
Ivan dan Narendra berada di mobil. Ivan terlihat santai membaca dokumen kantornya.
“Handphone Dillah kamu kubur bersama jasadnya?” tanya Ivan.
“Tidak Tuan, handphone Dillah saya titipkan pada seseorang yang akan mengarungi lautan, dan saya minta orang itu agar membuang handphone itu di tengah lautan.”
“Bagus, jadi kalau tante Wilda atau Qiara melacaknya, titik terakhir keberadaan Dillah di tengah lautan.”
“Itu yang saya pikirkan sebelumnya Tuan, agar mereka hanya menyadari kalau Dillah Anda kirim ke benua lain, padahal Dillah berada di galaksi yang lain.”
Ivan meminta Narendra untuk melajukan mobil menuju perusahaan.
**
Di kamar hotel yang ditempati Qiara.
Sejak kepergian Dillah, Qiara berusaha menghubungi Dillah, tapi tidak juga terhubung. Qiara putus asa, dia meminta temannya untuk melacak keberadaan Dillah. Waktu terus berlalu, akhirnya Qiara mendapat balasan dari temannya.
*Posisi orang yang kamu cari tadi, saat ini berada di Pelabuhan.
\=Terus lacak nomor itu, dan beritahu padaku di mana titik terakhir sebelum dia menghilang.
*Baik Qiara, aku akan melakukannya untukmu.
Qiara hanya mengucapkan terima kasih, dan memberi bonus tambahan atas kinerja temannya. Qiara membanting handphone barunya keatas Kasur. “Ivan siallan! Dia pasti mengirim Dillah agar jauh dari sini.”
**
Perjalanan Diana dan Nizam.
Lampu seatbelt dimatikan, beberapa penumpang VIP mulai melepaskan sabuk pengaman mereka, ada yang ke toilet dan melakukan kegiatan santai mereka. Beberapa pramugari juga mulai melayani para penumpang. Nizam memanggil salah satu pramugari, dia meminta kotak P3K, dia tunjukan kalau untuk mengobati luka Diana. Tidak menunggu lama, kotak P3K di dapat Nizam, dia segera mengobati luka Diana.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Nizam.
“Bisa lakukan lebih cepat? Aku mengantuk,” sahut Diana.
Nizam segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah Nizam selesai mengobati lukanya. Diana menutupi tubuhnya dengan selimut. Waktu terus berlalu, Nizam memilih membaca buku untuk mengusir kejenuhannya.
Bruk!
Bantal dan selimut yang menutupi tubuh Diana terjatuh. Nizam hanya menggelengkan kepalanya melihat tidur Diana begitu lasak. Nizam memungut selimut yang jatuh, dia ingin menutupi tubuh Diana dengan selimut, belum sempat selimut itu menutup tubuh Diana, kedua mata Nizam melihat ada luka lain di tubuh Diana.
__ADS_1
“Entah apa yang kamu lakukan Diana.” Gerutu Nizam, dia menepuk lembut bahu Diana. “Diana.”
“Hmm ….”
“Bangun sebentar, aku obati lukamu yang lain.”
“Tidak perlu, aku tidak apa-apa.”
“Huhh!” Nizam hanya bisa membuang napasnya kasar.
Suara sapaan dari salah satu pramugari yang terdengar menyita semua perhatian, kalau beberapa jam lagi pesawat yang mereka tumpangi akan sampai di negara tujuan. Beberapa penumpang mulai membuka mata mereka dan menyegarkan wajah mereka, begitu juga Diana, dia terbangun dari tidurnya.
Nizam meraih paper bag yang sengaja dia simpan di dekatnya. “Pakai ini.” Dia memberikan paper bag itu pada Diana.
Diana mengeluarkan isi paper bag, dia berusaha melihat detail kain hitam Panjang yang dia pegang.
“Itu abaya, pakaian itu biasanya di pakai oleh penduduk lokal, sebaiknya kamu kenakan baju itu,” usul Nizam.
Diana segera membawa paper bag menuju toilet, beberapa saat kemudian dia kembali mengenakan abaya. Nizam tersenyum, walau seluruh lekuk tubuh Diana tidak terekspose, tapi Diana tetap terlihat cantik dengan gaun Panjang dan lebar yang dia kenakan.
“Baju ini sangat nyaman, berbeda dengan baju kurang bahan yang kamu berikan kemaren,” ucap Diana.
“Baju apapun kamu selalu cantik, Diana.”
***
Di Kota Ivan.
Wilda begitu semangat menemui pengacaranya, dia sangat berambisi memenjarakan Diana dengan segala bukti yang dia pegang. Wilda terus membicarakan rencananya pada pengacara yang dia percaya. Dia berusaha mencari jalan agar bisa melepaskan Qiara dari jerat hukum.
Tink!
Tink!
Tink!
Notifikasi pada handphone yang terus terdengar membuar fokus Wilda buyar, dia meminta izin pada pengacaranya untuk memeriksa handphonenya.
*Dasar binnatang! Sudah di tolong masih saja berusaha menjelekkan Diana.
*Memangnya Diana salah apa pada Nona muda dari keluarga Agung Jaya? Mereka tidak bosan memfitnah Diana, yang lebih sadis mereka mengedit video seolah Diana adalah pembunuh berdarah dingin.
__ADS_1
*Kalau aku di beri Tuhan keajaiban, aku ingin sekali menyekik leher Veronica, Qiara, Nyonya Wilda, dan Syila. Ini manusia Cuma bikin sesak bumi sama kejahatan mereka. Mereka adalah tersangka asli, tapi mereka selalu menempatkan diri mereka di posisi korban, sue mual banget lihat drama mereka.
*Oh Tuhan … kalau kau sayang padaku, bisakan aku meminta agar Engkau jemput Qiara, Veronica dan semua orang yang membantu mereka? Dunia ini sudah Krisis orang baik, aku terima ini dengan lapang dada, tapi binasakanlah penjahat yang nam-nama mereka sudah aku sebut tadi.
Masih banyak komen hujatan untuk dirinya, Qiara, dan Veronica. Tangan Wilda gemetaran membaca semua komentar hujatan yang tertuju padanya, diantara komen hujatan, ada juga komentar dari Syila yang memberi bukti kalau Qiara hanyalah korban, hal itu malah membuat warganet semakin bernaffsu menghujat Syila.
“Nyonya ….” Pengacara Wilda heran melihat wajah Wilda yang seketika memucat.
Di Universitas Bina Jaya.
Hujatan dan hinaah pedas yang tertuju pada Syila bukan hanya dari warganet, hinaan dan hujatan itu juga terus dia terima dari kalangan mahasiswa. Saras berjalan melewati Syila begitu saja, dia hanya menatap sinis Syila.
Syila sangat terpuruk, saat ini tidak ada satu pun yang mau berteman dengannya, bahkan di kantin tidak ada mahasiswa lain yang mau berbagi meja dengannya. Syila menangis membawa nampan yang berisi makanan meninggalkan area kantin. Dia berjalan menuju toilet, dia duduk diatas toilet sambil memangku nampan. Yang dia bisa saat ini hanya menumpahkan air matanya. Sakit, malu, dan kesepian. Tidak ada satu pun mahasiswa yang mau menerima dirinya sebagai teman.
Setelah urusannya dengan pengacaranya selesai, Wilda meminta supir mengantarnya ke kediaman Agung Jaya. Urusan Diana pengacaranya akan bergerak menunggu instruksi darinya. Setelah sampai di kediaman Agung Jaya, dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi, Wilda segera menemui Ayahnya. Wilda sangat terkejut melihat Sofian juga ada di ruang tamu.
“Sofian, kenapa kamu ikut pulang?” tanya Wilda.
“Aku pulang untuk menjemput istriku,” sahut Sofian dingin.
“Seharusnya diantara kami tidak ada yang pulang sebelum operasi Angga selesai! Tapi karena masalah yang kamu timbulkan, kami semua terpaksa meninggalkan Angga!” maki kakek Agung.
Wilda memasang wajah santai, seolah kemarahan Ayahnya tidak tertuju padanya. “Seharusnya Ayah berterima kasih padaku, karena aku sudah menyingkirkan kerikil dari jalanan kita.”
“Wilda!” kedua mata kakek Agung berubah merah, kemarahannya pada putri bungsunya semakin berkobar.
“Ayah … sampai kapan Ayah mau ditipu si kampungan itu? Terlalu banyak tipuan yang dia lakukan Ayah. Tipuan Diana yang peratama, dia tidak bisu.” Wilda memperlihatkan video yang Veronica kirim padanya, dalam Video itu Diana berbicara.
Kakek Agung tercengang baru mengetahui Fakta kalau Diana tidak bisu.
“Percaya pada kami Ayah, andai Diana wanita baik kami tidak akan menentang keputusan Ayah, lebih baik Ayah setujui saja pemutusan pertunangan ini. Diana tidak pantas menjadi istri Ivan.”
“Terus yang pantas menjadi istri Ivan Hadi Dwipangga siapa?”
Pertanyaan itu seketika menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan.
***
Bersambung
***
__ADS_1
Kalau merasa bosan dengan alur yang ada, maaf aku nggak bisa bantu, aku hanya menulis sesuai apa yang aku fahami. 🙏