Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 141 Sarver Oleng


__ADS_3

Yudha tidak bisa mempercayai jawaban Diana, kalau Lucas adalah adik Diana. “Siapamu?” Yudha mengulang pertanyaannya.


“Dia adikku,” sahut Diana lagi.


“Saat aku bertanya apa kamu mengenal Lucas, kamu jawab tidak mengenalnya, sekarang kamu bilang dia adikmu?”


Diana dan Yudha sama-sama menoleh kearah belakang mereka, terlihat Ivan dengan wajah kecewanya menatap Diana.


“Maafkan aku, sebelumnya aku belum bisa menjelaskan padamu siapa Lucas sesungguhnya,” ucap Diana.


“Kenapa? Apa aku tidak boleh tahu tentang dirimu?” Tatapan mata Ivan terlihat sangat kecewa.


“Bukan begitu, hubunganku dan Lucas tidak terlalu baik, dia juga sangat membenciku.”


Membenci? Lalu kenapa dia melempar jaket padamu Diana?


Yudha melirik kearah Ivan.


Semoga Ivan tidak melihat kejadian saat Lucas melempar jaketnya kearah Diana.


“Sekarang kamu bisa menjelaskan siapa Lucas?” tanya Ivan.


“Lucas adalah adik sepupuku, saat Lucas masih kecil, kedua orang tuanya bercerai, dan Lucas ikut ibunya, semenjak itu kami terpisah. Karena aku dan Lucas tidak berhubungan baik, kami butuh waktu untuk menerima keadaan saat kami bertemu lagi.”


Ivan berusaha menerima penjelasan Diana, perlahan raut wajahnya terlihat lebih baik. “Kami ke sini untuk menjemputmu mengunjungi nenek Zunea, kamu siap?”


“Siap, tapi mampir sebentar di Apartemen ya, aku mau ganti baju dulu, lihat bajuku kotor.” Diana mengisyarat pada noda yang mengotori bajunya.


“Andai tidak kotor pun aku tetap akan memintamu ganti bajumu, bahagia sekali kamu saat pandangan kekaguman semua orang tertuju padamu.”


Wajah Diana seketika masam mendengar ocehan Ivan.


“Ayo kita berangkat, kasian nenek Yudha menunggu terlalu lama.” Ivan berjalan lebih dulu meninggalkan Diana dan Yudha.


Diana berjalan berdampingan dengan Yudha. Diana menyenggol lengan Yudha. Hal itu berhasil membuat Yudha menoleh padanya. “Kenapa dia?”


“Sarvernya seketika oleng saat melihat keindangan pinggangmu.” Yudha mengisyarat kearah pinggang Diana yang begitu indah.


“Aku mendengar gibahan kalian!” ucap Ivan.


**

__ADS_1


Setelah sampai di Gedung Apartemen yang Diana tempati, Diana langsung menuju kamarnya, sedang Ivan dan Yudha menunggu Diana di Apartemen milik Yudha. Ivan masih memikirkan tentang jawaban Diana yang mengakui Lucas adalah adik sepupunya.


“Apa Nenek Zelin punya anak selain Nyonya Alinka Yolanda?” tanya Ivan pada Yudha.


“Seingatku, Nenek Zelin pernah mengadopsi seorang anak laki-laki. Mungkin Lucas adalah anak dari anak laki-laki yang diangkat Nenek Zelin dulu.”


Yudha mencoba mengingat-ingat tentang Nenek Zelin. “15 tahun yang lalu, saat Nyonya Zelin mendapat masalah, aku kurang tahu masalah yang dialami Nenek Zelin, tepatnya masalah apa. Tapi saat itu anak adopsi Nenek Zelin juga mengalami musibah, dia kecelakaan. Menurut kabar, anak angkat nenek Zelin cacat setelah kecelakaan yang dia alami."


“Tolong minta Dillah cari informasi lengkap tentang Lucas,” pinta Ivan.


Yudha segera mengetik pesan perintah dari Ivan, dan mengirimnya pada Dillah.


“Aku sangat penasaran tentang Diana, tapi entah kenapa sampai sekarang aku belum bisa menembus info tentang Diana,” ucap Yudha.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat Yudha mengakhiri ceritanya, perlahan pintu terbuka dan memperlihatkan sosok cantik Diana diantara pintu.


“Aku sudah selesai,” ucap Diana.


“Kalau begitu, kita berangkat sekarang.” Ivan langsung berdiri dan merapikan bagian bawah jasnya.


Sepanjang perjalanan, ketiganya diam. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mobil yang membawa Ivan, Yudha, dan Diana berbelok dan perlahan memasuki sebuah area rumah mewah. Saat mobil yang mereka tumpangi terparkir sempurna di depan pintu utama, kedua bola mata Diana melihat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda. Posisi wanita itu berada tepat di tengah-tengah pintu utama.


Diana tidak menanggapi perkataan Yudha, dia segera membuka pintu mobil dan berjalan cepat menghampiri wanita tua sahabat neneknya itu.


“Diana?” Senyuman lebar menghiasi wajah wanita tua itu, saat dia melihat seorang gadis berjalan cepat kearahnya.


Diana langsung memeluk wanita tua itu, dia sangat bahagia melihat keadaan nenek Zunea membaik. “Nenek Zunea, apa kabar?” ucap Diana lembut.


Keduanya sama-sama menyudahi pelukan mereka. Diana duduk leseh di lantai, agar posisinya nyaman berdekatan dengan Nenek Zunea yang berada di kursi roda. Nenek Zunea mengusap lembut sisi kepala Diana.


“Aku baik, dan semakin baik. Kamu bagaimana?”


“Aku baik nek,” sahut Diana.


“Sepertinya ada yang melupakan diriku, karena dia menemukan cucu yang lain.” Yudha memasang wajah sedih.


Prasssh!


Yudha sengaja pura-pura mengeluarkan isi hidungnya.

__ADS_1


“Bawa nenekmu ini kedalam Yudh, masa aku menjamu tamu di teras rumah seperti ini,” ucap nenek Zunea.


“Biar aku saja Nek.” Diana langsung bangkit dan mulai mendorong kursi roda nenek Zunea masuk kedalam rumah, diikuti oleh Ivan dan Yudha.


Sesampai di ruang tamu, terlihat sosok yang tidak asing. Diana berusaha bersikap santai, walau kesan pertemuan pertamanya dengan Desy ibu Yudha, sangat tidak menyenangkan. Desy juga terlihat canggung. Walau Diana tidak memperkarakan dirinya, Desy sangat malu menegakan wajahnya untuk menatap Diana, apalagi menyapanya, dia semakin sungkan.


“Diana, perkenalkan itu Desy anaku, dan itu suaminya Thomas. Mereka berdua orang tua Yudha,” ucap nenek Zunea.


Diana menganggukkan sedikit kepalanya memberi hormat pada dua orang yang dimaksud nenek Zunea.


“Apa begini cara kalian menyambut tamu?”


Desy bingung menanggapi pertanyaan ibunya.


"Tidak biasanya kalian diam seperti ini menyambut tamuku," gerutu nenek Zunea. “Kita langsung ke meja makan saja, setelah makan-makan, baru kita ngobrol,” usul Nenek Zunea.


Mereka semua segera menuju meja makan. Selama acara makan-makan berlangsung, hanya diisi obrolan nenek Zunea dan Diana, yang lain hanya diam dan menyimak semua jawaban Diana atas pertanyaan Nenek Zunea.


“Ivan, bagaimana kalau kita ngobrol di ruang kerjaku? Mumpung kita punya waktu luang, kita bisa bahas santai masalah perusahaan,” ajak Thomas.


Ivan meminta waktu sejenak untuk menghabiskan air minumnya.


“Diana, bagaimana kabar Nenekmu?” tanya Nenek Zunea.


“Nenekku baik-baik saja,” sahut Diana.


Mendengar pertanyaan Nenek Zunea yang menanyakan perihal nenek Zelin. Ivan menoleh kearah Ayah Yudha. “Untuk bisnis, sebaiknya kita bicara saat jam kerja om, saat ini waktu kebersamaan dengan keluarga, sangat jarang kita bisa seperti ini,” kilah Ivan.


“Aku suka pendapatmu, Ivan.” Pandangan nenek Zunea kembali tertuju pada Diana. “Kalian tinggal di mana? Sejak lama Nenekmu menghilang bagai ditelan bumi, aku selalu merindukannya, Diana.”


“Kami tinggal di desa,” sahut Diana.


“Apa aku boleh mengunjungi Nenekmu? Aku sangat merindukannya.” Ucap Nenek Zunea.


“Tentu saja Nek, aku akan membawa Nenek Zunea menemui Nenekku, kalau aku sudah libur kuliah, bagaimana?” Diana tersenyum manis.


“Aku tunggu waktu itu tiba,” ucap Nenek Zunea begitu semangat.


Ivan mengambil satu apel, dan mulai mengupasnya, setelah kulit dia kupas, Ivan mengiris tipis bagian daging buahnya, dan memberikannya pada Diana.


Nenek Zunea sangat bahagia melihat Ivan dan Diana.

__ADS_1


Tink!


Handphone Ivan menerima pesan baru, Ivan segera memeriksa pesan itu. Melihat pesan dari Yudha, Ivan segera membaca isi pesan Dillah. Tertera laporan yang dia minta mengenai Lucas. Wajah Ivan yang tadinya ceria, seketika berubah muram.


__ADS_2