Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 158 Iblis Betina


__ADS_3

Tony sangat tahu siapa sosok laki-laki yang tiba-tiba muncul dari belakang Diana, dia ingin meraih tangan Diana dan menarik Diana agar pergi dari sana. Tapi belum sempat Tony memegang pergelangan tangan Diana tiba-tiba tangannya di tepis oleh laki-laki itu.


"Jika tanganmu masih ingin pada tempatnya, jangan berani-berani menyentuhnya!" bentak laki-laki yang berdiri di samping Diana.


"Ivan, jangan terlalu berlebihan." Diana sesaat menoleh kearah Tony.


"Dia--" Diana bingung mengenalkan Tony bagaimana, kalau Diana menyebut nama Tony, pasti Ivan akan tahu siapa yang mendatanginya ini.


"Dia siapa?" kesabaran Ivan habis menunggu penjelasan Diana.


Diana tersenyum melihat penampilan Tony, penyamaran Tony mendekati sempurna. Padahal Ivan dan Yudha hanya mengetahui data tapi tidak mempunyai foto wakil ketua IMO.


"Dia Sammy, dia salah satu orang yang menjaga Nenekku di desa, dia kemari karena aku yang meminta," sahut Diana.


Diana kembali menoleh pada Tony. “Sammy, mana barang yang aku minta?” tanya Diana.


Tony langsung memberikan koper yang dia bawa pada Diana. “Semua yang Anda minta sudah saya siapkan di sini Ke--” ucapan Tony terjeda melihat Isyarat dari Diana, dan hampir saja dia keceplosan memanggil Diana dengan panggilan Ketua.


Tony memahami kondisi saat ini. "Ini barang yang Anda minta, Nona." Tony mengisyarat pada koper yang dia pegang.


“Baguslah, kalau begitu ikuti aku.” Diana berjalan lebih dulu menuju lift.


Sesaat kemudian Tony mengikutinya, Ivan juga menyusul di belakang Tony, Ivan berusaha mengamati penampilan Tony yang terlihat seperti pemuda desa.


Apakah benar dia utusan nenek Zelin untuk Diana?


Ivan mencoba menepis pertanyaanya dann terus mengikuti Diana.


**


Di sebuah ruangan VIP.


Rani, Sofian, Yudha, Pak Jo, dan Dillah berada di ruang tamu yang ada di ruangan VIP itu, mereka menunggu hasil pemeriksaan beberapa dokter yang masih memeriksa Angga. Rani terlihat gelisah dia terus mondar-mandir menunggu kabar dari dokter.


"Mama, tenanglah. Melihat mama mondar-mandir seperti itu, papa semakin pusing," ucap Sofian.


Rani membuang napasnya kasar, dia meangkah mendekati Sofian suaminya. “Saat kita pulang dari Dubai, keadaan Angga sangat baik. Kenapa tiba-tiba keadaannya memburuk lagi?” Wajah Rani diselimuti rasa takut dan kekhawatiran.


"Papa juga bingung mah, sampai sekarang papa merasa ini hanya mimpi," ucap Sofian.


“Saat Tuan Angga datang ke perkebunan keadaanya sangat baik Nyonya, dia berkeliling lapangan bersama dokternya, tiba-tiba dia kesakitan karena lukanya kambuh karena medan yang dia lintasi basah,” adu Pak Jo.


“Pak Jo,” tegur Yudha. Yudha tidak ingin kemarahan Rani berkobar jika menyebut Diana.


"Lalu?" tanya Rani.

__ADS_1


Pak Jo tidak berani melanjutkan ceritanya karena teguran Yudha.


Melihat hal ini Rani semakin kesal. “Ada yang kalian sembunyikan dariku?” Rani terlihat curiga. Rani menatap pada Pak Jo dengan sorot mata yang penuh selidik. “Pak, tolong ceritakan apa yang terjadi di perkebunan.”


Pak Jo tetap tidak berani bicara, dia terus menunduk.


Rani memahami keadaan saat ini, Pak Jo takut pada Yudha. “Katakan semuanya padaku Pak Jo, jangan takut pada Yudha, kalau aku tahu dari orang lain, Pak Jo akan ku pecat!” kecam Rani.


“Mama, tenanglah.” bujuk Sofian.


"Tenang?!" Rani semakin emosi.


“Melihat keadaan Angga yang tiba-tiba memburuk mana aku bisa tenang pah!” jerit Rani.


“Maaf Tuan, Nyonya, harap tenang.” Pinta seorang suster.


“Maaf sus,” sahut Sofian.


"Tolong jaga sikap mama, saat ini kita berada Di Rumah Sakit, walau Rumah Sakit ini milik keluarga kita, tapi kita tetap harus mematuhi semua peraturan." Sofian memberi isyarat pada Rani agar lebih tenang.


Rani mendekati Pak Jo, dia berbisik di dekat laki-laki paruh baya itu. “Ceritakan semuanya sekarang, atau aku cari tahu sendiri dan Anda akan menanggung akibatnya?!” ancam Rani.


Pak Jo takut dengan ancaman Rani. Dia perlahan menegakan wajahnya dan mengabaikan Yudha. “Karena medan yang dilewati basah, membuat luka operasi Tuan Angga kambuh, lalu tiba-tiba Tuan Angga kesakitan. Saat itu dia di obati oleh Nona Diana—”


Pak Jo juga kembali membisu, dia belum berani melanjutkan ceritanya.


“Apa yang Diana lakukan pada putra sulungku?” Nada suara Rani terdengar sangat marah, tapi dia berusaha menahan suaranya.


“Nona Diana melakukan pengobatan traditional pada Tuan Angga—”


“Argggg! Dia selalu mencari masalah!” Rani semakin marah.


“Mama, dengarkan cerita Pak Jo sampai selesai,” bujuk Sofian. “Lanjutkan Pak Jo.”


“Diana melakukan pengobatan tradtional atas pemintaan dokter Nizam,” sela Yudha.


“Apa benar begitu?” tanya Rani pada Pak Jo.


“Benar Nyonya, Nona Diana melakukan pengobatan traditional atas permintaan dokter Nizam. Setelah pengobatan traditional Tuan Angga benar-benar membaik, hingga malam itu di Kastil semua orang makan malam dengan menu serba ayam. Tiba-tiba keadaan Tuan Angga memburuk lagi, dan hal itu terjadi setelah dia meminum obat yang di resep oleh Nona Diana.”


Andai tidak di Rumah Sakit ingin rasanya Rani berteriak menumpahkan kemarahannya.


“Semua ini terjadi karena Nizam tidak mengetahui ada obat tertentu yang rutin Angga minum, dan obat itu menjadi penghalang resep dari Diana, semua kemalangan yang menimpa Angga bukan kesalahan Diana,” ucap Yudha.


"Kamu dan Ivan sekarang sama bodohnya!" maki Rani.

__ADS_1


“Gadis desa itu memang pembawa sial! Dari awal aku melihatnya seharusnya aku sudah menendang jauh dia dari keluarga Agung Jaya!” Tatapan kemarahan Rani tertuju pada Dillah. “Cari wanita pembawa sial itu dan bawa dia ke hadapanku!” perintah Rani.


Ceklak!


Pintu ruang perawatan Terbuka, terlihat 3 orang yang memasuki ruangan Angga.


“Tidak perlu mencariku tante, ini aku datang.” Ucap Diana begitu santai.


Rani langsung menghampiri Diana dengan kemarahan yang teramat besar yang terus membakar dirinya, dia berusaha mencengkram lengan Diana, tapi gagal karena Ivan menghalanginya.


Rani mencoba menepis kekesalannya pada Ivan, dia kembali memandangi Diana dengan tatapan penuh kemarahan. “Apa hakmu memberikan obat pada Angga?! Karena kamu anakku kembali sakit?!” Jeritan kemarahan Rani bercampur dengan suara keputus asaan.


Saat yang sama beberapa dokter dan Wakil Rumah Sakit selesai memeriksa Agga, tirai yang sedari tadi menjadi pembatas sudah terbuka.


“Nona Diana?” Wakil Kepala Rumah Sakit tersenyum melihat Diana.


Wakil Kepala Rumah Sakit langsung mendekati Diana, dan berdiri di samping Diana, dari sikapnya sangat jelas dia sangat menghormati Diana. Sedang beberapa dokter dan perawat izin undur diri dari ruangan itu.


“Bagaimana keadaan Angga, Pak?” tanya Diana pada wakil Kepala Rumah Sakit.


“Keadaannya semakin membaik Nona.”


“Saya senang mendengarnya Pak,” sahut Diana.


Ivan melirik kearah ibunya, sangat jelas ibunya sangat ingin menelan Diana hidup-hidup. “Mama, tolong tahan diri mama,” pinta Ivan lembut.


“Kakakmu celaka karena dia, sebagai seorang ibu jelas aku marah! Dan kau lebih mementingkan wanita pembawa sial itu dibanding ibumu!” maki Rani.


Wakil Kepala Rumah Sakit ingin menjeda, namun di halangi oleh Diana. Dengan bahasa isyaratnya, Diana meminta Wakil Ketua Rumah Sakit untuk diam.


"Tapi--"


"Para dokter sepertinya menunggu Anda, lebih baik Anda selesaikan Tugas Anda."


Wakil Kepala Rumah Sakit terpaksa pergi dari ruangan itu.


"Lancang sekali si udik ini mengusir Wakil Ketua Rumah Sakit ini!" maki Rani.


"Tindakan Diana benar, supaya Wakil Kepala Rumah Sakit tidak melihat kebodohan seseorang," sela Yudha.


"Kau!" Kemarahan Rani semakin berkobar.


“Mama ….” Ivan berusaha membujuk agar ibunya tenang.


Rani menatap Diana begitu tajam. “Tidak usah memasang wajah lugumu di sini iblis betina!” maki Rani.

__ADS_1


__ADS_2