
Diana dan Profesor Hadju terus memasuki hutan. Di tengah hutan itu ada tempat pelatihan khusus untuk murid-murid pilihan beliau, di sana juga ada sebuah bangunan khusus, yang biasa digunakan untuk rapat rahasia.
Akhirnya mereka sampai di markas pelatihan milik Profesor Hadju. Keduanya langsung memasuki bangunan itu, Diana duduk di salah satu kursi di samping Profesor Hadju. Beberapa anak buah Profesor Hadju terlihat menyambungkan sesuatu, saat semua selesai, wajah-wajah orang hebat dunia muncul di sebuah monitor besar. Termasuk penanggung Jawab IMO.
“Hai Diana, akhirnya kita bertemu lagi,” sapa penanggung jawab.
Diana tersenyum dan memberi hormat pada laki-laki tua itu. “Bagaimana pelatihan Hadhif, Pak?”
“Pelatihan Hadhif sejauh ini lancar, setelah pelatihan selama 3 bulan, setelah itu Hadhif akan bergabung menjadi bagian IMO yang resmi.”
Di layar monitor besar, anggota rapat online semakin bertambah, saat ini Tuan Muda Archer juga muncul.
“Rapat kita kali ini adalah pembahasan tentang pemilihan Ketua IMO yang baru, karena Diana sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya dari Organisasi ini,” ucap Profesor Hadju.
“Kenapa mengundurkan diri, Diana? IMO terasa layu tanpamu.”
“Kamu masih bisa menjadi bagian IMO walau kamu telah menikah, banyak pegawai IMO yang juga berumah tangga.”
Banyak yang keberatan karena Diana memilih mengundurkan diri.
“Aku ingin menata hidupku, bagiku saat ini sudah cukup untuk memegang satu kewajiban, yaitu sebagai dokter,” ucap Diana.
Penanggung jawab IMO menerangkan kalau rencana Diana mengundurkan diri, sudah dia ajukan dari IMO sudah sejak 3 bulan yang lalu, namun dia tahan karena ada masalah belum selesai, saat ini masalah IMO sudah selesai, obat T779 juga merata dibagikan secara gratis.
“Seperti peraturan lama, untuk saat ini Ketua IMO akan kembali dipegang oleh Tuan Muda Archer, sampai beliau menemukan sosok yang tepat untuk menjabat sebagai ketua IMO yang baru menggantikan Diana,” ucap penanggung jawab.
“Tony, Zhafqar, dan Hadhif, mereka semua perlu banyak pengujian lagi, selain itu mereka juga jauh dari kriteria untuk jabatan ketua IMO.”
Melihat tidak ada calon yang memenuhi syarat, Archer terpaksa harus kembali ke Organisasi sampai dia menemukan kriteria calon ketua yang tepat. Keputusan pun disepakati bersama, Archer kembali menjabat kedudukan Ketua IMO. Rapat pun selesai.
“Diana, bisa membahas hal pribadi denganmu?” tanya Profesor.
“Tentu saja boleh, Prof.”
Diana diajak Profesor Hadju menuju ruanganya, saat memasuki ruangan itu, dia teringat masa kecilnya yang sering menerima hukuman dari Profesor Hadju jika dia gagal melakukan misi.
“Aku ingin membahas tentang Ivan.”
Ucapan Profesor Hadju membuyarkan lamunan Diana.
“Ada hal apa Prof?” tanya Diana.
“Keputusanmu menikah dengan Ivan sangat terburu-buru, Diana. Aku tahu aku hanyalah gurumu, tapi aku sangat menyayangimu seperti putriku sendiri.”
“Aku tahu, Profesor juga ku anggap seperti Ayahku sendiri.”
“Entah apa hakku ingin melindungimu, kamu pun bisa melindungi dirimu sendiri."
__ADS_1
"Jangan begitu Prof, aku masih butuh Anda."
"Aku tahu siapa Ivan Hadi Dwipangga, andai aku boleh bicara diluar batas pemikiran manusia, dari sudut pandangku, kendali ada di tangan Ivan. Dia mampu melakukan apa saja yang dia mau, aku hanya takut dia mempermainkan hatimu.”
Diana memahami rasa takut profesor Hadju. Rasa takut seorang Ayah yang tidak rela putrinya memilih laki-laki yang salah. Diana mendekati Profesor Hadju, dia meraih tangan laki-laki tua itu.
“Sebelum aku masuk ke rumah keluarga Agung Jaya, saat Nenek mengatakan memilihkan laki-laki untukku, aku telah menyelidiki siapa Ivan. Nenekku sangat percaya padanya, apakah kepercayaan dari Nenekku tidak bisa dijadikan sebagai jaminan kalau Ivan laki-laki yang baik?”
Profesor Hadju teringat akan perdebatannya dengan Nenek Zelin, saat dia mendengar keluhan Diana kalau Neneknya menjodohkanya. Sampai sekarang dia tidak tahu apa alasan Zelin memilih Ivan untuk Diana. Harta, Diana punya banyak. Kekuasaan, Diana memiliki jabatan penting. Perlindungan? Diana mampu melindungi dirinya sendiri.
“Sampaikan undanganku pada Ivan, aku ingin mengundangnya makan malam, malam ini di rumahku. Jangan lupa undang juga kedua temannya.”
“Baik Prof.”
“Sudah selesai, kamu boleh pulang.”
***
Diana pulang ke rumah dengan kudanya, dan Hogu langsung menyambutnya saat Diaa memasuki pekarangan rumah Neneknya. Diana sangat bahagia, dia mengajak Hogu bermain bersamanya.
“Dari mana, Diana?”
Diana menoleh ke sumber suara, di sana terlihat sosok Yudha. “Dari rumah Profesorku, oh ya … Ivan mana?”
“Ivan sepertinya di dalam.”
“Aku akan ikut jika Ivan mau memenuhi undangan.”
“Semoga kalian nyaman di sini ya, aku mau menemui Ivan dulu.”
Diana memasuki rumah, dia berpapasan dengan bibi Makhaya. “Bi, Ivan di kamar mana?”
“Pertanyaanmu aneh, Diana. Ivan suamimu, ya dia ada di kamarmu.”
“Aku kira Nenek menyiapkan kamar lain untuknya.” Diana memacu langkahnya menuju kamarnya, sesampai di sana, terdengar suara gemericik air.
Diana melepas satu per satu pakaiannya, dan langsung memeluk Ivan yang berdiri di bawah pancuran air shower.
“Sudah selesai pembahasan tentang IMO?” tanya Ivan.
“Sudah, hanya rapat lanjutan tentang pengunduran diriku, dan pembahasan siapa penggantiku.”
“Kenapa mengundurkan diri?” Ivan berbalik menghadap pada Diana.
“Aku ingin jadi istri yang baik untukmu, tugasku sebagai dokter bedah saja mungkin akan mencuri Sebagian besar waktu kita, apalagi tugas IMO yang tidak bisa di predeksi. Aku hanya ingin memberi banyak waktuku untukmu."
"Tapi tidak harus mengundurkan diri, rasanya saat ini aku telah menjadi seorang pencuri."
__ADS_1
"Ya ... kau memang pencuri, pencuri hati dan pikiranku."
"Kenapa pergi dari IMO, Diana? Aku merasa bersalah karena hal ini."
"Aku tidak meninggalkan IMO, aku hanya keluar, andai mereka butuh aku, aku tetap membantu Organisasi itu.”
“Apakah mereka sudah tahu siapa No Name?”
“Tidak semua rahasia tentangku harus terbuka, apa yang masih menjadi rahasia, biarlah itu jadi rahasia selamanya. Bukankah semua orang juga punya rahasia?”
"Kau tahu, aku masih belum percaya, kalau aku tidak takut lagi dengan anjing. Terima kasih telah membantuku mengatasi rasa takutku."
"Aku hanya meyakinkanmu, bukankah pernah ku katakan seseorang bisa sembuh jika memiliki keinginan yang kuat dan kepercayaan?" Diana membelai wajah Ivan begitu lembut.
"Demi rasa cintamu padaku, kamu ingin mencintai Hogu seperti aku mencintainya, dan keinginanmu untuk bisa dekat dengan Hogu cukup besar. Kepercayaan, kamu percaya kalau Hogu tidak akan menyakitimu, maka rasa takut itu sirna, karena keiginan yang kuat dan kepercayaan yang besar."
Keadaan yang dingin di kamar mandi seketika terasa hangat, kala mereka menyatukan kembali raga mereka.
*
Petualangan singkat itu selesai, raut kebahagiaan terpancar jelas di wajah keduanya.
“Ivan, seberapa banyak kamu bisa minum alkohol tanpa mabuk?” tanya Diana.
“Apa maksudnya?”
“Ya batas kemampuan kamu minum dan masih sadar.”
“Setengah botol mungkin masih aman, memangnya kenapa?”
“Malam ini Profesor Hadju mengundang kamu, Dillah, dan Yudha untuk makan malam, ya pastinya beliau juga akan mengajakmu minum.”
“Hufttt! Kekuatanku minum sangat terbatas,” keluh Ivan.
“Sebentar, aku akan membantumu.” Diana segera menyelesaikan mengenakan pakaiannya, kemudian dia berlari keluar dari kamar.
Ivan ingin menyusul, namun dirinya masih mengenakan handuk mandi. Sedang Diana sudah sampai di halaman belakang rumah Neneknya. Diana memanjat sebuah pohon besar di sana. Yudha dan Dillah terpaku melihat kepiawaian Diana memanjat pohon.
“Wanita itu tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, bayangkan kalau dia jatuh dan cacat, apakah Tuan akan tetap mencintainya?” gerutu Dillah.
“Sekalipun sekujur tubuh Diana mengalami luka bakar yang hebat, semua kebaikan yang dia beri tidak akan menghapus semua cinta yang tertanam padanya.”
Dillah dan Yudha kompak menoleh kearah suara itu, ternyata itu adalah Tony.
“Tony benar, bagaimana pun Diana, aku tetap mencintainya,” sahut Ivan.
Sedang pemilik nama yang mereka sebut, masih asyik memetik bunga yang ada di pohon besar itu.
__ADS_1