak terima ketidak disiplinan para Mahasiswaku. Aku juga tidak bisa mentolelir mahasiswaku yang sering membolos. Tapi kalau untuk kamu, aku tau apa alasanmu tidak masuk kelas. Jadi ini untumu.” Russel memberikan setumpuk kertas pada Diana. "Kamu harus lolos, agar tidak ada lagi yang menghalangi jalanmu dalam dunia medis."


“Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa menerimanya.”


“Diana, tanpa materi dariku pun kamu sudah tahu, kamu lebih hebat dariku, tapi saat ini kamu Mahasiswaku Diana.”


“Russel, kamu memang partnerku saat melakukan operasi, terima kasih atas pertolonganmu selama ini. Tapi, saat ini aku Mahasiswamu, perlakukan aku sama dengan para mahasiswamu yang lain. Jangan istimewakan aku.”


 


... Tapi kamu memang Istimewa Diana...

__ADS_1


... ...


Russel hanya berani berkata dalam hati, dia menunduk dan menaruh kembali tumpukkan catatan yang ditolak Diana.


“Ada yang lain? Misal perkembangan seseorang yang ingin membunuhku?”


Russel menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu, aku izin pergi.” Diana segera melangkah menuju pintu.


Setelah pergi dari laboratorium Russel, seketika perasaan Diana memburuk, dia memacu langkahnya menuju taman kampus. Jalan menuju taman, melewati area parkiran umum yang ada di Universitas Bina Jaya.


Brmmmm! Brmmmm!


Satu buah motor Sport menghalangi langkah Diana. Perlahan laki-laki itu melepaskan helm-nya. Laki-laki itu adalah Nizam. “Diana, bisa temani aku makan siang sebentar?”


Diana menggelengkan kepalanya, menolak ajakan Nizam.


“Aku sangat perlu berbicara denganmu, Diana. Mengenai pasien operasi.”


Wajah Nizam terlihat sangat serius, Nizam langsung memberikan helm yang sedari tadi dia kaitkan di pergelangan tangannya. Diana segera meraih helm itu dan memasangnya, lalu naik ke bagian belakang Nizam. Nizam segera menghidupkan mesin motornya, dan pergi dari sana membonceng Diana.


Saat yang sama, perhatian Lucas pada kado yang baru saja dia ambil lagi seketika buyar, saat sepasang matanya melihat Diana pergi dengan seorang laki-laki dengan motor Sport.


Nizam membawa Diana ke sebuah Clubhouse yang mewah, Clubhouse itu terlihat sepi, karena hanya golongan tertentu saja yang bisa menapakkan kaki mereka ke clubhouse elit ini.


“Ayo Diana, aku sudah memesan ruangan VVIP untuk kita, agar kamu bebas berbicara di sana.”


Diana segera melangkahkan kakinya mengikuti Nizam. Saat Nizam berhenti di meja pelayanan, Diana juga berhenti.


“Ruang VVIP atas nama Adhyaksya,” ucap Nizam.


“Owh, silakan ikuti saya. Tuan.”


Tlink!


Langkah kaki Nizam terhenti saat menerima pesan, setelah membaca pesan tersebut, raut wajah Nizam seketika berubah. Dia menoleh kearah Diana. “Diana, kamu masuk duluan, pesan apa saja yang kamu mau, dan buat dirimu senyaman mungkin di dalam sana. Aku harus pergi sebentar, aku janji hanya sebentar, secepatnya aku akan kembali.”


Setelah Diana menganggukkan kepalanya, Nizam segera berlari menuju pintu keluar. Diana segera mengikuti pelayan yang akan mengantarkannya ke ruangan VVIP yang dipesan Nizam.


Seorang laki-laki sangat serius berbicara via telepon, konsentrasinya seketika buyar saat melihat seorang gadis yang berjalan melewatinya. Dia sangat mengenali siapa gadis yang tengah berjalan bersama seorang pelayan, dia sangat terkejut, tapi juga bahagia melihat Diana ada di tempat ini.


Laki-laki itu mengisyarat pada salah satu pelayan yang ada di dekatnya.


“Iya, Tuan.”


“Tolong kamu bawa ke sini gadis yang itu ke ruanganku.” Laki-laki itu menunjuk kearah Diana.


“Baik, Tuan.” Pelayan itu segera melakukan tugasnya.

__ADS_1


__ADS_2