Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa
Bab 146 Pertanyaan Yang Sama


__ADS_3

Yudha berusaha menyembunyikan raut kekesalannya di depan Pak Jo dan Nicholas. Dengan wajah santainya Yudha meneruskan kata-katanya. “Diana memang terlihat sederhana, tapi banyak keistimewaan yang tersembunyi dibalik kesederhanannya,” puji Yudha.


“Kamu sama seperti Ivan, terlalu terpesona pada Diana, hingga tidak bisa membuka matamu untuk melihat kelicikan Diana,” ucap Nicholas.


“Kamu yang terhasut ucapan Veronica, di mata wanita itu Diana selalu salah.” Yudha tidak mau kalah.


“Aku tidak termakan hasutan Veronica, ku rasa kamu yang termakan hasutan Diana, kamu bahkan terlalu menyanjung Diana dan sangat jelas kamu membelanya,” balas Nicholas.


“Diana tidak salah pada siapa-siapa, jadi dia tidak butuh pembelaan,” ucap Yudha.


“Aku tidak mengusik seseorang di kota ini, tapi entah kenapa banyak orang yang ada di kota ini suka mengusikku.”


Pak Jo, Nicholas, dan Yudha menoleh kearah suara itu. Mereka bertiga sangat terkejut melihat Diana baru turun dari kuda Ivan.


Diana menunggangi Scout?


Yudha sangat tidak percaya kuda ganas itu mau ditunggangi orang lain selain Ivan.


“Bagaimana bisa Anda menunggangi Scout? Biasanya Scout akan melemparkan siapa saja yang berani menungganginya selain Ivan.” Pak Jo sangat terkejut melihat keadaan ini.


Diana masih sibuk memngusap kuda hitam kesayangan Ivan yang dinamai Scout itu. “Dia kuda yang baik, kuda yang sangat patuh, dan kuda yang jinak,” puji Diana.


“Maaf aku terlambat, tadi aku mengobrol sebentar dengan Kak Angga, tiba-tiba si putih ini lewat dan aku penasaran dengan kemampuannya—” Mulut Ivan menganga lebar saat melihat Scout menyukai Diana. “Pertama kali aku melihat Scout menyukai orang lain selain aku,” ucap Ivan.


“Bahkan Scout mau ditunggangi Nona, Tuan.” Lapor Pak Jo.


“Aku saja hampir mengira itu tadi mimpi.” Yudha menambahi.


Ivan memberikan tali kuda putih pada Pak Jo. Perlahan Ivan mendekati kuda hitam kesayangannya. Dia mengusap pelan bagian-bagian kuda itu dengan penuh kasih sayang. “Kamu menyukainya?” tanya Ivan pada kudanya, Ivan mengisyarat Diana dengan gerak matanya.


Kuda itu mengeluarkan suara pelan. Seakan menjawab pertanyaan Ivan. Ivan seakan memahami jawaban kuda kesayangannya. Ivan meraih tali kuda hitamnya, lalu memberikannya pada Diana. “Selamat, Scout menyukaimu.”


“Jangankan kuda, orang gila saja menyukai Diana,” sela Yudha.


Ivan menatap Yudha dengan tatapan peringatan. Seketika Yudha membisu.


Ivan kembali menoleh pada Diana. “Kuda ini untukmu,” ucap Ivan.


“Untukku?” kedua bola mata Diana berbinar mendengar Ivan memberikan Scout padanya. “Bukankah dia kesayanganmu?”


Kesayanganku adalah kamu, Diana.


Ivan tidak berani mengutarakan kata seperti yang hatinya ucapkan. “Scout menyukaimu, kamu berhak memilikinya.”


Diana mengelus punggung Scout dengan sangat lembut. “Dengar Scout? Tuanmu memberikan kamu untukku. Tuanmu sangat murah hati sekali,” puji Diana.

__ADS_1


Ivan menggeleng melihat kebahagiaan Diana, saat wanita pada umumnya bahagia diberi perhiasan atau barang branded, Diana malah bahagia diberi seekor kuda.


“Scout, mau berkelana denganku lagi?” tanya Diana pada kuda yang terus dia eluss.


Kuda itu bersuara begitu semangat, seakan menjawab pertanyaan Diana bahwa dia setuju. Diana segera naik keatas punggung kuda dan kembali menyusuri lapangan berkuda. Ivan tidak mau kalah, dia segera menunggungi kuda putih dan langsung menyusul Diana.


Yuda melipat kedua tangan di depan dadanya. Melihat Ivan dan Diana berkuda bersama pemandandangan itu sangat indah.


“Kau iri Yudh?”


Pertanyaan itu membuat Yudha tersadar dari kekagumannya. “Kak Angga.” Yudha sangat bahagia melihat Angga. Walau Angga masih menggunakan tongkat, namun keadaanya jauh lebih baik.


“Keadaanku semakin membaik, hanya butuh waktu, maka aku bisa berjalan tanpa kaki ketiga.” Angga mengisyarat pada tongkat yang dia gunakan.


“Aku sangat bahagia mendengarnya.”


Yudha dan Angga memandang kearah lapangan berkuda. Mereka berdua terlihat bahagia melihat Ivan sangat bahagia berpacu menaiki kuda bersama Diana di sana.


Di tengah lapangan berkuda.


Ivan berhasil menyusul Diana, kuda yang dia tunggangi berjalan berdampingan dengan kuda Diana.


“Kamu bahagia?” tanya Ivan.


Diana tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Sayang sekali, aku tidak bisa.” Diana memandang lurus kedepan, tapi pandangannya sangat kosong.


“Kenapa?”


“Kalau sudah libur nanti, aku harus kembali ke desa, nenek memanggilku untuk pulang.”


Mendengar jawaban Diana, Ivan membisu, dia teringat akan pembicaraannya dengan kakeknya tadi malam. Nasib pertunangan mereka tergantung keputusan Diana. Saat Ivan menegakan wajahnya, Diana sudah sampai di tempat awal mereka menaiki kuda, bahkan Diana sudah memberikan tali kuda itu pada salah satu pelayan yang mengurus kuda.


Ivan segera menyusul Diana, setelah sampai dia memberikan kuda putih yang barusan dia tunggangi pada Pak Jo.


“Diana.”


Panggilan Ivan membuat Diana menoleh padanya.


“Kamu langsung pulang setelah libur nanti?” tanya Ivan.


Diana menganggukkan kepalanya.


“Diana akan kembali ke desa?” sela Yudha.

__ADS_1


“Iya, saat libur nanti aku kembali ke desa,” sahut Diana.


“Boleh aku ikut denganmu? Kan kamu sudah berjanji pada Nenekku kalau akan membawanya menemui Nenekmu?”


Diana teringat akan janjinya pada Nenek Zunea.


Sebelum kami sampai, ku harap Tony sudah pergi dari sana. Batin Diana.


“Diana, apa boleh aku ikut ke desamu?” tanya Yudha lagi.


Diana menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Yudha.


Perasaan Ivan saat ini sangat kacau, bukan tidak suka yudha mengikuti Diana, tapi dia tidak tahu bagaimana pertunangannya nanti setelah Diana kembali. Setahu Ivan, Diana bertahan dalam ikatan pertunangan ini semata demi Neneknya, saat ini Neneknya akan memberi kebebasan pada Diana untuk menentukan, tidak menutup kemungkinan Diana akan pergi darinya.


“Kalau kamu cemburu, ikut saja Van! Tidak usah memasang wajah seperti cucian yang belum di sertika!” ledek Yudha.


“Kak Angga mana?” Ivan sengaja mengalihkan topik bahasan.


“Angga berkeliling bersama pengacara Nizam,” sahut Yudha.


“Diana!”


Suara teriakan yang menyebut nama Diana menyita perhatian semua yang ada di dekat kendang kuda. Mereka semua bingung melihat kepanikan menyelimuti wajah Nizam.


Nizam terus berlari mendekati Diana. “Diana!” Nizam tidak bisa meneruskan kata-katanya, napasnya masih tersengal. “Diana—tadi aku berkeliling dengan Angga, keadaan rumput yang kami lewati masih basah, hingga luka oprasi pada Angga kambuh, saat ini Angga kesakitan.” Susah payah Nizam mengutarakan maksudnya.


Saat yang sama, Dillah baru sampai dia berjalan santai kearah Diana.


“Dillah, tolong kamu siapkan kotak obat dan jarum akupuntur!” Diana dan Nizam langsung berlari kearah kastil.


Dillah juga segera berlari menuju tempat di mana dia bisa mendapatkan barang yang Diana minta.


Kesadaran Yudha seperti menguap melihat kejadian barusan. Dokter hebat itu adalah Nizam, tapi Nizam malah melapor pada Diana. Dillah juga sangat patuh pada Diana, sedang perintah yang murni darinya Dillah tidak mau mengerjakan, kecuali kalau dia menyampaikan perintah Ivan, baru Dillah mau melakukan hal itu.


Setahuku Dillah hanya patuh pada Ivan, kenapa dia juga sangat patuh pada Diana.


“Maaf sebelumnya.”


Yudha dan Ivan langsung menoleh kearah suara itu.


Nicholas merasa tidak nyaman karena mengganggu Ivan dan Yudha. Tapi dia tidak bisa menahan pertanyaan yang seketika timbul. “Bukan maksudku merusak keadaan. Tapi ….” Nicholas ragu meneruskan pertanyaannya.


“Tapi apa?” sela Ivan.


“Tapi … bukankah yang dokter hebat itu pengacara Nizam? Kenapa pengacara Nizam meminta bantuan pada Diana?” tanya Nicholas.

__ADS_1


Ivan dan Yudha tidak bisa menjawab pertanyaan Nicholas, karena pertanyaan yang sama juga berputar di kepala mereka.


__ADS_2